Bukalapak Stop Penjualan Fisik
Keputusan PT Bukalapak.com Tbk menutup layanan fisik hampir dipastikan menambah panjang penderitaan investor retail dan institusi, seperti dana pensiun. Harapan meraih untung besar saat perusahaan tersebut melepas saham ke publik (IPO) pada 2021 berubah menjadi kerugian besar karena harga saham makin ambles Bukalapak mengumumkan perubahan drastis lini bisnisnya itu pada 9 Januari 2025. Terhitung mulai pekan ini, startup unicorn pertama Indonesia yang melantai di bursa itu akan berfokus berjualan pulsa telepon, paket data, token listrik, dan layanan pembayaran lain. Kapitalisasi pasar Bukalapak bernilai Rp 109 triliun saat IPO pada 2021. Pada pekan pertama Januari 2025, nilainya anjlok menjadi Rp 12,7 triliun. Harga saham per unit tinggal Rp 119, dari Rp 850 saat IPO pada 6 Agustus 2021.
Aksi korporasi mendadak ini menjadi pukulan telak bagi para investor. Mereka terkecoh karena, saat IPO, Bukalapak menggambarkan diri sebagai perusahaan yang berprospek gemilang dan kinerja yang terus berkembang. Padahal sejatinya itu hanya klaim sepihak karena kenyataannya, sebelum IPO, perseroan tersebut tidak pernah untung. Pada 2020, mereka tercatat rugi Rp 1,34 triliun. Kemudian pada 2019 nilai kerugian melonjak menjadi Rp 2,79 triliun. Tito Karnavian: RI Bisa Tiru Penggunaan Teknologi Berbasis Riset Singapura untuk Administrasi Melihat kinerja yang buruk, semestinya Bukalapak belum boleh melakukan IPO. Namun, dengan alasan mendorong pertumbuhan startup, Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia mengubah sejumlah aturan agar Bukalapak dapat melakukan penawaran saham perdana dan meraup dana mencapai Rp 21,9 triliun.
Belakangan, dengan dispensasi aturan ini, sejumlah perusahaan unicorn mengikuti langkah Bukalapak. Bukalapak Stop Penjualan Produk Fisik. Apa Dampaknya terhadap Persaingan E-Commerce Bagaimana E-Commerce Bertahan di Musim Dingin Bukalapak Tak Lagi Jual Produk Fisik per Februari 2025, Bagaimana Hak dan Kompensasi Karyawan? Bukalapak: Didirikan Achmad Zaky untuk UMKM, Kini Menutup Penjualan Produk Fisik Rencana memangkas bisnis inti sama artinya Bukalapak sedang sekarat. Ini juga bisa terlihat dari tren nilai kapitalisasi pasar yang terus menurun. Kendati demikian, anjloknya kinerja perseroan juga memunculkan pertanyaan melihat proyeksi pemerintah dalam bisnis e-commerce dan geliat perusahaan kompetitor Bukalapak. (Yetede)
Tags :
#e-commercePostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023