Komoditas Perkebunan, Ekspor Kopi Masih Bertaji
Kebutuhan kopi di dunia ternyata tetap tinggi kendati ada pandemi Covid-19. Oleh karena itu, sejumlah provinsi seperti Bali dan Jawa Timur tetap mencoba peruntungan dari komoditas perkebunan yang bernilai tinggi tersebut. Komang Sukarsana, pemilik Bali Arabika Roastery, tidak kehabisan cara untuk mempertahankan usaha di tengah pandemi Covid-19. Pengusaha kopi asal Pulau Dewata itu memilih mengubah segmen pasar setelah pola konsumsi konsumen bergeser akibat pandemi. Awalnya, Komang hanya menjual kopi spesialti dengan harga Rp80.000 per kilogram (kg). Kini, dia memilih untuk memasarkan komersial grade atau kopi kelas dua dengan harga Rp30.000 per kg setelah pandemi menyebabkan penurunan daya beli masyarakat terhadap kopi kelas satu.
Dari segi pemasaran seperti hotel, restoran, dan kafe sangat terdampak pandemi Covid-19. Namun, dia menyatakan untuk roastery lain yang menjadi mitranya di luar Bali seperti Jakarta masih tetap eksis. Bahkan, dia mencatat penyerapan produk kopi miliknya pada 2020 mencapai 39 ton atau meningkat 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara year on year (yoy).
Pada sisi lain, dia meyakini bertahannya usaha itu karena dalam kondisi apapun budaya mengkonsumsi kopi tidak dapat digantikan oleh jenis minuman lainnya. “Mungkin memang ada penurunan sedikit dari segi omzet karena tidak 100% specialty, tapi ini sudah cukup mengingat masih dalam situasi pandemi,” tambahnya. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Lanang Aryawan mengatakan komoditas kopi memiliki potensi yang tinggi untuk terus dikembangkan. Saat ini, lahan budi daya kopi di Bali mencapai 35.000 hektare (ha)37.000 ha.
Perinciannya, untuk luas kopi arabika yakni 13.000 ha14.000 ha dan kopi robusta mendominasi sekitar 23.000 ha-24.000 ha. Sementara itu, lanjutnya, pada musim panen raya, setiap hari kopi beras atau biji kopi kering dapat diperoleh hingga 15.000 ton. “Kopi memang menjadi komoditas andalan Bali,” kata Lanang.
Ichwan mengatakan melihat tren ekspor per kuartal pada tahun lalu juga menunjukan dampak dari pandemi. Pada kuartal I/2020, volume ekspor kopi Jatim mampu tumbuh 6% (yoy), pada kuartal II/2020 mampu tumbuh 1%, kemudian pada kuartal III mulai turun 14%, dan pada kuartal terakhir anjlok 16%. Adapun, realisasi ekspor kopi asal Jatim pada 2020 tercatat hanya mencapai 64.621 ton atau turun 8% dibandingkan dengan realisasi ekspor pada 2019 yakni mencapai 70.238 ton. Pada tahun lalu, dia menyatakan ekspor kopi menyasar 16 negara tujuan, dengan sebanyak lima negara di antaranya merupakan negara tujuan ekspor nontradisional yang relatif baru bagi eksportir Jatim. Untuk negara tujuan ekspor yang selama ini sudah menjadi langganan kopi dari Jatim di antaranya Mesir, Italia, Malaysia, Jepang, Inggris, Taiwan, Belgia, Amerika Serikat, Thailand, Maroko dan Timor Leste.
(Oleh - HR1)
Target Tekfin, Pintek Incar Penyaluran Rp400 Miliar
Perusahaan teknologi finansial peer-to-peer (P2P) lending PT Pinduit Teknologi Indonesia (Pintek) mengincar penyaluran dana hingga Rp400 miliar pada 2021. Co-Founder & Direktur Utama Pintek, Tommy Yuwono mengungkap bahwa Pintek masih fokus menggarap pangsa pasar yang berkaitan dengan sektor pendidikan pada 2021.
Seperti diketahui, OJK tengah merevisi Peraturan OJK No. 77/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Ber basis Teknologi Informasi. Melalui aturan ini, perusahaan tekfin wajib menyalurkan dana ke sektor produktif. Adapun, porsi penyaluran ke sektor ini paling sedikit 40% dari outstanding dalam por tofolionya secara bertahap dalam kurun waktu tiga tahun. Menurutnya, ketentuan itu mampu dipenuhi karena perusahaan telah memiliki portofolio segmen produktif. Pintek menyediakan layanan pin jaman produktif untuk pinjaman modal kerja, hingga pendanaan bagi sekolah, institusi pendidikan, hingga perusahaan/vendor SIPLah, dan seluruh pelaku UMKM penyedia jasa pendidikan untuk mendukung operasional para pelaku usaha.
Selama 2020, Pintek telah menyalurkan pinjaman men capai Rp60 miliar dengan tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman 90 hari (TKB90) terjaga di angka 100%. Secara akumulasi, pinjaman yang disalurkan sejak berdiri menjadi sekira Rp100 miliar kepada 2.707 borrower.
(Oleh - HR1)
Jalan Tor Baru, PUPR Target Bangun 2.536 Km
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menargetkan pada 2024 panjang jalan tol di Indonesia mencapai 4.630,25 kilometer. Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Hendy Rahadian mengatakan saat ini jalan tol yang sudah beroperasi mencapai 2.343 kilometer (km). Untuk pembangunan jalan tol baru, Ditjen Bina Marga menargetkan sepanjang 2.536 km hingga 2024. Hal itu seiring dengan target jalan tol baru dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024 sepanjang 2.500 km.
Nilai investasi yang dibutuhkan untuk konstruksi seluruh ruas jalan tol tersebut mencapai sekitar Rp182,68 triliun. Sejauh ini, pemerintah baru mengucurkan sekitar Rp12 triliun atau 6,67% dari total investasi. Dengan kata lain, harus ada tambahan investasi sekitar Rp171,2 triliun hingga 2024 atau Rp42,8 triliun per tahun selama 2021-2024. Dia menargetkan peningkatan waktu perjalanan nasional menjadi 1,5 jam per 100 km atau kecepatan rata-rata nasional bakal naik menjadi 66 km per jam. Dia menambahkan waktu tempuh tersebut akan menyamai waktu tempuh di Malaysia. Hendy menilai peningkatan waktu perjalanan dengan konstruksi jalan tol lebih mudah dibandingkan jalan biasa.
(Oleh - HR1)
Luhut : "Food Estate" Jadi Kesempatan Wujudkan Mordenisasi Pertanian
Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan mengatakan proyek lumbung pangan (food estate) yang sedang digarap pemerintah saat ini merupakan kesempatan emas bagi Indonesia mewujudkan modernisasi pertanian. Pemerintah saat ini tengah membangun food estate di sejumlah kawasan, seperti Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas, Kalimantan Tengah, serta Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
Luhut pun mendukung sinergi yang dibangun oleh Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam pengembangan riset pertanian maupun rekayasa alat dan mesin pertanian (alsintan). Modernisasi pertanian, kata Luhut, bisa terus ditingkatkan dengan tiga pengungkit utama, yaitu bibit, pupuk, dan alsintan. Khusus untuk alsintan, Luhut menilai mekanisasi memang harus dimasifkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Teknologi alsintan seperti drone, water drip irrigation, dan transplanter diharapkan bisa mendukung pertanian modern yang lebih terintegrasi.
RI-Jepang Tingkatkan Kerja Sama
Nilai ekspor produk perikanan RI ke Jepang pada Januari-November 2020 sebesar 528 juta dollar AS. Produk yang paling banyak diekspor adalah udang dan ikan tuna.
“Namun, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia ternyata bukan eksportir produk perikanan terbesar ke Jepang karena masih kalah dari Thailand. Oleh karena itu, kerja sama RI-Jepang di sektor perikanan harus terus ditingkatkan,” kata Duta Besar Indonesia untuk Jepang Heri Akhmadi, Rabu (27/1/2021).
OJK Setujui Merger Tiga Bank Syariah BUMN
Deputi Komisioner Humas dan Logistik Otoritas Jasa Keungan (OJK) Anto Prabowo mengatakan, OJK telah menyetujui rencana penggabungan usaha PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri Tbk, dan PT Bank BNI Syariah Tbk menjadi satu di bawah identitas baru PT Bank Syariah Indonesia Tbk per Rabu ini. Persetujuan ini ditandai dengan keluarnya Salinan Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor 4/KDK.03/2021.
Bank Syariah Indonesia akan melakukan kegiatan usaha di lebih dari 1.200 kantor cabang dan unit eksisting yang sebelumnya dimiliki BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah. Dari hasil proforma keuangan Bank Hasil Gabungan per 30 Juni 2020, total aset Bank Syariah Indonesia tersebut nantinya mencapai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun.
Jumlah tersebut menempatkan Bank Hasil Penggabungan dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset. Bank Hasil Penggabungan akan berstatus sebagai perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BRIS.
Komposisi pemegang saham dari Bank Syariah Indonesia adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar 51,2 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar 25 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 17,4 persen, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI-Saham Syariah sebesar 2 persen, serta publik sebesar 4,4 persen.
Ekonomi Global Menguat Tetapi Ketidakpastian Tinggi
Dana Moneter Internasional atau IMF pada Selasa (26/1) menaikkan
proyeksinya tentang pertumbuhan ekonomi
global 2021 menjadi 5,5%. Pertimbangannya adalah optimisme bahwa vaksin baru akan
mampu mengendalikan pandemi Covid-19.
Sehingga kegiatan ekonomi akan kembali
menggeliat dan akan terdorong oleh adanya
stimulus di negara-negara ekonomi besar.
Tapi, kata kreditor internasional berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS) tersebut, prospeknya dibayangi oleh ketidakpastian tinggi. Pemerintah diminta terus bertindak untuk menghindarkan dampak langgeng dari pandemi tersebut. Yang telah menimbulkan krisis ekonomi terparah sejak Depresi Besar 1930-an.
Penaikan proyeksi pertumbuhan, sebesar 0,3 poin persentase
dibandingkan proyeksi pada Oktober 2020 dan setelah ekonomi
dunia mengalami kontraksi 3,5%
pada 2020, mencerminkan ekspektasi bahwa kegiatan ekonomi
akan terus menguat di tahun ini
karena adanya vaksinasi Covid.
Serta adanya tambahan kebijakan stimulus di beberapa negara
ekonomi besar. Termasuk di AS
dan Jepang.
Lembaga ini juga menyinggung lonjakan infeksi di beberapa negara. Termasuk oleh
varian-varian baru Covid-19.
Sehingga memicu karantinakarantina baru. Selain itu, distribusi vaksin pada tahap awal
menghadapi kendala.
Walaupun ekonomi global
diprediksi mencatat pertumbuhan sebesar itu, IMF mengingatkan bahwa banyak negara di
tahun ini belum akan pulih ke
level sebelum adanya pandemi.
IMF mendesak negara-negara untuk terus memberikan stimulus sampai pemulihan ekonomi menguat. Untuk Amerika Serikat (AS), IMF memperkirakan pertumbuhan ekonominya tahun ini dua poin lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 5,5%. Jepang juga akan diuntungkan oleh paket bantuan baru yang disetujui pada Desember 2020. Sehingga IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan 2021-nya menjadi 3,1%.
IMF memperkirakan ekonomi Tiongkok tumbuh 8,8% tahun ini. Sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi Oktober 2020. Sementara ekonomi India diprediksi meroket 11,5% atau 2,7 poin lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Zona euro diprediksi ekonominya tumbuh 4,2%, ditandai pemangkasan signifikan untuk Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia.
(Oleh - HR1)
Menantikan Sovereign Wealth Fund Indonesia
Presiden Joko Widodo baru-baru ini mengumumkan bahwa pemerintah segera mendirikan sovereign wealth fund (SWF), yang diberi nama Indonesia Investment Authority dalam waktu yang tidak lama lagi. SWF ini merupakan langkah tepat yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi kebuntuan kondisi ekonomi yang memerlukan suatu terobosan besar guna mendukung pemulihan ekonomi, maupun untuk kegiatan investasi jangka panjang.
Dengan adanya SWF ini, kegiatan investasi besar yang bersifat jangka panjang tidak lagi bergan tung pada inisiatif pemerintah dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saja, melainkan juga bisa bersumber dari SWF tersebut. Kehadiran SWF ini juga membawa angin segar bagi para investor be sar dari luar negeri yang ingin membawa masuk uangnya ke Indonesia guna berinvestasi di tengah pandemi ini.
Pemerintah sudah berkomitmen untuk menyetorkan modal awal sebesar Rp 15 triliun. Beberapa investor dari luar negeri juga telah memberikan komitmen untuk mendanai SWF tersebut dengan penyertaan modal mencapai US$ 20 miliar (sekitar Rp 280 triliun dengan kurs Rp 14.000). Mereka sangat antusias sekali memberikan pendanaan dalam pembentukan SWF tersebut karena beberapa alasan.
Pertama, SWF dibentuk dan dimiliki oleh pemerintah, se hingga kelanggengan dan kelangsungan kegiatan usaha dalam jangka panjang lebih terjamin. Kedua, karena SWF merupakan lembaga yang dibentuk pemerintah tentunya memiliki kemudahan dan jangkauan kegiatan usaha maupun berinvestasi yang lebih luas dibandingkan dengan sebuah korporasi biasa. Ketiga, dengan modal, sumber dana dan jangkauan bisnis yang besar tentunya dapat menghasilkan rate of return yang tinggi, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor besar. Keempat, sebuah studi dari Al sweilem, et.al (2015) menyebutkan bahwa SWF dibentuk dengan tujuan yang lebih strategis, yaitu mendukung stabililitas ekonomi makro dan melakukan investasi atas surplus tabungan milik pemerintah dan masyarakat.
Ide pembentukan SWF bukan sesuatu yang baru, sudah banyak negara yang memiliki SWF dengan berbagai model dan tujuan yang berbeda satu sama lain. Pemerintah Singapura mendirikan Temasek pada tahun 1974, merupakan salah satu contoh sukses SWF yang bergerak di bidang investasi dengan mengakumulasikan danadana surplus pemerintah, dana pensiun, maupun tabungan masyarakat.
Malaysia mendirikan Khazanah Nasional Berhad pada tahun 1994, yang menginvestasikan uangnya ke berbagai sektor yang memberikan keuntungan besar, antara lain energi, kesehatan, telekomunikasi dan jasa keuangan. Bahkan CIMB Group yang menguasai Bank CIMB Niaga di Indonesia adalah salah satu kegiatan usaha di bawah naungan Khazanah.
Adapun Vietnam juga sukses dengan memiliki SWF yang dinamakan State Capital Investment Corporation atau SCIC yang didirikan pada tahun 2005. Bahkan negara kecil tetangga kita, Timor Leste, juga telah memiliki SWF yang disebut dengan Ti mor Leste Petroleum Fund pada ta hun 2005, yang tugasnya adalah untuk memutar uang dari hasil ke untungan eksplorasi tambang mi nyak dan gas yang mereka miliki ke berbagai jenis investasi yang memberikan keuntungan besar.
Keinginan Presiden Joko Widodo untuk segera mendirikan SWF bukanlah sesuatu yang sulit untuk diwujudkan, mengingat saat ini sudah ada “Santiago Principles”, yang menjadi pedoman bagaimana bentuk dan mekanisme kerja dari sebuah SWF. Dalam “Santiago Principles” yang jumlahnya ada 24 prinsip tersebut telah diatur, an tara lain mengenai aspek hukum, tujuan, struktur organisasi, tata kelola, code of conduct, dan as pek transparansi dari suatu SWF.
Prospek SWF Indonesia Ada sebuah anggapan bahwa rencana pemerintah untuk membentuk SWF mungkin dianggap sudah terlambat dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Namun, lebih baik terlambat mendirikan SWF daripada tidak ada sama sekali. Idealnya pendirian SWF tersebut dilakukan di era “oil boom” pada pe riode 1974-1982 yang kita alami di zaman Orde Baru.
Saat itulah momen yang paling tepat untuk membentuk SWF, karena amunisi yang dimiliki oleh peme rintah sangat besar sebagai modal pendiriannya. Namun demikian, pendirian SWF saat ini juga tidak ada masa lah, tetap memiliki prospek yang bagus dan masa depan yang menjanjikan karena beberapa alasan. Pertama, SWF memang didisain khusus dengan tujuan utama untuk melakukan investasi jangka panjang dengan modal yang besar. Inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi investor, baik itu in vestor pemerintah maupun in ves tor swasta dari luar negeri. Kedua, pembangunan infrastruktur harus terus berjalan guna mem perkuat fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Namun sayangnya APBN kita untuk saat ini dan beberapa tahun ke depan mungkin lebih diprioritaskan untuk penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi. Beban APBN yang sudah berat, utang pemerintah yang semakin bertambah dan keterbatasan dana milik BUMN, menjadikan sumber pembiayaan infrastruktur perlu dicarikan alternatif lain. Ketiga, SWF diharapkan mampu melindungi dan mempertahankan industri-industri strategis yang didirikan dan berada di Indonesia, agar tetap menjadi bagian dari aset nasional sebagai kebanggaan bangsa Indonesia.
Keempat, SWF yang dimiliki Indonesia diharapkan mampu melakukan akuisisi atau membeli berbagai perusahaan yang bergerak di bidang industri-industri strategis di luar negeri. Dengan mengakuisisi industri strategis milik asing tersebut, kita bisa menempatkan tenaga kerja kita di perusahaan tersebut untuk belajar dan mengambil ilmunya. Misalnya saja mengakuisisi perusahaan-perusahaan di in dustri dirgantara, persenjataan, kimia dan teknologi digital, yang belum ada di Indonesia. Kelima, tujuan SWF untuk mencetak keuntungan yang sebesarbesarnya bisa menjadi sumber penerimaan negara yang relatif besar, selain dari penerimaan pajak maupun dividen BUMN. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita semuanya harus mendukung inisiatif pemerintah dalam pendirian SWF tersebut.
(Oleh - HR1)
Bappenas: Ekonomi Sirkular Bisa Sumbang Rp 642 Triliun PDB
Penerapan ekonomi sirkular pada lima sektor industri berpotensi menghasilkan tambahan produk domestik bruto (PDB) secara keseluruhan di kisaran Rp 593 triliun hingga Rp 642 triliun. Oleh karena itu, penerapan ekonomi sirkular ini dinilai penting bagi pemulihan ekonomi dan reformasi sosial. Kelima sektor tersebut yaitu industri makanan dan minuman, tekstil, perdagangan gro sir dan eceran (fokus pada kemasan plastik), konstruksi, serta elektronik. Selain itu, im plementasi konsep ekonomi sirkular di kelima sektor juga dapat menciptakan sekitar 4,4 juta lapangan kerja baru hingga tahun 2030.
"Implementasi ekonomi sirkular diharapkan dapat menjadi
salah satu kebijakan strategis
dan terobosan untuk membangun kembali Indonesia yang
lebih tangguh pasca-Covid19,"
kata Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional(PPN)/
Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa
dalam keterangan tertulis di
Jakarta, Selasa (26/1).
Adapun potensi pendapatan itu berdasarkan hasil studi yang termuat dalam laporan The Economic, Social and Environmental Benefits of A Circular Economy in Indonesia. Studi itu dilakukan atas kolaborasi Kementerian PPN/Bappenas bersama Badan PBB untuk Program Pembangunan (UNDP) Indonesia serta didukung Pemerintah Kerajaan Denmark.
Kementerian PPN/Bappenas memproyeksi, penerapan
model ekonomi sirkular juga
dapat menurunkan emisi gas
rumah kaca (GRK) Indonesia
yang cukup signifikan.
Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam
Kementerian PPN/Bappenas
Arifin Rudiyanto menambahkan selain dampak ekonomi,
ekonomi sirkular juga memberi dampak signifikan pada
lingkungan.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Denmark Lea Wermelin mengatakan model ekonomi sirkular membuka peluang bagi para pelaku ekonomi untuk mengurangi konsumsi bahan, produksi limbah, dan emisi sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Senada dengan itu, Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Norimasa Shimomura menekankan, Indonesia dapat memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang sangat besar dari penerapan ekonomi sirkular.
(Oleh - HR1)
6.000 Pengusaha Warteg Jabodetabek Terancam Bangkrut
Sekitar 6.000 pengusaha
rumah makan warung tegal (warteg)
di Jabodetabek terancam bangkrut.
Mereka mengaku tak kuat lagi menahan gempuran pandemi Covid-19 yang
berimbas terhadap roda perekonomian
di kalangan masyarakat menengah ke
bawah, yang merupakan para pelanggan
warteg.
“Iya, teman-teman terancam gulung
tikar,” ujar Ketua Komunitas Warteg
Nusantara (Kowantara), Mukroni, di
Jakarta, Selasa (26/1).
Dia menjelaskan, beberapa faktor
penyebab pemilik warteg terpaksa
menutup usahanya, antara lain karena
daya beli masyarakat menurun. “Sejak
pemberlakuan PSBB (pembatasan sosial
berskala besar) di Jabodetabek, daya beli
masyarakat menurun. Sementara, kami
harus memperpanjang kontrak sewa
tem pat, kami sudah tidak sanggup lagi,”
bebernya.
Jumlah warteg yang ada di Jakarta
menyebutkan mereka kehilangan omzet
hingga di atas 50% selama masa pandemi
virus corona (Covid-19) karena jumlah
pelanggan yang kian menurun.
Berbagai cara tetap dilakukan para
pedagang warteg agar pelanggan tetap
bertahan dan tidak kabur ke tempat
lain, mulai dari mengurangi harga, tidak
menaikkan harga meski harga bahan
pokok cenderung naik, dan berbagai
trik lainnya.
Hal serupa diungkapkan Hari (45) pedagang Warteg Jaya Sari di Jalan Kedondong Raya Kelurahan Sunter Jaya. Ia menyebutkan jumlah pelanggan yang datang ke tempatnya amat berkurang di masa pandemi. "Biasanya di jam makan siang (11.00- 14.00) itu bisa ada 20-30 pelanggan datang makan, sekarang hanya 10 dan dalam sehari jarang bisa sampai 20 pelanggan saja sudah lumayan," kata Hari.
(Oleh - HR1)









