Defisit Perdagangan dengan Tiongkok Turun 69%
Defisit perdagangan Indonesia dengan Tiongkok turun 69% menjadi US$ 3,6 miliar tahun lalu, dibandingkan 2019 sebesar US$ 11,7 miliar. Hal itu dipicu kenaikan ekspor yang signifikan ke Negeri Tirai Bambu. Berdasarkan data Kepabeanan Tiongkok menyebutkan, total nilai perdagangan Indonesia dan Tiongkok pada 2020 mencapai US$ 78,5 miliar. Ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai US$ 37,4 miliar, tumbuh 10,1% dibandingkan 2019. Sementara itu, nilai impor Indonesia dari Tiongkok sekitar US$ 41 miliar, turun 10,13% dibandingkan total nilai impor tahun lalu. Per tumbuhan ekspor Indonesia dikontribusi oleh beberapa produk andalan seperti sarang burung walet, tekstil, serta besi dan baja.
“Nilai ekspor Indonesia pada 2020
naik signifikan. Jika pada 2019 nilai ekspor Indonesia dibandingkan negara
anggota Asean berada di peringkat
kelima, tahun 2020 kita naik menjadi
peringkat empat,” kata Duta Besar
Indonesia untuk Tiongkok merangkap
Mongolia Djauhari Oratmangun dalam
keterangan resminya, Rabu (27/1).
Djauhari mengungkapkan, beberapa produk unggulan dan potensial
Indonesia dalam periode ini tercatat
mengalami peningkatan nilai ekspor
secara signifikan, di antaranya besi
dan baja (HS 72) meningkat 134,3%;
sarang burung walet (HS 0410) meningkat 88,05%; kertas dan produk
kertas (HS 48) naik 133,25%; kopi,
teh, mate dan rempah-rempah (HS
09) tumbuh 175,34%; alas kaki (HS
64) meningkat 19,75%; minyak atsiri, preparat wewangian, kosmetika
(HS 33) meningkat 15,62%; produk
keramik (HS 69) meningkat 53,8%;
timah dan produk turunannya (HS
80) naik 544,07%; serta aluminium dan
produk turunannya (HS 76) meningkat 2.031,53%.
Di sisi lain, ekspor produk industri menyentuh US$ 131 miliar selama 2020 atau naik 2,95% dari 2019. Kinerja positif ini membuat neraca perdagangan sektor manufaktur sepanjang 2020 surplus US$ 14,17 miliar. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) R. Janu Suryanto mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi kepada para pelaku industri di tanah air yang masih agresif menembus pasar ekspor di tengah tekanan kondisi pandemi Covid-19. Sektor industri pengolahan masih memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, terutama melalui capaian nilai ekspornya.
Sementara itu, dia menuturkan,
ekspor industri pengolahan pada Desember 2020 mencapai US$ 12,92 miliar
atau naik 6,79% dibandingkan November sebesar US$ 12,09 miliar. Hasil itu
membuat neraca perdagangan industri
pengolahan pada Desember 2020 mencatatkan surplus US$ 1,07 miliar
(Oleh - HR1)
General Atlantic Komitmen Danai Grup Kalbe US$ 150 Juta
General Atlantic menginvestasikan dana sebesar US$ 55 juta pada PT Kalbe Genexine Biologics (KGBio), anak usaha PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). General Atlantic yang merupakan private equity asal Amerika Serikat (AS) membuka peluang untuk menambah investasinya menjadi sebesar US$ 150 juta dalam waktu 2-3 tahun mendatang. Managing Director dan Head of Indonesia General Atlantic Ashish Saboo mengatakan, pihaknya berniat melakukan lebih banyak dari sekadar mengucurkan dana investasi kepada KGBio. Hal ini bisa terlihat dari rekam jejak General Atlantic yang kerap berinvestasi secara jangka panjang pada portofolio investasinya.
Sebagai informasi, General Atlantic tercatat pernah memimpin
investasi seri C senilai US$ 150 juta
kepada Ruangguru pada 2019. Dengan cakupan portofolio yang luas,
perusahaan juga berani berinvestasi
sekitar US$ 870 juta kepada Reliance
Jio Platforms di India pada 2020.
Ashish menambahkan, pihaknya
akan membantu KGBio merambah
pasar luar negeri, yang tidak hanya
terbatas pada Asia. Pihaknya melihat
potensi pertumbuhan yang signifikan pada KGBio.
Pada kesempatan yang sama,
Direktur Kalbe Farma Sie Djohan
mengatakan, bentuk investasi yang
dilakukan General Atlantic adalah
modal inti atau primary capital. Hal
ini membuat General Atlantic menguasai signifikan minoritas saham
KGBio.
Porsi General Atlantic diperkirakan tak bebeda jauh seperti kepemilikan saham KGBio oleh Genexine Inc, yang merupakan mitra
strategis Kalbe. Sementara, Kalbe
tetap menggenggam mayoritas
saham. Namun, Sie Djohan belum
bisa mengungkap detail porsi saham
yang dikendalikan General Atlantic.
Di sisi lain, General Atlantic saat ini memiliki fokus pada investasi life science. Hal ini membuat kedua perusahaan menemukan keselarasan dalam visi dan tujuan untuk mendirikan perusahaan obat biologi terintegrasi penuh pertama di Asia Tenggara. Selanjutnya, pada EPO hyFc atau GX-E4 yang merupakan novel longacting erythropoietin-hybrid Fc fusion protein, saat ini sedang dilakukan uji klinik fase III untuk pengobatan anemia. Produk ini rencananya akan didistribusikan untuk pasien ginjal kronik di negara-negara Asia Tenggara, Taiwan dan Australia. Selain itu, perseroan juga tengah mengembangkan antibodi yang masih dalam tahap uji klinis awal yaitu CD73 Antybody. KGBio juga memiliki anak usaha, yakni Innogene Kalbiotech dan memegang saham pengendali di Kalbio Global Medika. Adapun Innogene adalah perusahaan dengan produk berplatform biosimilar, yakni empat obat antibodi monoclonal. Sedangkan Kalbio adalah fasilitas manufaktur produk biologi dengan kapasitas bioreaktor untuk jalur sel mamalia
(Oleh - HR1)
Kemenkeu Pangkas Anggaran KKP Rp 157,6 Miliar
Kementerian Keuangan memangkas anggaran Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2021 sebesar Rp 157,6 miliar. Dengan pemangkasan anggaran ini, anggaran KKP yang semula Rp 6,65 triliun di APBN 2020 dipangkas menjadi Rp 6,49 triliun.
Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dengan pemangkasan ini maka instansinya akan melakukan penghematan belanja dan fokus ke program prioritas. Pertama, sebesar Rp 8,99 miliar dari kegiatan dekonsentrasi pada 34 Dinas Perikanan Provinsi.
Kedua, penundaan pengadaan kapal plat datar dan mengurangi jumlah lokasi program untuk kampung nelayan maju sebesar Rp 29 miliar. Ketiga, anggaran sebesar Rp 22,46 miliar yang awalnya untuk pengadaan tanah untuk pusat produksi benih dan induk di Jawa Barat. Keempat, mengubah komposisi pengadaan kapal pada tahun pertama untuk kapal pengawas kelas B, multi years contract sebesar Rp 28 miliar.
Pukulan Ganda Cukai Minuman Manis
Pemerintah berencana memungut cukai minuman berpemanis dan minuman bersoda tahun ini. Kebijakan ini untuk mengurangi konsumsi masyarakat atas minuman berpemanis dan bersoda lantaran turut memicu penyakit kronis seperti diabetes, obesitas dan lain lain.
Menkeu mengusulkan, pengenaan cukai sebesar Rp 1.200-Rp 1.500 per liter. Berdasarkan simulasi Direktorat Jederal Bea Cukai, potensi penerimaan cukai minuman berpemanis mencapai Rp 6,25 triliun per tahun.
Selain mengenakan cukai minuman berpemanis, sebelumnya pemerintah juga mengusulkan cukai kemasan plastic termasuk botol plastik. Hanya, hingga saat ini yang sudah mendapatkan lampu hijau dari DPR baru cukai untuk kantong plastik.
Wakil Ketua Umum Kebijakan Publik dan Hubungan Antar Lembaga Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gappmi) Rachmat Hidayat mengatakan, kebijakan pemerintah ini hanya untuk mendongkrak penerimaan negara, bukan pengendalian konsumsi atau kesehatan.
Komoditas Perkebunan, Ekspor Kopi Masih Bertaji
Kebutuhan kopi di dunia ternyata tetap tinggi kendati ada pandemi Covid-19. Oleh karena itu, sejumlah provinsi seperti Bali dan Jawa Timur tetap mencoba peruntungan dari komoditas perkebunan yang bernilai tinggi tersebut. Komang Sukarsana, pemilik Bali Arabika Roastery, tidak kehabisan cara untuk mempertahankan usaha di tengah pandemi Covid-19. Pengusaha kopi asal Pulau Dewata itu memilih mengubah segmen pasar setelah pola konsumsi konsumen bergeser akibat pandemi. Awalnya, Komang hanya menjual kopi spesialti dengan harga Rp80.000 per kilogram (kg). Kini, dia memilih untuk memasarkan komersial grade atau kopi kelas dua dengan harga Rp30.000 per kg setelah pandemi menyebabkan penurunan daya beli masyarakat terhadap kopi kelas satu.
Dari segi pemasaran seperti hotel, restoran, dan kafe sangat terdampak pandemi Covid-19. Namun, dia menyatakan untuk roastery lain yang menjadi mitranya di luar Bali seperti Jakarta masih tetap eksis. Bahkan, dia mencatat penyerapan produk kopi miliknya pada 2020 mencapai 39 ton atau meningkat 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara year on year (yoy).
Pada sisi lain, dia meyakini bertahannya usaha itu karena dalam kondisi apapun budaya mengkonsumsi kopi tidak dapat digantikan oleh jenis minuman lainnya. “Mungkin memang ada penurunan sedikit dari segi omzet karena tidak 100% specialty, tapi ini sudah cukup mengingat masih dalam situasi pandemi,” tambahnya. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Lanang Aryawan mengatakan komoditas kopi memiliki potensi yang tinggi untuk terus dikembangkan. Saat ini, lahan budi daya kopi di Bali mencapai 35.000 hektare (ha)37.000 ha.
Perinciannya, untuk luas kopi arabika yakni 13.000 ha14.000 ha dan kopi robusta mendominasi sekitar 23.000 ha-24.000 ha. Sementara itu, lanjutnya, pada musim panen raya, setiap hari kopi beras atau biji kopi kering dapat diperoleh hingga 15.000 ton. “Kopi memang menjadi komoditas andalan Bali,” kata Lanang.
Ichwan mengatakan melihat tren ekspor per kuartal pada tahun lalu juga menunjukan dampak dari pandemi. Pada kuartal I/2020, volume ekspor kopi Jatim mampu tumbuh 6% (yoy), pada kuartal II/2020 mampu tumbuh 1%, kemudian pada kuartal III mulai turun 14%, dan pada kuartal terakhir anjlok 16%. Adapun, realisasi ekspor kopi asal Jatim pada 2020 tercatat hanya mencapai 64.621 ton atau turun 8% dibandingkan dengan realisasi ekspor pada 2019 yakni mencapai 70.238 ton. Pada tahun lalu, dia menyatakan ekspor kopi menyasar 16 negara tujuan, dengan sebanyak lima negara di antaranya merupakan negara tujuan ekspor nontradisional yang relatif baru bagi eksportir Jatim. Untuk negara tujuan ekspor yang selama ini sudah menjadi langganan kopi dari Jatim di antaranya Mesir, Italia, Malaysia, Jepang, Inggris, Taiwan, Belgia, Amerika Serikat, Thailand, Maroko dan Timor Leste.
(Oleh - HR1)
Target Tekfin, Pintek Incar Penyaluran Rp400 Miliar
Perusahaan teknologi finansial peer-to-peer (P2P) lending PT Pinduit Teknologi Indonesia (Pintek) mengincar penyaluran dana hingga Rp400 miliar pada 2021. Co-Founder & Direktur Utama Pintek, Tommy Yuwono mengungkap bahwa Pintek masih fokus menggarap pangsa pasar yang berkaitan dengan sektor pendidikan pada 2021.
Seperti diketahui, OJK tengah merevisi Peraturan OJK No. 77/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Ber basis Teknologi Informasi. Melalui aturan ini, perusahaan tekfin wajib menyalurkan dana ke sektor produktif. Adapun, porsi penyaluran ke sektor ini paling sedikit 40% dari outstanding dalam por tofolionya secara bertahap dalam kurun waktu tiga tahun. Menurutnya, ketentuan itu mampu dipenuhi karena perusahaan telah memiliki portofolio segmen produktif. Pintek menyediakan layanan pin jaman produktif untuk pinjaman modal kerja, hingga pendanaan bagi sekolah, institusi pendidikan, hingga perusahaan/vendor SIPLah, dan seluruh pelaku UMKM penyedia jasa pendidikan untuk mendukung operasional para pelaku usaha.
Selama 2020, Pintek telah menyalurkan pinjaman men capai Rp60 miliar dengan tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman 90 hari (TKB90) terjaga di angka 100%. Secara akumulasi, pinjaman yang disalurkan sejak berdiri menjadi sekira Rp100 miliar kepada 2.707 borrower.
(Oleh - HR1)
Jalan Tor Baru, PUPR Target Bangun 2.536 Km
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menargetkan pada 2024 panjang jalan tol di Indonesia mencapai 4.630,25 kilometer. Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Hendy Rahadian mengatakan saat ini jalan tol yang sudah beroperasi mencapai 2.343 kilometer (km). Untuk pembangunan jalan tol baru, Ditjen Bina Marga menargetkan sepanjang 2.536 km hingga 2024. Hal itu seiring dengan target jalan tol baru dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024 sepanjang 2.500 km.
Nilai investasi yang dibutuhkan untuk konstruksi seluruh ruas jalan tol tersebut mencapai sekitar Rp182,68 triliun. Sejauh ini, pemerintah baru mengucurkan sekitar Rp12 triliun atau 6,67% dari total investasi. Dengan kata lain, harus ada tambahan investasi sekitar Rp171,2 triliun hingga 2024 atau Rp42,8 triliun per tahun selama 2021-2024. Dia menargetkan peningkatan waktu perjalanan nasional menjadi 1,5 jam per 100 km atau kecepatan rata-rata nasional bakal naik menjadi 66 km per jam. Dia menambahkan waktu tempuh tersebut akan menyamai waktu tempuh di Malaysia. Hendy menilai peningkatan waktu perjalanan dengan konstruksi jalan tol lebih mudah dibandingkan jalan biasa.
(Oleh - HR1)
Luhut : "Food Estate" Jadi Kesempatan Wujudkan Mordenisasi Pertanian
Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan mengatakan proyek lumbung pangan (food estate) yang sedang digarap pemerintah saat ini merupakan kesempatan emas bagi Indonesia mewujudkan modernisasi pertanian. Pemerintah saat ini tengah membangun food estate di sejumlah kawasan, seperti Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas, Kalimantan Tengah, serta Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
Luhut pun mendukung sinergi yang dibangun oleh Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam pengembangan riset pertanian maupun rekayasa alat dan mesin pertanian (alsintan). Modernisasi pertanian, kata Luhut, bisa terus ditingkatkan dengan tiga pengungkit utama, yaitu bibit, pupuk, dan alsintan. Khusus untuk alsintan, Luhut menilai mekanisasi memang harus dimasifkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Teknologi alsintan seperti drone, water drip irrigation, dan transplanter diharapkan bisa mendukung pertanian modern yang lebih terintegrasi.
RI-Jepang Tingkatkan Kerja Sama
Nilai ekspor produk perikanan RI ke Jepang pada Januari-November 2020 sebesar 528 juta dollar AS. Produk yang paling banyak diekspor adalah udang dan ikan tuna.
“Namun, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia ternyata bukan eksportir produk perikanan terbesar ke Jepang karena masih kalah dari Thailand. Oleh karena itu, kerja sama RI-Jepang di sektor perikanan harus terus ditingkatkan,” kata Duta Besar Indonesia untuk Jepang Heri Akhmadi, Rabu (27/1/2021).
OJK Setujui Merger Tiga Bank Syariah BUMN
Deputi Komisioner Humas dan Logistik Otoritas Jasa Keungan (OJK) Anto Prabowo mengatakan, OJK telah menyetujui rencana penggabungan usaha PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri Tbk, dan PT Bank BNI Syariah Tbk menjadi satu di bawah identitas baru PT Bank Syariah Indonesia Tbk per Rabu ini. Persetujuan ini ditandai dengan keluarnya Salinan Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor 4/KDK.03/2021.
Bank Syariah Indonesia akan melakukan kegiatan usaha di lebih dari 1.200 kantor cabang dan unit eksisting yang sebelumnya dimiliki BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah. Dari hasil proforma keuangan Bank Hasil Gabungan per 30 Juni 2020, total aset Bank Syariah Indonesia tersebut nantinya mencapai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun.
Jumlah tersebut menempatkan Bank Hasil Penggabungan dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset. Bank Hasil Penggabungan akan berstatus sebagai perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BRIS.
Komposisi pemegang saham dari Bank Syariah Indonesia adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar 51,2 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar 25 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 17,4 persen, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI-Saham Syariah sebesar 2 persen, serta publik sebesar 4,4 persen.









