;

Komoditas Perkebunan, Ekspor Kopi Masih Bertaji

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 28 Jan 2021 Bisnis Indonesia
Komoditas Perkebunan, Ekspor Kopi Masih Bertaji

Kebutuhan kopi di dunia ternyata tetap tinggi kendati ada pandemi Covid-19. Oleh karena itu, sejumlah provinsi seperti Bali dan Jawa Timur tetap mencoba peruntungan dari komoditas perkebunan yang bernilai tinggi tersebut. Komang Sukarsana, pemilik Bali Arabika Roastery, tidak kehabisan cara untuk mempertahankan usaha di tengah pandemi Covid-19. Pengusaha kopi asal Pulau Dewata itu memilih mengubah segmen pasar setelah pola konsumsi konsumen bergeser akibat pandemi. Awalnya, Komang hanya menjual kopi spesialti dengan harga Rp80.000 per kilogram (kg). Kini, dia memilih untuk memasarkan komersial grade atau kopi kelas dua dengan harga Rp30.000 per kg setelah pandemi menyebabkan penurunan daya beli masyarakat terhadap kopi kelas satu.

Dari segi pemasaran seperti hotel, restoran, dan kafe sangat terdampak pandemi Covid-19. Namun, dia menyatakan untuk roastery lain yang menjadi mitranya di luar Bali seperti Jakarta masih tetap eksis. Bahkan, dia mencatat penyerapan produk kopi miliknya pada 2020 mencapai 39 ton atau meningkat 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara year on year (yoy). 

Pada sisi lain, dia meyakini bertahannya usaha itu karena dalam kondisi apapun budaya mengkonsumsi kopi tidak dapat digantikan oleh jenis minuman lainnya. “Mungkin memang ada penurunan sedikit dari segi omzet karena tidak 100% specialty, tapi ini sudah cukup mengingat masih dalam situasi pandemi,” tambahnya. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Lanang Aryawan mengatakan komoditas kopi memiliki potensi yang tinggi untuk terus dikembangkan. Saat ini, lahan budi daya kopi di Bali mencapai 35.000 hektare (ha)37.000 ha. 

Perinciannya, untuk luas kopi arabika yakni 13.000 ha14.000 ha dan kopi robusta mendominasi sekitar 23.000 ha-24.000 ha. Sementara itu, lanjutnya, pada musim panen raya, setiap hari kopi beras atau biji kopi kering dapat diperoleh hingga 15.000 ton. “Kopi memang menjadi komoditas andalan Bali,” kata Lanang. 

Ichwan mengatakan melihat tren ekspor per kuartal pada tahun lalu juga menunjukan dampak dari pandemi. Pada kuartal I/2020, volume ekspor kopi Jatim mampu tumbuh 6% (yoy), pada kuartal II/2020 mampu tumbuh 1%, kemudian pada kuartal III mulai turun 14%, dan pada kuartal terakhir anjlok 16%. Adapun, realisasi ekspor kopi asal Jatim pada 2020 tercatat hanya mencapai 64.621 ton atau turun 8% dibandingkan dengan realisasi ekspor pada 2019 yakni mencapai 70.238 ton. Pada tahun lalu, dia menyatakan ekspor kopi menyasar 16 negara tujuan, dengan sebanyak lima negara di antaranya merupakan negara tujuan ekspor nontradisional yang relatif baru bagi eksportir Jatim. Untuk negara tujuan ekspor yang selama ini sudah menjadi langganan kopi dari Jatim di antaranya Mesir, Italia, Malaysia, Jepang, Inggris, Taiwan, Belgia, Amerika Serikat, Thailand, Maroko dan Timor Leste.

(Oleh - HR1)

Tags :
#Ekspor
Download Aplikasi Labirin :