BKPM: Realisasi Investasi 2020 Melampaui Target
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sepanjang 2020 sebesar Rp 826,3 triliun atau mencapai 101,1% dari target investasi yang ditetapkan tahun lalu sebesar Rp 817,2 triliun. Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, realisasi investasi sepanjang tahun lalu juga mengalami kenaikan 2,1% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year sebesar Rp 809,6 triliun. “Realisasi investasi kita itu mencapai Rp 826,3 triliun dari target investasi kita Rp 817,2 triliun. Artinya ada kenaikan kurang lebih sekitar Rp 9 triliun dari target,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers, Realisasi Investasi, Senin (25/1).
Realisasi investasi di sepanjang tahun lalu didominasi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 413,5 triliun atau 50,1% dari total investasi. Realisasi PMDN ini naik 7% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 386,5 triliun. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 412,8 triliun, atau berkontribusi 49,9% dari total investasi. Realisasi PMA justru turun 2,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 423,1%.
Lebih lanjut, ia menjelaskan terkait
tetap bertahan PMA meski pandemi
disebabkan kepercayaan investor
terhadap perekonomian dalam negeri.
“Banyak yang bertanya kenapa PMA
bisa sedikit turunnya. Lembaga dunia
mengatakan FDI itu turun 30-40%, tapi
di Indonesia nggak lebih dari 10%,
artinya kepercayaan itu ada,”tegasnya.
BKPM juga mencatat realisasi investasi di Jawa sebesar Rp 408,8 triliun
atau menyumbang 49,5% dari total
investasi. Realisasi di Jawa turun 5,9%
dibandingkan periode sama 2020 Rp
434,6 triliun. Sementara itu investasi
di luar Jawa meningkat 11,3% (yoy)
menjadi Rp 417,5 triliun.
Ke depan, Bahlil memperkirakan dalam rangka hilirisasi dan transformasi ekonomi nilai investasi di luar Jawa seperti di kawasan timur, Sumatera, Kalimantan akan terus meningkat. Bahlil Lahadalia mengatakan realisasi investasi sepanjang tahun lalu didominasi oleh transportasi, gudang, dan telekomunikasi yang tercatat Rp 144,8 triliun atau 17,5% dari total realisasi PMDN dan PMA.
Ketiga, sektor investasi yang besar
yakni industri logam dasar, barang
logam bukan mesin dan peralatannya
sebesar Rp 94,8 triliun atau 11,5%. Ini
menunjukkan bahwa aktivitas industri
mulai kembali bergeliat. “Industri
sudah jalan, ini bukan data-data asal
bapak senang. Ya tapi ini data yang
bisa diuji dan diverifikasi, saya syukur
jika ada yang mau verifikasi untuk
diskusi,”tuturnya.
Di sisi lain, ia menjelaskan negara
asal PMA, terbanyak berasal dari Singapura sebesar US$ 9,8 miliar dengan
15.088 proyek, Tiongkok US$ 4,8 miliar dengan 3.027 proyek, Hongkong
US$ 3,5 miliar dengan 2.789 proyek,
Jepang US$ 2,6 milia dengan 8.817
proyek, dan Korea Selatan US$ 1,8
miliar dengan proyek sebanyak 5.468.
Bahlil menambahkan, pihak nya diminta oleh Presiden Jo ko Widodo
(Jokowi) untuk dapat merealisasikan
target investasi di tahun ini sebesar
Rp 900 triliun. Angka tersebut tumbuh
4,8% dari target realisasi investasi yang
dicantumkan dalam sasaran strategi dan
indikator kinerja renstra BKPM sebesar
Rp 858,5 triliun. Target tersebut juga
meningkat 8,91% dari realisasi investasi
sepanjang 2020 sebesar Rp 826,3 triliun.
(Oleh - HR1)
Tags :
#Investasi lainnyaPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Anggaran 2025 Terancam Membengkak
Pemerintah akan Menjaga Laju Invetasi Asing
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Rendahnya Belanja Produktif Menghambat Pemulihan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023