Program Petani Milenial, Inovasi Mengubah Wajah Petani
Urbanisasi anak muda, dan regenerasi petani di Jawa Barat sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat merilis Program Petani Milenial untuk menjawab persoalan ini.
Brainy Briliany, 22 tahun, sudah beberapa tahun terakhir menggeluti profesi sebagai petani. Bersama dengan rekan-rekannya, dia tergabug dalam sebuah kelompok tani di Desa Cikembar Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Kelompok tersebut sukses membudidayakan burung puyuh. Sebanyak 2.000 ekor burung puyuh kini berhasil diternakkan dan telah berhasil mendatangkan keuntungan.
Dari peternakan burung puyuh itu, Brainy mengaku bisa mendapatkan penghasilan kotor Rp300.000 per hari. Dia lantas berkeinginan untuk mengembangkan peternakan puyuh, namun keterbatasan modal pribadi maupun kelompok jadi kendala.
Di tengah berpikir keras mendatangkan modal usaha, kabar baik menghampiri saat dia mendapatkan informasi dari grup whatsapp tentang Program Petani Milenial Juara dari Pemda Provinsi Jawa Barat.
Anak muda seperti Brainy diincar Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar bisa bergabung dalam Program Petani Milenial yang diluncurkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Bandung Barat, Jumat (26/3).
Sebanyak 2.204 petani muda resmi bergabung dalam program tersebut. Petani milenial itu nantinya akan memilih jenis pertanian yang diminatinya termasuk bidang perikanan dan peternakan di mana skema lahan, off-taker hingga pembiayaan difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan stakeholder terkait.
Petani Milenial dinilai menjadi jawaban persoalan klasik di bidang pertanian. Ridwan Kamil mencatat berdasarkan hasil survei pertanian antar sensus (sutas) 2018 yang dilakukan Badan Pusat Statistik, jumlah petani di Jabar mencapai 3.250.825 orang.
Dari jumlah tersebut, petani yang berusia 25—44 tahun hanya 945.574 orang atau 29%. Kondisi tersebut tentu memberikan efek domino bagi sektor pertanian di Jabar.
Selain regenerasi, program Petani Milenial bertujuan untuk menekan urbanisasi. Saat ini, mayoritas generasi milenial memilih berkarier di perkotaan.
Kepala Biro Perekonomian Setda Jabar Benny Bachtiar mengatakan selain untuk menarik minat generasi milenial, program ini juga bertujuan menumbuh kembangkan kewirausahaan muda pertanian di Jabar.
“Kami ingin menciptakan pertanian maju, mandiri, dan modern. Kemudian, program tersebut diharapkan dapat mengurangi masalah pengangguran sekaligus mengubah wajah pertanian menjadi pertanian modern dan berbasis teknologi,” katanya.
(Oleh - HR1)
Penerimaan Pajak Seret, Konsep Wealth Tax Layak Dikaji
Bisnis, JAKARTA — Sejumlah pengamat pajak menyarankan kepada pemerintah untuk menarik pajak atas kekayaan atau wealth tax sejalan dengan terus meningkatnya kekayaan orang kaya di tengah pandemi Covid-19. Pajak atas kekayaan atau wealth tax memang belum pernah diterapkan. Akan tetapi konsep ini bukan wacana baru di Tanah Air. Sebelumnya, pemerintah juga pernah membuka wacana terkait dengan wealth tax, yakni penerapan pajak atas warisan.
Direktur Eksekutif MUC Tax Research Institute Wahyu Nuryanto mengatakan konsep wealth tax menjadi opsi terbaik yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk memburu sumber pajak baru di tengah suramnya prospek penerimaan akibat pandemi. “Rasanya ini layak dipertimbangkan di tengah kondisi pandemi ini. Karena selama pandemi yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Jadi ketimpangan meningkat,” ujar Wahyu kepada Bisnis, belum lama ini. Adapun, wealth tax mengacu pada jumlah kekayaan atau harta yang dimiliki oleh wajib pajak tersebut. Harta yang dimaksud termasuk aset, yang biasanya setiap tahun mengalami kenaikan valuasi. “Jadi ini yang harus dikejar. Bisa saja harta setiap tahun meningkat. Jadi berbeda dibandingkan dengan PPh,” ujarnya.
Senada, Pengamat Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar mengatakan konsep wealth tax telah banyak digunakan oleh negara lain. Konsep ini juga muncul di Amerika Serikat (AS) baru-baru ini. Dengan demikian, tidak salah jika pemerintah memburu wajib pajak kaya dan superkaya, baik dari sisi penghasilan maupun dari sisi kekayaan yang dimiliki. “Jadi dari optimalisasi dapat dan dari sisi mendorong equality juga dapat. Di negara lain pun seperti ini, bahkan AS isu wealth tax hidup lagi,” kata dia.
(Oleh-HR1)
Stok Vaksin Kian Tipis, Menkes Budi Deg-degan
JAKARTA. Indonesia menghadapi kabar buruk dalam upaya menggenjot proses vaksinasi Covid--19. Pasalnya, ketersediaan vaksin Covid-19 di Indonesia makin minim. Salah satu penyebabnya, India mengembargo ekspor vaksin Astra Zeneca lantaran terjadi kenaikan kasus di negara itu. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, saat ini vaksin yang di produksi di India dalam jumlah besar selain Astra Zeneca adalah Novavax.
"Ini berita buruk, India termasuk yang naik kasusnya. Karena dia naik, dia embargo vaksinnya enggak boleh keluar," kata Budi, Minggu (28/3). Sementara kapasitas produksi PT Bio Farma, produsen vaksin di dalam negeri, baru bisa digenjot pada Mei 2021. "Saya deg-degan. Karena Bio Frma sedang pembersihan mesin untuk upgrade supaya mulai Mei kapasitasnya lebih besar. Jadi saya cuma punya 7 Juta stok dari Sinovac, tadinya saya pikir bisa dapat 7,5 juta dari Astra Zeneca jadi bisa 15 juta," ungkap Budi.
Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta Sarman Simanjorang meminta pemerintah segera melobi negara produsen vaksin agar tak ada penundaan yang berdampak pada jadwal vaksinasi. "Penundaan pengiriman vaksin bisa mengganggu jadwal vaksinasi dan menyebabkan proses pemulihan ekonomi menjadi tertunda," ujar Sarman Simanjorang.
(Oleh - HR1)
Bisnis Aplikasi Kesehatan Online Semakin Bugar
Platform layanan kesehatan online mencatatkan kinerja positif selama pandemi korona. Permintaan konsultasi dokter, transaksi dan pengiriman obat hingga tes Covid-19 menanjak.
Aplikasi kesehatan, Halodoc, mencatat kenaikan transaksi layanan konsultasi dokter berbayar hampir 10 kali lipat.
VP Corporate Communication Halodoc, Felicia Kawilarang mengatakan, kondisi itu terjadi lantaran masyarakat melihat platform Halodoc cukup berguna di masa pemberlakuan social distancing. Alhasil, Halodoc turut mengalami pertumbuhan bisnis yang signifikan.
Peningkatan itu setelah Kementerian Kesehatan dan BNPB menunjuk Halodoc sebagai platform layanan kesehatan digital untuk mengakses tes Covid-19.
Aplikasi Doclink juga mencatatkan pertumbuhan transaksi hingga 30% selama pandemi. Aplikasi ini aktif sejak September 2019 dan sudah mulai dirintis dengan keikutsertaan dalam seleksi program Indigo Creative Nation - Telkom Indonesia batch 2 pada Oktober 2018.
Dirjen Pajak Menyisir Wajib Pajak di Jawa
Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Ditjen Pajak Kemkeu) akan menambah 18 kantor pelayanan pajak (KPP) Madya. Kantor baru ini mulai beroperasi Mei 2021. Tujuannya adalah untuk menggali potensi pajak dari para wajib pajak potensial.
Saat ini sudah ada 20 KPP Madya, sehingga nantinya total ada 38 KPP Madya. Selain itu, jumlah seksi pengawasan juga di tambah dari sebelumnya 60 menjadi 228 orang.
KPP Madya bersama dengan KPP lainnya dan kantor wilayah (Kanwil) Pajak, akan mengawasi penerimaan pajak dengan dua cara. Pertama, pengawasan pembayaran masa (PPM) dengan memantau dan meneliti pembayaran pajak per masa.
Pembentukan KPP Madya baru itu diharapkan mampu mengamankan 80%-85% penerimaan pajak pada setiap Kanwil Pajak. Dalam alur kerjanya, setiap KPP Madya diusulkan untuk mangampu 1.500 wajib pajak terbesar pada Kanwil KPP Madya tersebut.
Ekonomi AS Membaik, Ekspor RI Bisa Naik
Bank Indonesia (BI) menilai pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang diramal bisa lebih cepat bisa menjadi peluang positif bagi prospek ekspor Indonesia. Bl berharap pemulihan di AS meningkatkan nilai ekspor ke negeri itu.
Deputi Gubernur Bl Sugeng menyatakan, dalam pemantauan BI, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencatatkan kenaikan USS 186,7 juta pada Februari 2021.
Amerika merupakan salah satu negara tujuan ekspor terbesar Indonesia setelah China. Ekspor ke Indonesia ke AS saat ini memegang pangsa sekitar 12%-13% dari total ekspor Indonesia.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman juga melihat, pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih cepat bisa menjadi peluang bagi ekspor Indonesia untuk tumbuh. Selain bisa memperbesar nilai ekspor, perbaikan ekonomi Amerika juga bisa berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi domestik.
Dengan kondisi yang bisa terjadi, Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di kisaran 4,3%. Penopangnya adalah konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah.
Ancaman Krisis Industri Tekstil Lokal Belum Pudar
Krisis masih menghantui industri tekstil Indonesia di masa pandemi Covid-19. Di saat permintaan global masih melemah, sejumlah pemain tekstil domestik dihadapkan pada utang jatuh tempo.
PT Indah Jaya Textile Industry, misalnya, salah satu yang menghadapii gugatan PKPU. Gugatan ini diajukan PT Tunas Ruang Mesin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 27 Januari 2021 dengan nomor perkara 57/Pdt. Sus-PKPU/2021/PN Niaga Jakarta Pusat. Indah Jaya Textile adalah produsen handuk ternama dengan merek Terry Palmer.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Rizal Talzil enggan mengomentari perkara PKPU yang melibatkan industri tekstil. Namun dia mengakui bahwa kondisi saat ini cukup berat bagi industri tekstil dalam negeri. Selain pandemi korona, ada sejumlah tantangan, misalnya harga bahan baku naik akibat harga minyak mentah di pasar global meningkat.
Perencana Bidang Perdagangan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Deasy Pane menilai, Untuk mengatasi persoalan di industri garmen, pemerintah perlu memberikan akses luas terhadap bahan baku, baik impor maupun lokal.
Pemulihan Ekonomi, Ekspor Teh Digenjot
Bisnis, BANDUNG — Komoditas teh Jawa Barat berpeluang merajai kebutuhan pasar internasional didorong pemenuhan ekspor ke berbagai negara pada tahun ini.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan pihaknya pada akhir pekan lalu baru saja melepas ekspor sebanyak 20 ton teh asli dengan tujuan Uni Emirat Arab dengan nilai Rp614 juta. Dia mengatakan ekspor teh membuktikan bahwa sektor pangan paling tangguh terhadap Covid-19 sekaligus membuktikan teh masih menjadi komoditas primadona dari Jabar selain kopi.
Bahkan sejauh ini ekspor produk pertanian dan perkebunan Jabar masih yang tertinggi di Indonesia. Khusus produk teh, kontribusi Jabar terhadap total produksi teh nasio-nal sebesar 69,15%, disusul Jawa Tengah (9,06%), Sumatra Utara (6,20%), Sumatra Barat (5,70%) dan Jambi sebesar (2,59%).“Ekspor kita tetap peringkat satu, tak terkecali produk teh,” ucapnya.Menurutnya, ekspor teh ini akan berpengaruh terhadap recovery rate atau angka pemulihan ekonomi Jabar pasca-Covid-19. Minggu ini diketahui recovery rate Jabar terus meningkat di angka 58 setelah minggu sebelumnya di angka 48.
Ekonomi Jabar diprediksi akan tumbuh positif 4,5% pada akhir tahun 2021. Gubernur pun optimistis angka tersebut akan tercapai seiring bergeraknya ekonomi dan vaksinasi.“Mudah-mudahan sesuai prediksi akhir tahun 2021 ekonomi Jabar bisa tumbuh positif 4,5%, salah satunya dengan pergerakan eko-nomi lewat ekspor teh,” katanya.
Melihat peluang komoditas teh ini, Pemerintah Kabupaten Purwakarta ikut mendorong pengembangan perkebunan teh agar menjadi produk unggulan yang bisa menembus pasar ekspor.“Daun teh ini menjadi salah satu produk perkebunan unggulan di Purwakarta. Bisa dibilang, potensi ekonomi dari komoditas ini cukup besar,” kata Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika, belum lama ini.
(Oleh - HR1)
Cabai Rawit Setara Daging Sapi
Harga cabai rawit merah di daerah di pantura barat Jateng tembus Rp 120.000 per kilogram atau setara dengan harga daging sapi. Masyarakat diminta menanam sendiri cabai untuk mengurangi ketergantungan pada pasar.
PEKALONGAN, KOMPAS — Dua pekan jelang Ramadhan, harga cabai rawit merah di sejumlah daerah di kawasan pesisir pantura barat Jawa Tengah melambung tinggi, setara dengan harga daging sapi. Masyarakat diminta menanam cabai di rumah untuk mencukupi kebutuhannya masing-masing.
Sejak sepuluh hari terakhir, harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisonal di Kota Tegal dan Kota Pekalongan tembus Rp 120.000 per kilogram dari harga sebelumnya, Rp 110.000 per kilogram. Harga tersebut setara dengan harga sekilo daging sapi.
Di Pasar Induk Banyurip, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, misalnya, harga cabai rawit merah bahkan pernah mencapai Rp 123.000 per kilogram. Hal itu terjadi pada dua pekan lalu.
Aminah (41), pedagang cabai di Pasar Induk Banyurip, menuturkan, peningkatan harga cabai rawit merah terjadi sejak dari tingkat petani. ”Dari tingkat petani sudah mahal, Rp 115.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 80.000 per kilogram. Katanya, stok cabai rawit merah di mereka memang sedikit karena banyak yang gagal panen akibat curah hujan tinggi,” kata Aminah, Minggu (28/3/2021).
Berdasarkan data Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi Jawa Tengah, harga cabai rawit merah di wilayah pantura barat pada tiga bulan pertama 2021 stabil naik. Pada Januari, rata-rata harga cabai rawit merah di wilayah tersebut sebesar Rp 60.000 per kilogram.Pembuatan Konten Kreatif Skala Domestik Naik Daun
Membuat konten kreatif dari rumah menjadi salah satu bentuk adaptasi di tengah kondisi pandemi saat ini.
Ragam kegiatan dilakukan oleh banyak orang di rumah selama masa pandemi, termasuk membuat konten kreatif. Tujuh dari sepuluh orang melibatkan keluarga/kerabat untuk membuat konten kreatif baik untuk konsumsi pribadi atau berbisnis.
Konten kreatif terus berkembang seiring beragamnya platform publikasi digital. Data Youtube Official menunjukkan ada 500 jam video diunggah setiap menit di Youtube. Di Instagram, ada 500 juta akun menggunakan instagram story setiap hari. Berkembangnya konten digital didukung pertumbuhan pengguna internet dan media sosial. Hingga Januari 2021, tercatat ada 4,66 miliar penduduk dunia yang menggunakan internet.
Di Indonesia, ada 73,7 persen penduduk yang aktif sebagai pengguna internet dengan durasi berinternet harian masyarakat mencapai 8 jam 52 menit. Platform publikasi digital paling diminati warga Indonesia adalah media sosial, terutama Youtube, Whatsaap, Instagram, dan Facebook.
Kondisi serupa juga tercermin dari hasil survei Kompas pada 27 Desember 2020 - 9 Januari 2021 lalu. Sebanyak 45,9 persen responden membuat dan mempublikasi konten kreatifnya di aplikasi Tiktok. Media sosial lain yang turut populer adalah Facebook (41 persen), Instagram (34,3 persen), dan Youtube (30,7 persen).
Sementara dari sisi jenis konten, masyarakat Indonesia dominan membuat foto naratif dan video. Selain makin beragamnya platform dan jenis konten kreatif, sebagai bentuk adaptasi maka pembuatan konten tersebut dilakukan di skala domestik, yaitu rumah pribadi.
Proses pembuatan konten kreatif dapat dilakukan di skala domestik atau langsung di tempat tinggal masing-masing, salah satu alasannya adalah dapat mengajak keluarga, kerabat, atau tetangganya. Sebagian besar responden (71,2 persen) pembuat konten mengajak orang terdekatnya dalam berkreasi.
Konten pascapandemi
Tren positif konten kreatif yang dibuat di rumah dengan melibatkan orang terdekat turut dipicu kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Banyak masyarakat Indonesia yang menghabiskan banyak waktunya di rumah atau lokasi dekat rumah.
Apabila selama pandemi sebagian besar konten dapat diselesaikan di rumah, maka dibutuhkan penyesuaian proses produksi konten kreatif pasca pandemi. Hasil survei Kompas menunjukkan adanya diferensiasi proses yang perlu dipilah untuk membuat konten kreatif.
Pembuat konten perlu memikirkan solusi produksi kontennya agar terus konsisten di tengah mulai padatnya kesibukan lain. Setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan agar tetap bisa berkarya di masa pasca pandemi dan mencapai tujuan mengapa konten tersebut diproduksi.
Pertama, mengikuti pelatihan lanjutan proses pembuatan konten, baik secara teknologi yang dipakai dan perencanaan konten. Pelatihan lanjutan penting untuk mengevaluasi dan mengatur ulang tahapan pembuatan konten agar lebih adaptif dengan kondisi pasca pandemi.
Kedua, menjalin kerjasama dengan pembuat konten lainnya. Distribusi pekerjaan melalui bentuk kerjasama juga mampu mengurangi beban pekerjaan di rumah, mulai dari perancangan naskah, pengambilan foto dan video, hingga strategi pemasaran. Selain itu, masing-masing orang dengan leluasa akan bertukar ide untuk perbaikan konten.
Terakhir, menata ulang manajemen waktu dan peran di rumah. Kesibukan yang makin meningkat menuntut tiap orang agar fokus, sehingga sangat mungkin lalai dengan tugas masing-masing di rumah. Kondisi tersebut tentu menimbulkan perselisihan.
(Oleh - HR1)








