Ketentuan Pajak DIgital, Amazon Sulut Perdebatan
Bisnis, JAKARTA — Asa konsensus global mengenai pemajakan atas ekonomi digital kembali surut setelah Amazon.com Inc. mencatatkan margin operasional yang sangat kecil. Kondisi ini kembali membuka perdebatan mengenai batasan margin operasional bagi perusahaan yang menjadi objek dari pajak digital.
Amerika Serikat (AS) melalui proposal yang disusun oleh Departemen Keuangan merancang pengenaan pajak pada 100 perusahaan teknologi terbesar yang berkantor pusat di negara itu.
Garis besar dari rencana tersebut adalah memberlakukan pungutan bagi setiap perusahaan besar dengan margin keuntungan yang melebihi ambang batas tertentu. Namun hingga saat ini angka ambang batas tersebut masih belum final.
Di tengah proses perumusan angka batas ideal itu, Amazon mencatatkan margin operasional perusahaan yang sangat rendah. Perusahaan itu melaporkan margin operasional global di seluruh bisnisnya hanya 5,5%. Angka tersebut sangat jauh di bawah perusahaan sejenis, di antaranya Facebook Inc. yang mencapai 45,5% dan perusahaan induk Google, Alphabet Inc. yang berhasil membukukan margin hingga 27,5%.
Seorang pejabat Kementerian Keuangan Prancis mengatakan mereka masih memeriksa proposal AS untuk menentukan apakah akan mencakup semua perusahaan multinasional digital.
Namun, AS telah lama menentang perjanjian yang memilih bagian tertentu dari ekonomi, seperti aturan yang hanya memengaruhi perusahaan digital, dan proposal Departemen Keuangan yang baru dimaksudkan untuk membuat cakupan rencana tersebut lebih kuantitatif dan objektif.
Menurut orang-orang yang mengetahui masalah ini, pejabat AS menyadari bahwa kementerian keuangan negara lain mencoba untuk membuat korporasi bermargin rendah masuk dalam ambang profitabilitas, dan Amazon merupakan target dari diskusi ini.
Sementara itu Negeri Paman Sam terus menentang upaya untuk menargetkan perusahaan atau sektor mana pun.
(Oleh - HR1)
OJK Siap Atur Investasi Unitlink
Perdagangan Daerah, Kinerja Ekspor Kopi Kebal Di Tengah Pandemi
Bisnis, SURABAYA — Tren permintaan pasar ekspor komoditas kopi tahun ini diprediksi mengalami peningkatan meskipun masih di tengah pandemi Covid-19. Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (Gaeki) Jawa Timur memprediksi kinerja ekspor mampu meningkat hingga 20%.
Sekretaris Gaeki Jatim Ichwan Nursidik mengatakan peningkatan itu seiring dengan adanya potensi sejumlah pengembangan pasar baru. Pasar baru yang potensial bagi komoditas kopi Jatim yakni Irak, Iran, Lebanon, UEA, Filipina, Malaysia, dan China terutama untuk jenis kopi olahan.
Data Gaeki menyebutkan bahwa ekspor kopi Jatim pada 2020 mencapai 64.621 ton dengan total nilai US$138,5 juta atau turun dibandingkan dengan 2019 yang mampu mencapai 70.238 ton atau US$148,9 juta.
Kinerja ekspor kopi 2019 lebih tinggi jika dibandingkan dengan kinerja ekspor 2018 yang mencapai 66.881 ton atau US$154,8 juta.
Ichwan menyatakan dengan mulai bergeraknya roda perekonomian, awal tahun ini ekspor kopi Jatim juga menunjukan tren yang positif.
Pada kuartal I/2021 tercatat sudah ada ekspor kopi sebanyak 23.102 ton dengan nilai US$46,3 juta. Volume ekspor itu meningkat 52% dibandikan dengan kuartal I/2020 yakni 15.193 ton atau US$33,5 juta.
Bahkan, lanjut Ichwan, jika melihat kinerja dari bulan ke bulan, ada tren peningkatan yang bagus, dari Januari 2021 ekspornya 6.693 ton atau US$13,7 juta
Kemudian Februari meningkat menjadi 7.227 ton atau US$14,6 juta, dan pada Maret naik lagi menjadi 9.236 ton atau US$17,8 juta.
“Pasar ekspor pada Maret lalu ini cukup bagus, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, bahkan dibandingkan Maret 2020 ada tren kenaikan sampai 101%, karena Maret tahun lalu volumenya hanya terealisasi 4.606 ton,” imbuhnya.
Ichwan menambahkan dari data kinerja ekspor kopi Jatim selama kuartal I/2021, sebanyak 17,8 juta kg dikontribusi oleh kopi jenis Robusta dengan nilai US$31,9 juta, disusul kopi olahan 4,51 juta kg dengan nilai US$11,4 juta, serta kopi jenis Arabika sebanyak 669.330 kg dengan nilai US$2,95 juta.
Berdasarkan data dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut, volume ekspor biji kopi melalui Pelabuhan Belawan hingga Februari 2021 menuju Amerika Serikat adalah 4.263 ton atau memberi andil sebesar 44,77% terhadap ekspor kopi Sumut.
Adapun nilai ekspornya mencapai US$17,33 juta atau memberi andil sebesar 43,12% terhadap total nilai ekspor kopi Sumut.
Sementara itu, volume ekspor kopi Sumut sepanjang 2020 menuju Negeri Paman Sam adalah 28.824 ton.
(Oleh - HR1)
Optimalisasi Penerimaan Negara, Otoritas Pajak Berburu Data ke Daerah
Bisnis, JAKARTA — Otoritas pajak berburu data dari pemerintah daerah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak yang sejauh ini belum maksimal.
Hal tersebut dilakukan Ditjen Pajak Kementerian Keuangan melalui perjanjian kerja sama dengan Ditjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan dan 84 pemerintah daerah (Pemda) tentang optimalisasi pemungutan pajak pusat dan pajak daerah tahap III.
Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Suryo Utomo mengatakan perjanjian kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertukaran dan pemanfaatan data atau informasi perpajakan, data perizinan, serta informasi lainnya.
Melalui kerja sama ini, otoritas pajak akan menerima sumber data penting untuk pengawasan terkait dengan kepatuhan pajak.
Di antaranya data kepemilikan dan omzet usaha, data mengenai izin mendirikan bangunan, informasi usaha pariwisata, usaha pertambangan, usaha perikanan, serta informasi mengenai usaha perkebunan.
(Oleh - HR1)
Program PEN 2021, Serapan Insentif Dunia Usaha Melempem
Bisnis, JAKARTA — Penyerapan insentif yang ditujukan kepada pelaku usaha masih jauh dari harapan. Hingga 1 April lalu, realisasi penyerapan anggaran insentif fiskal bagi dunia usaha hanya mencapai 23,98% atau Rp14,02 triliun dari total alokasi senilai Rp58,47 triliun.
Fakta ini sungguh ironi, mengingat pemerintah meningkatkan alokasi insentif usaha dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021.
Mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 9/PMK.03/2021 tentang Insentif Pajak untuk Wajib Pajak Terdampak Pandemi Covid-19, masa berlaku insentif dalam program PEN tahun ini tercatat sampai masa pajak Juni 2021.
Sekadar informasi, total dana yang disiapkan untuk pos insentif usaha pada tahun ini mencapai Rp58,47 triliun.
Angka tersebut naik dibandingkan dengan total dana yang dialokasikan oleh pemerintah pada PEN tahun lalu yakni senilai Rp55,35 triliun.
“Ini sebagai insentif pelaku usaha dan menstimulasi permintaan masyarakat yang tertahan selama pandemi,” tulis data Kementerian Keuangan yang dikutip Bisnis, Rabu (21/4).
Pertama untuk mendukung pelaku usaha, kedua mendorong konsumsi masyarakat, dan ketiga meningkatkan daya beli pegawai/karyawan.
Dari total Rp14,02 triliun yang terserap tersebut, porsi terbesar dimanfaatkan oleh wajib pajak badan dalam bentuk penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan mencapai 52,37%.
Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Ajib Hamdani mengatakan permasalahan mendasar dari lemahnya daya serap itu adalah karena informasi yang masih minim.
“Selain itu juga jangkauan yang relatif terbatas, dan kemampuan eksekusinya yang kurang maksimal dari sisi pengusahanya,” kata dia saat dihubungi Bisnis.
(Oleh - HR1)
Neraca Komoditas Harus Dievaluasi Rutin
JAKARTA – Neraca komoditas
yang akan menjadi dasar pemenuhan bahan baku bagi industri
nasinal harus dievaluasi secara
berkala. Hal ini bertujuan untuk
memastikan data neraca komoditas
valid dan sesuai dengan temuan-temuan baru di lapangan.
Ketua Forum Lintas Asosiasi
Industri Pengguna Gula Rafinasi
(FLAIFGR) Dwiatmoko Setiono
menjelaskan, sesungguhnya rencana pembentukan neraca komoditas bagus. Namun, satu hal yang
penting menjadi perhatian adalah
keberadaan data bahan baku yang
valid. “Sebelum membuat neraca,
kita harus tentukan stok awal berapa dan stok akhir berapa,” kata
dia, belum lama ini.
Selain kesamaan data, dia menegaskan, hal lain yang tak kalah
penting adalah kesepahaman
mengenai metode pengumpulan
dan analisis. Penyusunan neraca
komoditas memerlukan penyamaan metode statistik agar tercipta
kesatuan data.
Oleh karena itu, dia menuturkan,
kejujuran seluruh pemangku kepentingan menjadi krusial dalam
menyusun neraca komoditas yang
kredibel dan akurat. “Bisa saja data
dalam neraca komoditas dibuat-buat
untuk kepentingan beberapa pihak,”
ungkap Dwiatmoko
Nantinya, neraca komoditas
sangat terkait dengan keputusan
impor bahan baku dan bahan
penolong industri. Apalagi PP
28/2021 ini merupakan salah satu
turunan Undang Undang Cipta
Kerja. “Selama ini penetapan impor
bahan baku dan bahan penolong
industri diambil berdasarkan rekomendasi dari kementerian teknis,”
kata dia
(Oleh - HR1)
Cheil Jedang Ekspor Produk Bioteknologi US$ 580 Juta
JAKARTA – PT Cheil Jedang Indonesia (CJI), perusahaan bioteknologi ternama asal
Korea Selatan, menargetkan
ekspor sebesar US$ 580 juta atau
setara Rp 8,41 triliun pada tahun
2021. Seluruh produk ekspor
CJI merupakan produk yang
sangat dibutuhkan dalam mata
rantai perdagangan global untuk
produk pakan dan makanan.
“Target kami bisa menguasai
pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS), karena memang permintaan pasar untuk produk dengan konsep alam dan ramah
lingkungan ini sedang meningkat
di negara tersebut,” kata Wakil
Presiden CJI Plant Pasuruan
Yoon Tae Sang dalam keterangan
resmi, belum lama ini.
Yoon Tae Sang menyampaikan,
cysteine dengan merk Flavor
Nrich™ Master C telah menjawab permintaan pasar global,
khususnya untuk industri makanan. Produk ini merupakan
asam amino alami yang dapat
dipergunakan oleh siapapun,
termasuk para kelompok vegan.
Pada 2021, CJI menargetkan
penjualan produk FlavorNrich™
Master C dapat menembus negara-negara di Eropa dan AS.
Presiden Direktur CJ Indonesia Group Shin Hee Sung mengungkapkan, total investasi untuk
produk asam amino, khususnya
cysteine mencapai US$ 100 juta.
Selain itu, saat ini CJI mengembangkan produksi polihidroksialkanoat (PHA) yang dapat digunakan sebagai bahan tambahan
pakan yang bisa dikembangkan
sebagai bahan biopolimer untuk
produksi plastik ramah lingkungan senilai US$ 50 juta dan segera
dipasarkan dalam waktu dekat.
(Oleh - HR1)
Astra Suntik Dana ke Halodoc dan Sayurbox
JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII) terus melebarkan
sayap bisnisnya dengan menjadi investor di perusahaan rintisan
(start-up). Astra mengucurkan dana sebesar US$ 5 juta ke
Sayurbox dan US$ 35 juta ke Halodoc pada Maret dan April
2021.
Halodoc merupakan aplikasi kesehatan berbasis online. Sedangkan Sayurbox merupakan
e-commerce grocery farm to table platform and
distributor of fresh goods. Astra adalah investor
utama dalam pendanaan dua start-up tersebut.
Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung
ternyata tak menghambat perseroan untuk
mengembangkan bisnisnya. Sementara itu,
pada kuartal I-2021, Astra International membukukan penurunan laba bersih sebesar 22%
menjadi Rp 3,72 triliun dibandingkan periode
sama tahun lalu sebesar Rp 4,81 triliun.
Adapun pendapatan bersih Astra turun 4%
menjadi Rp 51,7 triliun pada kuartal I-2021.
Pencapaian yang lebih rendah pada kuartal I
tahun ini karena pandemi di Indonesia dimulai
pada Maret 2020, yang kemudian memengaruhi ekonomi nasional dan kinerja bisnis
secara substansial.
Hingga 31 Maret 2021, kas bersih Astra
mencapai Rp 15,9 triliun dibandingkan per akhir
2020 yang sebesar Rp 7,3 triliun. Arus kas yang
lebih tinggi pada kuartal I-2021 disebabkan oleh
kinerja bisnis yang membaik, serta belanja
modal dan modal kerja yang lebih rendah.
Menurut Djony, jika volume bisnis terus
membaik hingga akhir tahun ini, belanja modal
dan modal kerja kemungkinan meningkat.
Utang bersih anak perusahaan jasa keuangan
Astra meningkat dari Rp 39,2 triliun pada akhir
2020 menjadi Rp 40,3 triliun per 31 Maret 2021.
Hampir seluruh segmen bisnis Astra mengalami penurunan laba bersih pada kuartal
I-2021. Laba bersih divisi otomotif menurun
26% menjadi Rp 1,4 triliun, yang mencerminkan penurunan volume penjualan.
Penjualan mobil Astra menurun 24% menjadi
99.000 unit dengan pangsa pasar menurun
dari 55% menjadi 53%. Pada periode ini telah
diluncurkan lima model revamped. Sementara,
penjualan Astra atas sepeda motor Honda
menurun 17% menjadi 1.008.000 unit, namun
pangsa pasar sedikit meningkat. Pada periode
tersebut telah diluncurkan dua model baru dan
lima model revamped.
(Oleh - HR1)
Jumlah Investor Aset Kripto dan Saham Saling Menyalip
JAKARTA – Jumlah
investor aset kripto per
akhir Februari 2021
mencapai 4,2 juta,
menurut data Badan
Pengawas Perdagangan
Berjangka Komoditi
(Bappebti). Jumlah
tersebut melampaui
investor saham yang
sebanyak 2 juta single
investor identification
(SID), berdasarkan data
Bursa Efek Indonesia
(BEI). Namun, jumlah
investor aset kripto bisa
double karena belum
ada SID seperti saham.
Sebenarnya jumlah
investor aset kripto dan
saham saling menyalip.
Ketua Asosiasi Pedagang Aset Kripto
Indonesia (Aspakrindo) sekaligus COO
Tokocrypto Teguh Kurniawan Harmanda mengatakan, jumlah investor
aset kripto per akhir Februari memang
mencapai 4,2 juta. Tetapi, mengingat
belum adanya bursa aset digital, jadi
belum bisa menilai secara tepat.
“Sebenarnya jumlah investor saham
dengan aset kripto itu saling menyalip.
Pada 2015, investor saham lebih
banyak, tapi pada 2017 aset kripto
yang lebih banyak. Pada 2020, karena
pertumbuhan di capital market luar
biasa, jadi tersalip. Tapi sekarang
lebih banyak investor aset kripto,”
kata Teguh Kurniawan Harmanda
atau akrab disapa Manda, Rabu (21/4).
Dia menegaskan, aset kripto menjadi pilihan investasi yang menarik.
Jika terus meningkat, dia yakin bisa
tembus 10 juta investor akhir tahun
ini dan 2-4 tahun ke depan bisa 26 juta.
“Tapi ingat, ini bisa double datanya.
Misalnya dia ada di pedagang efek
satu dan jadi nasabah juga di pedagang
kripto lainnya. Ini beda dengan bursa
saham yang hitungannya SID. Nanti,
kalau bursa aset kripto sudah ada,
baru bisa terlihat jelas angkanya,”
tutur Manda.
Kenaikan harga aset kripto, menurut dia, seiring mulai diadopsinya aset
ini oleh perusahaan kelas dunia seperti Tesla, Paypal, dan Goldman Sachs.
Bahkan, jauh sebelum perusahaanperusahaan tersebut, tercatat Microsoft, AT&T, Burger King Venezuela,
KFC Kanada, Twitch, Air Baltic, dan
Shopify telah mengadopsinya terlebih
dahulu. Sejarah Bursa Amerika Serikat
bahkan mencatat Coinbase Global Inc,
perusahaan perantara jual beli kripto
terbesar di AS bernilai US$ 86 miliar,
yang melakukan debut di pasar saham
disambut antusias oleh investor.
(Oleh - HR1)
Pengusaha Perikanan Terima Pinjaman Ratusan Juta
JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menekankan pentingnya peran pendamping Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP) kepada Nelayan yang menerima dana bergulir."Dana bergulir yang diberikan harapannya bisa kembali sesuai dengan yang diberikan agar bisa digunakan untuk (pelaku usaha) yang lain. Harus didampingi karena ini kan dana bergulir sehingga pendampingan harus serius ", ucap Trenggono di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam Jambi ditulis Minggu (25/4/2021).
Pendamping nelayan Batanghari Jumansyah Putra mengaku tugas ini nyatanya tidaklah mudah, mulai dari jarak tempuh yang jauh, medan yang sulit, dan waktu kerja yang dinamis menjadi tantangan. Dalam kesempatan tersebut, BLU LPMUKP menyerahkan pinjaman modal usaha Rp2,8 miliar kepada 40 orang pemanfaat dari Kabupaten Batanghari, Muaro Jambi, dan Tanjung Jabung Barat. Sebagian besar mereka adalah pelaku usaha penangkapan ikan, sedangkan lainnya adalah pembudidaya ikan dan pengolah dan pemasar hasil perikanan (poklahsar).(Oleh - HR1)









