Digitalisasi Uang Dapat Membuat Kripto Lebih Menarik
NEW YORK – Dua pengelola
dana kripto berpendapat bahwa
digitalisasi mata uang, termasuk
dolar AS, tidak akan mematikan
mata uang digital seperti bitcoin. Malahan akan membuatnya
lebih menarik bagi lebih banyak
investor.
Di tengah makin banyak bank
sentral di seluruh dunia yang
mempertimbangkan digitalisasi
mata uang masing-masing, tren
ini dapat mendorong lebih banyak
investor masuk ke kripto. Pendapat ini dikemukakan Michael
Sonnenshein dari Grayscale dan
Greg King dari Osprey Funds,
seperti dilansir CNBC pada Sabtu
(12/6).
Walaupun bitcoin belum digunakan secara luas sebagai
alat pembayaran, tapi perannya
dalam menjaga nilai uang dapat
memperkuat mata uang-mata
uang digital yang didukung oleh
pemerintah.
“Bayangkan mata uang kertas
di seluruh dunia didigitalkan.
Saya pikir itu akan mendorong
lebih banyak orang ke bitcoin
misalnya. Dan ini akan memberikan lebih banyak kontrol kepada
pemerintah dibandingkan peredaran uang biasa dan akan banyak
orang masuk ke bitcoin karena
masalah kontrol itu,” ujar King,
CEO Osprey.
Osprey saat ini menjalankan
Osprey Bitcoin Trust (OBTC)
dan juga Osprey Algorand Trust.
Yang terakhir ini berlandaskan
teknologi yang saat ini dipakai
oleh para bank sentral dalam
proyek mata uang digitalnya.
Kedua CEO tersebut menambahkan, semakin adopsi bitcoin
meningkat di seluruh dunia, valuasinya juga akan semakin besar.
(Oleh - HR1)
KEK Batam Aero Tecnic dan Nongsa Digital akan Serap Investasi Rp 23,2 Triliun
JAKARTA - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Batam Aero Technic (BAT) dan KEK Nongsa
Digital Park (NDP) di Pulau Batam, Provinsi
Kepulauan Riau, ditargetkan mampu menyerap investasi hingga Rp 23,2 triliun. Sebanyak
Rp 7,2 triliun investasi akan diserap oleh KEK
Batam dan Rp 16 triliun masuk ke KEK Nongsa.
“Rencana aksi untuk kedua
KEK ini telah disusun. Saya meminta komitmen semua instansi
terkait untuk melaksanakannya
dengan baik,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Airlangga Hartarto dalam pernyataan resminya akhir pekan lalu.
Menurut Airlangga, Presiden Joko
Widodo (Jokowi) telah menandatangani dua peraturan pemerintah
(PP) yang menetapkan Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK) Batam
Aero Technic (PP Nomor 67
Tahun 2021) dan KEK Nongsa
Digital Park (PP Nomor 68 Tahun 2021) yang terletak di Pulau
Batam Provinsi Kepulauan Riau.
Penetapan kedua PP KEK yang
diiringi dengan vaksinasi serentak
pada kawasan industri di Provinsi
Kepulauan Riau tersebut diharapkan dapat menjadi akselerator
pemulihan ekonomi nasional.
“Penetapan kedua KEK tersebut sangat strategis dalam mendukung pengembangan Kawasan
Batam, Bintan, dan Karimun,
yang saat ini telah dikembangkan
menjadi Free Trade Zone dan telah
menarik investor baik asing maupun dalam negeri,” ungkap dia.
Airlangga mengatakan, KEK
Batam Aero Technic seluas 30
hektare (ha) memiliki target investasi sebesar Rp 7,2 triliun dan
penciptaan lapangan pekerjaan
untuk 9.976 tenaga kerja. KEK
ini akan dikembangkan untuk
kegiatan industri berbasis MRO
(maintenance, repair, overhaul)
pesawat penumpang.
Airlangga mengungkapkan,
pengembangan KEK BAT bersifat brown field project. Karena sebelum ditetapkan menjadi
KEK, kawasan tersebut telah
dibangun berbagai fasilitas, di
antaranya untuk area hanggar
maintenance, hanggar painting,
hanggar cleaning, apron, taxiway,
dan sebagainya.
Pengembangan KEK Nongsa
Digital Park juga bersifat brown
field project. Karena sebelum
ditetapkan menjadi KEK, telah
dibangun berbagai akomodasi
dan atraksi pariwisata bertaraf
internasional, serta sudah terbangun infrastruktur pendukungnya seperti Turi Beach Resort,
Nongsa Point Marina, Nongsa
Terminal Bahari, Nongsa Village,
dan Infinite Framerwork Studio.
Airlangga menerangkan, KEK
Nongsa Digital Park diharapkan
dapat menjadi entry gate bagi pelaku usaha information technology
(IT) global ke perekonomian nasional, menghemat devisa negara
dalam bisnis digital hingga Rp 20-
30 triliun per tahun, dan transfer
teknologi di bidang IT, sehingga
menjadi pusat pengembangan
SDM tenaga IT muda Indonesia.
“Setelah menjadi KEK, ke depannya dikembangkan Movie Town,
IT Office, IT Academy, Data Centre Commersial Area, fasilitas dan
infrastruktur serta pengembangan Hotel dan Resort,” ungkap dia.
Airlangga menerangkan, Provinsi Kepulauan Riau saat ini
memiliki KEK terbanyak di Indonesia. Hal ini membuat Indonesia
mempunya digital hub dari Batam
ke berbagai wilayah yang terkoneksi dengan IT.
(Oleh - HR1)
Kenaikan PPN akan Pengaruhi Konsumsi Masyarakat Menengah-Bawah
JAKARTA, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Kebijakan Publik Sutrisno Iwantono mengatakan kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) diperkirakan akan langsung berdampak ke perekonomian masyarakat kecil. Sebab pengenaan PPN ini langsung dirasakan oleh konsumen dari naiknya harga barang. “Dengan pengertian incomenya tetap, harganya naik maka tingkat kesejahteraan menjadi turun. Apalagi kalau sebagian besar dari UMKM dan lapisan bawah yang paling terpuruk saat pandemi ini,” ucap Iwan dalam Zoominari Kebijakan Publik Arah Kebijakan Pajak Dikala Pandemi pada Jumat (11/6). Saat ini konsumsi rumah tangga menjadi penopang terbesar pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal I 2021 komponen konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 56,93% ke pertumbuhan ekonomi nasional. Saat PPN dinaikan maka sektor tersebut yang akan terkena.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo mengatakan saat ini kinerja PPN Indonesia masih di bawah rata-rata negara Asia, penyebabnya antara lain pengecualian yang terlalu banyak. Mengenai kenaikan tarif PPN, ia menuturkan saat ini pemerintah justru memberikan insentif perpajakan untuk masyarakat yang terdampak pandemi. “Tidak ada pemungutan pajak yang agresif justru untuk menolong masyarakat,” ucap Yustinus dalam kesempatan yang sama .
(Oleh - HR1)
BPDPKS Siap Libatkan Petani dalam Rantai Pasok Biodiesel
JAKARTA, Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) siap melibatkan petani atau pekebun kelapa sawit dalam rantai pasok biodiesel. Hal tersebut untuk menjaga keberlanjutan program energi baru dan terbarukan(EBT) melalui mandatori biodiesel.Plt Kepala Divisi Lembaga Kemasyarakatan Civil Society BPDPKS Sulthan Muhammad Yusa menuturkan, untuk menjaga program EBT melalui program mandatori biodiesel maka pemerintah telah menyesuaikan tarif pungutan ekspor (PE) melalui PMK No 191 Tahun 2020, mengingat kebutuhan sawit untuk program tersebut terus meningkat setiap tahun. “Dan hal itu perlu diikuti dengan peningkatan produktivitas kebun sawit agar kebutuhan bahan baku biodiesel dapat terpenuhi di masa mendatang, untuk itu perlu melibatkan para petani atau pekebun sawit di Tanah Air,” kata dia.
BPDPKS memproyeksikan, produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan stok komoditas tersebut pada 2021-2025 mencapai 52,30-57,61 juta ton atau rata-rata naik 4% per tahun, sementara kebutuhan biodiesel untuk program B30 pada 2021-2025 sebesar 8,34-9,66 juta ton atau rata-rata naik 5% per tahun. Dengan konsumsi domestik yang stagnan, Indonesia memerlukan produk hilir yang mampu menyerap stok CPO yang tinggi. Karena itu, ke depan BPDPKS akan mendorong program palm oil for Renewable Energy: Next Programme yang melibatkan petani dalam rantai pasok biodiesel sawit.
Sementara itu, Koordinator Investasi dan Kerja Sama Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Elis Heviati mengatakan, penerapan program mandatori biodiesel Indonesia dilatarbelakangi karena produksi minyak sawit mentah Indonesia yang cukup besar, pada 2020 saja telah mencapai 52 juta ton. Upaya dalam meningkatkan ketahanan energi nasional tersebut juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengingat dengan tutupan lahan sawit seluas 16,38 juta hektare (ha) sebanyak 40% dimiliki pekebun (petani sawit). Dalam grand strategy energi nasional, pada 2030 pemerintah akan tetap mempertahankan kebijakan B30 dan memaksimalkan produksi bahan bakar nabati (BBN) dari biodiesel atau biohidrokarbon. Karena itu, ke depan, pemanfaatan BBN tidak hanya sebatas untuk biodiesel pada pengusahaan skala besar, tapi didorong yang berbasis kerakyatan dan disesuaikan kebutuhan konsumen, termasuk mendorong pemanfaatan by product biodiesel serta pemanfaatan hasil sawit non-CPO. Model kesertaan petard dalam program mandatori biodiesel bisa berupa pengembangan pabrik minyak nabati industrial (FVO) dan bensin sawit dengan bahan baku dari tandan buah segar (TBS) sawit rakyat yang memiliki biaya produksi lebih murah 15-20% dari pabrik kelapa sawit (PKS) konvensional, harga TBS lebih stabil serta dapat dikelola oleh Koperasi/BUMD dan SNI IVO sudah terbit.
(Oleh - HR1)
Wacana PPN Sembako akan Bebani Petani
JAKARTA – Wacana penerapan pajak pertambahan
nilai (PPN) untuk komoditas
dasar (sembilan bahan pangan pokok/sembako) dinilai
kurang tepat dan akan makin
membebani para petani di
Tanah Air. Petani Indonesia
didominasi petani tanaman
pangan yang produksinya
sangat tergantung musim dan
ketika produksi melimpah
petani dihadapkan pada kejatuhan harga.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi
Andreas Santosa mengatakan,
pengenaan PPN terhadap komoditas pangan pokok (sembako) merupakan kebijakan
yang tidak tepat dan tidak
masuk akal. Kebijakan itu
justru akan memberatkan
petani dan makin memperpuruk kondisi petani Indonesia.
“Kebanyakan petani Indonesia
adalah petani tanaman pangan
yang untuk menghasilkan
atau berproduksi tergantung
musim dan keberuntungan.
Musim tidak bisa ditebak, jika
musim bagus maka produksi
pangan meningkat tapi jika
musim buruk maka petani
merugi,” ujar dia
Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan, pengenaan PPN terhadap pangan
pokok akan berdampak pada
peningkatan inflasi, konsumen
bisa teriak dan petani juga terpukul. PPN terhadap komoditas pangan merupakan kebijakan yang bisa menimbulkan
permasalahan baru sehingga
pemerintah perlu mempertimbangkannya kembali. “Masih
banyak urusan pertanian yang
perlu diperbaiki, bukan mengejar pemasukan PPN dari pertanian, memang selama ini
pertanian jarang dikenakan
pajak tetapi pengenaan PPN
terhadap pangan merupakan
sesuatu yang tidak masuk akal,”
kata dia.
(Oleh - HR1)
Minat IPO Broker Aset Kripto Bertambah
JAKARTA – Menyusul Coinbase Global Inc,
perusahaan perantara jual beli aset kripto asal
Amerika Serikat, yang sukses mencatatkan
sahamnya (listing) di bursa Wall Street, PT Zipmex
Exchange Indonesia (Zipmex) juga tertarik untuk
melangsungkan penawaran umum perdana
(initial public offering/IPO) dan pencatatan saham.
Sebelumnya, PT Aset Digital Berkat (Tokocrypto)
telah menyatakan siap IPO dan listing di Bursa Efek
Indonesia (BEI) dalam 2-3 tahun mendatang.
Tak hanya berminat untuk tercatat
di BEI, Zipmex pun tertarik untuk
listing di Nasdaq, AS dan Bursa Efek
Hong Kong. “Kami memang punya
rencana untuk listing saham di Nasdaq, Hang Seng, dan BEI. Kami akan
pelajari dulu dan sedang melihat
regulasinya,” kata Co-founder dan CEO
Zipmex Marcus Lim, baru-baru ini.
Namun, Marcus masih enggan
membeberkannya lebih lanjut. Adapun rencana tersebut kemungkinan
besar bisa dieksekusi dalam 2-3 tahun
ke depan. Saat ini, pihaknya sedang
memantau perkembangan kondisi
pasar, meningkatkan skala bisnis, dan
membangun tim, serta produk.
Tahun ini, Zipmex membidik dua
juta pengguna di Indonesia dibandingkan posisi pengguna aplikasi aset
kripto tersebut yang baru mencapai
300 ribu. Perseroan optimistis target
tercapai, karena Indonesia memiliki
potensi pasar yang luar biasa besar.
“Buktinya, bulan lalu Zipmex menfasilitasi perdagangan kripto hingga
US$ 1 miliar,” sebut Marcus.
Investasi aset kripto di Indonesia,
khususnya Bitcoin, selama beberapa
bulan terakhir berkembang sangat
pesat. Aset kripto digadang-gadang
membawa ruang perdagangan investasi baru yang lebih transparan dan
menjanjikan bagi nasabah maupun
pelaku industri.
Walau begitu, masih banyak yang
merasa asing dengan sistem investasi
atau trading aset digital ini. Karena
itu, lanjut Marcus, untuk menjawab
keraguan calon investor, Zipmex hadir
sebagai platform investasi digital yang
mengedepankan kemudahan bagi para
pengguna.
(Oleh - HR1)
Membaca Peluang Alternatif Bursa Capres
Dinamika bursa pencalonan presiden pada Pemilu 2024 akan membuka banyak kemungkinan, tak hanya pengerucutan sosok potensial, tetapi juga memantik terbentuknya poros-poros kekuatan partai pengusung. Sederat nama masuk daftar sosok calon presiden 2024 dengan tingkat elektabilitas tinggi. Kemunculan mereka dari hasil berbagai survei tersebut membuat peta politik bergerak dinamis dengan berbagai manuver dan strategi yang dimainkan.
Hasil survei Kompas yang dilakukan pada periode April 2021 menempatkan sejumlah sosok calon presiden dengan tingkat elektabilitas tinggi, yaitu Prabowo Subianto (16,4 persen), disusul berurutan oleh Anies Baswedan (10,0 persen), Ganjar Pranowo (7,3 persen), Sandiaga Uno (3,7 persen), dan Ridwan Kamil (3,4 persen).
Salah satu yang menjadi perhatian terkait PDI-P yang belakangan getol menggaungkan nama Puan Maharani sebagai calon presiden. Meskipun belum final, dinamika terkait pemunculan nama calon presiden di internal partai itu cukup memberikan banyak kejutan. Sebagai pemegang trah Soekarno, Puan memang digadang akan mendapatkan karpet merah untuk mengantongi rekomendasi dari sang Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Belakangan polemik terkait hal itu mengemuka di publik. Dimulai saat Puan yang tidak mengundang Ganjar Pranowo saat konsolidasi PDI-P di Jawa Tengah dan menyinggung kehadiran pemimpin rakyat yang tidak hanya di dunia maya, hingga bocornya rekaman suara off the record dari Ketua DPD PDI-P Jawa Tengah Bambang Wuryanto, yang menyebut sosok Puan pantas mendapat rekomendasi dan bahkan siapa pun yang menjadi calon presiden, Puan layak menjadi wakilnya.
Menguatnya Prabowo yang sangat mungkin dicalonkan oleh PDI-P ataupun Gerindra itu membuka banyak kemungkinan lain dalam bursa pencalonan presiden. Jika hal itu benar terjadi, tertutupnya pencalonan untuk kader-kader internal lainnya justru akan membuka peluang baru untuk maju diusung oleh poros koalisi lainnya. Sekalipun elektabilitasnya cukup melejit dalam beberapa waktu terakhir, tampaknya hal itu tak menjamin Ganjar Prabowo akan mulus mengantongi rekomendasi dari PDI-P untuk dicalonkan sebagai presiden.
Demikian pula di Gerindra, menguatnya sosok Prabowo juga akan menutup kemungkinan untuk memajukan sosok lain dalam pilpres mendatang. Sejumlah hasil survei menempatkan nama Sandiaga Uno yang juga kader Gerindra sebagai calon presiden dengan elektabilitas cukup tinggi. Bila dihadapkan pada kondisi demikian, baik bagi Ganjar maupun Sandiaga sangat memungkinkan untuk membuka peluang lain dengan melepaskan diri dari naungan PDI-P dan Gerindra.
Kemunculan nama-nama di atas dalam bursa calon presiden ini tentu akan membuat peta penggalangan kekuatan yang dilakukan partai-partai menjadi sangat berdenyut. Berdasarkan hasil Pemilu 2019, setidaknya ada tiga hingga empat poros koalisi partai yang dapat terbentuk untuk mengusung setiap calon presiden dan wakil presiden di Pilpres 2024. Persyaratan ambang batas partai politik untuk mengusung calon presiden atau presidential threshold sebesar 20 persen kursi legislatif atau 25 persen penguasaan suara sah nasional pada pemilu sebelumnya (UU 7/2017 tentang Pemilu), tentu membentuk rasionalitas bagi partai untuk sedapat mungkin mengusung pasangan calon paling tepat meskipun bukan berasal dari kader internal.
Partai papan atas lainnya dengan penguasaan lebih dari 10 persen, seperti Gerindra (13,57 persen), Golkar (14,78 persen), Nasdem (10,26 persen), PKB (10,09 persen), dengan melihat perolehan kursi mereka, secara matematis hanya diperlukan dua partai untuk berkoalisi memenuhi syarat ambang batas pencalonan. Dengan demikian, kemungkinan ada dua hingga tiga poros koalisi yang dapat terbentuk. Kemungkinan poros lain juga dapat dilakukan antarpartai yang memiliki penguasaan kurang dari 10 persen kursi di DPR. Partai-partai, seperti Demokrat(9,39 persen), PKS (8,70 persen), dan PAN (7,65 persen), dapat juga dapat menggawangi poros koalisi bersama partai-partai kecil lainnya untuk dapat memenuhi persyaratan pencalonan presiden.Kinerja PPN Dioptimalkan
Pemerintah tengah mendesain ulang rancangan revisi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) secara komprehensif. Dalam revisiter masuk mengenai ketentuan Pajak Pertambahan Nilai atau PPN. Untuk memperbaiki kinerja PPN, pemerintah berencana mengubah skema serta mengkaji ulang jenis barang dan jasa yang dikecualikan dari obyek pajak. ”Pengecualian PPN yang saat ini terlalu luas membuat kita gagal mengadministrasikan serta mengoptimalkan penerimaan pajak. Ini sebenarnya yang ingin kami perbaiki,” ujar Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo dalam diskusi virtual, Sabtu (12/6/2021). Dalam Pasal 4A Ayat (2b) rancangan beleid revisi UU tentang KUP, daftar beberapa jenis barang yang tak dikenakan PPN memang dihilangkan. Semula jenis kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan masyarakat dan tak dikenakan PPN diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 116/PMK.010/ 2017. Ini meliputi beras dan gabah, jagung, sagu, kedelai, garam konsumsi, daging,telur, susu, buah-buahan, sayur-sayuran, ubi-ubian, bumbu-bumbuan, dan gula konsumsi.
Yustinus menjelaskan, dalam beleid revisi UU tentang KUP, pemerintah berencana mengubah tarif PPN dengan tiga skema tarif yang mungkin diterapkan, yaitu tarif umum, multitarif, dan tarif final. Untuk tarif umum, pemerintah akan menaikkan tarif PPN menjadi 12 persen dari saat ini yang berlaku sebesar 10 persen. Adapun PPN multitarif akan dikenakan mulai dari 5 persen hingga paling tinggi 25 persen. PPN final ditetapkan tarif sebesar 1 persen seperti yang saat ini berlaku untuk hasil sektor pertanian tertentu. Barang tertentu yang hanya bisa dikonsumsi kelompok atas bisa dikenakan 15 persen atau 20 persen. Sementara itu, tarif untuk barang yang dibutuhkan masyarakat banyak seperti susu formula, yang kini dikenakan 10 persen, akan menjadi 5 persen. ”Barang-barang strategis lain yang dibutuhkan masyarakat banyak untuk kepentingan umum bisa dikenakan PPN final, katakanlah 1 persen, 2 persen, atau bahkan nanti dimasukkan untuk kategori tidak dipungut PPN sehingga menjadi 0 persen,” kata Yustinus. Ia juga memastikan pengesahan UU tidak dilakukan tahun ini.
Model Baru Misi Dagang
Pandemi Covid-19 tak menyurutkan misi dagang antarpulau dan
daerah, bahkan lintas negara. Pandemi yang membatasi perdagangan fisik
melahirkan model baru jaringan perdagangan dan bisnis secara virtual dan hibrida.
Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Sekolah Ekspor, Kementerian Perdagangan,
dan Kementerian Luar Negeri bekerja sama memanfaatkan momentum pandemi untuk memperkuat
jaringan perdagangan dan bisnis secara virtual. Salah satunya ialah mempertemukan
diaspora Indonesia di luar negeri dengan pelaku usaha di dalam negeri pada
ruang virtual.
Akhir Mei 2021, misalnya, ruang interaksi virtual ini direalisasikan melalui Seri Dialog Global 500K Eksportir Baru ”Diaspora Eksportir Baru Wilayah Amerika Serikat”. Diaspora yang memiliki bisnis di sejumlah wilayah AS dihadirkan. Mereka bergerak di sektor ritel, logistik, pergudangan terintegrasi, dan distribusi. Selain berbagi pengalaman dan membagikan kondisi pasar AS, para diaspora Indonesia itu juga berkomitmen menjadi aggregator atau penghubung dengan pebisnis dan konsumen di AS.
Adapun Balai Besar Pelatihan Pendidikan dan Pelatihan Ekspor dan Sekolah Ekspor bekerja sama mengurasi dan memetakan diaspora-diaspora Indonesia di beberapa negara. Hal itu dalam rangka membangun jaringan ekspor dari hulu hingga hilir dan pembuatan peta jalan pengembangan ekspor bagi 500.000 eksportir baru dari kalangan UKM.
Pandemi juga membuat pemerintah ”menyulap” pameran perdagangan internasional tahunan Trade Expo Indonesia (TEI) menjadi TEI Virtual Exhibition (TEI-VE) pada 2020. Sebulan digelar, pameran yang merupakan bagian dari misi dagang dan investasi ini membukukan transaksi senilai 1,2 miliar dollar AS. Pameran ini menghadirkan 690 pelaku usaha dan 7.459 pembeli yang meliputi 3.352 pembeli dari 127 negara mitra dagang dan 4.107 pembeli lokal.
Untuk menggerakkan perdagangan antardaerah dan pulau, pemerintah daerah menggalakkan misi dagang dan investasi baik secara virtual maupun hibrida (daring dan luring). Pada akhir September 2020, misalnya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar misi dagang hibrida dengan Pemprov Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Maluku. Total transaksi yang dibukukan dalam misi dagang hibrida itu senilai Rp 168,22 miliar. Pada 3 Juni 2021, DKI Jakarta dan Jatim menandatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama di bidang perdagangan, investasi, dan pembentukan komunitas kebutuhan pangan. Acara ini juga menghadirkan pelaku usaha dari DKI Jakarta dan Jatim dan berhasil membukukan transaksi senilai Rp 750,439 miliar.
Grand View Research, perusahaan konsultan dan riset pasar yang berbasis di India dan AS, mencatat, pasar acara virtual global bernilai 77,98 miliar dollar AS pada 2019 dan 94,04 miliar dollar AS pada 2020. Laju pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate) dari 2020 hingga 2027 diperkirakan sebesar 23,2 persen. Acara virtual ini antara lain mencakup konferensi video, streaming, dan penyiaran langsung, bursa kerja, pameran dagang, serta komunikasi atau pertemuan bisnis perdagangan dan investasi.Wacana Pengenaan PPN Sembako Bikin Resah
Usulan pemerintah untuk penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sembako tetap memantik protes dari berbagai kalangan. Meski belum menjadi keputusan final, wacana ini membuat pelaku usaha resah.
Seperti diungkapkan Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri. la menilai bahwa isu pengenaan PPN terhadap sembako ini telah membuat psikologi pasar terganggu dan menimbulkan kepanikan serta kegaduhan di kalangan pedagang pasar. Reaksi publik maupun pedagang cukup keras dan dan kuat. Banyak permintaan untuk mengadvokasi hal ini sehingga keresahan itu sangat terasa.
Abdullah berharap Menteri Keuangan dapat menghentikan isu pemungutan PPN terhadap produk sembako ini dan tidak perlu memajaki sembako dengan alasan apapun. Pasalnya, sembako atau bahan pangan adalah kebutuhan dasar masyarakat yang mempunyai efek domino sangat besar bagi daya beli dan keberlangsungan ekonomi. Bila PPN sembako ini diterapkan, maka harga pangan akan naik dan yang jelas akan dibebankan kepada konsumen.
Tulus mengkritik soal kegagalan pemerintah dalam menjaga psikologis harga pangan selama ini yang membuat PPN sembako dirasa semakin tak layak diterapkan. Pemerintah gagal mengantisipasi efisiensi harga dari sisi pasokan, distribusi, bahkan masih ada pungli yang mengakumulasi harga.









