;

Di Tengah Tantangan Ekonomi Harus ”Berganti Kulit”

Yoga 30 Jan 2025 Kompas
Ketidakpastian masih menggelayuti langit-langit perekonomian, bukan hanya dari sisi global, melainkan juga dari domestik. Penurunan daya beli dan terkikisnya tabungan membayangi masyarakat papan tengah. Maka, dibutuhkan pembaruan diri, terutama dalam mengelola keuangan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, jumlah penduduk kelas menengah menurun drastis selama lima tahun terakhir, dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Selain itu, angka pengangguran terbuka tercatat mencapai 7,47 juta orang atau setara 4,91 persen dari total angkatan kerja. Pun demikian, tabungan masyarakat selama lima tahun terakhir terus tergerus lantaran kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Sejalan dengan itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, rerata saldo tabungan masyarakat per April 2024 tercatat Rp 1,8 juta per nasabah. Ini turun hampir separuhnya jika dibandingkan dengan 2019 yang mencapai Rp 3 juta per nasabah. Sementara itu, survei Globalstats pada Desember 2024 terhadap 1.000 responden menemukan 70 persen masyarakat tak memiliki tabungan. Selebihnya, hanya 30,1 persen masyarakat yang mampu menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung. 

Head of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia Vera Margaret menilai kondisi tersebut mencerminkan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat. Oleh sebab itu, institusi keuangan berperan penting dalam membantu meningkatkan tingkat literasi serta inklusi keuangan masyarakat. ”Untuk menghadapi 2025 yang diliputi dengan ketidakpastian ekonomi tersebut, perlu kewaspadaan dan perencanaan yang matang dengan menjaga disiplin, melakukan penyesuaian sesuai perubahan ekonomi, dan menempatkan dana di instrumen yang tepat,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (24/1/2025). Selain menabung, masyarakat diharapkan dapat tetap mempertahankan gaya hidupnya sekalipun pendapatannya meningkat. Masyarakat juga disarankan mencatat pengeluaran selama satu atau dua bulan guna mengetahui jumlah pengeluarannya. Dalam mengatur keuangan, setidaknya terdapat tiga pos besar yang dapat diperhitungkan. Idealnya, seseorang hanya dapat mengalokasikan 5-10 persen pengeluarannya untuk sesuatu yang diinginkan, seperti hiburan, olahraga, dan pembelian gawai. Kemudian, untuk tabungan porsinya 10-20 persen, meliputi dana darurat, investasi, dan asuransi. (Yoga)

Peluang Keuntungan dari SBN Ritel

Hairul Rizal 30 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel ORI027 memberikan peluang investasi yang menarik bagi investor ritel di tengah volatilitas pasar modal yang terjadi belakangan ini. Dengan kupon yang relatif tinggi, yaitu 6,65% untuk tenor 3 tahun dan 6,75% untuk tenor 6 tahun, ORI027 menjadi alternatif investasi yang menarik, terutama setelah penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia. Kupon yang lebih tinggi dibandingkan dengan instrumen investasi lain, seperti deposito, serta pajak yang lebih rendah (10%) menjadi faktor tambahan yang menarik bagi investor.

Handy Yunianto, Kepala Divisi Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, menilai kupon ORI027 sangat menarik karena suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk simpanan lainnya dan potensi penurunan suku bunga lebih lanjut. Secara historis, obligasi ritel memiliki return yang lebih baik dibandingkan saham dalam 6 tahun terakhir.

Reza Fahmi dari Henan Putihrai Asset Management menekankan bahwa meskipun ada potensi penurunan suku bunga lebih lanjut, pemerintah tetap menargetkan penerbitan SBN ritel hingga Rp 150 triliun, dengan kebijakan Bank Indonesia yang mendukung prospek tersebut.

SBN ritel ini juga berkontribusi dalam memperdalam pasar keuangan Indonesia, memperluas basis investor, serta meningkatkan literasi dan partisipasi masyarakat dalam investasi. Dengan adanya ORI027, pemerintah berharap dapat menarik lebih banyak investor ritel untuk berpartisipasi dalam pasar keuangan, seperti yang terlihat dari penjualan yang sudah mencapai sejumlah besar kuota yang ditargetkan.


Dampak Trump terhadap Rupiah dan Pasar Modal

Hairul Rizal 30 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Pasar modal Indonesia memulai tahun 2025 dengan kinerja yang sangat positif, tercermin dari kenaikan IHSG lebih dari 2% dan IDX30 yang naik 2,5% year-to-date (YtD). Selain itu, indeks saham dan reksa dana yang mayoritas konstituennya adalah emiten perbankan juga menunjukkan kinerja yang solid, dengan reksa dana indeks seperti IDX Pefindo Prime Bank dan IDX Pefindo I-Grade masing-masing mengalami kenaikan sekitar 3% YtD.

Kinerja positif ini didukung oleh beberapa faktor eksternal dan domestik. Faktor eksternal seperti penurunan yield US Treasury dan pelemahan dolar AS, serta faktor domestik berupa kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan, turut mendukung likuiditas pasar keuangan Indonesia. Kebijakan tersebut juga menguntungkan saham-saham perbankan yang undervalued, seperti Bank BNI dan BRI.

Pasar obligasi dan pasar uang juga menunjukkan kinerja yang baik, dengan reksa dana pasar uang mencatatkan hasil positif sekitar 0,45%—0,50% YtD dan reksa dana pendapatan tetap dengan durasi pendek mencatatkan kinerja positif sekitar 0,5%—0,8% YtD.

Dengan valuasi pasar yang rendah, rasio price to earnings (P/E) yang berada di bawah rata-rata historis, dan dividend yield yang relatif tinggi, prospek pasar saham Indonesia di tahun 2025 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Potensi return IHSG diperkirakan mencapai 13%—18% dengan estimasi pertumbuhan laba bersih sekitar 8%. Selain itu, imbal hasil dari instrumen pendapatan tetap dan pasar uang juga diperkirakan akan memberikan potensi keuntungan yang baik.

Secara keseluruhan, kinerja investasi di pasar modal Indonesia pada awal tahun 2025 memperlihatkan prospek yang menjanjikan, meskipun investor perlu memperhatikan strategi investasi yang tepat dan memperhitungkan risiko serta imbal hasil yang dapat dicapai dalam jangka panjang.


Saham BCA Mengalami Peningkatan

Hairul Rizal 30 Jan 2025 Bisnis Indonesia

BCA berhasil menutup tahun 2024 dengan laba sebesar Rp54,8 triliun, tumbuh 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang mencapai 13,8% menjadi Rp922 triliun. Perseroan berhasil mengelola beban dana dengan mengurangi porsi deposito dan meningkatkan dana murah berupa giro dan tabungan, yang berkontribusi pada pertumbuhan bunga bersih sebesar 9,5% YoY. Selain itu, pendapatan non-bunga BCA juga tercatat tumbuh 10,2% YoY.

Meski demikian, saham BBCA mengalami penurunan, yang diindikasikan sebagai efek dari "sell on news," namun beberapa analis seperti Phintraco Sekuritas dan Sucor Sekuritas memproyeksikan kinerja saham BBCA akan tetap positif berkat fundamental yang kuat dan likuiditas yang terjaga. Ke depan, BCA diharapkan dapat terus meningkatkan imbal hasil kredit, terutama di segmen konsumen, dan dihadapkan pada tantangan pertumbuhan kredit yang melambat serta potensi cost of credit yang lebih tinggi.

BCA juga berencana untuk menebar dividen kepada pemegang saham, dengan tujuan untuk terus meningkatkan nominal dividen setiap tahunnya, sesuai dengan komitmen yang telah disampaikan oleh Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja. Besaran dividen tahun buku 2024 akan diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).


Indonesia Tekan Malaysia untuk Investigasi

Hairul Rizal 30 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) mendorong pihak berwenang Malaysia untuk melakukan investigasi menyeluruh terkait insiden penembakan lima warga negara Indonesia (WNI) oleh Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM). Direktur Pelindungan WNI, Judha Nugraha, menekankan pentingnya investigasi terkait kemungkinan penggunaan kekuatan berlebihan dalam insiden tersebut. Kemenlu dan KBRI Kuala Lumpur berkomitmen untuk memberikan pendampingan hukum dan memastikan hak-hak WNI yang terdampak, termasuk memfasilitasi perawatan medis bagi korban yang selamat. Selain itu, jenazah Basri, salah satu korban tewas, telah tiba di Indonesia dan keluarga menerima kejadian tersebut dengan lapang dada, meskipun mereka awalnya tidak mengetahui bahwa Basri bekerja di Malaysia.

DJP Sumut I Bidik Influencer Pajak

Hairul Rizal 30 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Ditjen Pajak (DJP) Kanwil Sumatra Utara berencana menggali potensi penerimaan pajak dari sektor digital, termasuk vlogger, sebagai bagian dari strategi ekstensifikasi pada tahun 2025. Kepala Kanwil DJP Sumut, I Arridel Mindra, menjelaskan bahwa DJP akan mengamati aktivitas ekonomi masyarakat melalui intelijen khusus dan mendekati mereka yang memenuhi syarat sebagai wajib pajak (WP). Salah satu tantangan utama adalah sektor digital, yang membutuhkan upaya khusus untuk mengakses para vlogger. DJP juga akan meningkatkan pengawasan dan melakukan audit terhadap WP yang kesulitan memenuhi kewajiban pajaknya, dengan penerapan sanksi hukum jika diperlukan. Pada tahun 2024, DJP Sumut berhasil melebihi target penerimaan pajak sebesar Rp35,29 triliun, meskipun terdapat kontraksi sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Ke depan, DJP akan terus melakukan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi untuk meningkatkan penerimaan pajak dan jumlah WP yang terdaftar.


Ekonomi RI Naik Kelas, Tapi Masih Banyak PR

Hairul Rizal 30 Jan 2025 Kontan (H)
Indonesia berhasil menempati peringkat ketujuh dalam daftar negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di dunia berdasarkan paritas daya beli (PPP), menurut estimasi IMF pada Januari 2025. Dengan nilai PDB mencapai US$ 4,49 triliun, Indonesia berada di bawah Jerman tetapi mengungguli Brasil, Prancis, dan Inggris. Peringkat ini naik dari posisi kedelapan pada tahun 2024 dan mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat dalam lima tahun terakhir.

Namun, Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, menekankan bahwa meskipun angka PDB Indonesia tinggi, PDB per kapita masih tergolong rendah, yaitu hanya US$ 5.250 dan menempati peringkat 118 dunia. Ini jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia (US$ 14.420) dan Thailand (US$ 7.750), serta negara berkembang lain seperti Brasil (US$ 10.820). Awalil menyoroti bahwa pemerataan ekonomi menjadi kunci utama dalam meningkatkan PDB per kapita, termasuk penciptaan lapangan kerja, kebijakan pajak yang lebih adil, dan program perlindungan sosial yang lebih efektif.

Senada dengan itu, Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyoroti bahwa ketimpangan ekonomi masih menjadi tantangan besar. Data BPS menunjukkan bahwa rasio gini Indonesia pada September 2024 meningkat menjadi 0,381 dari 0,379 pada Maret 2024, yang menunjukkan kesenjangan ekonomi masih tinggi. Yusuf menekankan bahwa angka PDB yang tinggi belum cukup mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk mempercepat industrialisasi dan meningkatkan pembangunan berkualitas agar pertumbuhan ekonomi lebih merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Polemik Coretax DJP dan Kasus Paten

Hairul Rizal 30 Jan 2025 Kontan
Proyek Coretax DJP, yang seharusnya menjadi sistem administrasi perpajakan canggih, justru menuai banyak masalah teknis dan kontroversi. Sejak diluncurkan pada 1 Januari 2025, sistem ini mengalami bug, akses lambat, dan sering eror, sehingga menghambat aktivitas perpajakan dan dunia usaha. Padahal, proyek ini menelan anggaran Rp 2,17 triliun dan dikerjakan oleh LG CNS, perusahaan yang sebelumnya pernah tersandung kasus pelanggaran paten.

Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia (IWPI), Rinto Setiyawan, mengkritik bahwa masalah utama Coretax terletak pada Ditjen Pajak sebagai pemilik proses bisnis dan vendor implementornya, yaitu LG CNS-Qualysoft Consortium. Sistem ini disebut sebagai perangkat lunak siap pakai (COTS), tetapi menggunakan tolok ukur perpajakan Austria, yang regulasinya jauh lebih sederhana dibandingkan Indonesia. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah sistem ini benar-benar bisa diadaptasi untuk perpajakan Indonesia yang lebih kompleks.

Selain itu, IWPI juga melaporkan dugaan korupsi dalam proyek ini ke KPK, terutama terkait keterlibatan 169 pegawai Kementerian Keuangan, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No. 483/KMK.03/2020. Meski memiliki banyak personel, sistem ini tetap bermasalah, memunculkan pertanyaan soal efektivitas pengelolaannya.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menilai bahwa proyek ini dieksekusi dengan tergesa-gesa tanpa perencanaan matang. Ia bahkan menyarankan agar pemerintah menunda pembayaran kepada pengembang sampai ada perbaikan dan audit menyeluruh terhadap sistem Coretax DJP.

Teknologi China Ancam Dominasi AS di Sektor Digital

Hairul Rizal 30 Jan 2025 Kontan
China semakin menantang dominasi teknologi AS, khususnya di bidang kecerdasan buatan (AI), dengan peluncuran DeepSeek, chatbot AI canggih yang diklaim lebih unggul dibandingkan model buatan OpenAI seperti GPT-4.

Menurut laporan Reuters dan ScienceAlert, model terbaru DeepSeek V3 memiliki kemampuan dalam penalaran, pemecahan masalah, dan pemrograman yang melampaui rata-rata manusia. Keunggulan utama DeepSeek terletak pada efisiensi pengembangannya, dengan biaya hanya US$ 5,58 juta, jauh lebih rendah dibandingkan GPT-4 yang menelan biaya lebih dari US$ 100 juta. Selain itu, DeepSeek hanya menggunakan 2.000 chip H800, sementara OpenAI memanfaatkan hingga 16.000 chip H100.

Keberhasilan DeepSeek langsung mengguncang pasar. Saham Nvidia—raksasa cip asal AS—mengalami penurunan 17% dalam sehari, sementara indeks semikonduktor AS turun 9,2%.

Di sisi lain, muncul kecurigaan dari Microsoft dan OpenAI terkait kemungkinan pencurian data. Bloomberg melaporkan bahwa Microsoft tengah menyelidiki dugaan bahwa individu terkait DeepSeek pernah mengekstraksi data dari sistem OpenAI. Jika terbukti, ini bisa menjadi konflik besar dalam persaingan AI antara China dan AS.

Kenaikan Konsumsi Jadi Harapan Pemulihan

Hairul Rizal 30 Jan 2025 Kontan
Prospek PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) di 2025 tetap positif, didukung oleh program pemerintah, peningkatan konsumsi masyarakat, dan ekspansi pasar internasional.

Menurut Equity Analyst OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy, kinerja ICBP akan terdorong oleh Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan kenaikan Upah Minimum Nasional (UMN) sebesar 6,5%, yang menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, portofolio produk yang kuat, khususnya varian rasa bertema Korea seperti KRose dan Spicy Ramyeon, akan mempertahankan dominasi pasar ICBP. Penurunan harga gandum juga berpotensi meningkatkan margin keuntungan, mengimbangi pelemahan rupiah. Jessica memproyeksikan pendapatan ICBP tumbuh 7% di 2025, dengan segmen mi tetap menjadi penyumbang terbesar.

Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai momentum seperti Imlek, Ramadan, dan Lebaran akan meningkatkan konsumsi masyarakat, meski volatilitas rupiah masih menjadi tantangan.

Sementara itu, Analis Phillip Sekuritas, Helen, melihat urbanisasi dan perubahan gaya hidup akan semakin meningkatkan permintaan produk makanan instan, mendukung pertumbuhan jangka panjang ICBP.

Dalam rekomendasi investasi, Aziz menetapkan target harga Rp 14.900 per saham, sementara Jessica di Rp 14.600, dan Helen di Rp 13.900, dengan semuanya memberikan rekomendasi "buy" untuk ICBP.

Pilihan Editor