Di Tengah Tantangan Ekonomi Harus ”Berganti Kulit”
Ketidakpastian masih menggelayuti langit-langit perekonomian, bukan hanya dari sisi global, melainkan juga dari domestik. Penurunan daya beli dan terkikisnya tabungan membayangi masyarakat papan tengah. Maka, dibutuhkan pembaruan diri, terutama dalam mengelola keuangan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, jumlah penduduk kelas menengah menurun drastis selama lima tahun terakhir, dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Selain itu, angka pengangguran terbuka tercatat mencapai 7,47 juta orang atau setara 4,91 persen dari total angkatan kerja. Pun demikian, tabungan masyarakat selama lima tahun terakhir terus tergerus lantaran kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Sejalan dengan itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, rerata saldo tabungan masyarakat per April 2024 tercatat Rp 1,8 juta per nasabah. Ini turun hampir separuhnya jika dibandingkan dengan 2019 yang mencapai Rp 3 juta per nasabah. Sementara itu, survei Globalstats pada Desember 2024 terhadap 1.000 responden menemukan 70 persen masyarakat tak memiliki tabungan. Selebihnya, hanya 30,1 persen masyarakat yang mampu menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung.
Head of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia Vera Margaret menilai kondisi tersebut mencerminkan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat. Oleh sebab itu, institusi keuangan berperan penting dalam membantu meningkatkan tingkat literasi serta inklusi keuangan masyarakat. ”Untuk menghadapi 2025 yang diliputi dengan ketidakpastian ekonomi tersebut, perlu kewaspadaan dan perencanaan yang matang dengan menjaga disiplin, melakukan penyesuaian sesuai perubahan ekonomi, dan menempatkan dana di instrumen yang tepat,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (24/1/2025). Selain menabung, masyarakat diharapkan dapat tetap mempertahankan gaya hidupnya sekalipun pendapatannya meningkat. Masyarakat juga disarankan mencatat pengeluaran selama satu atau dua bulan guna mengetahui jumlah pengeluarannya. Dalam mengatur keuangan, setidaknya terdapat tiga pos besar yang dapat diperhitungkan. Idealnya, seseorang hanya dapat mengalokasikan 5-10 persen pengeluarannya untuk sesuatu yang diinginkan, seperti hiburan, olahraga, dan pembelian gawai. Kemudian, untuk tabungan porsinya 10-20 persen, meliputi dana darurat, investasi, dan asuransi. (Yoga)
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023