Gak Kaleng-Kaleng, Seabrek Produk RI Bikin Resah ASEAN-Eropa!
Jakarta, CNBC Indonesia - Produk ekspor Indonesia saat ini menjadi salah satu hal yang diminati masyarakat dunia. Dilaporkan bahwa produk "Made in Indonesia" saat ini mulai mendominasi dan memiliki daya saing tinggi bila dibandingkan dengan produk-produk negara lain. Namun, larisnya produk asal RI sendiri telah menjadi ketakutan baru bagi dunia. Sejumlah negara mulai khawatir karena produk Indonesia dikhawatirkan bakal mengganggu dominasi produk domestik mereka. Bukan hanya mendominasi, komoditas asal Indonesia juga membuat banyak negara ketergantungan. Berikut beberapa kasus yang tengah dan telah dihadapi Indonesia, terkait sengketa perdagangan maupun proteksi perdagangan dengan negara lain maupun di WTO.
1. Kelapa Sawit RI Dihambat Uni Eropa
Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi kelapa sawit sebanyak 36.000.000 metrik ton pada 2016. Sekitar 25,1 juta tonnya diekspor ke luar negeri. Namun, tingginya produksi itu berarti Indonesia juga memiliki lahan pertanian kelapa sawit yang sangat luas. Bahkan, terus meningkat setiap tahunnya. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika isu deforestasi (pembukaan hutan) tidak bisa dipisahkan dari industri kelapa sawit. Mengutip laporan Time Toast, pada 1 Januari 2007 organisasi PBB mengatakan produksi minyak sawit sebagai penyebab utama deforestasi di Indonesia, di mana pembalakan liar dan penanaman kelapa sawit lazim terjadi di 37 dari 41 taman nasional. Akibat hal itu, pada April 2017 Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi untuk menghapuskan dan melarang penggunaan bahan bakar hayati (biofuel) yang terbuat dari minyak sawit. Menurut laporan The Conversation, larangan itu dapat mengurangi permintaan minyak sawit. Eropa juga menerbitkan Delegated Regulation yang merupakan turunan dari Renewable Energy Directive II (RED II). Dimana kelapa sawit dianggap sebagai komoditas berisiko tinggi terhadap perusakan hutan (deforestasi) atau indirect land-use change (ILUC). Indonesia melawan dan siap menggugat Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia. Gugatan sengketa Pemerintah RI terhadap regulasi Renewable Energy Directive II (RED II) Uni Eropa di forum DSB WTO (sengketa DS 593) terus bergulir.
2. RI dan Uni Eropa Ribut Soal Larangan Ekspor Nikel
Produk Indonesia lain yang membuat Uni Eropa ketergantungan adalah nikel. Selama bertahun-tahun, Indonesia mengirim bijih nikel ke Uni Eropa. Namun, RI mengubah kebijakan dengan melarang ekspor bijih nikel dan lebih memilih untuk hilirisasi di dalam negeri. Namun, Uni Eropa tidak terima dan mengajukan tuntutan terhadap Indonesia sengketa DS 592 - Measures Relating to Raw Materials ke WTO. UE menganggap Undang-Undang RI tentang Minerba menyulitkan untuk bisa kompetitif dalam industri baja, terutama stainless steel karena nikel dipakai sebagai bahan baku stainless steel. Padahal, komoditas nikel yang diimpor Eropa kecil sekali dari Indonesia dan Uni Eropa menganggap mengganggu produktivitas energi stainless steel. UE juga menganggap ini bagian dari 30 ribu pekerja langsung dan 200 ribu pekerja tidak langsung. "Pemerintah Indonesia telah siap untuk memperjuangkan dan melakukan upaya pembelaan terhadap gugatan UE. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan berkeyakinan, kebijakan dan langkah yang ditempuh Indonesia saat ini telah konsisten dengan prinsip dan aturan Badan Perdagangan Dunia (WTO)," jelas Mendag Lutfi dalam pernyataan resminya, Kamis (25/2/2021). Dari situ bisa tergambar bahwa Uni Eropa ingin melindungi komoditas dan kepentingannya. Namun, Indonesia pun demikian, apalagi di tengah berkembangnya industri nikel. Lutfi menantang WTO bisa membuktikan tuduhan tersebut. "Kita akan ikuti proses sengketa sesuai proses yang sudah disepakati, kita akan melayani sengketa ini di WTO, dan saya anggap ini proses yang sebagai negara menjunjung tinggi hukum proses baik dan benar jadi kita layani mereka di sana. Kita akan hire pasukan legal terbaik dan kita akan perjuangkan hak-hak perdagangan kita," sebutnya.
Teka-Teki Cara Bukalapak Berlari
Hiruk-pikuk IPO Bukalapak memang meramaikan pasar modal dua bulan terakhir. Bukalapak melepas 25,76 miliar saham biasa, semuanya baru dan dikeluarkan dari portepel perseroan, setara dengan 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO. Harga penawarannya Rp 850 per lembar saham, yang harus dibayar penuh saat calon pembeli mengajukan formulir pemesanan.
Dengan harga itu, IPO Bukalapak akan meraup dana segar Rp 21,9 triliun dari pasar. Angka ini akan menjadi rekor baru nilai IPO terbesar sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia, yang sebelumnya dipegang PT Adaro Energy Tbk dengan raupan dana Rp 12,23 triliun pada 2008. Selain itu, Bukalapak bakal menjadi unicorn pertama yang melantai di bursa saham.
Tapi gemerlapnya rencana kedatangan anggota baru bursa ini diiringi sentimen pasar yang terbelah. Sebagian investor menganggap valuasi BUKA terlalu tinggi. Ukuran paling gampang adalah buku perusahaan yang tiga tahun terakhir masih merah alias merugi. Bahkan, sepanjang triwulan I 2021, Bukalapak masih membukukan kerugian tahun berjalan sebesar Rp 324 miliar, sedikit membaik dibanding kerugian Rp 393 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
David tergolong penganut mazhab yang meyakini harga BUKA kemahalan. Begitu pula Lo Kheng Hong, investor retail kawakan yang kerap dijuluki Warren Buffett-nya Indonesia, yang terang-terangan menyatakan BUKA tak masuk kriteria saham pilihannya terutama karena aspek kinerja. "Bukan untung besar, rugi besar," ujarnya dalam sebuah webinar bertajuk "Menjadi Investor Cerdas Bersama Lo Kheng Hong" yang videonya diunggah di kanal YouTube, Kamis, 29 Juli lalu.
Tapi pelaku pasar lain masih memberikan toleransi terhadap buruknya kondisi keuangan Bukalapak. Alasannya, kinerja perusahaan menunjukkan tren perbaikan. Ukurannya lagi-lagi angka kerugian perseroan yang berkurang setahun belakangan. "Masih rugi, masih berutang juga. Tapi tren utang dan kerugiannya terus menurun. Ini lebih penting," kata Syarifah Namira Fitrania. Karyawan swasta di Jakarta ini ikut memesan 50 lot saham BUKA lewat aplikasi penjamin emisi efek lain, PT Samuel Sekuritas Indonesia.
Pada akhir 2020, rugi tahun berjalan Bukalapak memang berkurang menjadi Rp 1,34 triliun, dibanding dua tahun sebelumnya yang berturut-turut tekor Rp 2,24 triliun dan Rp 2,79 triliun. Penurunan kerugian sebesar ini bukan hanya buah dari kombinasi peningkatan pendapatan dan pemangkasan beban usaha, tapi juga hasil pencatatan manfaat pajak tangguhan pada 2020 yang nilainya mencapai Rp 483 miliar. Kinerja Bukalapak tahun lalu juga terdongkrak suntikan modal dari sejumlah investor global, seperti Microsoft Corporation, juga PT Elang Mahkota Teknologi Tbk —kelompok usaha milik keluarga Sariaatmadja yang menjadi induk perusahaan lewat PT Kreatif Media Karya.
Bagi investor milenial yang belum lama bergelut di pasar modal seperti Namira, saham Bukalapak sudah cukup menarik lantaran sektor usaha teknologi digital sedang hype, kekinian. Perempuan 32 tahun ini sebenarnya juga pengguna platform Bukalapak, baik sebagai konsumen maupun pelapak. "Ia marketplace yang menjadi way of living dan cara kita untuk survive di saat pandemi ini," tuturnya.
Belakangan, belasan perusahaan sekuritas lain bergabung sebagai sindikasi penjamin emisi efek. Selain BNI Sekuritas dan Samuel Sekuritas, ada PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Ciptadana Sekuritas Asia, PT Investindo Nusantara Sekuritas, PT Lotus Andalan Sekuritas, PT Panin Sekuritas Tbk, PT Philip Sekuritas Indonesia, PT Sinarmas Sekuritas, PT Sucor Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT Valbury Sekuritas Indonesia, PT Victoria Sekuritas Indonesia, PT Wanteg Sekuritas, dan PT Yuanta Sekuritas Indonesia.
Sejumlah pelaku pasar menyebut UBS dikenal punya jaringan investor asing yang kuat untuk menyerap dana IPO yang superjumbo. Sedangkan Mirae Asset Sekuritas ikut lantaran Mirae Asset Financial Group, induk perusahaan di Korea Selatan, juga mengempit saham Bukalapak sejak 2019 lewat Mirae Asset-Naver Asia Growth Investment Pte Ltd—hasil patungan dengan Naver Corp, yang juga raksasa platform digital di Negeri Ginseng.
Bambang membenarkan ada nama-nama besar dalam deretan investor asing yang siap menyerap saham Bukalapak. Tapi ia menolak menyebut nama investor kakap yang dimaksud. "Nama-nama besar yang biasa terlibat dalam IPO di Bursa Efek Indonesia," ucapnya. Investor besar yang ditemui di masa roadshow dan book building, menurut dia, diharapkan bisa menjadi penanam modal jangkar atau anchor investor Bukalapak.
Teka-teki seputar IPO Bukalapak bertambah lantaran pelaksanaan penawaran umum bersejarah ini justru tak berlangsung lewat layanan sistem Electronic Indonesia Public Offering. Otoritas Jasa Keuangan melonggarkan regulasinya yang semula mewajibkan pelaksanaan IPO lewat sistem itu mulai 2021.
Platform e-IPO digulirkan pemangku kepentingan pasar modal untuk memudahkan akses publik terhadap pelaksanaan penawaran saham perdana. Misi besarnya adalah memudahkan investor retail mengakses pasar perdana, dari masa penawaran umum, penjatahan, hingga pencatatan saham.
Juru bicara OJK, Sekar Putih Djarot, membenarkan, sesuai dengan ketentuan, IPO Bukalapak semestinya wajib menggunakan sistem e-IPO. Namun, dia berdalih, sistem tersebut punya keterbatasan untuk memfasilitasi penawaran umum dengan minat dan pesanan amat besar seperti yang terjadi pada Bukalapak. "Dalam IPO Bukalapak, terdapat potensi minat dan pesanan dalam skala besar yang dikhawatirkan akan mengganggu sistem e-IPO secara keseluruhan sehingga akan berdampak terhadap IPO emiten lain," ujarnya.
Keputusan itu didasari hasil diskusi antara tim Self-Regulatory Organization, manajemen Bukalapak, dan penjamin emisi. Bursa Efek Indonesia sebagai penyedia sistem, kata Sekar, mengusulkan IPO Bukalapak dipertimbangkan untuk tidak menggunakan sistem e-IPO yang pengadaan dan peningkatan kapasitasnya terhambat kondisi pandemi Covid-19. "Sebagai wujud mitigasi risiko dalam memastikan keberhasilan IPO dan untuk menjaga stabilitas pasar saham," ucap Sekar.
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna punya penjelasan senada. Dia memastikan, demi membuka kesempatan seluas-luasnya bagi investor, alokasi penjatahan saham Bukalapak tetap mengikuti ketentuan yang berlaku. Semua calon investor tetap dapat memesan saham baru BUKA melalui perusahaan efek setiap nasabah.
Kabar adanya investor jangkar, juga pelaksanaan penawaran umum di luar sistem e-IPO, menjadi sentimen negatif menjelang pencatatan saham BUKA di papan perdagangan bursa, 6 Agustus, Jumat pekan ini. Sedari awal, bursa pun dipenuhi dengan syak wasangka bahwa IPO hanya menjadi jalan bagi investor lama Bukalapak untuk keluar dari kubangan kerugian investasi mereka selama ini.
Beberapa tahun terakhir, industri startup digital yang nilainya terus menggelembung mulai membuat investor kalang kabut. Gelontoran dana mereka tak kunjung balik lantaran model bisnis perusahaan yang padat modal jomplang dengan pendapatan. Perusahaan rintisan memerlukan modal jumbo dari pasar negosiasi tertutup untuk "membakar uang", istilah yang dipakai untuk menggambarkan besarnya dana yang dikeluarkan buat menambah jumlah pengguna aplikasi lewat beragam program diskon atau pengembalian dana .
Terakhir, pada 2019, industri ini digemparkan dengan pernyataan Chief Executive Officer SoftBank Group Masayoshi Son bahwa ia akan mengevaluasi semua portofolio investasi kelompok usahanya. Pada tahun fiskal 2019, SoftBank mencetak rugi bersih US$ 8,9 miliar atau senilai Rp 133 triliun, di antaranya akibat kerugian investasi di perusahaan teknologi digital.
Ramainya penggunaan aplikasi digital diam-diam menyimpan bara panas di lingkaran penyandang dana. Pilihan bagi investor tak banyak: membiarkan portofolio berlanjut mencari penyandang dana baru sehingga saham mereka berpotensi terdilusi, menggabungkan aset-aset investasi mereka menjadi kapal induk baru untuk kemudian dilego ke pemodal baru, atau memaksa perusahaan rintisan segera masuk bursa sehingga saham investor lama bisa segera dicairkan lewat perdagangan terbuka.
Jalan terakhir itu yang dikhawatirkan ada di balik motif Bukalapak cepat-cepat go public. Dengan kondisi buku yang masih merugi, pasar memang pantas khawatir jika para pemodal utama Bukalapak buru-buru hengkang selepas IPO. Pasar dipenuhi spekulasi tentang dugaan bahwa keberadaan investor jangkar dan pelaksanaan IPO di luar sistem baru hanya bertujuan menjaga harga saham BUKA terjaga di target tertinggi pada masa pencatatan.
Bambang Brodjonegoro menepis kekhawatiran itu. "Kalau melihat pemegang saham lama, mereka tampaknya masih bertahan, termasuk para pendiri," katanya. "Pemegang saham come and go, tapi pasti tetap ada anchor yang bisa mengendalikan meski tidak 100 persen". Menurut dia, keberadaan investor jangkar yang diharapkan datang lewat IPO ini diharapkan bisa menjaga kinerja perseroan. "Yang penting bukan di hari pertama dapat berapa atau oversubscribed berapa, tapi bagaimana kelanjutan ke depan," tutur Bambang. "Makanya kami perlu anchor investor, supaya ke depan kinerja harga saham berada di teritori yang melegakan".
Prospektus IPO Bukalapak sebenarnya juga berupaya memberikan jaminan serupa. Sesuai dengan peraturan OJK, semua pemegang saham yang mengantongi efek dalam waktu enam bulan sebelum penyampaian pendaftaran ke OJK dengan harga di bawah IPO dilarang mengalihkan sebagian atau seluruh sahamnya sampai delapan bulan. Regulasi ini mengikat sejumlah investor kakap Bukalapak selama ini, termasuk Grup Emtek dan para pendiri.
Selain itu, Bukalapak menyatakan telah mengantongi komitmen lock-up sukarela selama delapan bulan dari 22 investor lain, termasuk API Investment Limited, yang sebelum IPO mengempit 17,4 persen saham perseroan. Senin pekan ini, 3 Agustus, IPO Bukalapak akan memasuki tahap penjatahan yang akan berlanjut ke pendistribusian saham elektronik, dua hari kemudian. Masa-masa ini adalah momen menentukan bagi investor retail seperti David Anwar dan Syarifah Namira Fitrania untuk mendapatkan kepastian tentang saham yang mereka pesan. Pada pekan ini juga, teka-teki siapa pemodal besar yang akan memborong dan menahan harga saham BUKA juga akan terjawab. Delapan bulan selanjutnya? Siapa yang tahu.
Bebaskan PPnBM Yacht Usaha Pariwisata
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali membebaskan pajak atas beberapa barang mewah (PPnBM). Hal ini tercantum dalam PMK Nomor 96/PMK.03/2021 tentang penetapan Jenis Barang Kena Pajak Selain Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dan Tata Cara Pengecualian Pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Mengutip beleid, Jumat (30/7/2021), barang tak kena PPnBM itu diatur dalam pasal 3.
Pengenaan PPnBM dikecualikan atas impor atau penyerahan peluru senjata api/peluru senjata api lainnya untuk keperluan negara. Barang lain yang bebas PPnBM lainnya adalah pesawat udara dengan tenaga penggerak untuk keperluan negara atau angkutan udara niaga; serta senjata api/senjata apilainnya untuk keperluan Negara.
Tak hanya itu, pemerintah juga membebaskan PPnBM yacht (kapal) untuk usaha pariwisata. "Kapal pesiar, kapal ekskursi, dan/atau kendaraan air semacam itu terutama dirancang untuk pengangkutan orang, kapal feri dari semua jenis dan/atau yacht untuk kepentingan negara atau angkutan umum," bunyi beleid itu.
Dalam peraturan ini juga diatur jenis barang kena PPnBM yang tergolong mewah, dengan tarif yang ditetapkan beragam, yakni 20 %, 40 %, 50 %, dan 75 %.
Barang-barang yang dikenakan tarif 20 %, antara lain kelompok hunian mewah, apartemen, kondominium, town house dan sejenisnya dengan harga jual Rp 30 miliar. Kelompok barang yang dikenai PPnBM 40 % yakni kelompok balon udara dan balon udara yang dapat di kemudikan, pesawat udara lainnya tanpa penggerak kelompok peluru senjata api kecuali untuk keperluan negara, peluru dan bagiannya tidak termasuk peluru senapan angin. Adapun kelompok barang dengan tarif PPnBM 50 %, kelompok pesawat udara selain yang dikenakan tarif 40 % di antaranya helikopter, pesawat udara. Begitu pula senjata artileri, revolver dan pisto.
Terakhir kelompok yang dikenakan tarif 75 % adalah kapal pesiar, kapal ekskursi, dan kendaraan air semacam itu, kapal feri dari semua jenis, serta yatch kecuali untuk kepentingan negara atau angkutan umum. Peraturan menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan (26 Juli 2021)," bunyi beleid itu.Raih Untung Dari Usaha Salad Bar
Salah satu menu sehat yang populer dan laris dibeli saat pandemi adalah salad bar. Makanan ini merupakan olahan berbagai sayuran yang ditambah dengan makanan protein seperti ayam, ikan ataupun aneka daging yang disiram saus salad atau salad dressing.
Para pelaku usaha salad bar pun sudah banyak. Salah satunya Anthony Handoko, pemilik Extract Juice and Salad Bar. Memulai usaha sejak Juli 2020, Anthony melihat bahwa selama pandemi, banyak orang yang membutuhkan asupan makanan dan minuman sehat.
"Dari situ, kami menjual cold presses juice kemudian salad bar," ujarnya.
Ada empat jenis jus yang dijajakan, mulai dari vitamin us, best of us, beet us and celebrate us. Harganya dibanderol dari Rp 30.000 - Rp 35.000. Sementara salad bar yang dijajakan beraneka ragam, mulai dari crispy chicken salad, chicken Caesar salad, beef rainbow salad, chicken potato salad, tuna shimeji salad, dan lainnya yang dibanderol mulai Rp 40.000.
Selama pandemi, Anthony mengaku permintaan salad bar dan jus kian meningkat. "Terlebih kami menyediakan paket immune booster yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh dari olahan jus yang mengandung vitamin C," ungkap Anthony.
Tak disangka, dirinya pun bisa meraup omzet Rp 30 juta - Rp 40 juta per bulan atau margin sekitar 20% sampai 30%.
Senada dengan Ida Ardiyanti, pemilik Hellobelly. Memulai usahanya sejak Desember 2019, Ida mengaku permintaan salad bar di tengah pandemi korona ini cukup tinggi. "Setiap open pre order seminggu sekali, selalu banyak pembeli," sebut lda.
Dalam seminggu, Ida bisa menjual 200 - 300 pack salad dengan harga jual Rp 35.000 - Rp 55.000. "Untuk omzet tak menentu, tapi setiap sebulan setidaknya dapat Rp 8 juta," imbuhnya. Meski mencecap hasil yang manis, rupanya untuk memulai usaha salad bar diperlukan berbagai hal yang disiapkan. Mulai dari modal, bahan baku utama, kepiawaian pegawai hingga media pemasarannya.
Anthony menyebutkan untuk modal awal. yang disiapkan di awal usaha cukup besar, yaitu sebesar Rp 50 juta. Biaya tersebut dikatakan untuk membeli beberapa bahan baku, tempat usaha, kemudian biaya pegawai. Soal bahan baku jus, ada beragam buah yang harus dibeli, seperti wortel, beet, apel nanas, jeruk dan lemon.
Sementara untuk bahan baku salad, Anthony biasanya membeli lettuce, wortel, jagung edamame, ayam, tuna, tomat dan lainnya. Meski tak merinci besaran biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku, Anthony mengatakan ketersediaan bahan baku cukup terkendali.
Di samping bahan baku, faktor lain yang harus disiapkan untuk menjajal usaha ini juga peralatan memasak. Seperti yang dirinci lda Ardiyanti, memiliki Oven besar dan pangrill cukup diperlukan untuk pengolahan salad bar. Selebihnya keterampilan memasak dan bantuan pegawai untuk memproduksi dan menyiapkan salad untuk dijual. "Untuk saat ini, saya masih produksi rumahan, jadi masih dibantu keluarga dan dua pegawai tambahan," tandasnya.
Jika, sudah menyiapkan bahan baku, peralatan usaha, dan pegawai yang membantu dalam hal produksi, maka jangan lupa untuk memasarkannya. Masing-masing pelaku usaha memiliki cara tersendiri untuk mempromosikan produk salad barnya. Misalnya saja, Anthony yang kerap memberi promo diskon berupa gratis salad atau jus bila pembeli memposting produk kami di instagramnya @extractjuiceandsaladbar. Tak heran, kalau pembelinya tidak hanya kalangan anak muda hingga pegawai kantoran di seluruh Jakarta, bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. ProduK Kami juga kerap dipesan Dinas Kementerian Sosial dan pemah dibeli salah satu youtuber, Putri Habibie," ucapnya.Ringkas dan Hemat Biaya
JAKARTA - Pada saat kondisi PPKM yang masih berlangsung hingga saat ini mengharuskan para karyawan kembali terbiasa dengan cara kerja jarak jauh yang sudah berjalan lebih dari satu tahun di kondisi pandemi ini, dan produktivitas jarak jauh sangat dimungkinkan dengan adanya bantuan teknologi yang telah menjadi syarat utama.
Untuk mengantisipasi kebutuhan ini, Epson kembali meluncurkan produk terbarunya dengan memperkenalkan EcoTank L121, printer tangki tinta yang dapat memproduksi hasil cetak halaman tinggi dengan biaya perawatan yang rendah. Didukung dengan desain yang ringkas dan dapat mudah disesuaikan di dalam ruangan yang kecil ataupun terbatas, EcoTank L121menawarkan kinerja printer yang andal dengan biaya operasional rendah baik untuk penggunaan pribadi atau pun bisnis di rumah.
Head of Consumer & Retail Development Department Epson Indonesia, Syahrizal Apriyanto, mengatakan, menyadari kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas di kondisi kerja jarak jauh saat ini. EcoTankL121 tidak membutuhkan ruangan besar ataupun khusus, dengan desainnya yang ringkas ini akan sangat memudahkan para pengguna.
"Ini merupakan hasil dari inovasi yang terus menerus dari Epson untuk memastikan bahwa para pelanggan kami dapat memaksimalkan pengalaman produk yang akan mejadi investasi mereka," katanya.
EcoTank L121 ini meningkatkan produktivitas para karyawan untuk bekerja di rumah. Printer ini memiliki tangki tinta 4 Warna dengan ukuran A4 yang menggabungkan teknologi printhead Micro Piezo Epson, Epson Heat-Free Technology (Teknologi Bebas Panas), dan tinta asli Epson, sehingga pengguna dapat mencetak dokunmen berkualitas tinggi dengan biaya rendah.
Dibandingkan dengan produk sebelumnya, EcoTank L121 memiliki fitur kecepatan cetak lebih cepat dari 9 ipm untuk hitam dan putih dan 4,8 ipm untuk warna, sehingga memberikan produktivitas lebih baik. Epson berusaha untuk terus meningkatkan produk untuk memenuhi kebutuhan normal baru, EcoTank L121 dapat menghasilkan kualitas gambar terbaik dan cetakan ukuran khusus yang dapat berguna untuk pekerjaan atau bisnis rumahan. Printer yang terbaru dari Epson Didukung dengan Epson's Heat-Free Technology, EcoTankL121 tidak menggunakan panas dalam proses pengeluaran tinta, hal ini berarti lebih sedikit konsumsi daya dan lebih hemat biaya listrik.
Karena printer inkjet tidak memiliki fuser yang memerlukan pemanasan, lebih sedikit energi yang dikonsumsi, sehingga menghemat biaya bisnis. Printer EcoTank Epson juga menggunakan lebih sedikit suku cadang dan bahan habis pakai yang memerlukan penggantian, sehingga meminimalkan intervensi bagi pengguna dan meningkatkan produktivitas.
Daya Beli Elektronik Turun 60 Persen
MUARAENIM, SRIPO - Memasuki tahun kedua Pandemi Covid-19, semua sendi perekonomian terasa dampaknya. Salah satunya adalah daya beli masyarakat terhadap barang elektronik di Kabupaten Muaraenim turun drastis. Bahkan, sejumlah pemilik toko terpaksa memberhentikan sejumlah pegawai karena tidak lagi mampu membayar gaji. Dalam situasi saat ini, menurut pedagang bisa bertahan saja sudah luar biasa di tengah kondisi ekonomi saat ini.
"Dampak Pandemi Covid-19 sangat luar biasa. Bukan saja kepada masyarakat tidak mampu dan menengah, tanpa terkecuali terhadap pengusaha," kata Ir Johan Ong yang merupakan owner Aneka Elektronik Muaraenim, Jumat (30/7/2021).
Menurut Johan Ong, wabah pandemi Covid-19 ini, benar-benar luar biasa dan lebih dahsyat dibandingkan dengan wabah-wabah yang terjadi sebelumnya. Karena masanya lebih lama dan tidak bisa diprediksi kapan berakhirnya sehingga dampaknya bernar-benar terasa dan dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat. Adapun dampak yang dirasakan para pengusana, khususnya elektronik, lanjut tokoh masyarakat Tionghoa Muaraenim ini, adalah daya beli masyarakat yang merosot tajam.
Setidaknya sekitar 60 % turunnya bila dibandingkan daya beli masyarakat sebelum pandemi Covid-19.
Akibatnya penjualan elektronik lesu dan omzet pun turun drastis. Namun pihaknya bersyukur meski omzet turun, sampai saat ini, belum ada memPHK-kan karyawannya, dan akan sekuat tenaga minimal bisa bertahan. "Sekarang barang elektronik yang banyak laku seperti toak untuk Masjid, kipas angin, AC dan mesin Cuci. Kalau barang elektronik lain cenderung turun," katanya.
Tokoh Agama Budha Muaraenim ini berharap, kedepannya perekonomian dunia khususnya Indonesia bisa terus membaik sehingga roda perekonomian kembali normal serta pandemi Covid-19 cepat berakhir dari muka bumi.
Sebelumnya, rilis dari Gabungan Perusahaan Industri Elektronik dan Alat-alat Listrik Rumah Tangga Indonesia (GABEL) memprediksi penjualan elektronik ambruk 70-80 % selama pandemi corona. Adapun pembukaan mall dinilai tak mampu mendongkrak penjualan hingga akhir tahun, karena daya beli masyarakat melemah. Akibat pelemahan daya beli, banyak masyarakat lebih mengutamakan pembelian kebutuhan primer dan kesehatan. "Penjualan masih terpuruk dan jauh dari pulih karena kita tahu bahwa barang elektronik bukan bahan pokok. Jadi masyarakat masih mikir-mikir ke mall untuk beli televisi atau kulkas baru, mereka akan mengutamakan beli makanan, bayar anak sekolah atau obat," kata Ketua Umum GABEL Oki Widjaja dalam rilisnya beberapa waktu lalu seperti yang dikutif dari Katadata.co.id beberapa waktu lalu.
Penjualan Perlengkapan Jenazah Raih Keuntungan
PRABUMULIH, SRIPO - Penjualan perlengkapan jenazah di kota Prabumulih mengalami peningkatan, jika biasanya susah dijual, namun di masa Pandemi Covid 19 perhari bisa laku 10 paket. Hal itu seiring meningkatkan jumlah kematian baik akibat terpapar virus Corona maupun kematian akibat sakit. Namun dengan situasi ini, pedagang juga mulai khawatir ketersediaan stok.
Hal itu diungkapkan penjualan perlengkapan jenazah di Pasar Tradisional Modern (PTM) Kota Prabumulih Saudah ketika ditemui, Jumat (30/7/2021). "Biasanya yang beli sepi perlengkapan jenazah, sekarang banyak bahkan perhari mencapai 10 paket," katanya.
Peningkatan penjualan perlengkapan jenazah itu terjadi sejak usai lebaran ldul Adha 1442 H atau beberapa pekan lalu. "Peningkatan Saat ini mencapai 50 - 60 % dibandingkan hari-hari biasanya, tapi kalau untuk saya hanya sekitar 10 paket perhari karena kan ada juga pedagang lainnya," kata ibu berhijab itu.
Lebih lanjut Saudah menjelaskan, satu paket perlengkapan jenazah terdiri dari kain kafan, tikar, kapur barus, air mawar dan juga kapas. Satu set paket perlengkapan jenazah itu dijual dengan harga Rp 300 ribu - Rp 350 ribu," jelasnya.
Perempuan yang berjualan sejak tahun 1990 itu menceritakan, berjualan perlengkapan jenazah khususnya saat ini meski banyak pembeli namun membuat dirinya dan keluarga senang namun sedih. "Berjualan pelengkapan jenazah ini sedih dan senang. Senangnya jualan laku bisa membantu siapkan perlengkapan jenazah, sedihnya banyak orang meninggal," katanya.
Hal yang sama disampaikan para pedagang perlengkapan jenazah lainnya ketika diwawancarai juga mengaku pada Juli 2021 ini penjualan meningkat. "Kami sedih kondisi sekarang banyak meninggal, disisi lain orang bilang kami mendoakan orang meninggal biar dagangan kami laku, sedih," ungkap pedagang lainnya.
2,5 Juta Nasabah Gunakan Mobile Banking
PALEMBANG, TRIBUN - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat pengguna mobile banking 2,5 juta nasabah. Angka ini naik pesat karena perkembangan teknologi membuat penggunaan transaksi non tunai dan meminimalisir nasabah ke kantor cabang dan migrasi membuat pengguna mobile banking naik. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan pengguna mobile banking didominasi segmen milenial yakni usia di bawah 35 tahun dengan persentase 70 %.
Mobile banking BSI dikembangkan bukan hanya memberikan kemudahan transaksi perbankan saja tapi juga dilengkapi kemudahan layanan sosial dan spiritual. Kemudahan berdonasi bisa dilakukan langsung melalui mobile banking karena nasabah bisa berdonasi zakat, infaq, sodakoh dan wakaf. Sementara itu layanan spiritual dilengkapi dengan paduan lokasi masjid terdekat, arah kiblat, waktu sholat dan lainnya yang bukan cuma berlaku di tanah air tapi juga berlaku secara global di seluruh dunia. "Jadi kalau nasabah lagi di luar negeri juga bisa dengan mudah menentukan arah kiblat atau masjid terdekat," ujar Direktur Utama BSI Hery Gunardi disela press conference kinerja BSI secara daring, Jumat (30/7/2021).
Dari sisi kinerja, Hery mengatakan pencapaian BSl semester 1 membukukan laba bersih sebesar Rp 1,48 triliun, naik 34,29% secara year on year (yoy). Kenaikarn laba dipicu pertumbuhan pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK) yang berkualitas, sehingga biaya dana dapat ditekan. Hal itu mendorong kenaikan pendapatan margin dan bagi hasil yang tumbuh sekitar 12,71/% secara year on year (yoy). Dengan pertumbuhan laba yang signifikan, BSI dapat meningkatkan rasio profitabilitas. Hal itu ditandai dengan meningkatnya ROE (Return on Equity) dari 11,69% per Juni 2020 menjadi 13,84% per Juni 2021.
Adapun untuk menjaga pertumbuhan ke depan, Hery mengatakan BSI akarn terus meningkatkan kapabilitas digital. Pasalnya volume transaksi kanal digital BSI tumbuh signifikan sepanjang triwulan kedua 2021. Hingga Juni 2021, nilai transaksi kanal digital BSI sudah menembus Rp 95,13 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari transaksi melalui layanan BSI Mobile yang naik 83,56 % secara yoy. Jika dirinci, sepanjang Januari-Juni 2021, volume transaksi di BSI Mobile mencapai Rp 41,99 triliun. Jumlah tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 109,82% secara yoy.
Dari sisi bisnis, pada semester I 2021 bank syariah milik Himbara itu telah menyalurkan pembiayaan hingga Rp161,5 triliun. Jumlah tersebut naik sekitar 11,73% dari periode yang sama pada 2020 yang sebesar Rp 144,5 triliun. "Pembiayaan memang belum maksimal karena kita menyalurkannya tetap dengan prinsip kehati-hatian agar tidak membuat angka kredit macet naik," kata Hery.
Bank Dunia: Indonesia Harus Percepat Pemerataan Adopsi Teknologi
Direktur
Bank Dunia untuk Indonesia, Satu Kahkonen mengatakan, tingkat pertumbuhan
perekonomin digital di Indonesia adalah paling pesat di
Asia Tenggara. Hal ini dapat
memberikan peluang bagi
Indonesia untuk memaksimalkan kekuatan dari berbagai
teknologi digital ini, terutama
dalam menangani beberapa
tantangan mendasar untuk
mencapai pertumbuhan, menciptakan perekonomian yang
lebih kompetitif dan inklusif.
“Inovasi digital menjadi faktor yang sangat penting dalam
bentang lahan bisnis di masa
yang akan datang. Aplikasi
dari teknologi digital punya
banyak sekali potensi. Kita
bisa memfasilitasi pemulihan
ekonomi dan membentuk
pembangunan Indonesia dengan meningkatkan daya saing
di masa yang akan datang,
namun demikian manfaat dari
ekonomi digital tidak bisa kita
anggap langsung ada begitu
saja, karena tidak semua orang
akan bisa dapat manfaat dari
teknologi digital ini,”tuturnya.
(Oleh - HR1)
Transaksi E-commerce 2021 Bakal Tembus RP 395 T, BI: Akselerasi Keuangan Digital Didukung 4 Faktor
Direktur Departemen
Kebijakan Sistem Pembayaran Bank
Indonesia (BI) Fitria Irmi Triswati
mengungkapkan, ada empat fakta atau
faktor yang mendorong peningkatan nilai
ekonomi keuangan digital di Tanah Air
sepanjang 2021. Pertama, transformasi
produk dan layanan e-commerce serta
shifting perilaku masyarakat ke arah
digital melalui platform e-commerce yang
berhasil dimanfaatkan oleh para pelaku
ekonomi untuk terus berinovasi.
Kedua, perluasan kolaborasi antarpelaku. Lesson learn membuktikan
bahwa perluasan ekosistem digital menjadi kunci keberhasilan dalam kompetisi
antarpemain pasar.
Kemudian ketiga, terkait dengan perluasan ekosistem melalui aksi korporasi.
Setelah tahun lalu tumbuh dan terakselerasi, beberapa perusahaan teknologi
diperkirakan akan melakukan konsolidasi
untuk memperluas ekosistem dan meraih
pendanaan yang lebih besar.
Kemudian yang terakhir, digitalisasi
bank semakin luas, dari pelaku lama
hingga pelaku baru dengan berbagai
model strategi melalui penguatan kapasitas, internal strategic, proses bisnis
(teknologi atau core banking), akuisisi
bank, hingga perluasan ekosistem.
(Oleh - HR1)









