Penyelundupan Benih Lobster Lewat Jalur Baru
Penyelundupan benih bening lobster masih terus berlangsung dengan pembukaan rute-rute pengiriman baru. Upaya menghadang penyelundupan diperlukan untuk membangkitkan budidaya lobster di Indonesia.Penyelundupan benih bening lobster ke luar negeri masih terus terjadi. Modus penyelundupan benih diduga menggunakan jalur-jalur baru untuk mengecoh aparat pengawas.
Sejak 23 Desember 2020 hingga 18 Agustus 2021 tercatat 52 kasus penyelundupan benih bening lobster digagalkan aparat.Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan, 52 kasus yang berhasil digagalkan aparat Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), TNI-Polri dan Bea Cukai tersebar di 13 wilayah. Wilayah itu meliputi Jambi, Jawa Timur, Palembang, Banten, Jakarta, Batam, Mataram, Lampung, Kepulauan Riau, Bandung, Pangkal Pinang, Bengkulu, dan Cirebon.Total benur yang diselamatkan dari kasus-kasus ini mencapai 3.873.775 ekor. Ini terdiri dari benih bening lobster jenis pasir 3.710.838 ekor dan jenis mutiara 162.937 ekor. Perkiraan nilai benih bening lobster yang diselamatkan Rp 159,93 miliar.
Kepala Pusat Karantina Ikan BKIPM Riza Priyatna mengemukakan, modus operasi penyelundup benih bening lobster itu terus berkembang. Sebagian penyelundup juga membuka jalur-jalur baru pengiriman untuk mengecoh aparat.
(Oleh - HR1)
Waspadai AS dan China
Tren surplus neraca perdagangan Indonesia memang terus berlanjut lantaran ditopang kenaikan harga komoditas dan pemulihan ekonomi sejumlah negara tujuan ekspor. Kendati begitu, Indonesia perlu mewaspadai penurunan ekspor secara bulanan sebagai imbas lonjakan kasus Covid-19 di dalam negeri ataupun sejumlah negara.Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, total nilai ekspor migas dan nonmigas Indonesia pada Juli 2021 sebesar 17,7 miliar dollar AS, sedangkan impornya 15,11 miliar dollar AS. Dengan demikian, neraca perdagangannya surplus 2,59 miliar dollar AS, melanjutkan tren surplus selama 15 bulan berturut-turut.Ekspor dan impor nonmigas Indonesia secara tahunan tumbuh cukup signifikan, tetapi secara bulanan justru turun. Nilai ekspor nonmigas pada Juli 2021 mencapai 16,71 miliar dollar AS atau tumbuh 28,26 persen dari Juli 2020. Namun, jika dibandingkan Juni 2021, nilai ekspor nonmigas justru turun 3,46 persen. Ekspansi China melambat sejak Juli 2021, sedangkan pemulihan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan melambat karena gelombang Covid-19 yang dipicu varian Delta. Indonesia perlu mewaspadai penurunan ekspor.
Ekonom Moody’s Analytics, Sonia Zhu, Rabu (18/8/2021), mengatakan, kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2021 cukup positif, terutama ditopang oleh harga komoditas yang tinggi. Namun, jika dicermati secara bulanan, ekspor dan impor Indonesia turun lantaran lonjakan kasus Covid-19 yang disebabkan virus korona baru varian Delta. Indonesia, lanjut Sonia, juga perlu mewaspadai negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia yang juga tengah menghadapi kebangkitan Covid-19 tersebut, terutama China dan Amerika Serikat. Ekspansi China mulai melambat sejak Juli 2021, sedangkan pemulihan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan akan melambat karena tengah menghadapi gelombang Delta.”Ini bisa menghambat momentum pertumbuhan ekspor Indonesia. Kami perkirakan kinerja perdagangan Indonesia tidak akan goyah atau turun drastis, tetapi akan melemah dalam beberapa bulan mendatang,” katanya.Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Indonesia ke China pada Juli 2021 mencapai 3,57 miliar dollar AS atau turun 13,7 persen dibandingkan Juni 2021. Nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat juga turun 5,35 persen secara bulanan menjadi 2,02 miliar dollar AS.
(Oleh - HR1)Harga Tes PCR Turun, Kinerja RS Terdampak
Polemik tingginya tarif layanan tes PCR untuk mendeteksi virus Covid-19 mulai terjawab. Presiden Joko Widodo meminta Menteri Kesehatan segera menurunkan tarif tes PCR dari kisaran Rp 850.000-Rp 1 juta menjadi Rp 495.000-Rp 525.000. Sebelumnya, harga tes PCR di Indonesia dianggap terlalu mahal dibandingkan negara lain, seperti India dan China. Kini, dengan aturan baru Surat Edaran Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/I/2845/2021 Tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan RT-PCR, Kementerian Kesehatan mengklaim harga tes PCR di Indonesia adalah termurah kedua di kawasan ASEAN setelah Vietnam. Adapun daftar harga Tes PCR di ASEAN meliputi Thailand di kisaran Rp 1.300.000 hingga Rp 2.800.000, Singapura Rp 1.600.000, Filipina pada kisaran harga Rp 437.000 - Rp 1.500.000, Malaysia senilai Rp 510.000, dan Vietnam di harga Rp 460.000. Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Abdul Kadir mengatakan, evaluasi harga ter PCR dilakukan bersama Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang dilakukan melalui perhitungan biaya pengambilan dan pemeriksaan RT-PCR terdiri dari komponen berupa jasa pelayanan/SDM, komponen reagen dan bahan habis pakai (BHP), komponen biaya administrasi, overhead dan komponen lainnya yang kita sesuaikan dengan kondisi saat ini.
Fintech Ramai-Ramai Serbu Bisnis Bank
Industri bank semakin riuh dengan kehadiran beberapa pemain baru. Yang menarik bukan investor besar saja yang melirik bisnis bank, finansial technology (fintech) ternyata juga masuk ke bisnis ini. Bisnis bank juga dilirik pemain di keuangan digital seperti PT Akulaku Silvrr Indonesia atau Akulaku. Mereka sudah masuk ke industri perbankan melalui akuisisi PT. Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB). Saat ini, proses akuisisi ini juga akan menjadikan Akulaku sebagai pemegang saham mayoritas sebesar 24,98% dengan nilai saham mencapai Rp 187,22 miliar.
PT FinAccel Teknologi Indonesia, operator Kredivo, juga pemilik 24% saham PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI).
Tapering Moneter The Fed Buat Rupiah Loyo ke Rp14.402
Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.402 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (19/8) sore. Posisi tersebut melemah 0,21 persen dibandingkan perdagangan Rabu (18/8) sore di level Rp14.372 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.414 per dolar AS, atau melemah dibandingkan posisi hari sebelumnya yakni Rp14.384 per dolar AS.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah bersama mayoritas mata uang lain disebabkan rencana pengetatan (tapering) kebijakan moneter The Fed diperkirakan mulai tahun ini. Kondisi itu memicu penguatan dolar AS lantaran tapering berpotensi mengurangi likuiditasnya di pasar.
Dalam risalah pertemuan 27-28 Juli yang dirilis semalam, pejabat The Fed melihat potensi untuk mengurangi pembelian obligasi tahun ini jika ekonomi terus membaik seperti yang diharapkan. Ibrahim mengatakan pengurangan pembelian obligasi itu berdampak positif bagi dolar AS karena The Fed tidak membanjiri pasar dengan uang tunai.
4,4 Juta Orang Keluar dari Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan
BPJS Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 4,4 juta orang keluar dari kepesertaan program jaminan sosial di BPJS Ketenagakerjaan hingga kemarin, Rabu (18/8).Direktur Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Zainudin menyebut penyebab keluarnya para peserta sebagai dampak pandemi corona terhadap perusahaan tempat mereka bekerja. "Kalau lihat lebih mikro di kepesertaan kami, kami juga mencatat jumlah tenaga kerja yang keluar misalnya di sektor formal, kami lihat sampai posisi kemarin itu sudah 4,4 juta orang," jelasnya, dalam Webinar TNP2K Bantuan Subsidi Upah di Masa Pandemi Covid-19, Kamis (19/8).
Banyak pekerja yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Berdasarkan data BPS, tiga sektor usaha yang paling banyak melakukan PHK adalah industri pengolahan, konstruksi, serta akomodasi dan makan minum. "Jadi, memang bahwa pandemi covid-19 ini menyebabkan dampak ke ekonomi, ke sektor ketenagakerjaan. Dari angka baik secara makro, dari pemerintah dan BPS, maupun mikro dari kepesertaan kami, sepertinya terkonfirmasi," imbuh dia.
(Oleh - HR1)
Mengenal Porang, Umbi Kualitas Impor yang Tarik Minat Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) melihat potensi ekonomi dari komoditas porang dan meminta Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo serius mengembangkan komoditas tersebut karena diprediksi akan menjadi makanan sehat masa depan.
Selain bermanfaat untuk kesehatan, porang juga bisa diolah menjadi produk lain yang menghasilkan nilai tambah (value added) secara ekonomi.
Berdasarkan data otomasi Indonesia Quarantine Full Automation System (IQFAST) Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, volume ekspor porang pada semester I 2020 lalu mencapai 14,8 ribu ton.
Angkanya naik 9.000 ton atau 160 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Negara tujuan ekspor porang antara lain China, Vietnam dan Thailand.
Kementerian Pertanian menyatakan peningkatan ekspor ini menjadi salah satu yang penyumbang kenaikan ekspor pertanian nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor pertanian naik 9,6 persen pada Januari hingga Juni 2020 dibanding periode yang sama pada 2019.
BI Beli SBN di Pasar Perdana Rp131,96 T per 16 Agustus 2021
Bank Indonesia (BI) mengklaim telah membeli surat berharga negara (SBN) di pasar perdana sebesar Rp131,96 triliun. Jumlah itu terhitung sejak awal tahun ini hingga 16 Agustus 2021. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan pembelian SBN ini dilakukan lewat lelang utama sebesar Rp56,5 triliun dan lelang tambahan (green shoe option/GSO) sebesar Rp75,46 triliun.
Selain itu, BI juga menambah likuiditas (quantitative easing) di perbankan sebesar Rp114,15 triliun. Hal ini terhitung sejak awal Januari 2021 hingga 16 Agustus 2021.
Injeksi likuiditas itu dilakukan melalui pembelian SBN dari pasar sekunder, penyediaan likuiditas ke perbankan dengan mekanisme term-repurchase agreement (repo), dan penurunan giro wajib minimum (GWM).
Perry mengatakan bukti likuiditas perbankan longgar terlihat dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yakni 32,51 persen secara tahunan. Selain itu, pertumbuhan DPK sebesar 10,43 persen secara tahunan.
Sementara itu, likuiditas perekonomian juga terlihat meningkat. Hal itu terlihat dari jumlah uang beredar dalam arti sempit (M1) yang naik 14,9 persen dan uang beredar dalam arti luas (M2) naik 8,9 persen pada Juli 2021.
RI Surplus Dagang dengan AS, Tapi Defisit dengan China
Mendag: Ekspor Indonesia Sedang Berevolusi
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, Indonesia saat ini tengah berevolusi dari negara pengekspor barang mentah setengah jadi menjadi eksportir barang industri dan industri berteknologi tinggi. Hal ini terlihat dari 5 besar ekspor Indonesia pada tahun 2020-2021 yang didominasi oleh produk industri yang berteknologi tinggi. Menurut Mendag, itupun sebenarnya sudah dikenakan ancaman oleh Tiongkok karena 69% dari besi stainless steel Indonesia kembali ke Tingkok. Artinya, barang Indonesia terutama komoditas pertambangan yang dikerjakan dengan disiplin, menadikan komoditas tersebut mempunyai struktur harga yang sangat kompetitif.
"Perlu diketahui, Filipina adalah negara pasar ekspor mobil. Jadi dari sini kita bisa lihat bahwa indonesia dapat merajai pasar Filipina. Itu artinya barang Indonesia bisa karena kita mampu," ucap Lutfi. Pada kesempatan itu, dia juga membantah adanya banjir barang import ditengah pandemi. Justru yang terjadi adalah penurunan impor. Lutfi menerangkan, pada 2020 impor terus turun secara serentak. Berdasarkan data BPS, secara tahun berjalan, impor bahan baku atau penolong naik tinggi. "Barang komsumsi kalau kita lihat antara semester 1-2021 dibanding semester 1-2020 justru turun dari 10,6% menjadi 9,4%," tutur Mendag.
Dalam acara yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, pihaknya juga berusaha untuk mengurangi impor melalui kebijakan subtitusi impor 35% hingga tahun 2022. Untuk mencapai itu, Kementerian Perindustrian berusaha memperbanyak dan memperluas investasi di sekitar manufaktur. "Kebijakan itu merupakan wujud keberpihakan terhadap produk dalam negeri. Semua negara pasti menggunakan berbagai intrusmen untuk melindungi industrinya dan membentengi sektor produksinya," pungkas Agus. (YTD)









