;

Presiden: Ekonomi Menuju Pulih, Masyarakat Diimbau Tidak Lengah

Yuniati Turjandini 17 Sep 2021 Investor Daily, 16 September 2021

Terhitung sejak puncak pandemi, 15 Juli hingga 14 September 2021, angka positif baru Covid-19 sudah turun 92,7%. Berbagai indikator pandemi sudah membaik, termasuk positive rate yang sudah dibawah 3% dan bed occupancy rate (BOR) rumah sakit yang sudah di bawah 15%. Keberhasilan mengendalikan pandemi yang cukup signifikan menjadi modal bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Ekonomi Indonesia menuju pulih karena pandemi bisa kita kendalikan. Tapi, saya mengimbau agar kita tetap waspada, tidak lengah. Karena pandemi dengan berbagai variannya masih mengancam," kata Presiden Joko Widodo dalam diskusi dengan 13 pemimpin redaksi media massa nasional di Istana Negara.

Diakui, rem yang diinjak pemerintah lewat PPKM Darurat untuk mengendalikan pendemi sejak 3 Juli hingga akhir Juli 2021 cukup dalam. Namun, tanpa langkah itu, angka positif harian yang sempat mencapai 56.757 pada Juli 2021 akan terus meroket. Tanpa PPKM, demikian Presiden mengutip perkiraan para epidemolog, kasus harian bisa menembus 150.000 awal September dan selanjutkan bakal melampaui level 400.000. Berbagai indikator ekonomi, kata Presiden, juga menunjukkan perbaikan. Ia menunjukkan Purchasing Manager Index (PMI) dan Indeks Penjualan Ritel yang kembali membaik. Indeks kepercayaan kepada pemerintah yang sempat turun ke level 109,9, kini naik 115,6. Indeks Kepercayaan Perbaikan Ekonomi Nasional naik dari 108,7 ke 118,6. Indeks kepercayaan stabilitas harga meningkat dari 97,6 ke 113,1.

Sementara itu, membaiknya perekonomian juga tercermin pada beberapa indikator. Diantaranya adalah data neraca perdagangan Agustus yang membukukan surplus US$ 4,74 miliar. Ini merupakan surplus yang dicapai selama 16 bulan berturut-turut. Dari Data Badan Pusat Statistik tersebut terungkap pula bahwa impor bahan baku dan penolong melonjak 59,59% (yoy) menjadi US$ 12,38 miliar. Sektor ini terkontribusi hingga 74,2% terhadap total impor. Di tengah kondisi likuidasi yang tetap longgar dan penurunan suku bunga kredit baru, intermediasi pernbankan melanjutkan pertumbuhan positif meskipun belum kuat yaitu sebesar 0,50% pada Juli 2021, sejalan dengan tingginya permintaan kredit kepemilikan rumah. Transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Juli 2021 terus tumbuh seiring meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring, perluasan pembayaran digital, dan akselerasi digital banking. (YTD)

BTN Desain Platform Digital Perumahan

Yuniati Turjandini 17 Sep 2021 Investor Daily, 16 September 2021

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) tengah mengembangkan platform digital perumahan, sebagai salah satu strategi untuk menjadi one stop financial inclusion. Masyarakat bisa menggunakannya untuk mengakses kredit kepemilikan rumah (KPR). Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo mengatakan, digitalisasi bukan merupakan pilihan, namun sebuah keharusan. Itulah sebabnya, transformasi digital perbankan marak, tak terkecuali di bank BUMN ini. Perseroan tengah melakukan akuisisi modal ventura untuk mengembangkan platform digital perumahan, guna mendukung informasi tersebut. Setelah akuisisi perusahaan modal ventura itu selesai, diharapkan beroperasi awal tahun depan. Anak perusahaan diharapkan benar-benar mendukung layanan kepada nasabah.

Haru menjelaskan lebih lanjut, BTN merupakan bank yang fokus pada pinjaman perumahan, dengan market share KPR terbesar di Indonesia. BTN juga kontributor utama program Sejumlah Rumah, mencapai lebih dari 60%-nya setahun. "BTN juga mengembangkan ekosistem perumahan nasional, perseroan memiliki peran sebagai enabler yang memberikan pembiayaan sisi supply melalui kredit konstruksi kepada dari sisi deman dengan memberikan KPR kepada masyarakat. Proses penyaluran ini menggunakan dana sendiri dan menggunakan dana dari stakeholder seperti Tapera, PPDPP, TWP AD, SMF, serta BPJS Ketenagakerjaan,"

Saat ini, permodalan BTN terbilang relatif rendah dibandingkan peers. Untuk itu perseroan akan melakukan rights issue guna memperkuat permodalan. Direktur Finance, Planning, and Treasury BTN Nofry Rony Poetra mengatakan, dari sisi biaya dana perseroan, saat ini sudah jauh membaik dibandingkan tahun lalu, yakni dikisaran 3,5%. Ini turun dari 5% pada 2020. Selain mengejar dana murah seperti lewat kerja sama dengan PT Pos, BTN juga mencari dana dari segmen ritel kelas atas, Posri CASA ini diharapkan meningkat signifikan. "Semua segmen kami kejar, dari nasabah ritel dana murah sampe pelosok, hingga nasabah affluent. Kami harapkan CASA itu sustain," Kata Nofry. (YTD)

Perppu Kepailitan di Masa Pandemi, Perlukah?

Yuniati Turjandini 17 Sep 2021 Investor Daily, 16 September 2021

Menko Perekonomian Airlangga Hartanto dalam Rakornas ke-31, Selasa 24 Agustus 2021, mengatakan terdapat 480 kasus pengajuan pailit dan penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta dan lainnya. Jumlah tersebut diperkirakan cenderung meningkat, mengingat berbagai kesulitan keuangan yang melilit perusahaan terjadi saat ini. Keadaan ini menimbukan dilema dan isyarat perlunya keseimbangan hukum menilai kepailitan dan PKPU. Pandemi Covid yang sudah merepotkan perekonomian nasional, dan tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir. Mestinya segera dilakukan mekanisme hukum proses kepailitan serta PKPU diluar kelaziman yang ada.

Tenarnya lembaga kepailitan terjadi saat krisis moneter mendera Indonesia pada tahun 1998, yang memicu melonjaknya utang korporasi secara signifikan sebagai imbas melemahnya kurs mata uang rupiah, khususnya terhadap dollar AS. Terbitnya UU Kepailitan No 4/1998 seakan menjadi langkah tepat menuntaskan persoalan yang ada saat itu. Pandemi menjadi faktor abnormal yang tidak pernah dapat diduga oleh penyusun UU. Itu sebabnya,  persolan yang disebutkan Airlangga Hartanto menjadi  pembelajaran penting bagi kita untuk  berpikir ulang melakukan langkah kepailitan dan PKPU.

Indonesia tumbuh dan Indonesia tangguh hanya tercipta dengan kehidupan bisnis yang semakin tumbuh dan berdiri tangguh tanpa perlu menyalahkan kondisi pandemi. Justru kondisi pandemi menuntut kita semua berpikir cerdas dan bukan hanya mengeluh . Hukum mesti dapat meng-cover, merespon keadaan pandemi dengan cepat. Kecepatan dan ketepan bertindak merupakan kata kunci  dalam situais kondisi uncertainty sebagai imbas Covid-19 yang sangat dibutuhkan dunia usaha. Solusi hukum adalah solusi berpikir bijak dan benar, bukan berpikir pada tataran normatif UU Kepailitan yang sudah ada. (YTD)

Satgas Kejar Tagihan ke 13 Pengemplang BLBI

Hairul Rizal 17 Sep 2021 Kontan, 16 September 2021

Satu per satu pemerintah lewat tangan Satuan Tugas Penanganan Hak Tagih Negara Dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (Satgas BLBI) mulai memanggil para debitur pengemplang dana BLBI. Setelah sebelumnya memanggil empat debitur, pemerintah kini langsung memanggil 13 debitur sekaligus. Dalam pengumuman pemanggilan di media nasional, Rabu (15/9), Ketua Satgas BLBI, Rionald Selaban langsung memanggil 13 nama obligor. Antara lain; Andrus Roestam Moenaf dan Pingkan Warrow.  Yang menarik, dalam daftar nama pemanggilan tersebut, ada dari keluarga Bakrie, Yaitu ada Nirwan Dermawan Bakrie, Indra Usmansyah Bakrie serta Anton Setianto dari PT Usaha Mediatronika Nusantara. Perusahaan tersebut punya utang sebesar Rp 22,7 miliar. 

Satgas juga memanggil Thee Ning Khong, The Kwen le, PT Jakarta Kyoel Steel Works Ltd Tbk, PT Jakarta Steel Megah Utama, dan PT Jakarta Steel Perdana Industry Selain itu Harry Lasmono Hartawan, Koswara, Haji Sumedi, Fuad Djapar, Eddy Heryanto Kwanto, dan Mohamad Toyib. Satgas BLBI memastikan, jika para debitur atau pengemplang dana BLBI ini tidak menunjukkan batang hidungnya di Lapangan Banteng, akan dilakukan tindakan sesuai dengan hukum yang berlaku.  Total kewajiban BLBI mencapai Rp. 110,45 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyatakan Satgas BLBI telah memanggil 48 obligor dan debitur yang memiliki kewajiban di atas Rp 50 miliar. Apabila sampai dengan pemanggilan tahap ketiga tidak hadir, Satgas akan mengumumkan pemanggilan ini ke publik. Boyamin pesimistis cara pemanggilan ini efektif menagih utang. Ia menilai lebih efektif jika dipidanakan.

Impor Bahan Baku Tumbuh 59,9%, Neraca Perdagangan Cetak Rekor, Pemulihan Ekonomi Tengah Berlangsung

Yuniati Turjandini 17 Sep 2021 Investor Daily, 16 September 2021

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2021 mengalami surplus hingga US$ 4,47miliar, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Rekor surplus tertinggi sebelumnya adalah sebesar US$ 3,58 miliar yang dibukukan pada Oktober bulan lalu. Pencapain ini dinilai semakin memperkuat optimisme bahwa pemulihan ekonomi tengah berlangsung. Surplus neraca perdagangan pada Agustus 2021 yang merupakan surplus bulanan  ke-17 secara berturut-turut tersebut terutama ditopang oleh kinerja ekspor yang melonjak bersamaan dengan kenaikan ekspor yang tinggi.

Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan, nilai ekspor pada Agustus 2021 yang sebesar US$ 21,42 miliar itu juga merupakan rekor tertinggi sejak Agustus 2021. Ia juga memaparkan, komoditas non migas yang menyumbang surplus terbesar pada Agustus 2021 adalah lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, neraca perdagangan dengan beberapa negara mengalami defisit, diantaranya dengan Australia sebesar US$ 453,9 juta, Thailand USD 334 juta, dan Tiongkok US$ 175,5 juta.

Sedangkan barang impor modal mencapai US$ 2,41 miliar yang secara bulanan menunjukkan kenaikan 34,56%. Kontribusi impor barang modal terhadap keseluruhan impor mencapai 14,47%. Peneliti Center of Return on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat, kondisi neraca perdagangan yang mengalami surplus pada Agustus 2021. Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono memandang, surplus neraca perdagangan tersebut berkontribusi positif dalam menjaga  ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. "Kedepannya, BI terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mendukung pemulihan ekonomi," kata dia. (YTD)

Hyundai dan LG Mulai Bangun Pabrik Baterai EV US$ 1,1 Miliar

Yuniati Turjandini 17 Sep 2021 Investor Daily, 16 September 2021

Hyundai Motor Group dan LG Energi Solution Ltd  memulai membangun pabrik sel baterai kendaraan listrik (electric Vehicle/EV) di Karawang. Jawa Barat, dengan total investasi US$ 1,1 miliar. Kapasitas produksi terpasang pabrik ini mencapai 10 GWh sel baterai lithium-ion dengan bahan katoda NCMA (Nikel, kobalt, mangan, aluminium) per tahun. Kapasitas sebesar itu cukup untuk memenuhi kebutuhan 150 ribu unit mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV). Pembangunan pabrik ini untuk mendukung visi Hyundai menjadi pemain terdepan BEV dunia.

Adapun Chairman Hyundai Motor Group Euisun Chung, President & CEO Hyundai Mobis Sung Hwan Cho, dan President & CEO LG Energi Solution Jong-hyun Kim mengikuti acara itu secara virtual dari Korea Selatan. "Nilai tambahnya meningkat 6-7 kali lipat kalau nikel jadi sel baterai. Kalau jadi mobil listrik, nilai bertambah 11 kali lipat ," kata Presiden dalam seremonial peletakan batu pertama pabrik yang disiarkan secara virtual, Rabu (15/9).

Sel baterai yang diproduksi di pabrik Karawang ini akan diaplikasikan pada model kendaraan listrik milik Hyundai Motor dan Kia yang dibangun diatas platform khusus BEV, Elektronic-Global Modular Platfrom. Sementara itu Bahlil Lahdalia menuturkan, Hyundai akan memulai produksi mobil listrik paling lambat Mei 2022 di Indonesia. Hyundai membentuk konsorsium yang terdiri atas Hyundai Motor Group Company,  Kia Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution untuk bekerjasama dengan PT Industri Baterai Indonesia. (YTD)

Raih Pendanaan US$ 150 Juta, Xendit Jadi Unicorn Baru

Yuniati Turjandini 17 Sep 2021 Investor Daily, 16 September 2021

Fintech payment gateway, Xendit, meraih pendanaan seri C senilai Rp 2,1 triliun (US$ 150 juta), yang menjadikannya sebagai start-up berstatus unicorn baru di Indonesia. Putaran pendanaan ini  dipimpin oleh Tiger Global Management dengan partisipasi dari investornya saat ini, yaitu Accel, Amasia, dan Goat Capital yang dimiliki oleh Justin Khan. Founder dan CEO Xendit Moses Lo menyampaikan, dana segar ini akan digunakan perusahaan untuk terus berinovasi pada berbagai produk, termasuk dalam rangka ekspansi pada negara-negara terpilih.

Pada tahun 2021, nilai ekonomi digital di kawasan ini akan melebihi US$ 100 miliar, dan diproyeksikan meningkat tiga kali lipat menjadi lebih dari US$ 300 miliar pada tahun 2025, "Kami sedang melihat pergeseran besar-besaran keranah digital yang dilakukan hampir semua pelaku usaha, baik pemilik toko kecil di Instagram, sampai perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Semua usaha kini harus bisa hadir secara digital," kata Moses dalam konferensi pers daring, Rabu (15/9).

Co-founder & COO Xendit Tessa Wijaya menuturkan, Xendit mampu membangun solusi-solusi yang menjadi terobosan baru di pasar. "Xendit mencatatkan peningkatan total volume pembayaran lebih dari 200% year over year di Indonesia dan Philipina, melanjutkan rekam jejak kami yang tumbuh lebih dari 10% dari bulan ke bulan, sejak awal pendirian kami." ujar Tessa. Xendit juga merupaka start-up teknologi Indonesia pertama yang berhasil lulus dari program inkubator YCombinator dan merupakan perusahaan Asia Tenggara terbaik dalam daftar YC Top 100. (YTD)

GoTo Serius akan Melantai di Bursa Efek Indonesia

Yuniati Turjandini 17 Sep 2021 Investor Daily, 16 September 2021

Gojek dan Tokopedia (GoTo) serius akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah di Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang masuk bursa pada Agustus lalu. "Bukalapak sudah membuka karpet merah bagi kami semua pelaku teknologi nasional untuk nantinya akan melantai di Bursa Efek Indonesia," Kata CEO Tbk Tokopedia William Tanuwijaya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR di Jakarta, Rabu (15/9). Baik William maupun CEO Gojek Kevin Aluwi, keduanya memang tengah fokus menyiapkan GoTo untuk menjadi raksasa global yang tidak hanya bersaing di pasar domestik, tetapi juga membawa nama Indonesia untuk kompetisi di pasar global. Keputusan merger antara Gojek dan Tokopedia yang diambil pada masa pandemi ini juga akan menguntungkan ekosistem yang ada.

Artinya, ada dua juta mitra pengemudi yang memiliki Gojek kemudian di gabung dengan 10 juta mitra UMKM Tokopedia, maka GoTo telah mempunyai total 12 juta mitra UMKM. Hasilnya transaksi yang dikontribusikan oleh platform GoTo kini pun sudah menembus 2% dari PDB nasional. William menegaskan, kombinasi antara Gojek dan Tokopedia bukan untuk sekedar mengejar efisiensi dan menghilangkan opsi masyarakat, tetapi justru untuk mengakselerasi dan menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja. Menurut dia, di era revolusi indusri ini, Indonesia mempunyai harapan bukan hanya sebagai target pasar, tetapi juga beberapa tahun terakhir Indonesia juga terbukti telah melahirkan unicorn-unicorn perusahan nasional yang berhasil naik kelas di panggung dunia. Hal ini menunjukkan, jika talenta-talenta yang dimiliki negara ini diasah, maka akan lahir banyak perusahaan teknologi baru. (YTD)


Astra Siap Bersaing dengan Para Penyelenggara Dompet Elektronik

Yuniati Turjandini 17 Sep 2021 Investor Daily, 16 September 2021

PT Astra Internasional Tbk (ASII) optimistis bisa bersaing dengan para penyelenggara dompet elektronik (e-wallet) dari kalangan perbankan maupun non-bank. Sebab Astra memiliki lebih dari 50 juta pelanggan, yang bisa menjadi tumpuan dalam meningkatkan penetrasi pasar ke depan. 

Presiden Komisaris PT Astra Digital Arta (AstraPay) Margono Tanuwijaya menjelaskan, berdasarkan survei pasar, potensi penggunaan dompet elektronik sangat besar. Margono menegaskan, hal yang membedakan Astra dengan penyelenggara lainnya  adalah ekosistem Astra yang cukup besar. Selain lebih dari 50 juta pelanggan, tidak menutup kemungkinan pengguna dompet elektronik di tempat lain akan menggunakan AstraPay.  Dalam bersaing dengan penyedia dompet elektronik lainnya, AstraPay tidak hanya menggunakan strategi promosi berupa pembelian berupa cashback ataupun yang lainnya. Namun, hal terpenting lainnya adalah adanya kemudahan dalam pemakaian dan keamanan data. "Ekosistem ini yang menjadikan modal utama AstraPay untuk bisa melakukan penetrasi, tanpa harus melakukan bakar uang secara masif," ujar dia.

Sementara itu, Direktur in Astra Financial, Tranportasi, dan Logistik Suparno Djasmin menambahkan, sejauh ini, Astra sudah membenamkan investasi ke salah satu e-commerce, yakni GoTo. Namun untuk berkolaborasi, pihaknya akan terus membangun AstraPay dan mengedepankan unique enabler dari produk-produk digital yang dikembangkan di group Astra. AstraPay juga telah terintegrasi dengan sistem pembayaran moda transportasi umum, seperti MRT Jakarta dan Transjakarta. Selebihnya, AstraPay juga dapat digunakan untuk membayar tagihan listrik, PDAM, TV kabel, BPJS, pajak, hingga beli pulsa atau paket data. Selain Astra, saat ini sudah ada beberapa perusahaan lain yang menyediakan layanan dompet elektronik. Salah satunya adalah Gojek yang memiliki dompet digital, GoPay. Lalu ada PT Visonet Internasional melalui OVO, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melalui Mandiri e-cash, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melalui Yap!, PT Dompet Digital Indonesia (DANA), ShopeePay, PT Fintek Karya Nusantara melalui LinkAja, Hingga Sakuku dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). (YTD)

Perburuan Aset Negara, 4 Obligor BLBI Tak Terdeteksi

Yuniati Turjandini 17 Sep 2021 Bisnis Indonesia

Sebanyak empat obliglor Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) yang selama puluhan tahun menyepi di Singapura ini tak kedapatan rimbanya. Hal ini diketahui setelah satuan tugas dan perwakilan Pemerintah Indonesia di negara tetangga itu melacak keberadaan pengemplang uang negara tersebut. Berdasarkan data KBRI Singapura, tercatat ada delapan obligator Bantuan Likuidasi Bank Indonesia yang menetap di negara tersebut. Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo mengatakan obligator yang berkomunikasi dengan KBRI dan satgas BLBI adalah Kwan Benny Abadi dari Bank Orient, yang memiliki tagihan senilai Rp 143,3 miliar.

Adapun tiga orang lainnya berkomitmen untuk kooperatif tetapi dalam prosesnya dilimpahkan kepada hukum. Penggunaan kuasa hukum ini juga telah mendapat persetujuan Satgas dan legalitas dari KBRI, dengan pertimbangan secara nyata para obligator tersebut menetap di Singapura. Di sini pemerintah tidak bisa memaksa para obligator tersebut untuk kembali ke Indonesia  mengingat DPR belum meratifikasi perjanjian ekstradisi dengan Singapura. Akan tetapi pria yang akrab dipanggil Tomi ini optimis misi Satgas dalam memburu obligator BLBI akan membuahkan hasil selama menggunakan pendekatan dan komunikasi yang tepat.

"Kami akan menggunakan semua kewenangan untuk melihat apakah debitur dan obligator punya aset atas nama yang bersangkutan, entah dalam bentuk dana di bank, perusahaan, tanah, atau bentuk lainnya," Tegas Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sejauh ini aset yang berhasil disita oleh Satgas adalah 49 bidang tanah seluas 5.291.200 m yang berlokasi di Medan, Pekan Baru, Tangerang dan Bogor. Satgas juga melakukan penguasaan aset tanah dan/atau bangunan eks BLBI di Karet Tengsin, Jakarta Pusat, dan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Dia menambahkan Satgas BLBI akan melakukan penguasaan atas 1.677 bidang tanah dengan luas total 15.813.163 meter, yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Indonesia pada tahap selanjutnya. (YTD)

Pilihan Editor