Modal Ventura, Startup Pertanian Jadi Incaran
Akses pembiayaan ke sektor pertanian menjadi satu segmen yang dinilai cocok dikembangkan skema pendanaannya melalui modal ventura. Jumlah perusahaan pasangan usaha di industri pertanian cukup besar. Data Otoritas Jasa keuangan (OJK) hingga Juli 2021, terdapat 66.202 unit perusahaan pasangan usaha (PPU). Jumlah itu kedua tertinggi setelah perdagangan besar eceran, reparasi, dan perawatan mobil dan kendaraan bermotor. Akan tetapi, dari sisi lain nilai pembiayaan ke sektor pertanian itu masih relatif kecil dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Selain itu, kegiatan berkaitan sektor ini, biasanya membutuhkan komitmen jangka panjang, serta kerap belum memiliki model bisnis yang mapan, sehingga membutuhkan pendampingan.
Ketua Umum Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) sekaligus managing Patner Gayo Capital Jefri R. Sirait mengatakan bahwa ada peluang pendanaan ke sektor pertanian karena selama ini kebutuhan permodalan di sektor ini terbilang sulit."Apalagi, kalau (proyek) berangkatnya dari hasil research. Kita ini kan punya banyak paten di sektor agri, tapi akademisi itu tidak semuanya bisa jualan, karena memang bukan tugas mereka," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (19/9). Hal ini juga demi menanggapi maraknya fenomena kredit macet dan bahkan gagal bayar di perusahaan financial teknologi.
Indonesia pun menjadi sorotan, karena menjadi tempat lahirnya 4 dan 5 unikorn terbesar yang beroperasi di kawasan ini. Selain itu, porsi jumlah transaksi dan nilai transaksi PEVC buat wilayah Indonesia dibanding negara Asean lain pun konsisten menjadi nomor ke-2 terbesar yang beroperasi di kawasan ini. "PEVC masuk karena kebutuhan modal yang besar di Asia Tenggara , dimana peran pendanaan mereka juga siginifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kedepan kami proyeksi jenis kesepakatan model Ventura semakin beragam. (yetede)
Margin Bank di Indonesia Tetap Tertinggi di ASEAN
Margin bunga perbankan di Tanah Air masih cukup gemuk. Di tengah tantangan pandemi Covid-19, Net Interest Margin (NIM) perbankan tercatat meningkat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), margin bunga bersih bank umum konvensional per Juni 2021 mencapai 4,66% atau naik 0,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dilihat secara individu bank, mayoritas bank besar menorehkan kenaikan NIM. BRI misalnya menorehkan NIM 7, 02% per Juni 2021, naik dari 5,72% pada periode yang sama tahun lalu. BNI mencatat kenaikan dari 4,5% menjadi 4,9%, Bank Mandiri membukukan peningkatan dari 4,93% ke 5,05%, CIMB Niaga naik dari 5,05% menjadi 5,08%. Hanya BCA yang tercatat turun dari 6% jadi 5,3%.
Satu Data Untuk Digitalisasi Layanan
Sebelum penerapan Satu Data Indonesia, integrasi data antar-sistem dan aplikasi pemerintahan masih memiliki sejumlah kelemahan. Data kerap ”redundant”, memiliki beragam standar, dan tidak satu referensi. Integrasi data sangat dibutuhkan dalam digitalisasi layanan publik. Dengan begitu, layanan dapat lebih mudah, cepat, dan tepat sasaran. Untuk mewujudkan integrasi data ini, pemerintah tengah mempercepat penerapan Satu Data Indonesia atau SDI. Namun, itu tidaklah cukup karena harus disertai pula penguatan pertahanan siber agar data tak mudah diretas. Deputi Bidang Pemantauan, Evaluasi, dan Pengendalian Pembangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Taufik Hanafi saat dihubungi pada Selasa (21/9/2021) mengatakan, kunci pemerintahan di era digital adalah integrasi data. Dengan integrasi data, diharapkan terjadi integrasi layanan pemerintah, integrasi administrasi dan birokrasi, serta integrasi pembangunan nasional.
Dari hasil evaluasi penerapan kebijakan SDI pada 2021, Bappenas menemukan sejumlah tantangan. Pertama, banyak kebijakan mengamanatkan penyelenggaraan data dengan berbagai model tata kelola kepada sejumlah instansi. Ini mempersulit proses standardisasi tata kelola data pemerintah. Kedua, penerbitan regulasi pelaksanaan SDI di daerah tergolong lambat. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, dari 34 provinsi, baru 17 provinsi yang menerbitkan regulasi pelaksanaan SDI di daerah. Adapun 5 dari 17 provinsi itu akan diselaraskan dengan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang SDI.
Optimalisasi Ekonomi Digital
Nilai transaksi digital di Indonesia terus bertumbuh seiring dengan makin luas dan mudahnya masyarakat mengakses internet. Ratusan triliun rupiah diperkirakan dapat diraup dari pasar ini. Dari data yang dilansir oleh Google dan Temasek potensi digital Indonesia pada 2023 diperkirakan mencapai US$124 miliar atau meningkat dari 2020 mencapai US$44 miliar. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan juga memprediksikan hal serupa. Ekonomi Digital Indoenesia memiliki prospek yang sangat baik dan berpotensi tumbuh hingga mencapai delapan kali lipat pada 2030.
Saat ini saja, sektor industri makanan-minuman dengan kapasitas pasar senilai Rp.3.669 triliun, baru termanfaatkan sebesar Rp. 18 trliun di pasar e-commerce. Padahal jumlah pengusaha dibidang ini sangat banyak. Data Kementerian dan UKM menyebutkana pada 2019, ada sebanyak 64 juta usaha berskala mikro, kecil, dan menengah atau mengusai pasar sekitar 99% dari total usaha yang ada di Indonesia. Kami mengapresiasi langkah pemerintah yang menargetkan 30 juta pelaku usaha UMKM mengadopsi digital, dengan cara menggandeng platform dagangan yang telah eksis di Tanah Air seperti Gojek, Tokopedia, dan Shopee.
Peluang Indonesia memiliki unicorn baru kian terbuka lebar karena perkembangan sektor teknologi sektor finansial (tekfin), khususnya yang bergerak dibidang pembayaran, peminjaman, dan managemen keuangan. Dibalik besarnya potensi ekonomi digital kita juga perlu diikuti dengan pengawasan dan pengamanan data konsumen. Pemerintah bersama DPR harus lebih cepat lagi membahas peraturan perundangan terkait dengan perlindungan data pribadi tersebut. Dibutuhkan aturan main khusus yang mampu menjadi payung, tidak seperti saat ini dimana perlindungan data pribadi tersebar di puluhan aturan. (yetede)
Penyesuaian PPKM, Produsen Sepeda Mulai Lega
Pengusaha sepeda kembali dapat bernafas lega usai penyesuaian PPKM dalam beberapa waktu terakhir. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Sepeda dan Mainan Indonesia (APSMI) Eko Wibowo mengatakan dibandingkan dengan Juli, permintaan pada bulan ini mengalami kenaikan sekitar 30%-40%. "Kalau dari Juli sudah jauh lebih baik karena jumlah orang yang main sepeda sudah lebih banyak lagi," katanya kepada Bisnis, Selasa (21/9)
Dari sisi produksi, saat ini pabrikan hanya mengisi kekosongan barang dari tipe-tipe tertentu yang permintaannya masih bagus di pasaran. Sementara itu, dia memperkirakan utilitas industri saat ini berada di angka 50%. Pada situasi normal, sepanjang November stok barang lama akan terserap pasar sehingga pabrik dapat kembali menggenjot produksi. Adapun permintaan sepeda sepanjang tahun ini diperkirakan akan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2020.
Pasalnya, permintaan pada tahun lalu melonjak karena berbagai faktor seperti tren bersepeda maupun kesadaran masyarakat untuk berolahraga, sedangkan pada tahun ini, permintaan sepeda cenderung didorong oleh faktor yang lebih organik. Senada dengan Eko, Ketua Umum Asosiasi Persepedaan Indonesia Rudiyono, mengatakan produksi sepeda domestik saat ini belum sepenuhnya berjalan normal. "Pelaku usaha berharap produksinya bisa kembali minimal sama dengan produksi sebelum pandemi," ujarnya. Menurut catatan AIPI, total permintaan sepeda di pasar domestik mencapai kurang lebih 8 juta unit pada 2020. Sekitar 3 juta-3,5 juta unit merupakan hasil produksi dalam negeri.
Bisnis Data Center, Persaingan Harga Pusat Data Bakal Ketat
Indonesia Digital Empowering Community memproyeksikan perang harga di industri pusat data pada masa mendatang seiring dengan pesatnya pembangunan pusat data di Indonesia. Ketua Indonesia Digital Empowering Community (Idiec) M Tesar Sandikaputra mengatakan munculnya pusat data-data baru di Tanah Air akan mendorong persaingan dari sisi harga. Menurutnya, pemain pusat data menawarkan harga murah untuk merebut pasar yang terbatas. "Makin banyak pemain tentu harga makin murah, terlebih tidak semua sektor menggunakan layanan pusat data," katanya, Selasa (21/9)
Kesenjangan antara suplai pusat data dan kebutuhan yang tidak terlalu besar kemudian beresiko membuat para penyedia pusat data saling bersaing menawarkan layanannya dengan harga murah. Berdasarkan pengalaman Tesar pusat data diatas 10 juta atau satu rak. Makin banyak yang tersimpan, imbuhnya, makin besar rak yang di sewa. "Itu hanya sewa rak dan bandwith saja. Belum termasuk operasi atau isi," kata Tesar. Saat ini beberapa perusahaan mengebut pembangunan pusat data seperti PT Telkom Indonesia Tbk, Biznet, DCI Indonesia dalam jalur pembangunan pusat data skala hiper.
"Bisnis pusat data saingannnya adalah para pemain pusat data besar-besar untuk teknologi komputasi awan, misalnya AWS," kata Tesar. Ditengah pembangunan pesat pusat data di Tanah Air, para pemain pusat data mengalami pertumbuhan yang signifikan di bisnis pusat data. Pada kuartal II/2021, PT Telkom Indonesia Tbk, mencatat pendapatan senilai Rp713 miliar dari bisnis pusat data dan komputasi awan. Jumlah pendapatan tersebut meningkat 11,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. (yetede)
Produksi Bawang Merah, Sumbar Garap Varietas Ijo
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengembangkan komoditas bawang merah varietas batu ijo karena dinilai produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lokal. Bupati Tanah Datar Eka Putra mengatakan daerah pertama yang menjadi percontohan adalah desa atau Nagari Pandai Sikek seluas 10 hektar. "Ini merupakan arahan dari Balai Besar Sumbar Daya Lahan Balitbangtan Kementan RI," kata Nagari Pandai Sikek, Selasa (21/9).
Menurutnya produksi bawang merah varietas batu ijo terbilang berhasil. Sehingga kedepannya pengembangan bisa dilakukan, hasil panen mencapai 18 ton per hektar atau jauh lebih tinggi dari varietas lokal yang hanya 12-13 ton per hektar sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan petani. Selain itu, masa panen juga hanya butuh 70 hari. Sebanyak 70% masyarakat Tanah Datar berprofesi sebagai petani. Beberapa tahun terakhir fokus pada tiga komoditas yaitu cabe merah, bawang merah, dan jengkol.
Gubernur Sumbar Mahyeldi menyebutkan sektor pertanian adalah sektor yang paling potensial dikembangkan. Hal ini dikarenakan komposisi dari masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian di daerah ini mencapai 58% dari total penduduk. "Jika sektor ini berkembang dan petani sejahtera maka semua sektor akan ikut mendapatkan imbas positif. Semua sektor ekonomi akan bergerak semua," katanya
Prospek Penerimaan Negara, Rasio Pajak Tak Mampu Beranjak
Kinerja pemerintah pajak pada tahun ini di prediksikan kembali terkoreksi sejalan dengan belum maksimalnya pemuilhan ekonomi nasional. Jebloknya performa pemerintah dalam mengumpulkan pungutan ini tercermin dari rasio pajak atau tax ratio yang terus mengarah ke bawah. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan Bisnis, rasio pada tahun ini diperkirakan hanya 7,99% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut diperolah dengan menggunakan asumsi penerimaan pajak nonmigas pada tahun ini senilai Rp 1.278,89 triliun. Adapun, dalam outlook 2021 total penerimaan pajak nonmigas pada tahun ini senilai Rp1.324,66 triliun.
Dengan kata lain, pajak nonmigas merupakan potret dari keberhasilan pemerintah dalam memungut pajak. Pasalnya, pajak sektor migas tergantung pada pergerakan di pasar global. Pada 2018, rasio pajak memang sempat membaik yakni sebesar 8,43%. Akan tetapi, moncernya kinerja penerimaan kala itu disebabkan oleh melejitnya sejumlah harga bahan pokok. Pengamat ekonomi IndiGo Network Ajib Hamdani menambahkan, strategi lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan rasio pajak adalah dengan mempercepat reformasi perpajakan dalam RUU KUP No.6/1983 tentang Ketenteuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
Salah satunya adalah memperluas cakupan perusahaan yang menjadi wajib pungut dalam perdagangan melalui transaksi elektronik (PMSE). Dalam kaitan ini, sejak 2020 otoritas pajak menerapkan dua skema, yakni menunjuk langsung badan usaha sebagai pemungut PPN PMSE dan membuka peluang bagi korporasi untuk mendaftar secara mandiri. "Kami memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk mendaftarkan sendiri menjadi pemungut dan usaha disiapkan juga portalnya," kata Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Pehubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kementerian Keuangan Neilmandrin Noor. Berdasarkan data Ditjen Pajak, total penerimaan PPN PMSE pada tahun ini mencapai mencapai Rp2,5 triliun per 31 Agustus. (yetede)
Pemulihan Ekonomi, Genjot Kuantitas Petani Milenial
Pemerintah Provinsi Jawa barat akan mengevaluasi dan mengenjot kualitas dari Program Petani Milenial dan menargetkan pada Februari 2022 harus ada lebih dari 1.000 orang petani yang milenial. Untuk penambahan kuantitas sendiri, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil baru saja meluncurkan Petani Milenial lebah madu di desa Lengkungjaya, Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. Puluhan petani milenial lebah madu merupakan kelanjutan dari program petani milenial juara sebagai solusi dari Pemda Jawa Barat agar masyarakat dapat bangkit dan keluar dari himpitan ekonomi. Ridwan Kamil mengajak generasi muda terus menggerakkan ekonomi yang tahan dari disrupsi pandemi Covid-19. "Mudah-mudahan petani milenial ini menguatkan semangat generasi muda kembali ke desa dengan dukungan dari negara berupa penguatan konsep ekonomi, dukungan finansial dan kepastian pembelinya," Ujar Ridwan Kamil saat peluncuran secara virtual dari gedung Pakuan Bandung, Selasa (21/9). Untuk tahap awal, ada dua madu yang sedang dikembangkan di 28 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, yaitu Cerana dan Trigoma. Tercatat jumlah produksinya mencapai 161,65 kilogram.
Berkaitan dengan program petani milenial, Direktur PT Utama BIJB Salahudin Rafi, menegasakan bahwa PT BIJB sebagai pengelola Bandara Internasional Kertajaya Jawa Barat, akan terus berpartipasi dan berkolaborasi. Pada perkembangan lain Bank Indonesia mengklaim sukses mengembangkan klaster pangan di wilayah Ciayumajakunging. Pengembangan yang dilakukan sistem budi daya pertanian yang ramah lingkungan, sehingga bisa meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan. "Contoh, ketika petani memupuk cabai atau tanaman lain dengan Super Bokhasi MA-11 selain memberi hasil yang berlipat baik terhadap kualitas dan kuantitas panen maka juga sekaligus memperbaiki lingkungan sebagai usaha konservasi tanah dan air," kata Kepala Bank Jawa Barat Herwanto. Salah satu klaster pangan mitra Bank Jawa Barat yang menerapkan metode ecofarming berbasis MA-11 pada lahan masing-masing seluas 1 ha, setelah 120 hari, sejak penanaman, (20/9), klaster ini berhasil memasuki masa panen. "Kondisi ini diharapkan dapat menjadi momentum dan peluang bagi seluruh pelaku pertanian, khususnya klaster mitra Bank Indonesia untuk terus dapat meningkatkan produktivitasnya." kata Bambang. (yetede)
RI Raih Investasi Rp36,7 T dari Proyek Listrik Australia
Perusahaan asal Australia Sun Cable akan menggelontorkan US$2,58 miliar atau setara Rp36,7 triliun (kurs Rp14.243 per dolar) untuk investasi kabel bawah laut yang mengekspor listrik dari Darwin ke Singapura. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan investasi ini memberikan posisi yang kuat bagi Indonesia sebagai negara yang mendukung energi terbarukan di Asia Tenggara. "Keputusan Sun Cable untuk berinvestasi lebih dari US$2 miliar di Indonesia membuktikan bahwa Indonesia mendukung energi terbarukan di ASEAN untuk mengurangi emisi karbon dan menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi masa depan," ujar Luhut dikutip Antara, Kamis (23/9).Australia percaya pada pendekatan berbasis teknologi untuk memerangi perubahan iklim dan saya senang pemerintah Indonesia telah mendukung Sun Cable untuk memanfaatkan dan berbagi kekuatan energi surya," kata Penny.
Selain investasi, Sun Cable juga akan berbagi pengetahuan, menciptakan lapangan pekerjaan, hingga berkontribusi bagi perekonomian Indonesia dan Australia. Sun Cable turut menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan IPB University. Luhut mengatakan Sun Cable berkomitmen untuk transfer pengetahuan guna mendukung riset bidang energi terbarukan dan kelautan. selain investasi, Sun Cable juga akan berbagi pengetahuan, menciptakan lapangan pekerjaan, hingga berkontribusi bagi perekonomian Indonesia dan Australia.
CEO Sun Cable David Griffin mengatakan investasi perusahaannya juga termasuk investasi langsung sebesar US$530 juta hingga US$1 miliar. Ia turut menyampaikan proyek ini dapat membuka peluang pengadaan baterai listrik bagi perusahaan manufaktur di Indonesia hingga US$600 juta atau setara Rp8,5 triliun. Ini mengingat Indonesia memiliki potensi baterai lithium yang besar.









