Kesepakatan Kerja Sama Pemanfaatan Aset Pelabuhan Labuan Bajo Ditekan
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan PT Pelabuhan Indonesia/Pelindo (persero) melaksanakan penandatanganan perjanjian kerja sama pemanfaatan (KSP) barang milik negara (BMN) dalam rangka menyediakan infrastruktur di Pelabuhan Labuhan Bajo. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan peran pelabuhan dalam menopang perekonomian. "Atas nama Direktorat Jendral Kementerian Laut Menteri Perhubungan, saya menyambut baik adanya kerjasama ini yang dilaksanakan dalam rangka peningkatan peran pelabuhan guna mendukung kegiatan perekonomian setempat saat penyediaan dan pengembangan infrastruktur logistik secara memadai dan merata di Pelabuhan Labuan Bajo," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jendral Perhubungan Laut Kemnehub Arif Toha.
Arif mengungkapkan, Objek KSP yang akan dikerjasamakan dalam kurun waktu 50 tahun, terdiri atas dermaga, trestle, causeway, dan tanah hasil reklamasi atas container yard. "Saya berharap dengan dilaksanakannya perjanjian KSP BMN ini dapat semakin mengoptimalkan penyediaan, pengembangan, dan pengelolaan infrastruktur Pelabuhan Labuan Bajo," unkap dia. Pelabuhan Labuan Bajo memiliki peran penting khususnya wisata setelah beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo meresmikan Terminal Multipurpose Wae Kalembu Labuan Bajo yang diabngun untuk memisahkan kegiatan logistik dengan angkutan penumpang.
"Kedepannya saya berharap pengelolaan Pelabuhan Labuan Bajo dapat semakin profesional dan mampu melayani masyarakat dan wisatawan secara optimal. Hal tersebut tentu tidak dapat dilakukan sendiri. Diperlukan kerjasama dan sinergi dari seluruh pihak untuk bersama-sama meningkatkan pelayanan di Pelabuhan Labuan Bajo," ujarnya. Semoga, pelaksanaan kerja sama pemanfaatan barang milik negara ini dapat berjalan dengan baik dan lancar dan kedua belah pihak dapat melaksanakan komitmen-komitmen yang telah disepakati dalam perjanjian, kata Arif. (Yetede)
Hutama Karya: Microsleep Penyebab Tertinggi Kecelakaan di Jalan Tol
Dari evaluasi insiden yang terjadi di jalan tol akhir-akhir ini, PT Hutama Karya (persero) menyatakan salah satu faktor tertinggi penyebab kecelakaan di jalan tol yang dikelola adalah microsleep, yaitu rasa kantuk yang luar biasa, sehingga pengemudi tanpa sadar tertidur. Selain faktor ngantuk dan kelelahan, kecepatan berkendara yang menjadi salah satu faktor tertiggi terjadinya kecelakaan di jalan tol. "Hal tersebut menyebabkan pengemudi hilang kendali hingga menabrak kendaraan disekitarnya atau pagar pembatas jalan. Untuk itu, dihimbau pengguna jalan untuk dapat mengikuti ketentuan dan tata tertib yang berlaku di jalan tol khususnya pada jalan tol yang dikelola Hutama Karya, serta sosialisasi Setuju (selamat sampai tujuan) untuk mengutamakan keselamatan sebagai prioritas," papar Direktur Operasi III Hutama Karya Koentjioro dalam pernyataan resminya di Jakarta, Selasa (9/11). Koentjoro menyarankan kepada pengguna jalan tol agar dapat mencari rest area terdekat atau melipir terlebih dahulu apabila dirasa mengantuk, mengingat microsleep sangatlah berbahaya. Terlebih jalan tol memiliki karateistik berbeda dari jalan nasional.
Jalan tol dan jalan nasional memang cukup berbeda, dari segi karateristik, jalan tol biasanya hanya lurus saja dan jarang memiliki belokan sehingga rawan menyebabkan kantuk. Selain itu, jalan tol juga bisanya hanya memiliki tempat pemberhentian berupa tempat istirahat (TT) atau tempat istirahat dan pelayanan (TIP) yang berada setiap 20-50 km sekali, tidak seperti jalan nasional yang kanan kiri terdapat banyak tempat singgah. "Sementara itu dari segi cara berkendaraan juga cukup berbeda, karena ketentuan berkendaraan di jalan tol itu tidak boleh terlalu lamban dan cepat yakni paling aman sesuai dengan peraturan yang berlaku sekitar 60-80 kn per jam, sehingga diperlukan fokus dan konsentrasi penuh dalam berkendaraan di jalan tol, ujar Keontjoro. Dari evaluasi tersebut, Koentjoro mengatakan, pihaknya menggelar operasi simpatik pembagian kopi dan permen kepada pengguna jalan serta membuat terobosan opreasi microsleep/mengantuk secara berkala di ruas-ruas tol yang dikelola pada jam-jam rawan sekitar 00.00 Wib pagi keatas. Dalam operasi microsleep tersebut petugas memberhentikan pengendara yang berpotensi mengantuk dan mengarahkannya untuk berhenti di pos yang tersedia di rest area. (Yetede)
ISAT - Tri Merger, Frekuensi Dikembalikan ke Negara
Ooredoo Group dan CK Hutchison sepakat mengonsolidasikan bisnisnya di Indonesia melalui merger PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo) dan PT Hutchison 3 Indonesia (H3I). Total nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai US$ 6 miliar. Hanya saja, ihwal pita frekuensi 5 Mhz tersebut belum ditentukan milik siapa yang akan dikembalikan negara. Kelak, frekuensi yang dikembalikan itu akan dilelang atau ditawarkan kepada perusahaan telekomunikasi lainnya.
EMTK Membeli Saham Raffi Ahmad
Emtek Grup alias PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) kini menggenggam saham di Rans Entertaiment yang didirikan oleh artis kondang Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Grup EMTK berkolaborasi dengan Rans Entertaiment lewat unit bisnis di anak perusahaannya, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Direktur PT Surya Citra Media Tbk, Sutanto Hartono mengungkapkan, melalui anak usahanya, yaitu Indonesia Entertaiment Group (IEG), SCMA telah menyuntikkan investasi kepada Rans Entertaiment. Sayang, Sutanto belum membeberkan berapa nilai investasi dan juga porsi saham yang saat ini digenggam SCMA.
Harga Batubara Tembus 215 Dollar AS Per Ton
Harga batubara acuan (HBA) di Indonesia tercatat 215,01 dollar AS per ton pada November 2021. Dengan demikian,terjadi kenaikan sebesar 33 persen dari Oktober lalu yang tercatat 161,63 dollar AS per ton. Kenaikan ini dipengaruhi datangnya musim dingin di sejumlah negara dan krisis batubara yang dialami China sehingga berimbas pada harga batubara global
Para Pebisnis Optimistis Visi COP26 Jadi Kenyataan
Para eksekutif perusahaan dan analis keuangan optimis bahwa pembicaraan pada konferensi tingkat tinggi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau COP26 di Glaslow, Scotlandia bakal mengarah ke perubahan-perubahan yang diperlukan bagi bisnis untuk memainkan peran yang lebih besar dalam mengatasi perubahan iklim. Para pengamat bisnis menunjukkan beberapa langkah dari para pemimpin dunia yang mereka katakan bahwa meningkatkan bisnis berkelanjutan, dan upaya investasi untuk memobilisasi sejumlah besar uang yang dibutuhkan guna melepaskan ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.
Menurut Direktur Pelaksana Jefferies Aniket Shah, meskipun banyak dari langkah-langkah tersebut tidak memulai janji khusus, mereka menunjukkan bahwa pembentukan konvensi global untuk mengatasi perubahan iklim akan memudahkan para investor swasta dan pemerintah dalam memasukkan uang dan upaya."Ada kekuatan-kekuatan tertentu yang menandakan niatan yang tidak diabaikan disini," ujar Shah, yang dikutip Reuters, Senin (8/11). Dia menyebutkan tujuan yang yang ditetapkan oleh Perdana Menteri India, Narenda Modi pada 1 November agara negaranya mencapai emisi karbon nol bersih pada 2070.
Sedangkan Peter Lacy-seorang pemimpin layanan keberlanjutan global Accentur- menuturkan bahwa bagi kalangan investor dan perusahaan,langkah paling signifikan di konferensi tersebut adalah pembentukan Dewan Standar Keberlanjutan atau International Sustainable Standards Board (ISSB) pada 3 November , yang dimaksud membuat dasar bagi perusahaan untuk menggambarkan dampak iklim mereka. Lacy menyebutkan sebagai moment seismik untuk bisnis dan ini sejalan dengan harapan para COO Accenture yang disurvei menjelang dampak iklim mereka. (Yetede)
PBB: Jumlah Orang di Ambang Kelaparan Meningkat Tajam
Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau WFP pada Senin (8/11) menyatakan jumlah orang yang berada diambang kelaparan di 43 negara telah meningkat menjadi 45 juta jiwa. Angka tersebut dilaporkan saat kelaparan akut melonjak di seluruh dunia. Lonjakan dari 42 juta orang diawal tahun sebagian besar oleh penilaian ketahanan pangan yang mendapati tiga juta orang lainnya menghadapi kelaparan di Afganistan. "Puluhan juta orang menatap kedalam jurang. Kita menghadapi konflik, perubahan iklim, dan Covid-19 menaikkan jumlah orang yang sangat lapar," Kata Direktur Exkecutif WFP David Beasley, Senin (8/11)
Data terbaru sekarang menunjukkan ada lebih dari 45 juta orang berbaris menuju ambang kelaparan. Beasley mengatakan, setelah perjalanan ke Afganistan, WFP meningkatkan dukungan untuk hampir 23 juta orang. "Biaya bahan bakar, harga pangan melonjak, pupuk lebih mahal,dan semua ini menjadi sumber krisis baru seperti yang terjadi sekarang di Afganistan, serta keberadaan darurat yang sudah berlangsung lama seperti Yaman dan Suriah," tambahnya.
WFP mengatakan biaya untuk mencegah kelaparan secara global sekarang mencapai US$7 miliar. Naik dari US$6,6 miliar diawal tahun. Tetapi ia mengingatkan bahwa aliran pendanaan tradisional terlalu berlebihan. Keluarga yang mengalami kerawanan pangan dipaksa untuk membuat pilihan yang menghancurkan, katanya menikahkan anak-anak lebih awal, menarik mereka keluar dari sekolah atau memberi mereka makan belalang, daun liar, atau kaktus. (Yetede)
Merosot di Investasi Teknologi, SoftBank Catat Rugi Bersih
SoftBank pada Senin (8/11) mengumumkan rugi bersih kuartalan pertama pada 18 bulan, karena penindasan pada perusahaan teknologi di Tiongkok dan kerugian investasi lainnya menghantam portfolio Vision Fund. Perusahaan telekomunikasi yang berubah menjadi raksasa investasi itu juga mengumumkan pembelian kembali saham senilai satu triliun (US$ 8,8), dilaporkan dibawah tekanan dari pemegang saham yang frustasi dengan harga sahamnya yang turun. SoftBank Group telah menggelontorkan ke beberapa nama terbesar di dunia teknologi dan usaha baru, termasuk raksasa e-Commerce Tiongkok Alibaba dan perusahaan jasa tumpangan Didi Chuxing, melalui US 100 miliar Vision Fund.
Tetapi strategi CEO Masayoshi Son untuk menargetkan perusahaan teknologi dan perusahaan rintisan untuk mencari unicorn telah kontroversial dan menyebabkan rollercoaster pendapatan dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan mencatat kerugian bersih 397,9 miliar yen (setara US$ 3,5 miliar pada Juli-September 2021). Itu sangat terpukul oleh penurunan nilai Alibaba, juga memukul perusahaan-perusahaan di negara lain. Perusahaan e-commerce Korea Selatan Coupang, dengan laba bersih semenster pertama turun lebih dari 80% sejak awal tahun.
Secara total Softbank mengatakan kerugian investasi selama kuartal tersebut sebesar 1,66 triliun yen termasuk yang ditimbulkan oleh operasional Vision Fund. "Kami tidak bangga dengan itu. Indikator terpenting kami, nilai aset bersih, turun enam triliun yen. Hanya dalam tiga bulan, ini masalah besar," kata Son, Senin (8/11). Son mengatakan hasilnya dapat diringkas menjadi satu faktor kunci dalam satu kata, yakni Alibaba. Setelah kuartal pertama April-Juni 2021, Son mengatakan, dirinya akan mengambil pendekatan yang hati-hati terhadap investasi di Tiongkok karena mengakui tantangan berat. (Yetede)
Bandara Syndey Siap Dijual Senilai US$ 3Triliun
Bandara Sydney pada Senin (8/11) mengumumkan telah menyetujui tawaran pengambilalihan senilai US$ 17 miliar oleh konsorsium investor Australia, hanya beberapa hari setelah dibuka kembali untuk perjalanan internasional. Dewan bandara dengan suara bulat telah menyetujui penjualan ke Sydney Aviation Alliance, sebuah konsorsium dari investor infrastruktur dan dana pensiun Australia. Pihaknya merekomondasikan para pemegang saham untuk memilih. Alliance tersebut menawarkan Aus$ 8,75 per saham Aus$ 23,6 miliar (US$ 17,5 miliar), setelah penawaran sebelumnya beberapa bulan lalu ditolak karena terlalu rendah. "Pengumuman hari ini adalah puncak dari bulan keterlibatan antara semua pihak. Anggota Dewan Sydney Airport yakin hasilnya mencerminkan nilai jangka panjang yang sesuai untuk bandara," kata Kepala Bandara Sydney David Ginski dalam sebuah pernyataan, Senin (8/11). Pengumuman itu muncul setelah perbatasan internasional Sydney dibuka kembali sebagian, hampir 600 hari setelah salah satu penutupan perbatasan pandemi terberat di dunia dimulai. Warga Australia yang divaksinasi yang bepergian melalui Sydney dan Melbourn sekarang dapat datang datang dan pergi tanpa karantina atau mendapat pengecualian resmi. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah pertama negara itu dalam memulai kembali aktivitas perjalanan secara bertahap. Penjualan bandara tetap tunduk pada persyaratan, termasuk pada evaluasi ahli independen. (Yetede)
Impor Batu Bara Tiongkok Naik 2 Kali Lipat
Data bea cukai yang dirilis Minggu (7/11) menunjukkan bahwa Tiongkok pada bulan lalu telah mengimpor batu bara hampir dua kali lebih banyak dibandingkan Oktober tahun lalu. Padahal tanda-tanda krisis listrik di Negeri Tirai Bambu itu mulai berkurang. Menurut data yang diakses melalui Wind Information, catatan pembelian batu bara mencapai 26,9 juta ton pada September menjadi 18,2%. Pihak berwenang Tiongkok sendiri disebut-sebut telah bergegas untuk mengatasi kekurangan batu bara di negara itu, sejak akhir September pasca banyak pabrik yang terpaksa memangkas produksi.
Commonwealth Bank of Australi melaporkan, pada pertengahan Oktober, jumlah provinsi Tiongkok yang mengalami krisis listrik yang signifikan mengalami penurunan menjadi dua provinsi, turun dari 18 provinsi pada awal bulan. Pada Minggu, perusahaan listrik Tiongkok State Gird mengatakan bahwa pasokan dan permintaan listrik pelat merah itu tetap memperingatkan tantangan yang bakal dibulan-bulan musim dingin mendatang. Disisi lain, Amerika Serikat (AS) masih menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok dengan basis satu negara. Tapi impor dari AS melambat tajam menjadi sekitar 4,6% year-on-year (yoy) pada Oktober.
Data bea cukai lebih lanjut menunjukkan, catatan impor dari Australia. yang pernah menjadi sumber batu bara terbesar Tiongkok- merosot ketingkat pertumbuhan 24,3% yoy pada Oktober , sementara ekspor ke AS masih mempertahankan laju pertumbuhan tinggi hampir 22,7%. Demikian menurut data bea cukai Tiongkok.Ekspornya juga hanya tumbuh sebesar 22,3% atau turun sedikit dari 23,8% pada September. Menurut kantor berita Reuters ,impor keseluruhan Tiongkok tumbuh sebesar 20%, pada Oktober atau meleset dari ekspektasi pertumbuhan 25%, ekspor Tiongkok juga naik 27,1% melampaui prediksi Reuters 24%-24,5% (Yetede)









