Presiden Jokowi Bersikukuh Larang Ekspor Komoditas Tambang
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan tidak takut menghadapi gugatan negara manapun di Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) atas keputusan pemerintah melarang ekspor bahan mentah komoditas bahan nikel, bauksit, tambaga, dan timah. "Kalau ingin nikel, silahkan. Tapi datang bawa pabriknya ke Indonesia. Dikerjakan tidak sampai barang jadi juga tidak apa-apa." kata Presiden Jokowi saat memberikan pengarahan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia tahun 2021, Rabu (24/11)
"Ini sudah stop. Sudah kita mulai dari nikel, stop. Mungkin tahun depan dengan kalkulasi hitung-hitungan, stop ekspor bauksit. Tahun depannya lagi, stop tembaga, tahun depannya lagi stop timah. Kita ingin agar bahan mentah itu semuanya diekspor dalam bentuk setengah jadi atau barang jadi,: kata dia.
Dikatakan Presiden, saat menghadiri KTT G20 di Roma, Italia, pada akhir Oktober kemarin, kebijakan tentang larangan ekspor bahan mentah komoditas tambang juga sudah disampaikan pada para pemimpin Uni Eropa dan Eropa. "Saya sampaikan di G20 dengan Uni Eropa dan negara-negara di Eropa, kita tidak ingin mengganggu kegiatan produksi mereka," Kata Presiden Jokowi. (Yetede)
Powel Ditaksir Lebih Agresif Melawan Inflasi
Powell selama berbulan-bulan tetap bersikeras bahwa inflasi saat ini hanya bersifat sementara. The Fed bakal bersabar dalam memutuskan kapan harus menaikkan tingkat suku bunga acuannya dari hampir nol. Bank Sentral AS pun telah memulai program pembelian obligasi senilai US$ 120 miliar per bulan pada November, dan berencana mengakhiri pembelian pada pertengahan 2022.
Namun beberapa investor percaya bahwa The Fed perlu melakukan pengurangan atau tapering lebih cepat dan menaikkan tingkat suku bunga. Pandangan mereka semakin diperkuat melalui debat publik baru-baru ini, antara beberapa pejabat Fed tentang apakah akan menarik dukungan ekonomi lebih cepat demi membantu menjinakkan laju inflasi.
"Para investor menantang The Fed sampai batas tertentu, dan menjadi lebih khawatir bahwa The Fed tertinggal dari kurva inflasi." ujar Mike Sewel, manager portfolio di T. Rowe Price yang dikutip Reuters. Adanya perbedaan pandangan mengenai seberapa agresif The Fed akan bergerak ikut membantu meneggerakkan volatilitas di pasar obligasi. (Yetede)
Realisasi Belanja APBN Baru 59,62%
Kementerian Keuangan (kemenkeu) mengatakan, realisasi APBN hingga akhir Oktober sebesar Rp 730,13 triliun atau baru 59,62% dari pagu Rp1.224,74 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, capaian realisasi belanja daerah per akhir Oktober secara nominal hanya naik 3,12% secaya (yoy) yang tercatat Rp706,34 triliun."Bayangkan ini sudah November, artinya tinggal 1 bulan lebih sedikit. Sebab biasanya kita tutup tahun anggaran belanja terakhir persis tanggal 24 Desember. Kita sebenarnya praktis hanya punya waktu satu bulan mengeksekusi APBD, padahal masih banyak daerah yang belanja daerahnya dibawah 50%," ungkap Sri Mulyani dalam Konggres Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia Tahun (AAIPI) 2021, Selasa (23/11). Kemudian belanja kesehatan realisasinya mencapai Rp118,06 triliun atau tumbuh 3,4% yoy atau baru 9,6% terhadap belanja APBD. Karena itu, Menkeu meminta pemda untuk mempercepat penggunaan anggaran panganan Covid-19 untuk dukungan vaksin dan tenaga kesehatan. (Yetede)
Memacu Produksi Padi ketika La Nina
BPS memperkirakan produksi padi tahun 2021 mencapai 55,27 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 31,69 juta ton beras. Produksi ini lebih tinggi 1,14% dari tahun 2020 dan lebih tinggi 1,21% dari tahun 2019. Capaian ini patut disyukuri.
Prestasi dan berita menggembirakan itu adalah capaian kesekian kali bagi sektor pertanian ditengah aneka situasi kurang menggembirakan akibat pandemi Covid-19. Selain semangat 13,1 juta keluarga petani padi, hasil ini tidak lepas dari peran Kementerian Pertanian yang intens mendampingi petani di lapangan agar tak terpuruk diterpa pandemi.
Jika ditelaah lebih detail, luas panen tahun ini sebenarnya menurun: dari 10,657 juta hektar (2020) jadi 10,515 juta hektar (2021) atau turun 1,33%. Produksi padi naik karena ada peningkatan produktivitas: dari 5,128 ton/hektare (2020) menjadi 5,256 ton/hektare (2021) atau naik 2,49%. Peningkatan produksi padi otomatis menambah pasokan beras hingga akhir tahun. Dikurangi konsumsi sebesar 30,03 juta ton, tahun ini ada surplus 1,65 jutaton beras. Surplus makin besar, mencapai 10,37 juta ton, jika ditambah akumulasi surplus tahun 2020.
Menurut BMKG, selama tujuh bulan juga telah dipetakan. Kesimpulannya, El Nino Periode 1970-2010 menimbulkan penurunan produksi padi sebesar 4,08%. Sebaliknya La Nina berdampak positif pada produksi padi dan palawija. Pada periode itu, produksi padi meningkat sekitar 1,78% juta ha. menurun 5,05% jadi 6,348 juta ha pada 2019, anjlok lagi 7,21% jadi hanya 5,890 juta ha pada 2020.(Yetede)
Kinerja Keuangan Mayora Membaik Tahun Depan
PT Mayora Indah Tbk (MYOR) optimis kinerja keuangan membaik tahun depan, seiring tren penurunan kasus Covid-19. Hal ini juga didukung sejumlah strategi yang disiapkan untuk mendukung pertumbuhan. Ekspektasi membaiknya kinerja keuangan tahun depan juga didasarkan data ritel Nielsen yang berakhir September 2021.
"Kami optimistis tumbuh pada 2022. Sebab, industri FMCG, berdasarkan data Nielsen, juga tumbuh. Kami merasa akan bertahan tahun depan," ujar Global Marketing Director Mayora Group Ricky Afriyanto. Pertumbuhan bisnis perseroan, kata dia, juga akan didukung peningkatan harga komoditas, yang berimbas terhadap kenaikan daya beli masyarakat.
"Jika produk diluncurkan hingga market bergairah, tentu akan terlambat, jadi kuncinya adalah kami harus membangun bisnis itu dengan rasa optimisme. Kami harus membuat market itu menarik dengan cara memberikan value kepada konsumen," ujar dia. Selain berinovasi, dia melanjutkan, perseroan melakukan orientasi pasar dan memprioritaskan segmen usaha yang sedang tumbuh. (Yetede)
RI Kuasai Pasar Agen Perjalanan Online Asean
Indonesia menguasai pasar agen perjalanan online (online travel agent/OTA) yang sangat menggiurkan serta menjanjikan. George Hendrata, CEO Global Tiket Network (Tiket.com), menegaskan, pasar perdagangan digital di Asean sangat besar. Berdasarkan laporan riset Google dan Temasek, nilai ekonomi digital Asean diprediksikan mencapai US$ 120 milliar tahun ini.
Goerge melanjutkan, bisnis OTA di Indonesia berpeluang terus tumbuh, seiring geliat pariwisata, merujuk data IATA, Indonesia akan berada diperingkat empat dunia pada 2025. "Ini sangat menantang dan Tiket.com siap mendukung predikat tersebut. Sebab, semakin banyak turis, semakin banyak devisa yang masuk," kata dia dalam Economic Outlook 2021, Selasa (23/11).
Dia mengakui, sektor pariwisata termasuk OTA sempat terpukul hebat pandemi Covid-19. Ini bisa dilihat dari amblasnya jumlah penumpang udara pada Mei 2020, ketika pandemi masih merebak dan sejumlah pemerintah daerah menjalankan PSBB. Perusahaan ini bahkan harus menerima refund hingga 50 kali. Akan tetapi permintaan itu tetap dilayani. (Yetede)
Utang Macet Sritex Menghantui Bank
Kasus gagal bayar perusahaan tekstil semakin panjang. Setelah Duniatex dan Pan Brothers, industri perbankan harus kembali menghadapi restrukturisasi kredit dari debitur tekstil lain, yakni Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias Sritex. Nasib Sritex akan ditemukan pada 2 Desember 2021. Pada saat itu para kreditur akan menggelar pemungutan suara atas rencana perdamaian. Total pokok utang jatuh tempo dan terutang berdasar dokumen keuangan tanggal putusan PKPU Sritex adalah senilai sekitar Rp 19,96 triliun. Dalam proposal versi terakhir ini, Sritex akan menyelesaikan seluruh utang bilateral dan utang sindikasi senilai US$ 979,4 juta melalui alokasi Secured Working Capital Revolver US$ 275 juta, Secured Term Loan US$ 350 juta, dan Unsecured Term Loan atau Mandatory Covertible Loan US$ 354,4 juta.
IBC Evaluasi Utang Rencana Akuisisi StreetScooter
Rencana Indonesia Battery Corporation (IBC) mengakuisisi StreetScooter, produsen kendaraan listrik asal Jerman memasuki babak baru. Para pemegang sahaam IBC kini sedang mengevaluasi rencana pembelian itu. Beberapa unsur saham bahkan menolak pembelian StreetScooter. IBC adalah holding BUMN Baterai yang dimiliki empat BUMN: yakni PT Pertamina, PT PLN, PT Inalum dan PT Aneka Tambang Tbk. Dus, rencana akuisisi StreetScooter oleh IBC memantik kontroversi. Pasalnya, perusahaan ini masih menderita kerugian 318 juta pada 2020. Sejatinya, para pemegang saham IBC, seperti Mind Id, PLN dan Antam disebut-sebut keberatan dengan rencana akuisisi StreetScooter. "Bahkan karena mereka menolak, kepemilikan saham PLN akan dialihkan ke Pertamina dan posisi Antam digantikan oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA) di IBC," bisik sumber KONTAN, kemarin.
Pajak Mengincar Brankas Persembunyian Harta
Kebijakan pemerintah untuk mengintegrasikan Nomor Induk Kependudukan atau NIK dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) akan berdampak besar bagi penerimaan pajak. Sebab dengan integrasi data ini, maka ke depan tidak ada lagi upaya menutupi harta kekayaan wajib pajak. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Suryadi Sasmita menilai integrasi data NIK dan NPWP ini akan memudahkan pegawai pajak mendeteksi penghasilan tersembunyi wajib pajak. "Banyak harta kekayaan para bos-bos besar yang dibeli atas nama supirnya atau pembantu. Nah, itu nanti jadi bisa kena utang pajak karena lewat NIK sudah tercantum NPWP," katanya dalam acara Diskusi Publik: Wajah Baru Perpajakan Indonesia Pasca-UU HPP, Selasa (23/11).
Target Dibatasi, BNI Menjual ST008 Senilai Rp 640 Miliar
Kuota penjualan Green Sukuk Ritel-Sukuk Tabungan seri ST008 telah ditetapkan terbatas di Rp 5 triliun. Mitra distribusi ST008, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) berhasil menjual produk ritel tersebut Rp 640 miliar. General Manager Divisi Wealth Management BNI, Henny Eugenia mengatakan target awal penjualan ST008 di BNI sebesar Rp 800 miliar. Namun, kuota penjualan dari pemerintah dibatasi, sehingga potensi kelebihan minat masuk Rp 160 miliar. Jika penjualan ST008 tidak dibatasi Rp 5 triliun, Henny mengatakan dengan asumsi potensi kelebihan minat masuk sebesar 25% seperti perbandingan ekspektasi dan realisasi di BNI, Maka prediksi penjualan ST008 bisa mencapai setidaknya di Rp 6,25 triliun.









