Distribusi Solar Bersubsidi Dievaluasi
Pemerintah berupaya menyederhanakan prosedur penyaluran BBM jenis solar bersubsidi untuk nelayan. Upaya ini untuk merespons persoalan seretnya solar bersubsidi bagi nelayan di sejumlah wilayah. Masalah dinilai krusial bagi perikanan tangkap. Dirjen Perikanan Tangkap KKP Muhammad Zaini mengemukakan, pihaknya sedang mengevaluasi persoalan distribusi solar bersubsidi untuk nelayan. Kuota solar bersubsidi yang dialokasikan untuk sektor perikanan berkisar 2,6 juta kiloliter. Dari jumlah itu, 2,1 juta kiloliter diperuntukkan bagi nelayan kapal berukuran maksimal 30 gros ton (GT).
KKP telah mendorong penyederhanaan aturan penyaluran BBM, antara lain, melalui pemanfaatan kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (Kusuka) sebagai syarat utama mendapatkan BBM bersubsidi. Persoalannya, kartu Kusuka masih sulit dijangkau nelayan kecil. Zaini mengakui, hingga saat ini jumlah nelayan yang memiliki kartu Kusuka baru 980.000 dari target pemanfaatan kartu Kusuka untuk 2 juta nelayan. Sementara itu, persoalan harga solar industri mahal dikeluhkan nelayan kapal-kapal besar. Saat ini, harga solar industri sudah menembus Rp 17.300 per liter. Biaya solar mencapai 80 persen dari total biaya operasional. Menurut Ketua I Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) Dwi Agus, harga solar industri terus melesat sejak awal Juni 2022 yang Rp 15.300 per liter. Sementara biaya operasional hanya bisa ditutup jika harga solar maksimum Rp 12.000 per liter. (Yoga)Mobilisasi Sapi Sehat dan Impor guna Penuhi Kebutuhan
Pemerintah mendatangkan sapi-sapi sehat dari luar Jawa serta mempercepat impor daging sapi beku tanpa tulang dari Brasil. Hal itu ditempuh untuk memenuhi kebutuhan sapi sehat menjelang hari raya Idul Adha serta menjaga stabilitas harga daging. Kepala Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi mengatakan, NFA bekerja sama dengan perusahaan milik negara mendatangkan sapi-sapi sehat dari luar Jawa. Pada 19 Juni 2022, sebanyak 450 ekor sapi milik PT Berdikari (Persero) didatangkan dari Sidrap, Sulsel, ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. ”Sapi-sapi tersebut untuk menambah stok (untuk memenuhi) kebutuhan pada Idul Adha, khususnya wilayah Jabodetabek dan Bandung Raya,” ujar Arief, Senin (20/6).
Dirut PT Berdikari Harry Warganegara menambahkan, sapi-sapi yang didatangkan itu berasal dari peternakan sapi di Sidrap yang dikelola oleh PT Buls, anak usaha PT Berdikari. Saat ini, Berdikari memiliki 1.494 sapi di kandang Jatitujuh, Cikampek, Subang, dan Sidrap. Selain memobilisasi sapi-sapi sehat, Berdikari juga diminta untuk menjaga ketersediaan stok daging melalui impor daging sapi beku dari Brasil. Kuota impor daging sapi beku dari pemerintah yang diterima pada Maret 2022 mencapai 20.000 ton. Daging sapi beku asal Brasil ini masuk secara bertahap pada Juni hingga September 2022 guna memenuhi kebutuhan konsumsi daging nasional. Pada Juni 2022, daging sapi beku yang akan masuk 4.250 ton. Total pesanan impor daging beku tanpa tulang mencapai 9.092 ton. (Yoga)
IPO, Arkora Hydro Lepas 20 Persen Saham ke Publik
PT Arkora Hydro berencana menawarkan 579,9 juta saham pada penawaran saham perdana kepada publik (IPO). Menurut informasi laman e-ipo yang dikutip Senin (20/6), jumlah saham yang ditawarkan tersebut setara 20 % total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Arkora merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembangkit tenaga listrik melalui sumber energi baru dan terbarukan. (Yoga)
Pelaku Usaha Kalsel Incar Pasar Mesir
Pelaku usaha di Kalsel membuka peluang bisnis ke Mesir. Beberapa komoditas ataupun produk UMKM dari Kalsel berpotensi masuk ke pasar Mesir dan diharapkan turut meningkatkan pangsa pasar Indonesia di Mesir, yang saat ini masih di bawah 2 %. Sejumlah pelaku usaha di Kalsel melaksanakan temu bisnis dengan pebisnis dari Mesir di Banjarbaru, Senin (20/6). Pebisnis Mesir datang ke Kalsel bersama rombongan Wakil Dubes RI untuk Mesir Muhamad Aji Surya. Aji Surya mengatakan, perkembangan perdagangan Indonesia-Mesir naik sangat pesat, meningkat lebih dari 56% pada masa pandemi tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2020.
Atase Perdagangan KBRI Kairo Irman Adi Purwanto Moefthi mengatakan, berbisnis dengan Mesir itu mudah karena Mesir merupakan negara yang sangat bergantung pada impor dari luar negeri. Hampir 76 % ekspor Indonesia ke Mesir adalah produk pangan, seperti kopi, teh, rempah-rempah, cokelat, kelapa, dan makanan ringan. Menurut Kadis Perdagangan Kalsel Birhasani, Mesir berpotensi menjadi pasar baru ekspor produk-produk dan komoditas dari Kalsel di Afrika. Selama ini, Kalsel sudah mengekspor karet ke Afsel serta teh gaharu ke Ghana dan Nigeria. (Yoga)
Ini Dia Saham-Saham Yang Hampir Selalu Kasih Cuan
Harga saham memang lazimnya naik turun. Tapi, ada lo, saham yang mampu memberikan keuntungan selama beberapa tahun berturut-turut. Sejumlah saham anggota indeks KOMPAS100 mampu mencetak keuntungan lima tahun berturut-turut. Contoh saham PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) dan PT Bank Central Asia tbk (BBCA). Harga saham ketiga emiten itu naik terus di periode 2017-2021. Ada juga saham-saham yang reli selama lima tahun terakhir, tetapi turun sekali dalam setahunnya. Misalnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Suntikan Modal Gede, BUMN Jangan Jadi Beban
Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023, masih berat. Pemerintah terbebani penyuntikan modal kepada sejumlah badan usaha milik negara (BUMN). Di sisi lain pemerintah harus mengembalikan defisit anggaran ke bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sebagai catatan, pemerintah menargetkan defisit APBN 2023 pada kisaran 2,81% hingga 2,95% terhadap PDB. Level ini jauh lebih rendah dibanding outlook defisit anggaran tahun ini yang sebesar 4,5% terhadap PDB.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengingatkan bahwa jangan sampai suntikan modal kepada BUMN justru memanjakan BUMN dan membuat beban APBN makin berat. Ia juga melihat banyak proyek yang tidak terlalu berdampak dalam mendongkrak perekonomian meski telah disuntik PMN.
Selain itu, besaran PMN yang telah disuntikkan juga belum menghasilkan output yang seimbang. "Jadi kalau tanpa ada kejelasan soal output yang bisa berdampak positif, maka PMN bisa dikatakan mubazir karena masih banyak pos yang butuh anggaran," tambahnya.
Indonesia Waspadai Dampak Resesi AS
Pemulihan ekonomi Indonesia masih dibayangi berbagai risiko melemahnya ekonomi global. Terbaru, datang dari ekonomi Amerika Serikat (AS) yang semakin dekat dengan jurang resesi, setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan hingga 75 basis poin untuk meredam inflasi dan kondisi pasar keuangan yang tidak stabil.
Pasalnya, ekonomi Indonesia masih berada di tahap awal pemulihan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini mencapai 5,01%, setelah 2021 hanya tumbuh 3,69%. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celius) Bhima Yudhistira mengungkapkan, ancaman resesi Negeri Paman Sam perlu diwaspadai. Sebab hal tersebut membawa sejumlah risiko untuk Indonesia. Pertama, keluarnya modal asing di pasar obligasi karena penyesuaian tingkat imbal hasil (yield) US Treasury dengan kenaikan suku bunga the Fed. Kedua, likuiditas di pasar akan semakin menyempit akibat terjadinya perebutan dana antara pemerintah dan perbankan. Ketiga, kenaikan suku bunga the Fed rentan diikuti oleh kenaikan tingkat suku bunga di negara berkembang. Keempat, naiknya imported inflation sebagai akibat membengkaknya biaya impor bahan baku dan barang konsumsi yang dipicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.
Mayoritas UMKM Tak Tahu Tarif PPN Naik Jadi 11%
Sungguh miris, saat pemerintah getol mengerek tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dari 10% menjadi 11% per 1 April 2022 tak semua lapisan usaha memahami beleid anyar ini.
Mayoritas pelaku usaha skala kecil belum mengetahui kebijakan perpajakan ini. Hal ini tercermin dari survei Danareksa Research Institute (DRI). Hasil survei DRI menunjukkan, mayoritas pelaku usaha terutama usaha mikro kecil menengah (UMKM) belum tahu tarif PPN sudah 11%
Laris Manis, Penjualan SBR011 Mencapai Rp 13,91 Triliun
Obligasi ritel SBR011 laris manis jadi buruan investor. Pemerintah berhasil menjual SBR011 senilai Rp 13,91 triliun, lebih tinggi dari target awal Rp 5 triliun.
Nominal tersebut jauh lebih tinggi dibanding nilai permintaan seri SBR010. Saat itu, penjualannya sebesar Rp 7,5 triliun. Tingginya animo masyarakat membuat mitra distribusi SBR011 berhasil membukukan penjualan di atas target yang ditetapkan.
General Manager Divisi Wealth Management Bank Negara Indonesia (BNI) Henny Eugenia mengungkapkan, hingga akhir pemesanan, penjualan SBR011 di BNI mencapai Rp 1,15 triliun. Jumlah tersebut oversubscribed 2,3 kali dibanding target semula, yaitu Rp 500 miliar.
SBR011 laris karena risiko kredit kecil. Obligasi ritel ini juga memiliki fitur kupon floating with floor.
Nobu Bank Gandeng SRC Luncurkan KUR Digital
Bank Nationalnobu Tbk (Nobu Bank) bekerjasama dengan PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS) untuk mendukung permodalan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) secara digital. Melalui kerjasama tersebut, toko-toko kelontong yang berada di bawah jaringan SRC bisa mendapatkan kredit modal kerja lewat fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan secara digital.









