Brumm, Pasar Mobil Kian Menderu
Kendati dihantui rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), penjualan mobil terus meningkat. Setidaknya, ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2022 yang baru saja usai menjadi salah satu indikator tingginya permintaan mobil. Maklum, hampir semua brand mobil meraih penjualan tinggi. PT Toyota Astra Motor (TAM), misalnya, mengantongi 5.434 surat pemesanan kendaraan (SPK) dari berbagai line up. Angka ini meningkat 20,7% dibanding jumlah SPK TAM pada GIIAS 2021, yang sebanyak 4.502 SPK. Kami mengapresiasi dukungan masyarakat," kata Anton Jimmi Suwandy, Marketing Director Toyota Astra Motor, Jumat (26/8). PT Honda Prospect Motor (HPM) juga panen pesanan di ajang GIIAS 2022. Selama ajang itu digelar, HPM menjaring angka pemesanan sebanyak 1.965 unit atau naik 30% dibandingkan GIIAS 2021.
Tak Efektif, Polri Usul Bea Balik Nama & Pajak Progresif Kendaraan Dihapus
Ini bisa jadi kabar gembira bagi pemilik kendaraan bermotor jika terwujud kelak. Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) mengusulkan penghapusan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan pajak progresif kendaraan bermotor. Direktur Registrasi dan Identifikasi Korlantas Polri Brigjen Pol Yusri Yunus mengatakan, usulan penghapusan ini bertujuan untuk menertibkan data kepemilikan kendaraan dan menstimulus masyarakat semakin patuh dalam membayar pajak kendaraan bermotor. "Kami usulkan agar balik nama dihilangkan. Kenapa dihilangkan? Biar masyarakat mau semua bayar pajak", kata Yusri, Jumat (26/8).
Kejagung Sita Lahan Duta Palma Seluas 1.002 Hektare
Tim Penyidik Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) pada Kamis (25/8) lalu kembali melakukan penyitaan terhadap aset yang terkait dengan bos PT Duta Palma Group Surya Darmadi. Saat ini, Surya Darmadi berstatus tersangka. Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Ketut Sumedana mengatakan, aset tersebut berupa bidang tanah dan bangunan sesuai Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGU) Nomor 8 dengan luas 1.002 hektare (ha) di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Maro Sebu Ulu, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Aset perkebunan itu milik PT Delimuda Perkasa Kantor Besar (Kebun Sei Rengas) dan terduga terafiliasi dengan PT Duta Palma Group.
Tangguhnya Perempuan Hanjeli dari Jawa Barat Selatan
Gelang, kalung, hingga tasbih terpajang di Rumah Aksesoris Hanjeli yang juga kediaman Hj Dedeh Suminar (52) di Desa Waluran Mandiri, Sukabumi, Jabar, Kamis (4/8). Semua terbuat dari hanjeli (Coix lacryma-jobi), tumbuhan biji-bijian bergizi tinggi. Biji dari pohon hanjeli yang ditanam di pekarangan hingga sawah disortir sesuai ukurannya. Setelah dilubangi, biji dirangkai menjadi produk yang diinginkan. Kreativitas itu lahir tiga tahun lalu ketika Asep Hidayat Mustopa (34), penggagas Desa Wisata Hanjeli, ”menantang” Dedeh mengolah hanjeli. Tanpa pelatihan khusus, Dedeh belajar membuat gelang hingga tasbih. Dalam sehari, ia membuat 50 gelang. Harganya, Rp 10.000-Rp 25.000 per buah. ”Sebulan, terjual 100 produk aksesori,” ujarnya. Dedeh bisa meraup sekitar Rp 1,5 juta, hampir setengah dari upah minimum Kabupaten Sukabumi 2022, sebesar Rp 3,1 juta per bulan.
Oyah (50), sesama warga Desa Waluran Mandiri, juga lebih berdaya dengan hanjeli. Sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani Mekar Mandiri, ia tidak hanya menanam, tetapi paham memanen hingga membuat rengginang hanjeli. Lima tahun lalu, Oyah adalah petani padi. Suatu hari, ia melihat hanjeli di rumah ibunya. Ia menanam bijinya di sawah, tumpang sari dengan padi pada 2017. Dengan area tanam 2 hektar, Oyah memanen 2 ton biji hanjeli per enam bulan. Hasilnya di-jual ke Asep Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram atau Rp 8 juta. Selain menjadi harapan hidup baru, Guru Besar Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Tati Nurmala menilai, perempuan di Desa Waluran Mandiri menunjukkan kepada dunia pentingnya bahan pangan alternatif. Dalam 100 gram hanjeli, terkandung karbohidrat 76,4 %, protein 14,1 %, lemak nabati 7,9 %, dan kalsium 54 mg. (Yoga)
Kredivo Menjadi Salah Satu Paylater di Ramayana
Kredivo resmi bekerja sama dengan Ramayana untuk memperluas penetrasi di kalangan masyarakat Indonesia di kota tier 2 dan 3. Dengan adanya kerja sama ini, seluruh pengguna Kredivo dapat menggunakan pembayaran paylater di 101 gerai Ramayana. "Pada kategori fesyen di 2022, harapannya minimal banget naik 50% dari angka yang sekarang, jadi di sekitar 30%," ujar Indina Andamari, VP Marketing Communications Kredivo dalam konferensi pers, Kamis (25/8).
Ekspor Kendaraan dari Terminal IPCC Melonjak
Data dari IPCC Terminal Kendaraan di Tanjung Priok, pelabuhan utama ekspor dan impor mobil di Indonesia, menunjukkan laju peningkatan ekspor mobil yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Mengutip siaran pers yang diterima Kontan.co.id Jumat (26/8), pada periode semester pertama 2022 tercatat lebih dari 142.155 mobil CBU dari berbagai merek dan model yang diekspor ke berbagai negara melalui dermaga IPCC Terminal Kendaraan Tanjung Priok. Direktur Utama IPCC Terminal Kendaraan, Rio T.N. Lasse menuturkan, angka ekspor sepanjang semester I-2022 ini telah melampaui angka ekspor di periode yang sama di tahun 2019, sebelum pandemi. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri otomotif Indonesia sudah back on the right track. "Meski ekspor mobil (CBU) dari tempat kami sempat turun di periode semester I-2020 karena imbas pembatasan kegiatan usaha di sejumlah industri, terutama industri otomotif akibat hantaman Covid-19. Saat itu hanya terekspor 105.082 CBU. Namun, dalam perkembangan selanjutnya telah naik signifikan di periode yang sama di tahun 2021 dan 2022," ungkap Rio, dalam keterangannya.
Inflasi di AS, Diskon Besar-besaran Harga Baju
Perusahaan ritel baju di AS mengobral dan memberi diskon besar atas produk mereka agar tumpukan di rak berkurang. Akibat tekanan inflasi, konsumen di negara itu memangkas anggaran untuk belanja baju. Kantor berita Reuters, Jumat (26/8), melaporkan, konsumen usia muda dan berpenghasilan rendah menahan diri untuk membeli baju pada harga normal dan menunggu ada promo. (Yoga)
Menunggu Langkah The Fed
Bank Sentral AS atau The Fed dinilai lambat mengambil langkah menaikkan suku bunga. Ekonomi dunia pun bakal terdampak dan bisa runyam. Inflasi di AS sampai dengan Kamis (25/8) melejit terlalu jauh meninggalkan tingkat suku bunga inti The Fed. Inflasi juga lebih tinggi dari suku bunga riil di pasar. Jika The Fed tetap lamban menyadari serta lambat menaikkan suku bunga, inflasi tinggi akan sulit diturunkan bahkan akan bertahan lama. Efeknya adalah dampak inflatoar ke seluruh dunia mengingat dollar AS merupakan alat utama transaksi global.
Kebijakan moneter AS menjadi perhatian karena akan berpengaruh terhadap nilai tukar USD pada mata uang lokal. Ketika The Fed membiarkan suku bunga acuan, mata uang lokal cenderung tetap rendah sehingga konsumsi tidak bisa direm, akibatnya inflasi terus naik. Oleh karena itu, ada yang menyebut hal ini sebagai inflasi impor, inflasi yang terjadi di AS merembet ke negara-negara lain. Namun, jika The Fed menaikkan suku bunga, akan berdampak pada penurunan inflasi dan pada perdagangan karena sejumlah komoditas akan berharga mahal akibat kenaikan nilai tukar. Hal itu juga akan menimbulkan risiko rentetan pada korporasi dan pelarian modal dari beberapa pasar uang negara yang sedang berkembang.
Sepertinya pilihan pahit akan diambil, yaitu The Fed menaikkan suku bunga. Kelambatan melakukan tindakan sepertinya hanya menunda masalah yang lebih berat lagi. Oleh karena itu, hal yang lebih penting adalah persiapan korporasi dan juga otoritas sejumlah negara untuk menghadapi dampak atau risiko pengetatan suku bunga AS tersebut. Otoritas di Indonesia juga harus bersiap menghadapi masalah yang tidak ringan ini. (Yoga)
UJIAN MILENIAL DI PASAR MODAL
Baik dari sisi konsistensi dalam menanamkan modalnya maupun dalam mempertebal pengetahuan agar industri ini semakin melesat. Meningkatnya jumlah investor milenial di pasar modal perlu terus dijaga, baik dari sisi konsistensi dalam menanamkan modalnya maupun dalam mempertebal pengetahuan agar industri ini semakin melesat. Kalangan investor milenial seringkali terjebak untuk meraih keuntungan dalam jangka pendek tanpa pengetahuan yang cukup. Selain itu, keputusan untuk masuk ke pasar modal karena sekadar mengikuti tren sesaat. Regulator perlu meningkatkan pemahaman dan pengetahuan investor, utamanya generasi milenial itu agar keberadaannya mampu berkontribusi terhadap perekonomian. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat minat masyarakat, terutama generasi milenial untuk berinvestasi di pasar modal makin meningkat. Ini tercermin dari terus bertambahnya jumlah investor yang mencapai 9,45 juta orang hingga pertengahan Agustus 2022. Jumlah tersebut naik 26,14% dibandingkan dengan jumlah investor pada akhir 2021 sebanyak 7,49 juta. Besarnya antusiasme kalangan muda menjadi investor pasar modal tak lepas dari signifikansi perkembangan pemanfaatan teknologi keuangan yang memudahkan proses transaksi di lantai bursa tersebut.
Tren ”Mogok Kerja”
Pandemi memang sudah mengubah banyak hal. Di dunia kerja muncul fenomena karyawan dalam jumlah besar mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas (great resignation). Kini muncul tren baru yang bernama quiet quitting. Karyawan sesungguhnya tidak keluar dari pekerjaan tetapi mereka hanya bekerja pas-pasan. Tidak ada ambisi, tidak rela kerja lembur, dan bekerja jauh di bawah kemampuannya. Istilah diam-diam ”mengundurkan diri” dari pekerjaan tersebut muncul di sebuah akun media sosial Tiktok. Setelah itu merebak komentar yang memperlihatkan bahwa banyak orang juga sepemikiran. Mereka kemudian merasa bergabung dalam gerbong kereta yang satu ini.
Di AS fenomena ini terkonfirmasi dari survei produktivitas karyawan. Pada triwulan kedua tahun ini produktivitas karyawan turun 2,5 %, penurunan tertinggi setelah Perang Dunia Kedua. Sejumlah perusahaan mengeluhkan keadaan ini. Beberapa perusahaan kemudian melakukan pemutusan hubungan kerja dan juga membatalkan perekrutan karyawan baru. Google bahkan secara terus terang mengatakan akan melakukan pemutusan hubungan kerja terkait dengan produktivitas karyawan yang turun. Karyawan seperti membentuk ”lingkungan baru”. Mereka tidak keluar dari pekerjaan tetapi mereka tidak mau mencapai sesuatu yang lebih tinggi atau juga mereka ogah-ogahan mencapai sesuatu melampaui tugasnya. Temuan fenomena quiet quitting ini seharusnya membuat banyak pihak mencari cara-cara yang tepat agar dunia kerja makin produktif. (Yoga)









