Indonesia Menjauh dari Resesi
Pertumbuhan PDB triwulan II-2021 sebesar 3,51 % (year-on-year/yoy) dan meningkat menjadi 5,02 % triwulan IV-2021. Kemudian, triwulan I-2022 sebesar 5,01 % dan triwulan II-2022 mencapai 5,44 %. Kinerja ekonomi nasional memperlihatkan pertumbuhan yang konsisten dalam kurun waktu setahun terakhir sehingga Indonesia bisa dikatakan mampu melewati berbagai ujian berat semenjak munculnya pandemi Covid-19 pada 2020. Kondisi ekonomi global yang pasang surut dan memperlihatkan ketidakpastian akibat berbagai faktor ternyata tak jadi penghalang lajunya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena keberhasilan meracik bauran kebijakan ekonomi makro dan moneter, yang memenuhi aspek 3T: tepat waktu, tepat kebijakan, dan tepat sasaran.
Di belahan lain dunia, mulai muncul kembali risiko resesi. AS sebagai ekonomi terbesar mengalami kontraksi di triwulan I dan II-2022, masing-masing minus 1,6 % dan minus 0,9 %. Bagi Indonesia, dunia yang saat ini sedang mengalami risiko stagflasi karena laju inflasi yang sangat tinggi dibarengi tren pertumbuhan ekonomi yang terus menurun bisa memicu pelemahan ekspor dan menghambat investasi. Inflasi yang terus melaju cepat perlu terus dimonitor dan tak bisa dianggap enteng karena dampaknya sangat dahsyat bagi pelaku usaha dan masyarakat. Meningkatnya harga barang tidak hanya mengurangi daya beli masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan pengangguran dan kemiskinan. Pemerintah dapat menyiapkan berbagai rencana bauran kebijakan mulai dari sekarang, yang memenuhi aspek 3T: tepat kebijakan, tepat waktu, dan tepat sasaran. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan itu nantinya dapat langsung dieksekusi apabila situasi yang diskenariokan benar-benar terjadi. (Yoga)
Penyesuaian Harga BBM
Pemerintah resmi menaikkan harga BBM bersubsidi pertalite dan solar, selain juga pertamax, per 3 September 2022 pukul 14.30 WIB. Pengumuman kenaikan disampaikan langsung oleh Presiden Jokowi, didampingi sejumlah menteri, di Istana Negara, Sabtu (3/9). Disebutkan, langkah menaikkan harga BBM adalah keputusan yang terpaksa harus diambil dalam situasi sulit. Harga per liter pertalite naik dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000, solar dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800, dan pertamax dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500. Selain mengantisipasi dampak ke inflasi yang bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menyiapkan sejumlah intervensi dalam bentuk berbagai bantalan sosial dalam rangka meredam dampak kenaikan harga BBM terhadap daya beli masyarakat dan angka kemiskinan.
Kenaikan harga BBM langkah tepat yang perlu didukung semua pihak. Semakin ditunda, akan kian memberatkan APBN dan tidak sehat bagi perekonomian. Selama ini, subsidi telah salah sasaran, karena 80-95 % justru dinikmati kelompok mampu, sehingga perlu dikoreksi demi keadilan dan keberlanjutan pembangunan masa depan. Oleh karena itu, penyesuaian harga BBM ini sekaligus harus menjadi momentum pembenahan harga dan penyaluran BBM bersubsidi agar tak terus salah sasaran. (Yoga)
Produksi Terancam Turun
Petani masih tertekan dengan kelangkaan pupuk subsidi serta melonjaknya harga pupuk nonsubsidi. Apabila tak diantisipasi, akan ada risiko penurunan produksi mengingat petani, terutama padi, sangat bergantung pada pupuk sintetis atau kimia. Pembenahan sistem penyaluran pupuk bersubsidi pun diperlukan, dengan perencanaan yang kuat dan pengawasan yang optimal sehingga tepat sasaran. Pengamat ekonomi pertanian dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Padang, Muhammad Makky, Minggu (4/9) mengatakan, harga pupuk nonsubsidi melonjak salah satunya dari peningkatan harga gas. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh situasi geopolitik dunia, yakni konflik Rusia dan Ukraina. ”Dengan harga pupuk nonsubsidi yang melonjak, petani akan berupaya semaksimal mungkin mencari pupuk subsidi. Ada risiko kebocoran yang semakin besar meski pemerintah sudah mengaturnya (supaya tepat sasaran). Namun, dengan adanya gap, pupuk subsidi akan lebih banyak dicari,” tutur Makky.
Di samping itu, petani juga berpotensi terdampak kenaikan harga BBM karena terkait alat mesin pertanian. Petani tidak mungkin membeli BBM di SPBU dengan membawa traktor langsung, sehingga akan membeli eceran, yang harganya lebih mahal di- bandingkan harga resmi. Apabila situasi terus berlanjut, dengan semakin terbatasnya daya beli petani, ketahanan pangan dapat terancam. Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Keadilan Pangan Said Abdullah menyebutkan, dengan situasi saat ini, jika tak segera diatasi, akan ada risiko cukup serius. ”Bagaimanapun, para petani kita, terutama padi, sudah sangat bergantung pada pupuk kimia. Dengan tren kenaikan harga pangan global, jika produksi tak diperkuat, akan ada kerawanan pangan,” ucapnya. (Yoga)
Fluktuasi Harga Telur Bikin Peternak Ayam Petelur Babak Belur
Tingginya harga telur ayam belakangan ini tak serta-merta dirasakan para peternak. Mereka masih terimbas pengurangan populasi ayam akibat cekikan pandemi Covid-19 sehingga tak bisa menikmati kenaikan harga telur karena isi kandang lebih sedikit dari biasanya. Beban bertambah berat dengan menjulangnya harga pakan. Kondisi ini benar-benar membuat peternak telur babak belur. Pitoyo (45),i menatap kandang ayamnya yang kosong. ”Biarpun kosong, harus selalu dicek. Takutnya ada yang rusak.ni sambil berharap-harap kapan bisa diisi kembali, ”kata Pitoyo, Kamis (1/9). Pitoyo adalah mandor peternakan ayam petelur Fahreza Farm di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jateng. Itu hanya salah satu kandang kosong Fahreza Farm. Masih ada empat kandang kosong lainnya. Kini, tinggal lima kandang yang masih berisi ayam petelur. Bahkan, sejumlah pekerja pun harus diberhentikan.
Akibat pengosongan kandang, ungkap Pitoyo, produksi telur mereka anjlok 50 % dari 3 ton per hari jadi 1,5 ton per hari. “Dampak pandemi Covid-19 tahun lalu, permintaannya sangat sedikit. Harga telur jadi sangat anjlok,” tuturnya. Fahreza Farm rugi Rp 120 juta per bulan. Regenerasi isi kandang 4.000 ayam siap telur (pulet) dengan biaya Rp 150 juta, yang lazimnya berjalan setiap bulan, tersendat. Kini, harga pulet pun naik drastis dari Rp 50.000 per ekor jadi Rp 100.000 per ekor. ”Mau tidak mau ayam yang sudah tidak produktif dijual. Itu buat menutup kekurangan. Pengurangan isi kandang pula yang membuat harga telur ayam di tingkat peternak pada Agustus 2022 mencapai Rp 26.000-Rp 27.000 per kg dan sempat menyentuh Rp 29.000-Rp 30.000 per kg.
Tukinu (60), peternak ayam petelur di Kecamatan Mojosongo, merasakan hal yang sama. Ia mengaku tak bisa sepenuhnya merasakan keuntungan dari tingginya harga telur ayam belakangan ini. Pasalnya, kerugian telah dialaminya sepanjang tahun lalu. Namun, ia merasa beruntung masih bisa mempertahankan kandangnya. Ia sempat mengalami harga jual telur dari peternak senilai Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Padahal, harga pokok produksi telur dari kandangnya sekitar Rp 21.000 per kg. Artinya, ia menombok Rp 5.000-Rp 6.000 per kg setiap hari sehingga merugi Rp 300 juta. ”Harga membaik ini baru berlangsung lebih kurang dua bulan. Sebelumnya, kami ibarat hidup segan mati tak mau. Kalau memang harga mau diturunkan, paling tidak selisihnya jangan terlalu jauh dari biaya produksi kami,” ujarnya. (Yoga)
Ketika Pekerja Bekasi Cemas Hadapi Inflasi
Gaji tinggi tak menjamin pekerja industri di Bekasi, Jabar, hidup layak. Tanpa inflasi dan kenaikan harga BBM pun, mereka harus cerdik mengatur keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan. Rahmad (34), karyawan dengan upah bulanan Rp 4,2 juta itu setahun terakhir harus mengencangkan ikat pinggang alias berhemat. ”Biaya makan saya dari gaji istri. Setiap hari dikasih Rp 50.000. Hanya cukup buat makan di warteg seperti ini dua kali dan beli rokok dua-tiga batang,” kata lelaki yang tiga tahun ini bekerja di perusahaan tekstil di Jl Raya Narogong, Bekasi. Gaya hidup Rahmad berubah sejak dirinya menikah pada November 2020, dimana 60 % upah bulanan disimpan sebagai tabungan untuk membangun rumah. Dia juga masih memiliki cicilan di salah satu bank. Pada awal 2020, ia mengambil pinjaman angsuran berjangka tiga tahun untuk membeli sebidang tanah di wilayah Sukawangi, Kabupaten Bekasi. Lelaki lulusan STM itu mengaku, selama mulai menabung untuk membangun rumah, dirinya hanya hidup dari gaji bulanan istri sebesar Rp 3,7 juta untuk membayar kos, listrik, dan air Rp 1 juta. Selebihnya untuk kebutuhan makan dan minum sehari-hari.
Upaya menyiasati upah demi mencukupi kebutuhan hidup juga dilakukan sejumlah pekerja industri di wilayah Kabupaten Bekasi yang masih berstatus lajang. Tedi (29), yang tinggal di Kota Bekasi, Jumat (26/8). Bekerja di perusahaan multiproduk di Cikarang dengan upah bulanan Rp 5 juta. Namun, sebagian besar habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Rata-rata pengeluaran bulanannya Rp 3,4 juta untuk kebutuhan makan dan minum Rp 75.000 per hari, BBM Rp 20.000 per hari, indekos Rp 750.000 per bulan, hingga paket internet dan telepon serta biaya rekreasi. Kesulitan pekerja di Bekasi mengatur pendapatan dan pengeluaran terekam dalam data BPS. Kota Bekasi merupakan salah satu kota dengan biaya hidup termahal di Indonesia. Biaya hidup satu rumah tangga di Bekasi nyaris setara dengan biaya hidup rumah tangga di DKI Jakarta, Rp 16.888.587 per bulan. Pengeluaran terbesar untuk konsumsi, Rp 13.680.544.
Menurut anggota Dewan Pengupahan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Bekasi, Mujito, upah minimum di Kabupaten Bekasi 2022 merupakan hasil perhitungan kebutuhan hidup layak pada 2021. Sebab, kebutuhan hidup layak pekerja pada 2022 saat itu tidak diakomodasi karena tuntutan kenaikan upah dari kalangan buruh tidak diterima pemerintah. ”Pendapatan buruh itu sudah lebih besar pasak dari tiang. Dengan adanya kenaikan harga BBM, kebutuhan hidup juga bakal meningkat,” kata Mujito. Seperti diketahui, pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM bersubsidi. Kenaikan harga ditetapkan untuk BBM bersubsidi jenis pertalite dan solar. Kecemasan pekerja sejatinya tidak hanya terkait kenaikan harga BBM bersubsidi, tetapi juga inflasi yang bakal mengikuti kenaikan harga BBM. (Yoga)
Kenaikan Harga Perlu Diikuti Pembenahan
Pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM bersubsidi. Selain gejolak harga minyak dunia, pemberian subsidi BBM yang tidak tepat sasaran juga menjadi pertimbangan. Pemerintah mengalihkan sebagian subsidi BBM untuk membantu masyarakat kurang mampu. Kenaikan harga ditetapkan untuk BBM bersubsidi, yakni pertalite dan solar. Harga pertalite naik dari sebelumnya Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter. Harga per liter solar bersubsidi naik dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800. Selain itu, pemerintah juga mengumumkan kenaikan harga pertamax dari Rp 12.500 per liter jadi Rp 14.500 per liter. Presiden Jokowi menggelar konferensi pers perihal kenaikan harga BBM dan pengalihan subsidi ini bersama sejumlah menteri di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (3/9).
Presiden menegaskan, anggaran subsidi dan kompensasi BBM tahun 2022 telah meningkat tiga kali lipat, dari Rp 152,5 triliun menjadi Rp 502,4 triliun dan diperkirakan terus meningkat. Di sisi lain, ditemukan fakta 70 % lebih subsidi justru dinikmati oleh kelompok masyarakat yang mampu, yaitu pemilik mobil pribadi. Menurut Presiden Jokowi, mestinya uang negara itu diprioritaskan untuk memberikan subsidi kepada masyarakat yang kurang mampu. Pengamat ekonomi energi yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung, Yayan Satyakti mengatakan, jika penyaluran subsidi sudah dipastikan tidak efektif, pembenahan seharusnya sudah dilakukan sejak Februari 2022 alih-alih terus ditambah. ”Ada bad management (tata kelola buruk) dalam pengelolaan, khususnya subsidi energi dan konsumsi energi,” ujarnya. (Yoga)
Fed Sengsarakan Negara Termiskin
Sejumlah penelitian membuktikan, banyak negara berkembang tercekik akibat pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed. Peringatan ini mencuat saat bank sentral AS kembali mencanangkan kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi di AS. Kerusakan akibat kebijakan The Fed itu terjadi lewat kenaikan suku bunga USD dan kenaikan kurs USD terhadap mata uang negara-negara berkembang. Kenaikan suku bunga menambah beban utang negara-negara miskin dalam denominasi dollar. Anjloknya kurs mata uang negara berkembang menaikkan porsi dana dalam denominasi mata uang lokal untuk membayar utang dollar.
Kenaikan suku bunga rentan membuat modal asing berhamburan. Statistik Bank Dunia memperlihatkan, selama periode 2015 hingga 2020, sebesar 42 % utang negara berpendapatan rendah dan posisi terbawah kelompok berpendapatan menengah dimiliki lembaga komersial. Kreditor jenis ini paling rawan untuk pelarian modal. Kondisi ini bisa mengeringkan sumber pendanaan yang sangat dibutuhkan negara berkembang untuk mendatangkan impor dan pembayaran utang.
”Pada beberapa episode di masa lalu, kenaikan pesat suku bunga di negara-negara maju menyulitkan keuangan eksternal negara-negara berkembang,” demikian Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporannya, April 2022. Ahli sejarah ekonomi Jamie Martin dari Georgetown University mengatakan, ada korelasi kuat secara historis antara kenaikan suku bunga tajam di negara maju dan katastrofe ekonomi di negara-negara berkembang. ”Sejarah harus menjadi dasar tentang perlunya kebijakan yang sangat hati-hati,” tulis Martin lewat artikelnya di harian The New York Times, 28 April 2022. (Yoga)
Menjaga Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah
Setelah minyak goreng dan bahan pangan lain, kini masyarakat mengeluhkan harga telur ayam ras yang mulai merangkak naik sejak pertengahan Agustus lalu. Kenaikan harga tertinggi mencapai Rp 4.000-Rp 5.000 per kg (Kompas, 24 Agustus 2022). Menghadapi situasi itu, warga harus mengatur strategi agar kebutuhan pangan harian tetap tercukupi. Hasil jajak pendapat Kompas akhir Agustus lalu merekam, sepertiga responden memilih untuk melakukan realokasi anggaran belanja rutin mereka. Pengeluaran untuk non-makanan dikurangi guna menambah anggaran kebutuhan makanan.
Jajak pendapat menemukan lebih dari separuh responden bertahan dengan menghadirkan bahan pangan dari rumah. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk bercocok tanam bahan pangan. Separuh dari mereka memilih menanam sayuran seperti bayam, kangkung, hingga tomat. Seperempat responden menanam rempah dan aneka bumbu dapur, seperti serai, jahe, cabai, dan daun bawang. Bahkan, dua dari 10 responden lainnya menanam tanaman jenis umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat. Sebanyak 3,3 % responden yang memiliki cukup lahan menanam padi di sekitar rumah mereka. Buah-buahan pun diupayakan oleh 2,5 % responden.
Praktik itu dilakukan responden dari Sabang hingga Merauke. Mayoritas (79,9 %) dilakukan responden dengan kelompok ekonomi bawah dan menengah bawah. Lebih dari separuh responden yang menanam bahan pangan dari rumah memanfaatkan tanah kosong di sekitar rumah mereka untuk bertanam. Separuh responden lainnya menggunakan polybag, pot, hingga metode hidroponik untuk menanam bahan pangan karena lahan kosong terbatas. Sejumlah penelitian menunjukkan menanam bahan makanan dari rumah tak hanya mampu menjaga ketahanan pangan dalam skala kecil seperti rumah tangga, tetapi juga menghemat pengeluaran keluarga. (Yoga)
Anies Tawarkan Proyek di Ujung Masa Jabatan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menawarkan 15 proyek infrastruktur kepada para investor. Total nilai proyeknya mencapai Rp 280 triliun.
Proyek infrastruktur bernilai jumbo tersebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tawarkan dua bulan menjelang masa jabatannya berakhir. Masa jabatan Anies sebagai orang nomor satu di Ibu Kota RI bakal berakhir pada 16 Oktober 2022.
Ada tujuh badan usaha milik daerah (BUMD) milik Pemprov DKI yang menawarkan 15 proyek itu. Yakni, MRT Jakarta, TransJakarta, Jakarta Propertindo (Jakpro), PT Kawasan Berikat Nusantara, PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP), Jakarta Experience Board (JXB), dan Perumda Sarana Jaya.
Ke-15 proyek tersebut di antaranya: Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, LRT Jakarta Fase 2A (Jakarta International Stadium-Rajawali), serta LRT Jakarta Fase 3A (Jakarta International Stadium-Rajawali).
Kemudian, MRT Fase 3 (Timur-Barat), MRT Fase 4 (Fatmawati-TMII), South Jakarta Mix-Used Development, bus listrik TransJakarta, dan stasiun pengisian baterai.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah menyebutkan, masa jabatan Anies yang akan berakhir takkan memengaruhi investor untuk menunda menanamkan modal. Pasalnya, akan ada pengganti sementara Gubernur DKI. Selain itu, investor akan mengeluarkan modal kalau tawaran investasi menguntungkan secara bisnis.
"Tawaran itu adalah tawaran investasi dari Pemerintah Provinsi DKI, bukan dari Anies pribadi. Jadi, tidak ada hubungannya dengan masa jabatan Anies yang akan segera berakhir," tegas Piter.
Lelang Aset Obligor Grup Texmaco & Kaharudin Ongko
Upaya penagihan piutang obligor penerima dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) terus pemerintah lakukan. Termasuk, melelang aset milik obligor. Teranyar, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan akan melelang aset Grup Texmaco milik Marimutu Sinivisan dan aset milik Kaharudin Ongko.
Satuan Tugas Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI (Satgas BLBI) bakal melakukan lelang aset Grup Texmaco melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Padang, Sumatra Barat. Aset yang akan Satgas BLBLI lelang adalah sebidang tanah dengan luas 12,5 hektare (ha) beserta bangunan di atasnya. Aset ini terletak di Jalan Lintas Padang-Solok, Kelurahan Banda Buek, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatra Barat.
Satgas BLBI akan melepas aset tersebut dengan nilai limit Rp 235,7 miliar dan uang jaminan yang ditetapkan Rp 47,14 miliar. Lelang berlangsung pada Kamis, 8 September 2022, dengan batas akhir penawaran pukul 09.30 WIB.









