Ada January Effect, IHSG Bakal Menguat
Investor gagal meraup cuan besar dari window dressing di pengujung tahun 2022 lalu. Di bulan Desember yang biasanya menjadi momen terjadinya window dressing, performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ternyata justru loyo.
Hingga penutupan bursa tahun 2022 pada Jumat pekan lalu (30/12), IHSG masih berkubang di zona merah. Saat itu, IHSG melemah 0,14% atau 9,46 poin ke 6.850,12. Penurunan IHSG diiringi oleh net sell atau jual bersih investor asing Rp 768,32 miliar di seluruh pasar saham.
Penguatan indeks saham bursa nasional ini tentu membuka optimisme pelaku pasar yang menantikan fenomena January effect. Tren January effect
menjadi momentum yang ditunggu investor pasar saham tiap awal tahun, lantaran memiliki peluang mengangkat IHSG.
Harapannya, fenomena tersebut akan membantu mendongkrak harga saham yang dikoleksi investor. Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya meyakini, momentum January effect berpeluang terjadi dan akan membawa posisi IHSG kembali menguat.
Pendapat Cheril diamini Arjun Ajwani, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori. Dia bilang, di sepanjang Desember berjalan atau month to date, IHSG sudah terkoreksi lebih dari 2%.
Penurunan IHSG ini dipicu anjloknya beberapa saham big cap. Ini terutama saham emiten bank dan energi yang mengalami koreksi harga secara bulanan.
Industri Multifinance Optimistis, Rapor Kinerja di 2023 Bertinta Hijau
PERUSAHAAN pembiayaan atau multifinance percaya diri. Rapor kinerja tahun ini bertinta hijau. Kenaikan laba ditopang lini bisnis seperti multiguna, pembiayaan mobil baru dan bekas, hingga memaksimalkan digitalisasi perusahaan.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno optimistis, tahun ini menjadi tahun pemulihan bisnis pembiayaan dan bakal tumbuh 6% sampai 8% secara tahunan atau year on year (yoy). Direktur Wahana Ottomitra Multiartha (WOM Finance), Cincin Lisa Hadi memproyeksi, laba bersih sampai Desember 2022 mencapai Rp 157 miliar, meningkat 42% yoy. "Pembiayaan dari segmen di multiguna yang berkontribusi sebesar Rp 3,4 triliun atau 72% dari total pembiayaan perusahaan," kata Cincin, Rabu (28/12).
BOOSTER EKONOMI RI
Mengawali tahun konsolidasi fiskal, pemerintah langsung menggeber mesin ekonomi. Selain memanfaatkan momentum lonjakan konsumsi karena perayaan Natal dan Tahun Baru, sejumlah kebijakan anyar juga diluncurkan untuk menstimulasi ekonomi nasional yang tahun ini ditarget tumbuh 5,3%. Beberapa kebijakan baru tersebut antara lain penghapusan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), serta menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No. 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja. Sejumlah kalangan pun optimis terhadap penghapusan PPKM akan mendorong peningkatan konsumsi masyarakat dan penciptaan stabilitas dari sisi penawaran maupun permintaan. Apalagi, Presiden Joko Widodo menegaskan bantuan sosial (bansos) tetap diberikan kendati PPKM tak lagi diterapkan. Hal itu diperkuat dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 yang masih mengakomodasi program bansos. Tak hanya itu, beberapa program dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pun diadopsi ke dalam program regular yang melekat di kementerian dan lembaga (K/L)
Memperkuat Penyangga Ekonomi
Indonesia punya beragam amunisi untuk mengarungi ketidakpastian ekonomi dunia tahun ini. Selain capaian positif sejumlah indikator ekonomi pada tahun lalu, manuver kebijakan fiskal dan moneter juga digadang-gadang menjadi pijakan yang kuat pada 2023. Demikian pula dengan serangkaian regulasi yang disiapkan guna memperkuat benteng ekonomi nasional. Contohnya adalah pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK) menjadi Undang-Undang pada 8 Desember 2022. Kehadiran beleid tersebut bertujuan memperkuat sistem keuangan nasional melalui perluasan peran Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan, serta penguatan sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia. Harapannya, kala krisis menerpa, sektor keuangan tak serta-merta kolaps. Tak dapat dimungkiri, investasi menjadi salah satu tulang punggung ekonomi di tengah konsolidasi fiskal yang harus dilakukan pemerintah pada tahun ini. Ya, manuver fiskal memang tak lagi leluasa sebagaimana beberapa tahun terakhir karena pemerintah harus mengembalikan defisit anggaran di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Alhasil, penerimaan pun perlu dioptimalkan, dan investasi menjadi salah satu kuncinya. Apalagi, pada tahun depan pemerintah harus mengejar target investasi Rp1.400 triliun, naik dari tahun ini sebesar Rp1.200 triliun.
Tahun Menantang Bursa Saham
Prospek pasar modal pada 2023 diproyeksikan semakin menguat. Rapor hijau bursa saham pada 2022 menjadi pijakan investor dalam mengatur portofolionya. Apalagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2023 diproyeksikan dapat menembus level 8.000. Sinarmas Sekuritas, misalnya, memproyeksikan IHSG pada 2023 bergerak di kisaran 6.250—8.000. Adapun, Mirae Asset Sekuritas memproyeksi IHSG dapat menembus level 7.880 pada 2023. Meski demikian, investor perlu tetap waspada mengingat sejumlah tantangan a.l. peningkatan resesi global yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan China, ditambah dengan konflik politik Rusia dan Ukraina, serta dinamika politik menjelang Pesta Demokrasi 2024 yang berisiko menggoyang pergerakan saham. Deputi Head of Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menyatakan pelaku pasar perlu memperhatikan risiko dari naiknya probabilitas resesi di AS dan China yang dapat mengganggu aktivitas dagang dengan Indonesia. Selain itu, proyeksi harga komoditas 2023 yang lebih landai dikhawatirkan bakal mengurangi optimisme pasar. Sejumlah emiten komoditas itu, sahamnya juga sempat menyentuh all time high pada tahun ini, a.l. ITMG, ADRO, dan BYAN. Di sektor perbankan, saham BBCA dan BBRI juga sempat menyentuh level tertingginya. Kendati demikian, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama optimistis sektor perbankan dan consumer goods dapat menjadi pilihan investor untuk berinvestasi saham 2023.
IHSG & Hantu Resesi 2023
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan 2022 dengan melemah 0,14% ke level 6.850,61 dan membukukan kapitalisasi pasar Rp9.529,86 triliun. Sepanjang tahun ini, IHSG menghijau 2,78%. Di Asia Pasifik, IHSG hanya kalah dari indeks acuan India, Sensex, yang menguat 4,29%. Adapun, secara global, IHSG berada pada posisi ketujuh di bawah Bursa India, UAE, Brazil, Chili, Argentina, dan Turki di peringkat pertama yang melesat 189,62%. Di tengah tekanan global yang membuat berbagai indeks di dunia tertekan, IHSG tertolong sektor energi yang menguat 100,4% sepanjang tahun berjalan dan sektor industri yang menguat 13,42%. Selain itu, IHSG juga tertolong saham-saham kapitalisasi besar yang mengalami kenaikan harga, di antaranya emiten perbankan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2022 tercatat sebesar 5,72% (year on year/yoy), masih positif dan cukup solid di tengah ancaman resesi global yang membayangi perekonomian dunia pada 2023. Menguatnya pemulihan ekonomi ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi secara kuartalan, di mana ekonomi pada kuartal III/2022 tumbuh 1,8% dibandingkan dengan kuartal II/2022. Dengan tingkat pertumbuhan ini, level PDB nasional secara kumulatif hingga kuartal III/2022 sebesar 6,6% atau di atas level kumulatif kuartal I hingga III pada 2019. Hasilnya, sektor ekspor, secara riil, mampu tumbuh double digit sebesar 21,64% (yoy), sedangkan impor tumbuh 23% (yoy).
Pencabutan PPKM : Kewaspadaan Tetap Perlu Dijaga
Keputusan Presiden Joko Widodo mencabut pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diharapkan tak mengurangi kewaspadaan terhadap Covid-19, mengingat meningkatnya kasus positif di berbagai negara. Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyayangkan Presiden mencabut kebijakan tersebut, mengingat situasi global yang krisis. Beberapa negara dilaporkan masih menghadapi ancaman lonjakan kasus Covid-19 seperti China, Jepang, Brasil, Amerika, dan Korea Selatan. Di samping itu, dia juga melihat masa Natal dan tahu baru cukup rawan. Sebab, mobilitas masyarakat sedang tinggi, sehingga dikhawatirkan dapat memicu penyebaran virus. “Sekarang yang beredar adalah subvarian-subvarian yang efektif menginfeksi dan bisa menginfeksi ulang bisa menembus barikade proteksi,” kata Dicky saat dihubungi, Jumat (30/12). Oleh sebab itu, dia menilai keputusan ini masih belum tepat. Walaupun menurut sah-sah saja Pemerintah memutuskan hal itu, karena mereka pasti memiliki perhitungan tersendiri. Dihubungi terpisah, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, penghapusan kebijakan ini akan mendorong aktivitas wisata lebih masif lagi. Namun, keputusan ini masih harus diimbangi dengan mendorong masyarakat untuk lebih disiplin protokol kesehatan. Merespons langkah Presiden ini, pengusaha hotel dan pusat perbelanjaan menyambut baik keputusan itu. Wakil Ketua Umum Bidang Hotel Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Iswandi Said, mengatakan, kendati Pemerintah telah mencabut PPKM, tetapi protokol kesehatan akan tetap diterapkan di hotel-hotel.
Kinerja Instrumen Investasi Kalah Melawan Inflasi
Ketidakpastian global mewarnai pergerakan pasar modal di sepanjang tahun 2022 ini. Pelaku pasar melakukan
risk aversion, sehingga membuat nilai tukar rupiah cenderung melemah sepanjang tahun ini. Tapi, kondisi ini memberi keuntungan bagi investor yang berinvestasi di valuta asing.
Salah satunya dollar Singappura. Sepanjang tahun 2022, dollar Singapura menguat 9,01% terhadap rupiah. Jadi, jika Anda menukar rupiah ke dollar Singapura akhir tahun lalu, nilai rupiah Anda di akhir tahun ini naik 9,01%. Dollar Singapura merupakan instrumen investasi berkinerja terbaik sepanjang tahun ini.
Di urutan kedua, instrumen yang memberi keuntungan paling besar masih valas, yakni dollar Amerika Serikat (AS). Kurs dollar AS naik 8,41% sepanjang tahun ini.
Selain dollar Singapura dan dollar AS, hanya obligasi korporasi yang imbal hasil rata-ratanya masih di atas inflasi tahun ini. Imbal hasil rata-rata investasi di obligasi, menilik pergerakan indeks Indobex Corporate Total Return, sebesar 6,57%.
Sebagai perbandingan, inflasi Indonesia hingga November tercatat sebesar 5,42% secara tahunan. Menurut proyeksi ekonom, inflasi di akhir 2022 diprediksi sekitar 5,39%.
PPKM Dicabut, Gerak Ekonomi Bisa Mengebut
Era menuju endemi sudah dimulai. Ini ditandai dengan dicabutnya status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat alias PPKM mulai Jumat kemarin (30/12). Tapi, pemerintah masih belum mencabut status kedaruratan karena pandemi Covid-19 secara global belum berakhir sepenuhnya.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan pandemi bukan bersifat per negara, tetapi dunia. Sehingga status kedaruratan kesehatan tetap dipertahankan mengikuti status dari
public health emergency of international concern
dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO.
Adapun pencabutan PPKM menurut Jokowi karena Indonesia termasuk empat negara G20 yang selama 11 bulan berturut-turut tidak mengalami gelombang pandemi. Faktor lainnya cakupan imunitas penduduk Indonesia tergolong tinggi. Berdasarkan sero survey imunitas penduduk Indonesia telah mencapai 98,5% pada Juli 2022.
Jokowi mengklaim kebijakan gas dan rem yang menyeimbangkan penanganan kesehatan dan perekonomian menjadi kunci keberhasilan Indonesia bisa mengatasi pandemi. Di sisi lain, roda ekonomi masih bisa berjalan.
Koordinator Wakil Ketua Umum III Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Kadin Indonesia Shinta Kamdani bilang, dunia usaha sangat mendukung pencabutan PPKM. Termasuk juga keputusan pemerintah untuk tetap meneruskan program bansos dan insentif pajak untuk membantu proses pemulihan ekonomi. "Sudah waktunya kita masuk ke fase endemi," ucap Shinta.
Kejagung Klaim Selamatkan Uang Negara Rp 8,95 Triliun
Kejaksaan Agung (Kejagung) mengklaim telah menyelamatkan keuangan negara Rp 8,95 triliun sepanjang 2022. Angka ini berasal dari bidang tindak pidana khusus, bidang perdata dan tata usaha negara.
Kerugian keuangan negara yang berhasil diselamatkan oleh jajaran Pidsus se-Indonesia yaitu sebesar Rp 2.769.609.281.880, ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Ketut Sumedana, Jumat (30/12).
Sementara di bidang perdata dan tata usaha negara, Ketut menyebut Kejagung telah menyelamatkan keuangan negara sebesar Rp 6,19 triliun. Di samping itu, berhasil pula dilaksanakan penyelamatan kerugian keuangan negara dari petitum kerugian imaterial sebesar Rp 5 miliar.









