LUMBUNG PANGAN LIMBUNG
Upaya pemerintah untuk membangun kemandirian pangan dengan mengembangkan program food estate di sejumlah lokasi, belum sepenuhnya berhasil meningkatkan hasil produktivitas panen. Padahal, proyek yang sudah berjalan dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain tersebut, menelan anggaran hingga triliunan rupiah. Ribuan hektare lahan yang telah dibuka untuk proyek lumbung pangan pun, ada yang dibiarkan terbengkalai.Lembaga auditor negara juga telah memberikan sejumlah catatan terkait dengan proyek food estate yang berpotensi merugikan keuangan negara.
Start Loyo Indeks Komposit
Penguatan indeks harga saham gabungan atau IHSG dalam sepekan terakhir semestinya dapat menjadi bekal untuk mendorong kinerja bursa yang lebih progresif pada awal kuartal kedua 2023. Indeks komposit memang ditutup melemah 0,05% ke level 6.805,28 pada akhir perdagangan Jumat (31/3). Akan tetapi, secara akumulasi sepekan, IHSG masih mencatatkan pertumbuhan sebanyak 0,64%. Sejumlah data dan indikator perdagangan minggu lalu cenderung bervariasi. Kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia terpantau meningkat 1,04% dari Rp9.390,84 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp9.488,18 triliun. Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian di pasar saham kembali mengalami koreksi. Pekan lalu saja, volume transaksi harian rerata anjlok 11,51% dari 17,26 miliar menjadi 15,28 miliar. Begitu juga dengan nilai transaksinya yang turun dari rata-rata senilai Rp10,33 triliun menjadi Rp9,75 triliun per hari. Pelemahan data perdagangan sejatinya terjadi sepanjang kuartal pertama tahun ini. Tak heran, kinerja IHSG pada 3 bulan pertama 2023 seperti tak bertenaga. Performa IHSG anjlok 0,66% jika dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun lalu yang bertengger di level 6.850,62.
PROYEK LUMBUNG PANGAN : TARGET TERJAL FOOD ESTATE
Secara lugas, Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi menyebut proyek pengembangan lumbung pangan atau food estate di Kabupatan Humbang Hasundutan berjalan dengan baik. Kalaupun ada kendala yang ditemui, dianggapnya sebagai kewajaran untuk sebuah proyek tahap awal. Humbang Hasundutan memiliki kekhasan sebagai daerah penghasil komoditas pangan seperti bawang merah, kentang, dan bawang putih. Produktivitas tanaman sayuran ketiganya itu termasuk yang cukup besar. “Persoalan cocok dan tidak cocok perlu dievaluasi. Biasa tanah baru dibuka, itu masih terlalu asam. Biasa itu 1 kali, 2 kali, 3 kali, 4 kali, 5 kali tanam, baru nanti bisa terdata dan evaluasi. Baru menjawab pertanyaan, apakah cocok atau tidak cocok,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (29/3). Pemerintah meluncurkan proyek food estate pertama di Sumatra Utara yang berlokasi di Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan. Lokasi itu pernah ditinjau Presiden Joko Widodo. Jenis komoditas pangan yang dikembangkan yakni kentang, bawang merah, dan bawang putih. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Humbang Hasundutan, produksi bawang merah pada 2021 tercatat 132.289 kuintal, lebih besar dibandingkan produksi pada 2020 yakni 53.667 kuintal. Lalu, produksi kentang juga naik dari 59.750 kuintal pada 2020 menjadi 90.231 kuintal pada 2021. Sebaliknya, produksi bawang putih turun dari 6.663 kuintal pada 2020 menjadi 4.447 kuintal pada 2021. “Kondisi lahan food estate memang tidak bisa untuk semua jenis komoditas, oleh karenanya hanya komoditas tertentu sesuai hasil kajian yang dilakukan pemerintah. Seperti di Kaltara, hanya komoditas jagung, kedelai,” kata Penata Kelola Penanaman Modal, Ahli Muda Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Kalimantan Utara, Rahman Putrayani
KOMODITAS PERTANIAN : PENGARUH RUSIA MAKIN BESAR
Pengaruh Rusia terhadap pasokan pangan dunia bakal makin kuat setelah Cargill Inc. dan Viterra memutuskan berhenti membeli biji-bijian dari Negeri Beruang Merah untuk dilempar ke pasar internasional. Keluarnya Cargill Inc. dan Viterra berimbas kepada kendali Rusia yang lebih kuat terhadap pasokan dan pengiriman komoditas biji-bijian seperti gandum ke seluruh dunia. Hal tersebut juga memungkinkan bagi Rusia untuk meraup keuntungan lebih banyak dari penjualan biji-bijian di pasar global. Selain kedua perusahaan tersebut, Archer-Daniels-Midland Co. juga dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri kegiatannya di Rusia. Hal yang sama dilakukan Louis Dreyfus yang juga sedang mengalkulasi untuk mengurangi kehadirannya di Rusia. “Kita dapat berasumsi bahwa akan lebih mudah untuk mengontrol arus ekspor jika pihak berwenang ingin melakukannya, karena lebih mudah untuk berurusan dengan pemain lokal,” kata Andrey Sizov, Direktur Pelaksana Peneliti SovEcon, dikutip Bloomberg akhir pekan lalu. Selama ini, perusahaan perdagangan internasional mendapat manfaat dari Rusia dengan menjadi eksportir biji-bijian utama global selama 2–3 dekade mereka beroperasi di sana.
Selama waktu itu, ekspor gandum Rusia pun melonjak lima kali lipat, serta menjadikan harga gandum negara itu sebagai patokan global untuk perdagangan. Kepergian Cargill dan Viterra kemudian diyakini bakal membuat pasokan biji-bijian Rusia sebagian besar berada di tangan perusahaan domestik dan yang didanai pemerintah. Artinya, Rusia akan mengontrol lebih banyak pendapatan yang sangat dibutuhkan saat perang menghabiskan anggarannya. Sementara itu, Cargill mengatakan akan menghentikan ekspor biji-bijian yang bersumber dari perusahaan di Rusia mulai Juli tahun ini, tetapi akan terus membeli kargo dari perusahaan lain. Dan Basse, Pendiri AgResource, mengatakan bahwa petani Rusia akan menjadi pihak yang terimbas paling besar dari keluarnya dua perusahaan internasional tersebut, karena mengurangi persaingan yang ingin membeli hasil panen mereka. Dan Basse, Pendiri AgResource, mengatakan bahwa petani Rusia akan menjadi pihak yang terimbas paling besar dari keluarnya dua perusahaan internasional tersebut, karena mengurangi persaingan yang ingin membeli hasil panen mereka.
KILANG DUMAI Kecelakaan Berulang di Aset Pertamina, Perlu Evaluasi Menyeluruh
Kecelakaan yang terjadi pada dua asset strategis milik PT Pertamina (Persero) hanya dalam rentang satu bulan perlu mendapat perhatian serius, baik dari pihak Pertamina maupun pemerintah. Terlebih lagi, tahun-tahun sebelumnya hal serupa pernah terjadi. Evaluasi secara menyeluruh mutlak perlu dilakukan. Kejadian terakhir, ledakan pada kompresor gas PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit Dumai, Riau, Sabtu (1/4) malam. Sembilan pekerja di ruang operator mengalami luka ringan.
Sebelumnya, kebakaran yang terjadi di Integrated Terminal Bahan Bakar Minyak Plumpang, Jakarta, Jumat (3/3) menyebabkan 25 orang meninggal. Terkait ledakan di PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit Dumai, Riau, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso, Minggu (2/4), mengatakan, secara umum, kejadian itu sudah tertangani. Terdapat masjid dan sejumlah rumah warga yang rusak ringan akibat getaran. Jarak dari lokasi kejadian dengan rumah warga sekitar 3 kilometer.
Pengamat ekonomi energy yang juga dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Yogyakarta, Fahmy Radhi, berpendapat, kejadian di Dumai dan Plumpang itu mengindikasikan buruknya sistem keamanan aset strategis dan berisiko tinggi Pertamina. Oleh karena itu, lanjut Fahmy, perlu ada keseriusan dalam mencegah hal serupa terulang di kemudian hari. Hal itu, antara lain, melalui perbaikan sistem keamanan yang semestinya memenuhi standar internasional. Selain itu, perlu audit untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut. (Yoga)
Cocokkan Data Transaksi Mencurigakan Rp 349 Triliun
Polemik data transaksi mencurigakan Rp 349 triliun terkait Kemenkeua harus segera diakhiri agar publik tak kebingungan. Solusi yang dapat ditempuh ialah para pejabat yang ada di wadah yang sama, yaitu Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, duduk bersama mencocokkan data. ”Semua pihak di Komite TPPU ini harus diundang untuk duduk bersama dan rekonsiliasi data. Setelah itu baru data dirilis ke publik bersama-sama,” kata mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, saat dihubungi, Minggu (2/4).
Dia menekankan, ketua, sekretaris, dan anggota Komite TPPU perlu bekerja kolektif dan kolegial mencocokkan data mana yang valid dan benar. Pencocokan data menjadi penting karena data agregat yang disampaikan PPATK dalam laporan hasil analisis (LHA) ada dalam rentang waktu 14 tahun dan melibatkan banyak orang. Karena itu, ada potensi penghitungan ganda. Dengan duduk bersama mencocokkan data, semua pihak diharapkan memiliki pemahaman sama sehingga data diluruskan. (Yoga)
Menyelamatkan Industri TPT Nasional
Berita berjudul ”TPT Jungkir Balik Bertahan” (Kompas, 31/3) jadi sinyalemen, 2023 masih berat bagi industri padat karya ini meski ekonomi kita sendiri mulai pulih. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mengalami pukulan ganda, di pasar global dan domestik. Kadin serta Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) memprediksi ekspor tahun ini turun, karena turunnya permintaan dunia, akibat resesi global. Sepanjang triwulan I-2023 ini saja, pesanan ekspor anjlok 40-50 %. Sebelumnya, ekspor sudah turun 30 % pada September-Oktober 2022. Ironisnya, pasar domestik yang diharapkan bisa jadi penyelamat untuk menyerap produksi yang tak terserap pasar ekspor justru dibanjiri produk impor, baik legal maupun ilegal.
Ada kekhawatiran, situasi pelik yang membelit industri TPT ini jadi alasan melakukan PHK. Keluhan tentang produk TPT impor yang membanjiri pasar domestik bukan baru kali ini kita dengar.APSyFI menyebut 50 % pasar tekstil domestik dikuasai barang impor,terutama dari China. Menteri Koperasi dan UKM menyebut impor baju bekas ilegal menguasai 31 % pasar pakaian domestik. Jatuh bangunnya industri TPT nasional sebenarnya gambaran dari persoalan daya saing. Selain pasar domestik yang dikuasai produk impor (legal dan ilegal), industri TPT juga dihadapkan pada dan kian menyusutnya penguasaan pangsa ekspor. Industri TPT nasional juga masih bergantung pada bahan baku impor, seperti kapas yang 99 % masih impor. Akibatnya, rentan terhadap gejolak kurs. (Yoga)
Perlu Strategi Dongkrak Produksi Udang
Daya saing produk udang Indonesia turun ditengah persaingan pasar yang semakin ketat. Target mengejar kenaikan ekspor udang periode 2020-2024 sebesar 250 % terancam tidak tercapai. Langkah strategis diperlukan untuk mendongkrak daya saing. Udang adalah komoditas unggulan ekspor perikanan yang terus digenjot pemerintah. Kontribusi ekspor udang berkisar 30-40 % dari total ekspor perikanan. Pada periode 2020-2024, nilai ekspor udang ditargetkan mencapai 4,25 miliar USD atau tumbuh 250 %, sedangkan produksi ditargetkan 2 juta ton. Untuk mencapai target itu, setiap tahun volume ekspor diharapkan tumbuh 15 % dan nilai ekspor naik 20 %.
Meski diunggulkan, sepanjang tahun 2022 tren produksi dan volume ekspor udang cenderung melemah. Berdasarkan data KKP, pada 2022 volume ekspor udang tercatat 240.000 ton, turun dibandingkan 2021 di 250.700 ton. Nilai ekspor udang tercatat 2,16 miliar USD atau turun dibanding tahun sebelumnya, yaitu 2,23 miliar USD. Ketua Forum Udang Indonesia Budhi Wibowo menilai, problem penyakit udang jadi pemicu penurunan produksi. Salah satu penyakit yang merebak, yakni bintik putih, menyebabkan tingkat hidup (SR) udang menurun. Penggunaan pakan juga makin tidak efisien. Akibatnya, daya saing udang Indonesia turun di pasar global. (Yoga)
Inflasi Diprediksi Semakin Landai
Inflasi selama tiga bulan pertama tahun 2023 diprediksi 0,79 %. Angka itu lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 1,2 %. Secara umum inflasi tahunan diperkirakan melandai seiring meredupnya dampak ikutan kenaikan harga BBM. Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rachman, saat dihubungi Sabtu (1/4) memperkirakan, inflasi pada triwulan I-2023 dipengaruhi kenaikan harga dan permintaan sejumlah bahan pangan pada bulan Ramadhan. Namun, secara umum inflasi masih lebih rendah ketimbang triwulan I-2022 dan akan kembali ke kisaran2-4 % pada akhir tahun ini.
”Pasokan bahan pangan tergolong cukup, tetapi rawan menjadi terbatas karena musim panen belum mencapai puncaknya, ditambah lagi cuaca ekstrem yang melanda banyak daerah. Selain itu, (inflasi) ini didorong juga oleh peningkatan permintaan di sektor perhotelan, perjalanan, restoran, dan jasa rekreasi,” kata Faisal. Secara tahunan inflasi pada Maret 2023 diperkirakan 5,09 % atau melemah dibandingkan inflasi Februari 2023 yang tercatat 5,47 % secara tahunan. Sebab, volatilitas harga tahun lalu lebih besar di tengah perang Rusia ke Ukraina yang menyebabkan pasokan energi terhambat serta melonjaknya harga minyak goring akibat pencabutan harga eceran tertinggi (HET). Angka tersebut sudah lebih rendah ketimbang inflasi tahunan 2022 yang mencapai 5,51 %. (Yoga)
PGE Kantongi Rp 11 Miliar dari Karbon Kredit
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membukukan pendapatan dari karbon kredit 747.000 dollar AS, setara Rp 11,18 miliar. ”Ini membuka peluang baru yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi pengurangan emisi karbon,” kata Direktur Utama PGE Ahmad Yunianto, Sabtu (1/4/2023). Pendapatan ini dihasilkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Ulubelu dan Karaha. (Yoga)









