Pembiayaan Proyek Kereta Cepat Jadi Polemik Lagi
Proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) kembali jadi sorotan. Pemicunya masih seputar pembiayaan mega proyek ini.
Maklum, baru-baru ini Indonesia dan China sepakat untuk menambah biaya
(cost overrun)
proyek sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 17,76 triliun (kurs US$ 1=Rp 14.800). Alhasil, total biaya proyek yang berlangsung sejak 2016 itu melesat menjadi US$ 7,27 miliar.
Untuk menalangi
cost overrun,
China Development Bank (CDB) mengucurkan pinjaman US$ 560 juta atau sekitar Rp 8,3 triliun. Pinjaman ini memiliki bunga 3,4% dan tenor 30 tahun.
Indonesia memang masih menego permintaan China tersebut, dan menawarkan skema penjaminan utang dilakukan melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII).
Sejauh ini Direktur Utama PT PII Wahid Sutopo menyatakan belum menerima penugasan dari pemerintah untuk menjamin utang proyek KCJB.
Geliat Dunia Usaha Bisa Tertekan Daya Beli
Momentum Ramadan dan Lebaran membuat kegiatan ekonomi di kuartal II tahun ini makin menggeliat. Namun, masih banyak risiko yang menghantui dunia usaha ke depan. Terutama, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI) menunjukkan, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal II-2023 sebesar 21,44%, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 11,05%.
Hal ini tecermin dari naiknya kinerja berbagai lapangan usaha. Beberapa di antaranya, pertanian, kehutanan, dan perikanan yang diperkirakan mencatat SBT 2,87%, setelah pada kuartal I-2023 tercatat 0,93%.
"Peningkatan ini seiring dengan masih berlanjutnya panen raya pada kuartal II-2023," kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Jumat (14/4).
Juga, industri pengolahan diperkirakan mencatat SBT sebesar 2,52%. Setelah pada kuartal sebelumnya mencatat SBT 1,54%. "Ini karena permintaan masyarakat meningkat, didukung ketersediaan sarana produksi, dan kapasitas penyimpanan yang mencukupi," tambahnya.
Sedangkan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan motor diperkirakan mencatat SBT 2,33% dari bulan sebelumnya 1,41%. Sementara penyediaan akomodasi dan makan minum diperkirakan mencatat SBT 0,90%, sejalan dengan permintaan dalam negeri yang meningkat menjelang Idul Fitri.
Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani juga meyakini, makin kuatnya geliat dunia usaha di kuartal II-2023. Salah satunya adalah kinerja manufaktur Indonesia yang terus meningkat.
MINAT IPO MASIH TINGGI NAVIGASI
Euforia calon emiten untuk melantai di Bursa Efek Indonesia cukup besar meskipun kondisi ekonomi secara global diprediksi masih penuh tantangan. Pasar domestik yang tetap ditantang oleh sejumlah isu seperti tingkat suku bunga the Fed, inflasi, hingga geopolitik, tak melunturkan euforia para calon emiten yang siap melantai di bursa. Optimisme tersebut tecermin dari realisasi penawaran saham perdana atau IPO di BEI pada periode April 2023, yang tercatat mencapai sekitar 30 perusahaan, dengan dana yang dihimpun Rp22,7 triliun. Jumlah perusahaan tersebut, Ernst & Young (EY), melonjak jika dibandingkan dengan jumlah calon emiten pada kuartal I/2022 sebanyak 12 emiten dengan nilai emisi yang hanya sekitar Rp3 triliun. Sepanjang 2023, BEI menargetkan jumlah IPO sebanyak 57 perusahaan. Per 14 April 2023 realisasi tersebut telah terhitung mencapai 54% dari target. Adapun, yang masuk dalam pipeline mencapai 49 perusahaan. Adapun, tantangan lainnya datang dari likuidasi yang tinggi dan kinerja pasca-IPO yang buruk dari SPAC (Special Purpose Acquisition Company) berpotensi mengurangi selera investor untuk IPO baru. Data yang dipublikasikan EY Global IPO Trend Q1/2023, mengungkapkan dari total 299 transaksi IPO yang tercatat senilai US$21,5 miliar, setiap transaksi mengalami penurunan 8% dan 61% year-on-year (YoY). Indonesia menjadi negara yang paling aktif pada kuartal I/2023 melalui 30 IPO yang menorehkan pendapatan US$828 juta. Thailand membuntuti Indonesia dengan 10 IPO yang mencatatkan pendapatan US$322 juta, Malaysia 10 IPO dengan US$238 juta, dan Singapura dengan 1 IPO senilai US$15 juta. Sahala Situmorang, EY Indonesia Strategy and Transactions Partner, mengatakan selama 4 bulan terakhir, Indonesia telah melihat total nilai emisi ekuitas meningkat dari Rp15 triliun pada 2019 menjadi Rp33 triliun pada 2022. Faktanya, sepanjang 2022 pasar modal nasional mencatat jumlah deals terbesar dalam sejarah dengan 59 IPO. Perusahaan teknologi, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) menjadi yang paling terkenal dengan nilai Rp14 triliun dalam penawaran ekuitasnya.
Pantang Kendur Sektor Manufaktur
Optimisme masih menaungi para pelaku usaha sektor manufaktur di Indonesia. Hal itu tecermin dalam Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) edisi kuartal I/2023 yang menunjukkan angka ekspansif. Pada periode tersebut, PMI-BI mencapai 50,75%, lebih tinggi ketimbang realisasi kuartal IV/2022 yang tercatat 50,05%. Angka indeks di atas 50 memberikan sinyal adanya ekspansi usaha, sebaliknya jika di bawah 50, maka mengindikasikan telah terjadi kontraksi di sektor manufaktur. PMI-BI merupakan indeks komposit yang diperoleh dari lima indeks yaitu volume pesanan barang input, volume produksi atau output, ketenagakerjaan, kecepatan waktu pengiriman dari pemasok, serta volume persediaan. Adapun, survei kuartal I/2023 melibatkan 624 responden. Jika ditilik lebih lanjut, angka PMI-BI juga selaras dengan berbagai indikator kinerja sektor manufaktur yang dirilis sejumlah lembaga. S&P Global misalnya, merilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Maret sebesar 51,9 atau naik dari bulan sebelumnya. Alhasil, kita pun dapat berharap banyak pada kinerja sektor manufaktur ke depan. Apalagi, jika mengacu pada prakiraan PMI-BI pada kuartal II/2023, yang tembus 54,79%. Geliat sektor manufaktur tentu akan membawa angin segar bagi perekonomian nasional. Kendati belakangan kontribusinya ke produk domestik bruto cenderung menurun, tetapi sektor ini tetap memainkan peran penting dalam menggerakkan roda ekonomi.
SURVEI BI : Geliat Dunia Usaha Kian Kuat
Bank Indonesia memprediksi geliat dunia usaha akan makin meningkat pada kuartal II/2023 setelah kinerja industri pengolahan Indonesia menguat pada kuartal I/2023. Kepala Departemen komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono mengatakan hal itu merujuk hasil survei kegiatan dunia usaha yang digelar bank sentral. Menurutnya, geliat dunia usaha terlihat dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang mencapai 21,44%, atau lebih besar dibandingkan dengan perkiraan SBT pada kuartal pertama yakni 11,05%. “Peningkatan kegiatan usaha diperkirakan terjadi pada beberapa lapangan usaha utama, yaitu lapangan usaha pertanian seiring masih berlanjutnya panen raya dan lapangan usaha pertambangan didukung oleh ketersediaan sarana produksi,” ujarnya, Jumat (14/4). Erwin juga menyampaikan bahwa survei BI turut mengindikasikan adanya peningkatan kinerja kegiatan dunia usaha pada kuartal I/2023. “Terlihat dari nilai SBT sebesar 11,05%, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal IV/2022 sebesar 10,71%,” kata Erwin.
PERUSAHAAN TERBUKA : MUSIM BAGI DIVIDEN TELAH TIBA
Sejumlah emiten mengumumkan bakal menebar dividen kepada investor pasar saham pada tahun ini setelah mencatatkan kinerja gemilang sepanjang tahun lalu. Tahun ini bisa jadi merupakan periode berkah bagi investor saham. Setelah melalui tahun yang sulit karena pandemi Covid-19 selama lebih dari 2 tahun, beberapa emiten mulai meraup keuntungan. Salah satu emiten yang siap membagikan dividen datang dari emiten menara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel. Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama menyatakan pihaknya akan membagikan dividen tunai dengan rasio 99% untuk tahun buku 2022. Dengan persentase tersebut membuat total dividen yang akan didistribusikan emiten anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk. yang bergerak dalam bidang infrastruktur telekomunikasi itu mencapai Rp1,76 triliun. “Untuk dividen payout ratio masih sama, yakni maksimal 70% untuk tahun buku 2022. Kami menambahkan bonus dividen sebesar 29% sehingga totalnya adalah 99%,” katanya dalam paparan publik, Jumat (14/4). Hendra menambahkan bahwa dividen akan didistribusikan kepada para pemegang saham maksimal sebulan setelah pelaksanaan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) atau sekitar 17 Mei 2023. Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan, pembagian dividen merupakan bentuk komitmen Mitratel untuk memberikan nilai terbaik kepada para pemegang saham. Untuk melanjutkan pertumbuhan kinerja positif pada tahun ini, dia menyatakan telah menyusun strategi pengembangan ekosistem menara dengan terus menjaga pertumbuhan bisnis organik, ekspansi layanan pada ekosistem menara, dan menangkap peluang inorganik.
OPERATOR BANDARA : Angkasa Pura II Cetak Laba Rp91,9 Miliar
PT Angkasa Pura II berhasil mencatatkan laba bersih sepanjang 2022 sebesar Rp91,90 miliar setelah pada tahun sebelumnya mencetak rugi Rp3,79 triliun. Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II Muhammad Awaluddin memaparkan pencapaian itu ditopang oleh pendapatan perusahaan yang tumbuh 54,55% dari Rp5,44 triliun pada 2021 menjadi Rp8,41 triliun pada 2022. Pertumbuhan pendapatan turut mengerek naik laba usaha AP II menjadi Rp934,11 miliar pada 2022 dari sebelumnya negatif Rp2,52 triliun. “Pencapaian ini adalah kali pertama AP II mencatatkan laba bersih sejak pandemi Covid-19 pada 2020,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (14/4). Hal tersebut dimanfaatkan perseroan untuk memulihkan kinerja melalui beragam upaya seperti memastikan ketersediaan slot time di bandara, dan membuka rute baru serta mengaktivasi rute nonaktif bekerja sama dengan maskapai penerbangan. Secara kumulatif, dia mencatat 20 unit bandara AP II melayani sekitar 62 juta penumpang sepanjang 2022 atau naik 100% dari 2021 sebanyak 31 juta penumpang. Director of Finance AP II Hilda Savitri menambahkan kinerja positif perseroan pada 2022 tidak lepas dari upaya pengendalian biaya melalui program cost leadership. Melalui program itu, paparnya, AP II dituntut efektif dan efisien guna mendukung pencapaian pendapatan.
PERLINDUNGAN KEKAYAAN INTELEKTUAL : MEMBANGUN KESADARAN MEREK
Kesadaran para pelaku usaha lokal untuk memiliki merek atau brand saat ini makin meningkat seiring dengan keinginan untuk mengembangkan skala bisnis. Meski demikian, masih belum banyak yang menyadari untuk melindungi merek yang dimiliki dengan mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Padahal, dengan mendaftarkan HKI ke Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI, pelaku usaha akan terlindungi dari risiko plagiasi atau duplikasi yang mungkin akan mengancam pengembangan bisnisnya ke depan. Direktur Merek & Indikasi GeografiDirektorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kurniaman Telaumbanua mengatakan bahwa pendaftaran merek akan membuat nilai jual dan daya saing produk lokal meningkat. Sebab, HKI pada dasarnya merupakan aset yang memiliki nilai ekonomis dan dapat digolongkan sebagai aset perusahaan dalam kategori aset tidak bergerak.
Menurutnya, ketika suatu merek sudah didaftarkan dan dapat berkembang menjadi merek yang memiliki reputasi baik, maka dapat dikomersialisasikan, salah satunya melalui perjanjian lisensi merek sehingga mereknya bisa digunakan oleh pihak lain secara aman tanpa khawatir terjadinya plagiasi. “Lisensi merek dapat menjadi salah satu sarana bagi pemilik merek untuk melindungi mereknya sekaligus mengkomersialisasikan kekayaan intelektual dengan memberikan ijin kepada pihak lain menggunakan mereknya,” kata Kurniawan. Sementara itu, Susanty Widjaya Ketua Umum Asosiasi Lisensi Indonesia mengatakan bahwa sebuah merek atau brand memiliki suatu kekuatan yang dapat membuat nilai jual sebuah produk menjadi meningkat. Dia mencontohkan secangkir kopi yang memiliki merek dan tidak memiliki merek harganya akan berbeda jauh.
Susanty yang merupakan pemilik Bakmi Naga mengatakan brand produknya sudah terdaftar di DJKI Kemenkumham. Bermula dari sebuah gerobakan kecil hingga dapat berkembang dan memiliki cabang di seluruh Indonesia hingga ke Merauke. “Bicara HKI maka bukan hanya merek saja yang bisa didaftarkan tetapi juga ada kemasan, paten dan keunikan dari tekstur bakmi juga bisa didaftarkan,” tuturnya.
Masih Ada THR Rp 37 Triliun dari Bursa
Kalau Anda masih mengincar THR dari bursa, tidak perlu bingung. Masih banyak emiten yang bakal membagikan dividen. Dari emiten yang sudah mengumumkan rencana membagi dividen, berdasarkan hitungan KONTAN, setidaknya akan ada dana Rp 37,04 triliun yang bakal masuk pasar.
Di antara emiten yang sudah mengumumkan detail jadwal pembagian dividen, 11 di antaranya masih bisa diburu dividennya karena belum
cum date. Hari ini, ada dua emiten yang mencapai
cum date, yaitu PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dan PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA).
Nilai dividen kedua emiten ini juga lumayan menggiurkan. ROTI membagi dividen sebesar Rp 106,55 per saham. Bila dihitung menggunakan harga penutupan ROTI kemarin di Rp 1.600,
yield
dividen produsen Sari Roti ini 6,66%.
CEO Edvisor.id Praska Putrantyo menuturkan, emiten dengan
yield
dividen 5% ke atas bisa dipertimbangkan untuk diburu. Ia menilai
yield
dividen JPFA berpotensi mencapai 5%.
Konsumsi Masyarakat Tumbuh Melambat
Daya beli masyarakat menghadapi tantangan pada tahun ini. Kondisi ini bahkan sudah terlihat dari laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal IV-2022 yang diprediksi melambat dari kuartal sebelumnya.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal IV-2022 berada di kisaran 5% secara tahunan. Proyeksi tersebut melambat dari kinerja pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal III-2022 yang sebesar 5,39% secara tahunan. Perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga itu seiring dengan perlambatan kinerja sejumlah indikator konsumsi pada periode tersebut. Sebut saja Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) kuartal IV-2022 yang sebesar 119,7, lebih rendah dibandingkan IKK pada kuartal III-2022 yang sebesar 121,7.
Menurut David, pelemahan indikator konsumsi ini seiring dengan faktor rambatan (second round impact) dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di September 2022.
Artinya, di tahun politik ini, pemerintah harus bisa memberi rasa aman ke masyarakat. Sedangkan Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tahun ini berada di kisaran 4,5% secara tahunan hingga 4,6% secara tahunan.









