Perkuat Literasi Digital Masyarakat, BRImo Catatkan Volume Transaksi Rp 1.210 Triliun Hingga April 2023
Edukasi Literasi Keuangan terus digaungkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, terlebih di era pada saat ini dimana perubahan pola transaksi masyarakat telah terjadi secara masif, dari semula dilakukan oleh masyarakat secara konvensional kini beralih menjadi transaksi dengan menggunakan platfrom digital. Hal tersebut ditunjukkan dari peningkatan transaksi pada super apps yang dimiliki BRI, BRImo. Keberhasilan peningkatan transaksi secara massif tersebut terlihat dari volume transaksi yang mencapai Rp 1.201 triliun dalam 4 bulan pertama tahun 2023 atau per April 2023. Jumlah ini naik 77% year-on-year (yoy) jika dibandingkan dengan posisi April 2022 sebesar Rp 678,9 triliun. Literasi digital dan kemudahan transaksi terus diberikan oleh BRI melalui super apps-nya
Lampu Kuning Industri Manufaktur Indonesia
Langkah Indonesia membangun industri manufaktur masih kepayahan. Alih-alih berkembang, kontribusi manufaktur terhadap produk domestik (PDB) Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhr cenderung menyusut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sumbangsih sektor ini terhadap PDB nasional pada kuartal I-2023 mencapai 18,57%. Angka ini memang naik ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 18,34%.
Melemahnya kinerja manufaktur pun berdampak terhadap penerimaan pajak dari sektor tersebut. Padahal selama ini industri pengolahan merupakan tumpuan utama penerimaan pajak dengan kontribusi sebesar 27%.
Mengacu data Kementerian Keuangan, penerimaan pajak dari sektor manufaktur periode Januari-April 2023 hanya tumbuh 9,5%
year on year
(yoy). Angka ini jauh melambat dibanding periode sama tahun lalu yang tumbuh 51% yoy.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, melambatnya pertumbuhan penerimaan pajak dari sektor manufaktur masih perlu dicermati. "Ini tentu harus kita lihat apakah ada policy driven, pelemahan ekonomi yang mulai terlihat atau karena basis baseline tahun lalu yang meningkat sangat tinggi," kata Sri Mulyani, belum lama ini.
Survei Litbang Kompas baru-baru ini juga memperlihatkan, tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo di bidang ekonomi termasuk rendah dibandingkan bidang lain. Salah satu penyebabnya, pemerintah dinilai belum mampu menyediakan lapangan kerja dan mengatasi pengangguran.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yuhdistira melihat, melemahnya kinerja manufaktur seirama dengan pelemahan harga komoditas, utamanya minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). "Harga CPO di pasar internasional sudah anjlok 43,9% yoy per 26 Mei 2023," kata dia kepada KONTAN, kemarin.
Isu Debt Ceiling Amerika Ikut Menekan Rupiah
Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS) sedang merampungkan pembahasan mengenai plafon utang AS (
debt ceiling
). Langkah ini merupakan response kekhawatiran global akan potensi gagal bayar utang Negeri Paman Sam, yang berpotensi memunculkan perubahan peringkat utang negara itu.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, tensi tinggi di AS akan memberikan dampak terhadap Indonesia. Terlebih, kesepakatan belum dicapai. Alhasil, ada kemungkinan ambang batas utang yang tinggi atau ambang batas utang ditetapkan rendah.
"Ini menimbulkan ketidakpastian pasar keuangan global, akibat isu negosiasi ini dolar AS kemudian menguat dan memengaruhi nilai tukar, termasuk Indonesia," terang dia dalam konferensi pers, belum lama ini.
Namun dia memastikan, bank sentral akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal tersebut akan dilakukan lewat triple intervention, yaitu intervensi di pasar spot, pasar domestic non deliverable forward (DNDF) dan pasar surat berharga negara (SBN) sekunder.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan, dalam masa pembicaraan, akan ada ketidakpastian di pasar keuangan global sehingga banyak investor yang akan mengambil langkah untuk menghindari risiko ( risk off ).
Perkiraan Faisal, nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp 15.000 per dolar AS dalam jangka pendek. Namun, ada kemungkinan rupiah menguat kembali ke kisaran Rp 14.800 hingga Rp 14.900 per dolar AS pada Juni 2023.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat pembicaraan mengenai batas utang AS tak memberikan dampak signifikan terhadap Indonesia, terutama di pasar obligasi.
Menanti Akhir Kisah Divestasi Saham INCO
Rencana PT Vale Indonesia (INCO) melepas 11% saham kepada Pemerintah Indonesia lewat skema divestasi terus bergulir.
Langkah divestasi 11% saham dari milik Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd ini, merupakan bagian dari kewajiban emiten pertambangan nikel ini untuk memenuhi syarat pengalihan status kontrak karya (KK) menjadi izin usaha pertambangan khusus atau IUPK.
Vale beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968 lewat KK pertama. Tahun 2014, KK INCO diperpanjang hingga 28 Desember 2025. Artinya, dua tahun ke depan, KK INCO di Indonesia akan berakhir.
Agar bisa terus beroperasi di Indonesia, INCO harus dapat IUPK. Syaratnya, INCO harus divestasi saham 51% kepada pemerintah Indonesia, pemerintah daerah, BUMN, badan usaha milik daerah atau investor swasta. Syarat ini sesuai titah Undang-Undang (UU) No 3/2020 Pasal 112 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Saat ini mayoritas saham INCO milik Vale Canada Limited 44,3%, Sumitomo Metal Mining Co Ltd (SMM) 15%. Lalu, 20,18% milik Inalum (Mind ID). Sisanya 20,7% dikuasai publik di pasar modal.
Head of Communications Vale Indonesia, Bayu Aji Suparam mengungkapkan, INCO telah memenuhi kewajiban divestasi sebesar 40%, ke Pemerintah Indonesia dan publik. Vale masih perlu melakukan divestasi tambahan sesuai UU sebanyak 11%.
Dengan begitu, divestasi INCO tanpa memperhitungkan saham publik, baru mencapai 20,1%, Artinya INCO masih harus melepas sekitar 31% untuk divestasi 51%.
DAG-DIG-DUG DIGITALISASI
Kasus peretasan yang sempat terjadi seakan ‘menampar’ wajah industri keuangan di Tanah Air yang belakangan gencar melakukan transformasi digital. Sejumlah kalangan pun menyerukan agar peningkatan keamanan data serta sistem pemulihan kala terjadi bencana segera diperkuat. Demikian pula dengan urgensi implementasi regulasi keamanan negara dan penyelenggaraan teknologi informasi oleh pelaku jasa keuangan. Hal itu harus dilakukan guna melindungi nasabah sekaligus menjaga kredibilitas sektor jasa keuangan. Apalagi, Indonesia juga merupakan salah satu negara yang getol membawa isu keuangan digital di berbagai forum internasional.
Berbahaya, Jika Selisih FFR dan BI7DRR Tinggal 25 Bps
JAKARTA, ID — Untuk mencapai target laju inflasi 2%, Bank Sentral AS kemungkinan besar akan menaikkan lagi fed funds rate (FFR) 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), Juni 2023. Jika BI 7-day reverse repo rate (BI7DRR) tetap di level 5,75%, maka selisih kedua suku bunga acuan hanya 25 basis poin, jauh dari tingkat selisih yang dinilai aman, 100 basis poin. Tidak ada pilihan lain bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan lagi suku bunga acuan hingga 6,50% guna mencapai tingkat selisih yang aman. Kendati demikian, inflasi Indonesia tahun 2023 yang diperkirakan bisa dikendalikan di bawah 4,5% masih memberikan real interest rate yang lumayan. Selain itu, yield surat berharga negara (SBN) dan return saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih lebih menarik dibanding yield T-Bonds dan return saham di Wall Street. Kalau pun BI7DRR tidak dinaikkan, capital inflow masih akan terjadi dan dengan demikian, rupiah akan relatif stabil. Kendati demikian, berbagai hal tak terduga bisa saja terjadi. BI jangan sampai terlambat mengambil keputusan, sehingga terkesan behind the curve. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, The Federal Reserve (Fed) masih melakukan pengendalian inflasinya yang tinggi 4,9% pada April 2023 secara year on year (yoy), sehingga masih akan menaikkan bunga acuannya yang saat ini 5,00-5,25%. Idealnya, selisih suku bunga acuan BI dan The Fed minimal 100 bps, sementara saat ini hanya 50 bps. “Saat The Fed menaikkan bunga acuannya Juni, hal ini akan berimbas ke bank sentral negara berkembang ikut menaikkan suku bunga acuannya. (Yetede)
Prospek Ekonomi Asia & RI
Laporan World Economic Outlook IMF yang terbit menjelang pertengahan 2023 menggambarkan lanskap ekonomi global yang penuh tantangan. Pengetatan moneter yang sedang berlangsung di negara-negara maju dan berkembang, efek dari perang Rusia di Ukraina yang terus berlanjut dan masalah sektor keuangan di AS dan Eropa, menimbulkan tantangan besar bagi perkembangan ekonomi dunia. Bagaimana dengan Asia? Meskipun tantangan global turut memengaruhi kawasan, kami memperkirakan kawasan Asia-Pasifik akan menjadi titik terang dalam ekonomi global, yang menyumbang sekitar 70% pertumbuhan global tahun ini. Laporan Regional Economic Outlook IMF untuk Kawasan Asia-Pasifik periode April 2023 menunjukkan bahwa permintaan domestik sejauh ini tetap kuat, terlepas dari melemahnya permintaan eksternal dan pengetatan moneter.
Di Indonesia, pemulihan juga diperkirakan akan tetap kuat, mencapai 5% pada 2023, meskipun sedikit melambat dari tahun 2022 yang tercatat 5,3%. Meskipun prospek kawasan Asia-Pasifik kuat, risiko cenderung bias ke bawah. Dalam jangka pendek, tekanan harga dari global dan regional tetap menjadi risiko utama. Pengetatan moneter oleh bank sentral di kawasan yang diiringi dengan penurunan harga komoditas dan biaya pengangkutan telah berkontribusi meredam dinamika inflasi. Namun, inflasi inti masih tinggi dan inflasi umum masih di atas target bank sentral di banyak negara.
Tekanan inflasi membutuhkan kewaspadaan yang berkelanjutan. Di negara-negara yang masih mengalami inflasi yang tinggi, kebijakan moneter perlu tetap ketat hingga inflasi turun kembali sesuai target. Di Indonesia, tekanan inflasi dari sisi fundamental relatif terbatas. Data terkini menunjukkan bahwa inflasi diperkirakan akan turun ke kisaran target Bank Indonesia pada paruh kedua tahun ini, sementara inflasi inti diperkirakan berada sedikit di bawah titik tengah sasaran inflasi.
Masalah sektor keuangan di Eropa dan AS menjadi berita utama dalam beberapa bulan terakhir. Sejauh ini, dampaknya ke kawasan Asia relatif terbatas, meski terdapat kerentanan di sektor rumah tangga dan korporasi yang dapat terdampak pengetatan keuangan global dan gejolak pasar. Di Indonesia, sektor keuangan berhasil bangkit dari pandemi dengan kondisi yang kuat, tetapi pengawasan yang ketat tetap diperlukan.
PERETASAN DI SEKTOR KEUANGAN : TAMPARAN DI ERA SERBA DIGITAL
Seorang eksekutif perusahaan penyedia sistem teknologi keuangan, membagikan potongan artikel koran terbitan The Straits Time Singapura. Judul artikel itu, Woman scans QR code for free milk tea, and loses $20.000 while asleep. Kisah dalam potongan artikel itu, seorang perempuan berusia 60 tahun tertarik dengan tawaran mendapatkan gratis minuman dengan cara mengisi survei online melalui ponsel android miliknya. Dirinya lantas mengikuti petunjuk pengisian survei dengan mengunduh (download) satu aplikasi. Dia juga memindai (scan) kode quick response (QR) yang muncul lewat aplikasi tersebut. Pada saat malam hari, dia menyadari ponselnya menyala dengan sendirinya. Rupanya, dari aplikasi yang diunduh sebelumnya, telah digunakan oleh peretas untuk mengambil alih perangkatnya dari jarak jauh. Peretas berhasil menembus sistem dan memindahkan dana di rekening bank miliknya senilai 20.000 dolar Singapura. “Kejadian kayak gini di Indonesia sudah banyak, cuma tidak terekpose,” kata eksekutif tersebut melalui pesan Whatsapp. Dia menyadari transaksi keuangan berbasis digital di Indonesia sedang berkembang pesat. Penggunaan mobile banking, internet banking, kartu elektronik, hingga QR Code, sudah menjadi keseharian masyarakat. Saat euforia layanan keuangan digital tengah tinggi, justru muncul sejumlah kasus peretasan di industri keuangan seperti perbankan dan jasa keuangan. Situasi yang ‘menampar’ digitalisasi di industri jasa keuangan Tanah Air.
Dalam perspektif Ardi Sutedja, Pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), serangan siber ke infrastruktur perbankan maupun layanan jasa keuangan lain, sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Menurutnya, karakter peretas tidak pernah melakukan penyerangan secara seketika, melainkan melakukan secara bertahap dan berjenjang. “Kami sebut peretas itu kelompok manusia yang paling sabar sedunia karena melakukan aksi secara bertahap dan berjenjang, tanpa terikat waktu. Hal terpenting dia masuk, cari celah yang lemah, sampai dia yakin dengan apa yang mereka dapat, dan tidak akan berhenti,” katanya kepada Bisnis. Merujuk temuan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), layanan administrasi pemerintahan menjadi ‘sarang’ peretasan paling tinggi pada 2022. Jumlahnya mencapai 890 notifikasi yang yang diterima lembaga itu sebagai bentuk serangan siber. Serangan lain yang tertinggi menyasar sektor informasi dan komunikasi, kesehatan, dan keuangan.
18 Bank Sabet Predikat Bank Terbaik 2023
JAKARTA, ID - Di tengah kekhawatiran terhadap ketidakpastian ekonomi dan finansial global, sejumlah bank mampu mencatatkan kinerja paling unggul di kelasnya masing-masing. Bank-bank unggulan ini berhasil mengeksekusi strategi sehingga mampu meredam dampak global, bahkan bisa tumbuh impresif. Bank-bank berkinerja unggul mengemuka dalam ajang Pemeringkatan Bank 2023 versi Investor Daily, media di bawah Grup B-Universe. Tim juri yang terdiri atas pengamat perbankan Soebowo Musa dan pengamat pasar modal Hans Kwee, telah menetapkan 18 pemenang bank terbaik berdasarkan kategori yang dibuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yaitu POJK No 12/POJK.03/2021 tentang pengelompokan bank berdasar modal inti. Penghargaan kepada pemenang dilakukan secara daring, Jumat (26/05/2023). Selain bank-bank berkinerja terbaik, Tim Juri menganugerah kan penghargaan khusus kepada satu bank umum nasional karena dinilai konsisten dan paling sukses menjalankan transformasi digital. Di jajaran bank kasta teratas dengan modal inti di atas Rp 70 triliun (KBMI IV), PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri), PT Bank Central Asia Tbk (BCA), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) unggul sebagai “Top 3” Bank Terbaik 2023. (Yetede)
MODUS SERANGAN SIBER : WASPADA JEBAKAN DATA
Anda barangkali pernah menerima pesan singkat dengan lampiran file .apk. Pesan itu beragam, ada yang berupa berkas daftar pemenang undian, undangan pernikahan, surat panggilan kerja, dan format lainnya. File .apk dikutip dari situs Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bermakna Android Package Kit. Berkas .apk dikirim melalui pesan whatsapp. File itu merupakan bentuk serangan siber yang berpotensi mencuri data-data pribadi pengguna ponsel. Apabila penerima pesan mengakses berkas .apk tersebut, peretas akan akan mendapatkan akses terhadap short message service (SMS) dan token SMS-banking. Modus kejahatan itu, jika aplikasi diakses oleh pengguna, akan muncul pemberitahuan akses Baca SMS atau MMS. Jika diizinkan, SMS yang tersimpan di ponsel atau kartu simcard akan dapat dibaca oleh peretas. Akses selanjutnya yang diminta adalah untuk melakukan aktivitas Terima SMS juga diminta. Jika diizinkan, peretas dapat memonitor bahkan menghapus pesan tanpa sepengetahuan korban. Akses selanjutnya yang diminta adalah untuk melakukan aktivitas Kirim SMS. Jika diizinkan, pelaku dapat mengirimkan SMS berbayar tanpa perlu melakuan konfirmasi terlebih dahulu kepada korban.
Bhimo Wikan Hantoro, Direktur Digital & Operasional PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) mengatakan bahwa malware yang dikirimkan para peretas memang dapat melakukan scanning terhadap seluruh file di komputer milik perusahaan. “Beberapa kasus peretasan sistem dilakukan melalui social engineering atau phising untuk memasukkan malware kedalam jaringan sehingga dapat melakukan scanning terhadap seluruh file di komputer,” kata Bhimo kepada Bisnis, Jumat (26/5). Melalui jalur yang dibangun melalui sistem, lanjutnya, serangan dapat mencuri data secara otomatis. Bahkan, beberapa serangan terkadang menyerang secara langsung aplikasi melalui jaringan internet yang dapat diidentifikasi melalui perangkat keamanan seperti Web Application Firewall (WAF). Bank Raya, jelasnya, memperkuat sistem keamanan infrastruktur digital, monitoring sistem keamanan serta meningkatkan fitur keamanan di berbagai layanan digital yang digunakan. Sementara untuk memitigasi risiko, kata Bhimo, perusahaan melakukan pemantauan rutin terhadap potensi serangan siber di sistem keamanan layanan digital dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menggunakan fraud detection system.









