Strategi Ampuh Hadapi Gelombang Tarif Balasan AS
Dampak Tarif Trump Berpotensi Kurangi Penerimaan Pajak
Properti Lesu Dihantam Lemahnya Daya Beli
Perbankan Waspada: Likuiditas Menuju Titik Kritis
PDB Tergerus Tarif Resiprokal AS
Pengenaan tarif resiprokal oleh AS terhadap Indonesia berpotensi mengikis pertumbuhan ekonomi dan PDB. Pemerintah RI perlu bernegosiasi dengan AS bermodal laporan tahunan Estimasi Perdagangan Nasional (NTE) 2025 yang diterbitkan Kantor Perwakilan Dagang AS. Pemerintah RI juga diminta mengisi kekosongan dubes RI untuk AS. Pada 2 April 2025 waktu AS, Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif resiprokal untuk Indonesia sebesar 32 %, berlaku 9 April 2025. Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, Jumat (4/4) berkata, AS merupakan mitra dagang terbesar kedua Indonesia. Kontribusi AS ke total ekspor Indonesia 10,3 %. Saat tarif resiprokal diimplementasikan, ekspor Indonesia, baik ke AS maupun mitra dagang lain, diperkirakan turun 2,83 %, karena dampak langsung ataupun tak langsung pemberlakuan tarif itu.
”Dampak tidak langsungnya, di saat ekspor negara-negara mitra dagang RI ke AS turun akibat kebijakan tarif AS, ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut juga bakal turun. Contohnya, ketika ekspor China ke AS turun, ekspor RI ke China juga berpotensi turun,” ujarnya dalam diskusi daring bertajuk ”Waspada Genderang Dagang”. Penurunan ekspor akibat dampak langsung dan tak langsung akan menyebabkan perlambatan produksi dalam negeri. Ketua Umum Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia, Budhi Wibowo mengatakan, akibat kenaikan tarif, beberapa calon pembeli di AS membatalkan pembelian. Sejumlah eksportir pengolahan udang juga menunda pembelian bahan baku dari petambak. Dampak terburuk jika tarif itu berlaku, adalah PHK di sektor industri pengolahan dan eksportir.
Olah karena itu, Pemerintah RI tak boleh meremehkan dampak pengenaan tarif resiprokal AS. Pemerintah harus segera menunjuk dubes RI untuk AS dan menjalankan misi diplomasi secara terukur dan intensif dengan Pemerintah AS. Fithra Faisal Hastiadi, pengamat perdagangan internasional dari Fakultas Ekonomi Bisnis UI, menilai, Pemerintah RI terkesan kurangmengantisipasi pemberlakuan tarif resiprokal AS. Salah satu indikatornya adalah Pemerintah RI tidak segera menunjuk dan melantik dubes RI untuk AS. Pemerintah RI juga terkesan kurang siap dengan berbagai tudingan AS terkait beberapa kebijakan Indonesia yang tertuang dalam NTE 2025 AS. Dalam NTE itu terdapat beberapa kebijakan RI yang dinilai merugikan AS, baik itu berupa kebijakan tarif maupun nontarif. (Yoga)
Anteng Setelah Menenteng Bandeng Balik ke Perantauan
Dua hari menjelang Lebaran, toko oleh-oleh Bu Muzanah Store di Jalan Sindujoyo, Gresik, Jatim, diserbu pembeli, Sabtu (29/3). Sebagian bahkan rela mengantre hingga 1,5 jam untuk mendapatkan aneka olahan bandeng dan camilan khas Gresik. ”Setiap mendekati Lebaran, situasinya seperti ini. Kalau tidak datang pagi, konsumen sulit dapat,” kata Siswanto saat mengantre di Bu Muzanah Store, Sabtu petang. Warga Surabaya yang akan mudik ke Pacitan itu menyempatkan membeli oleh-oleh untuk dibawa ke kampung halaman. Ia bersama istrinya rela menahan panasnya terik matahari Surabaya, berkendara satu jam ke Gresik.
Setiba di toko oleh-oleh, mereka langsung membeli otak-otak bandeng, bandeng asap, bandeng presto, atau bandeng bakar. Setelah menenteng oleh-oleh bandeng untuk dibagikan kepada tetangga dan teman, hati pun jadi anteng dan lega. 30 meter seberang Bu Muzanah Store, terdapat kios Otak-otak Bandeng Mak Cah. Di kios ini pun terpasang tulisan otak-otak habis. Olahan bandeng lainnya, yakni bandeng asap atau bandeng presto, juga sudah habis. Kawasan itu adalah surga oleh-oleh bandeng. Produk seperti bandeng asap tanpa duri dijual Rp 60.000 per ekor, bandeng bakar tanpa duri senilai Rp 55.000 per ekor, bandeng presto Rp 45.000 dan bandeng pepes tanpa duri Rp 50.000 dan otak-otak bandeng Rp 75.000.
Harga jual olahan bandeng di Jalan Sindujoyo ini relatif sama mencerminkan kesetaraan pengusaha oleh-oleh. Jika kehabisan di toko oleh-oleh, konsumen bisa mencoba datang ke kedai olahan bandeng. Salah satunya, Rumah Makan Bandeng Pak Elan 2, sekitar 2 km dari Gerbang Tol Romokalisari. Seporsi otak-otak bandeng seharga Rp 90.000, nasi hangat, dan sayur asem siap dilahap. ”Kalau kehabisan bandeng di Sindujoyo, cari saja ke rumah makan bandeng, misalnya Pak Elan, minta dibungkus. Sama saja, yang penting dapat oleh-oleh khas. Kalau masih tidak kebagian juga, ya, terima nasib, Mas,” ujar Marsudi, penjual bandeng olahan dan bonggolan khas Gresik. (Yoga)
Menghadapi Realitas yang Pahit
Arus mudik dan arus balik tahun ini terbilang lancar. Namun, realitas pahit menghadang siapa saja seusai Lebaran ini. Jumlah pemudik secara nasional turun 24 % dibanding tahun 2024. Pemerintah juga menerapkan berbagai strategi, mulai dari program mudik gratis, rekayasa one way di ruas tol ataupun ke arah obyek wisata, sampai optimalisasi angkutan umum, untuk mendukung kelancaran mudik dan balik. Tak bisa dimungkiri bahwa mengecilnya angka pemudik merupakan dampak dari kondisi ekonomi yang melanda negeri ini. Sebagian warga memilih tidak mudik karena ketiadaan ongkos atau sengaja berhemat setelah mengalami tekanan, termasuk menjadi korban PHK.
Seusai Lebaran, hantaman baru bakal memperberat situasi, yaitu dampak kebijakan tarif Trump terhadap Indonesia. Sejumlah komoditas yang diekspor ke AS biayanya melonjak tinggi sehingga tidak kompetitif di pasaran domestik AS. Akibatnya, negara eksportir harus mengurangi pengiriman produknya atau melakukan efisiensi produksi sehingga harganya dapat ditekan agar tetap terjangkau di pasar AS. Negara eksportir juga dipaksa mencari negara tujuan ekspor di luar AS. Hal ini bakal menimbulkan gejolak bagi negara eksportir, seperti Indonesia, karena berpotensi menimbulkan perlambatan ekonomi, yang disebabkan berkurangnya permintaan barang dari AS.
Hal ini bahkan meningkatkan risiko PHK di sejumlah industri. Saat ini, sebagian petani karet dan sawit juga eksportir kopi Indonesia mengeluhkan dampak tarif Trump. Seiring arus balik Lebaran di tengah situasi sulit ini, cerita lama tentang orang yang ikut gelombang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan pasti berulang. Di kota, jika pekerjaan formal menjadi pegawai hingga buruh pabrik telah tertutup, sektor informal, seperti pedagang keliling atau pelayan warung, dinilai masih menjanjikan daripada tetap bertahan di kampung halaman. Daerah tujuan mencari peruntungan rezeki itu kini tidak hanya di Jakarta dan sekitarnya,tetapi kawasan perkotaan lain yang kini tumbuh.
Urbanisasi, khususnya karena pertambahan penduduk, lagi-lagi terjadi. Tapi, kita alpa untuk menyiapkan antisipasi. Tidak heran jika kota-kota memadat minus fasilitas publik memadai, termasuk permukiman, air bersih, dan angkutan umum. Indonesia dan masyarakatnya sedang tidak baik-baik saja. Hantaman bertubi saat ini seharusnya benar-benar membangunkan semua pihak untuk dapat meresponsnya dengan lebih tepat. Semestinya pemerintah mengambil peran utama sebagai pemimpin dan penyelamat warga. (Yoga)
Modal Asing Berisiko Terbang
Pasar saham global dan indeks USD terpuruk menyusul pengumuman tarif resiprokal AS pada sejumlah negara. Pelaku pasar khawatir kebijakan ini memicu resesi ekonomi. Indonesia patut mewaspadai keluarnya arus modal akibat sentimen negatif global tersebut. Indeks saham utama AS serentak mencatatkan penurunan harian terdalam semenjak 2020 pada penutupan pasar Jumat (4/4) dini hari WIB. Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di indeks S&P 500 kehilangan nilai pasar 2,4 triliun USD dalam sehari. Indeks Dow Jones turun 3,98 % dan Nasdaq memimpin penurunan di Wall Street dengan pelemahan 5,97 %. Tren serupa terjadi i Asia. Nikkei 225 Jepang turun 1.000 poin atau 2,75 %.
Tokyo Stock Exchange melemah 3,37 %. MSCI AC Asia Pasifik melemah 1,19 %. Indeks USD terhadap mata uang utama lainnya (DXY) punsempat amblas hingga ke level 101,54 atau terendah sepanjang 2025. Kurs mata uang beberapa negara, termasuk negara berkembang, menguat terhadap USD. Lembaga pemeringkat kredit Fitch Rating menyampaikan, kebijakan tarif AS telah mengubah prospek ekonomi global secara signifikan. Mulai 9 April, Indonesia akan dikenai tarif bea masuk 32 %. Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Mohamad Fadhil Hasan, mengatakan, kebijakan tarif yang baru, memicu ketidakpastian global.
Kebijakan ini berpotensi menimbulkan stagflasi dan resesi ekonomi AS dalam jangka pendek, tetapi berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi AS dalam jangka panjang. Namun, asumsi ini sangat bergantung pada respons beberapa negara mitra yang terkena tarif tinggi oleh Pemerintah AS. Ekonom Bright Indonesia, Awalil Rizky, mengingatkan, faktor risiko global dan domestik berpotensi menimbulkan spekulasi dari para pelaku pasar. Artinya, pemilik modal akan lebih mempertimbangkan aspek keamanan dan keuntungan di tengah kondisi ketidakpastian saat ini.
Faktor spekulasi yang ditentukan oleh persepsi risiko ke depan, seperti ketidakpastian politik dan keuangan global, berisiko mengakibatkan arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia. Kondisi tersebut pada gilirannya dapat membuat pasar keuangan domestik, termasuk nilaitukar rupiah, terus tertekan. Berdasarkan data setelmen sejak awal 2025 hingga 26 Maret 2025, investor asing mencatatkan arus keluar secara neto Rp 4,96 triliun di pasar keuangan domestik. Menurut Awalil, cukup banyak modal asing di Indonesia saat ini yang sewaktu-waktu bisa keluar dengan mudah dan cepat, yakni investasi portofolio dan investasi lainnya. Kendati demikian, hampir tidak mungkin arus modal tersebut keluar seluruh atau sebagian besar dalam kurun waktu triwulanan. (Yoga)
Tarif Trump berdampak pada Pelaku Usaha
Kebijakan tarif 32 % yang diberlakukan AS terhadap Indonesia mulai berimbas pada pelaku usaha. Rencana ekspor kopi arabika Wanoja dari Bandung, Jabar, ke AS untuk sementara ditangguhkan. Kebun kopi yang berada di Lembah Kamojang di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut ini dikelola oleh Kelompok Tani Wanoja dan UMKM Wanoja Coffee. Sebanyak 108 petani dan 97 pekerja UMKM Wanoja Coffee terlibat dalam produksi kopi arabika Wanoja. Luas tanam kopi arabika Wanoja mencapai 108 hektar. Direktur Wanoja Coffee Satrea Amambi, Jumat (4/4) mengatakan, pihaknya harus menangguhkan sementara ekspor biji kopi yang telah disangrai (roasted bean) ke AS, untuk mempelajari kebijakan Trump dan dampaknya pada biaya operasional pengiriman biji kopi ke sana.
Ia memaparkan, Wanoja Coffee mengirimkan 300 kg roasted bean ke AS selama setahun terakhir, dengan harga 20 USD (Rp 331.200) per kg. ”Kebijakan Trump pastinya berdampak bagi pendapatan kami,” ungkap Satrea. Ia menuturkan, rencana ekspansi pengiriman 600 kg green bean ke AS tahun ini terpaksa ditunda. Ia masih mendiskusikan perubahan biaya pengiriman dengan calon importir pasca kebijakan bea masuk hingga 32 %. Produksi Wanoja Coffee mencapai 80 ton pada akhir 2024. Sebanyak 63 % dari total produksi diekspor ke sejumlah negara, antara lain Jepang, Belanda, Jerman, Arab Saudi, dan AS. ”Kami berharap ada dukungan pemerintah pusat ataupun daerah pasca penerapan kebijakan bea masuk ke AS hingga 32 % seperti relaksasi pajak. Agar kegiatan ekspor tak terkendala tingginya biaya operasional,” ujar Satrea.
Tarif impor baru AS juga bakal memukul rumah tangga jutaan petani sawit dan karet. Pengusaha berpotensi membebankan kenaikan tarif pada petani dengan cara menekan harga panen. Pengamat ekonomi dan penasihat di Ikatan Alumni Universitas Jambi, Usman Ermulan, mengatakan, penerapan tarif bea masuk ke AS bakal segera berdampak terhadap jatuhnya harga-harga komoditas unggulan di daerah. Saat ini, harga sejumlah komoditas unggulan tengah tinggi. Harga rata-rata buah sawit (TBS) Rp 3.600 per kg. Harga getah karet mencapai 30.000 per kg. Itu merupakan harga tertinggi yang disambut antusias petani. ”Harga panen yang sedang bagus-bagusnya ini dikhawatirkan bakal segera terganggu oleh munculnya penerapan tarif impor AS,” ujar Usman. (Yoga)
Persiapan untuk Bekerja di Ibu Kota
Setelah libur Lebaran, Ibu Kota kembali dipenuhi pendatang yang ingin bekerja. Persiapan administrasi, tempat tinggal, hingga mental menghadapi kehidupan kota yang cepat jadi bekal utama para pendatang. Rina Auliani (30), pendatang dari Semarang, Jateng, tiba di Jakarta sejak Kamis (3/4). Setelah bertahun-tahun bekerja di kota kelahirannya, ia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru di Jakarta. ”Saya kerja di bidang perhotelan. Mulai Senin besok dipindahkan ke Jakarta. Selama dua hari (Sabtu dan Minggu) ada pertemuan, jadi harus sudah di Jakarta,” kata Rina, Jumat (4/4). Meski Rina sudah terbiasa bekerja di dunia perhotelan, lingkungan kerja di Jakarta berbeda. Ia harus beradaptasi dengan ritme pekerjaan lebih cepat dan tuntutan lebih tinggi. ”Saya harus mengelola data tamu, mempersiapkan laporan, dan memastikan semua transaksi lancar. Di Jakarta semuanya serba cepat, jadi harus lebih teliti,” ujarnya.
Ia memilih tempat tinggal dekat dengan tempat kerjanya di Jaksel. Dia indekos dengan harga Rp 1,5 juta per bulan. Ia juga memastikan kemudahan akses transportasi umum, seperti Transjakarta, MRT, atau KRL, untuk membantu mobilitas sehari-hari. Sulthon (25) juga baru dua hari tiba di Jakarta. Laki-laki asal Surabaya, Jatim, ini akan memulai kehidupan baru di Jakpus. Sejak menerima tawaran pekerjaan dari pamannya, Sulthon mempersiapkan banyak hal, seperti mengurus administrasi kepindahan KTP dan KK Jakarta serta mencari tempat tinggal yang dekat dengan kantor. ”Saya datang ke Jakarta untuk memulai karier di bidang teknologi (data scientist). Untungnya, akan ada program orientasi yang diadakan oleh perusahaan untuk membantu memahami lebih banyak tentang Jakarta,” tutur Sulthon.
Dia pernah mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja Jakarta, seperti pelatihan bahasa, teknologi informasi, atau keterampilan teknis lainnya. Meski demikian, ia menyadari tantangan yang ada, seperti biaya hidup yang tinggi dan persaingan yang ketat di dunia kerja. Jakarta, dengan segala kesibukannya, memang menghadirkan tantangan. Namun, bagi Sulthon, setiap tantangan adalah kesempatan untuk berkembang. Kadisdukcapil Jakarta, Budi Awaluddin mengatakan akan terbuka bagi pendatang yang ingin merantau ke Jakarta. Namun, Budi menekankan pentingnya kepastian pekerjaan dan tempat tinggal bagi pendatang baru yang ingin menetap di Ibu Kota, agar kedatangan mereka tidak sia-sia dan hanya menambah jumlah pengangguran. (Yoga)









