JAMINAN KESEHATAN, Beban Biaya Kesehatan Berisiko Semakin Besar
Wisata Berkelanjutan Jadi Prioritas 2024
Kemenparekraf akan menekankan pada model wisata
berkelanjutan di 2024 untuk memulihkan industri pariwisata Tanah Air. Konsep
ini bertumpu pada pilar pengelolaan berkelanjutan, keberlanjutan sosial
ekonomi, keberlanjutan budaya, serta keberlanjutan lingkungan. Selain tidak
berfokus pada kuantitas, kualitas pariwisata yang menargetkan durasi kunjungan
wisatawan yang lebih lama patut diperhatikan. ”Ke depan, pengalaman (berwisata)
berdasarkan pada perjalanan. Tak hanya rombongan melihat-lihat, tetapi juga belajar
bersama. Sustainable operations sekaligus berwisata menjaga lingkungan,” ujar
Menparekraf / Kepala Baparekraf Sandiaga S Uno dalam Tourism Industry Roadmap
in 2024-2029 yang diselenggarakan Tiket.com secara daring, Rabu (13/12).
Direktur Industri, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif pada Bappenas
Wahyu Wijayanto menambahkan, setidaknya ada lima tren pariwisata di 2024 yang
bakal banyak diminati wisatawan. Pertama,tren culture immersion yang menekankan
kegiatan liburan yang berbeda dengan tempat tinggal wisatawan. Kedua, wellness
tourism dengan destinasi yang kental menawarkan budaya lokal dan alam untuk
memperdalam perjalanan spiritual. ”Ketiga work from destination yang menyasar
para pekerja dengan fleksibilitas tinggi agar dapat bekerja dari lokasi wisata.
Keempat dan kelima masing-masing adalah off grid travel yang menekankan kesejahteraan
wisatawan tanpa memikirkan pekerjaannya dan sport tourism yang mulai populer
tahun ini dan diprediksi berlanjut pada tahun depan,” papar Wahyu. (Yoga)
Lapangan Kerja Kelas Menengah Menyusut
Dalam tiga tahun terakhir, ketersediaan lapangan kerja layak
di Indonesia terus menurun. Ditengah kenaikan biaya hidup yang tinggi, turunnya
porsi pekerjaan dengan upah layak bisa menggerus kesejahteraan masyarakat,
menghambat pertumbuhan kelas menengah, dan menghambat cita-cita Indonesia menjadi
negara maju. Mengutip data Bank Dunia dalam Indonesia Economic Prospects (IEP)
edisi Desember 2023, prevalensi pekerjaan layak dengan standar kelas menengah
di Indonesia turun signifikan pada periode 2019-2022, dari 14 % menjadi 9 %
dari total lapangan kerja. Bank Dunia mendefinisikan pekerjaan layak atau
pekerjaan kelas menengah (middle class jobs) sebagai pekerjaan yang memiliki
upah layak untuk membiayai hidup dengan
standar kelas menengah, disertai perlindungan atau jaminan sosial yang memadai,
serta kepastian kerja.
Laporan itu sejalan dengan data Survei Angkatan Kerja Nasional
(Sakernas) oleh BPS bahwa porsi pekerjaan yang terhitung layak bagi kelas
menengah di sektor formal turun 3,39 % dalam waktu empat tahun terakhir dari
periode Agustus 2019-2023. Di sisi lain, sektor formal pun bukanjaminan kerja
layak. Data BPS per Agustus 2023 menunjukkan, pekerja di sektor yang serapan
tenaga kerjanya tinggi (sektor perdagangan dan pertanian) masih digaji di bawah
rata-rata upah nasional. Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste
Habib Rab, Rabu (13/12) mengatakan, meski ekonomi Indonesia mampu tumbuh di
atas 5 % dan pengangguran menurun, lapangan kerja yang tercipta belum cukup
berkualitas untuk menopang pertumbuhan kelas menengah. (Yoga)
Empat Tren Hadang Mitigasi Rawan Pangan
Pemerintah terus berusaha mengurangi daerah rentan rawan pangan, dari 72 daerah pada 2022 menjadi 61 daerah pada 2024. Tantangannya, ada empat tren yang menghadang, meliputi konversi lahan pertanian, penurunan produktivitas tanaman pangan, lambatnya regenerasi petani, dan perubahan iklim. Ikhtiar pemerintah mengurangi daerah rentan rawan pangan itu digulirkan Bapanas melalui program Kesiapsiagaan Krisis Pangan di Daerah. Program tersebut diatur dalam Peraturan Bapanas Nomor 19 Tahun 2023 tentang Kesiapsiagaan Krisis Pangan. Deputi Kerawanan Pangan dan Gizi Bapanas Nyoto Suwignyo menyatakan, daerah rentan rawan pangan di Indonesia berkurang dari 72 kabupaten/kota pada 2022 menjadi 68 kabupaten/kota pada 2023. Targetnya, daerah rentan rawan pangan pada 2024 turun lagi menjadi 61 kabupaten/kota.
Melalui Program Kesiapsiagaan Krisis Pangan, setiap daerah diharapkan dapat mengatasi persoalan krisis pangan secara mandiri. Untuk itu, peta ketahanan dan kerawanan pangan perlu terus dimutakhirkan, serta cadangan pangan pemda dan cadangan pangan masyarakat perlu dikembangkan dan ditingkatkan. ”Setiap pemerintah daerah juga harus selalu memastikan ketersediaan pangan di wilayahnya cukup. Kalau stok pangan kurang, upayakan untuk menambahnya dari dalam daerah ataupun luar daerah,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Nasional Kesiapsiagaan Krisis Pangan 2023 yang digelar Bapanas secara hibrida, Rabu (13/12). (Yoga)
Industri Gula Dalam Negeri Alami Anomali
Indonesia Tumbuh 4,9 Persen pada 2024-2026
Nikel, Harta Karun Masa Kini dari Pulau Obi
Pulau Obi di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku
Utara, terberkati dengan kekayaan alam yang luar biasa. Pulau itu memiliki
tanah dengan kandungan nikel yang tinggi. Komoditas yang begitu bernilai saat
ini. Tak terbayang dalam benak Fandi Noferdi Padapak (33) di kawasan Salam
Kawasi, Rabu (29/11), warga Desa Wayaloar, Kecamatan Obi Selatan, Halmahera
Selatan, bahwa wilayah tempatnya tinggal akan menjadi salah satu sentra nikel.
Di pulau seluas 2.500 kilometer persegi itu, jutaan metrik ton tanah yang terkandung
nikel dikeruk serta diproses lebih lanjut menjadi baja nirkarat (stainless
steel) dan bahan baku baterai. Kawasan yang berlokasi 5 km dari pusat industri
pertambangan nikel Harita Nickel, dinamai Salam Kawasi atau kependekan dari Bersama
Belajar pada Alam Kawasi, yang juga bagian dari kegiatan tanggung jawab sosial
perusahaan (corporate social responsibility/CSR) Harita Nickel, satu dari beberapa
perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Pulau Obi. Menurut
data Kementerian ESDM, sumber daya nikel di Indonesia 17,3 miliar ton dengan
cadangan 5 miliar ton. Produksi tahun 2022 mencapai 106,3 juta ton bijih nikel,
516.700 ton feronikel, dan 76.000 nikel matte. Industri nikel yang telah dijalankan
Indonesia ialah baja nirkarat dan baterai ion litium.
Smelter hidrometalurgi pertama di Indonesia berada di Pulau Obi
oleh Harita Nickel yang berproduksi pada 2021. Rico Wirdy Albert, Head of Technical
Support Harita Group Smelter, mengatakan, setiap tahun Harita menghasilkan
sedikitnya 1,4 juta ton FeNi, 365.000 ton MHP, 120.000 ton nikel sulfat, dan
30.000 ton kobal sulfat. Deputy Head Nickel Sulfate and Acid Plant HPL Roy Martua
Sigiro menjelaskan, produksi saat ini ialah 340 ton nikel sulfat per hari dan
70 ton kobal sulfat per hari. ”Dalam setahun, kami harapkan nantinya produksi
mencapai 160.000 ton nikel sulfat dan 32.000 ton kobal sulfat. Itu baru tahap
satu dan kami optimalisasi dulu. Nanti, tahap dua, produksi akan ditingkatkan,”
kata Roy. Ekspansi bisnis Harita Nickel menjadi gambaran besarnya potensi nikel
di Pulau Obi. Angka itu belum termasuk produksi perusahaan pemegang IUP lain di
pulau berjarak 240 km dari Ternate itu. Nikel, harta karun Obi, kini
dimanfaatkan untuk energi terbarukan. Kepala Urusan Kesejahteraan Pemerintah
Desa Kawasi Bambang Bakir mengatakan, sebelumnya, warga Obi tidak tahu-menahu
tentang kekayaan alam tersebut. Barulah saat dimulai eksploitasi pertambangan
nikel, mereka menyadari bahwa Pulau Obi ternyata menyimpan harta karun yang
kini sangat dibutuhkan dunia. (Yoga)









