Biaya Hidup Tinggi Menggerus Kebahagiaan Keluarga di Perkotaan
Kota sebagai mesin inovasi dan pusat kemakmuran sejak lama
diidentikkan dengan peluang meraih kesejahteraan dan menjanjikan beragam pekerjaan
dengan standar gaji tinggi dibandingkan dengan di perdesaan. Di kota pula tersedia
fasilitas pendidikan dan kegiatan ekstrakurikuler yang kaya ragam bagi
anak-anak. Keluarga-keluarga urban mendapat manfaat dari beragam institusi
multibudaya yang menghidupkan kota. Sayangnya di pusat kemakmuran itu faktanya
kesejahteraan tak bisa diraih oleh semua warga. Hal ini berkorelasi dengan
tidak meratanya akses ke pekerjaan berupah layak. Kondisi tersebut berdampak pada
rendahnya kemampuan memenuhi biaya hidup sehari-hari. Beban hidup makin berat ketika
ditambah isu internal, seperti ada masalah dalam keluarga. Problem eksternal,
seperti fasilitas layanan publik perkotaan yang belum mejangkau semua, turut
memperkeruh masalah. Fasilitas ini bermacam-macam, mulai dari akses transportasi
umum murah dan luas hingga perlindungan dan bantuan penanganan kekerasan dalam
rumah tangga yang mudah dijangkau setiap orang.
The University of Chicago dalam majalah daring bertema ”Social
Inequalities and Urban Family Life” (2017) mengulas tentang anak dan keluarga yang
hidup jauh di bawah standar sejahtera di perkotaan. Mereka terbelenggu
kemiskinan, kelaparan, dan malnutrisi serta tinggal di rumah kumuh tidak sehat.
Mirisnya lagi, mereka rentan menjadi korban atau pelaku kejahatan serta
kekurangan sumber daya untuk mengakses pendidikan. Dengan beragam persoalan itu,
sebagian keluarga dapat bertahan dan menemukan cara untuk berkembang secarapositif.
Akan tetapi, sering kali mereka terbentur masalah bertubi dan berakhir tragis, termasuk
hilang nyawa. Dalam dua pekan terakhir, misalnya, sedikitnya terjadi tiga kasus
pembunuhan dan bunuh diri yang menimpa keluarga urban di Indonesia. Meskipun
tidak menjadi penyebab tunggal, kasus-kasus itu terkait dengan isu
kesejahteraan. Uang tak ada, konflik antarpasangan makin membara dan berujung
keputusan di luar nalar. Sadis. Tinggal di kota memang tidak mudah, apalagi
murah. Beragamnya peluang pekerjaan diimbangi dengan biaya hidup tinggi. Survei
Biaya Hidup (SBH) 2022 dari BPS yang dirilis 12 Desember 2023 menunjukkan biaya
hidup rumah tangga di Jakarta Rp 14,9 juta per bulan. Di Surabaya, Jatim, Rp
13,4 juta per bulan. Biaya hidup tinggi bisa menggerus kesejahteraan keluarga
di perkotaan. Namun, kehangatan relasi antar-anggota keluarga mampu menahannya,
bahkan menjadi modal kuat untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik. (Yoga)
Ikhtiar Besar NTB Menurunkan Angka Tengkes
Dua bulan terakhir, Misnah (27), warga Jeranjang, Desa Taman
Ayu, Lombok Barat, NTB, lebih tenang. Sebelumnya, ia khawatir kondisi anak keduanya,
Muhammad Saputra (3,5). Sejak Juni 2023, buah hatinya itu masuk sasaran tengkes.
”Pertumbuhan anak saya lambat. Saat masuk sasaran, tinggi Saputra 88,2 cm,” kata
Misnah, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. ”Selama tiga bulan, dari
posyandu saya dikasih (bantuan) telur, susu, dan bis- kuit. Itu saya berikan ke
anak. Juga tetap kasih sayuran setiap hari dan buah juga setiap minggu. Dia
suka sekali buah naga, tetapi kadang juga makan jeruk dan semangka,”
tuturMisnah di Posyandu Keluarga Dusun Jeranjang, Kamis (14/12) pagi. Ia juga
tidak mau absen ke posyandu, bahkan rela tidak ke sawah demi bisa ke posyandu.
Upaya Misnah membuahkan hasil. Sejak Oktober lalu, Saputra lepas dari sasaran
tengkes. Tinggi badan Saputra mencapai 90,5 cm dan bulan Desember tinggi badannya
sudah 94,5 cm, kata Misnah yang sehari dapat upah Rp 35.000-Rp 70.000. Sementara
suaminya bekerja lepas di PLTU Jeranjang.
Menurut petugas gizi desa Puskesmas Gerung, Diana, peran
orangtua, khususnya terkait pola makan, sangat penting dalam penanganan
tengkes. Di samping itu, kata Diana, penyuluhan dan konseling saat kunjungan ke
rumah sasaran tengkes juga penting. Strategi itu efektif. Menurut Kepala Desa
Taman Ayu Tajudin, jumlah sasaran tengkes di Taman Ayu menurun. Pada 2022
tercatat ada 104 sasaran yang kemudian turun menjadi 80 pada pertengahan 2022. ”Dua
bulan lalu (Oktober) 42 orang. Turun cukup besar. Tentu ini karena kerja sama
semua sektor. Tidak hanya puskesmas dan kader, juga orangtua. Termasuk swasta,
seperti PLTU Jeranjang,” kata Tajudin. Keberhasilan Desa Taman Ayu karena kerja
sama pemangku kepentingan adalah salah satu gambaran dari ikhtiar besar percepatan
penurunan angka tengkes di NTB. (Yoga)
Jorjoran Memanjakan Penumpang
Perusahaan otobus makin jorjoran memanjakan penumpang kelas
atas dengan berbagai fasilitas mewah. Mereka berani menginvestasikan uang
miliaran rupiah untuk satu bus demi ”citra mewah” perusahaan. Perlombaan
antar-perusahaan otobus (PO) dalam memberikan fasilitas mewah makin seru
belakangan ini demi merebut konsumen kelas menengah atas yang kerap wira-wiri
antarkota dan antarprovinsi dengan naik bus premium. Wahyu Wardhani(42), pemilik
PO Narendra Trans Tungga Putra, pendatang baru di bisnis bus premium antarkota
antarprovinsi, tak segan merogoh kocek Rp 5 miliar untuk mewujudkan bus kelas emperor
suite, model termewah di kalangan bus premium saat ini, yang menghabiskan lebih
dari separuh dek bagian bawah bus untuk menempatkan tiga kursi yang bisa
disetel untuk tidur dengan penyangga kaki. Ada juga sofa, meja berisi berbagai
makanan kecil, lemari es berisi aneka minuman, serta televisi berukuran besar
untuk nonton film di Netflix atau berkaraoke. Kabin berkarpet tebal untuk tiga
orang dewasa dan satu anak itu bertarif Rp 1.550.000.
Ruang untuk keluarga yang mewah itu merupakan keingian Wahyu
dan CEO PO Narendra Zhakky Muttaqin untuk memberi kenyamanan bagi penumpang
beserta keluarga, kerabat, atau kawan. ”Desain itu dibuat untuk memberikan
kenyamanan bagi pelanggan di sepanjang perjalanan. Mereka tak hanya bisa tidur
di perjalanan, tapi juga bisa ngobrol sambil makan-minum, nonton film, atau berkaraoke.
Ruangan itu kedap suara sehingga pengemudi tak akan mendengar aktivitas di dalam,”
tutur Zhakky. Selain itu, PO Narendra punya empat bus lain dengan kelas di
bawahnya. Bus-bus tersebut berharga Rp 3 miliar-Rp 4,5 miliar per
unit.Fasilitasnya juga cukup mewah. Salah satunya adalah kursi kelas king yang harganya
Rp 8 juta-Rp Rp 9 juta per unit. Kru juga ”dipoles” agar citranya mewah.
Seluruh kru mendapat sebuah koper berisi setelan baju seragam safari, kemeja
dan celana panjang seragam dengan nama masing-masing, celana jins dan kemeja
putih, sepatu, kaus kaki, sampo, pasta gigi, sabun mandi, sampai deodoran.
Mirip fasilitas yang biasa diberikan kepada pramugara pesawat terbang.
Ia mengakui, sebagai pendatang baru, dirinya bersama Wahyu,
yang pemilik perusahaan, selalu ingin membuat terobosan gila yang lain.
Terobosan itu ternyata menarik perhatian khalayak sehingga jadwal bus emperor
suite sudah penuh sampai awal Januari 2024. ”Sebenarnya, secara bisnis kami
rugi dengan menjual harga tiket kelas king Rp 400.000, Rp 410.000 untuk
sleeper, dan Rp 1,55 juta di emperor suite. Tetapi, ternyata ide gila kami membuat
nama PO Narendra meroket,” kata Zhakky. Ia menganggap kerugian itu adalah
ongkos pemasaran usaha yang memang harus dibayar manajemen Narendra. Ia dan
pemilik sepakat memperkuat fondasi bisnis bus dengan rute Jakarta-Ponorogo dan
sebaliknya sebelum mengembangkan sayap usaha dan berhadapan dengan PO besar seperti
PO Harapan Jaya, PO Rosalia Indah, PO Gunung Harta, dan PO Sinar Jaya. (Yoga)
PEREMPUAN JATAYU TOLAK PLTU, BERSUARA HINGGA KE JEPANG
Perempuan tani di Indramayu berjuang mempertahankan lahan
dari gempuran pembangunan PLTU yang akan mengancam kehidupan. Tanah adalah
sumber kehidupan dan penghasilan bagi mereka. Sekitar 75 kg bawang merah
menggantung di atap rumah Surmi (51) warga Desa Mekarsari, Kecamatan Patrol, Indramayu,
Kamis (12/10) siang, yang merupakan hasil panen Surmi bulan lalu. Saat itu,
Surmi menanam 10 kg bibit bawang. Biayanya Rp 250.000. Ketika panen, ia meraup
Rp 600.000. Hasil panen 75 kg bawang merah dihargai Rp 8.000 per kg. Kali ini,
Surmi enggan menjualnya dan menunggu harga tinggi. Biasanya, bawang merah bisa
laku belasan ribu rupiah per kg. Di rumahnya juga tersimpan empat karung beras.
Masing-masing berisi 2,5 kuintal. Ketika harga beras melonjak, lebih dariRp
13.000 per kg, jauh dari HET Rp 10.900 per kg, Surmi tidak pusing. Dia punya
cadangan beras untuk sekadar makan, sisa panen dua bulan lalu, yang mencapai
1,5 ton gabah kering panen.
Surmi menjaga lahan dari gempuran PLTU. Lahan garapannya
seluas 1,4 hektar berada di kawasan PLTU Indramayu 2 berkapasitas 1.000
megawatt (MW). Luasnya infrastruktur itu sekitar 300 hektar. Bagi para
perempuan tani Desa Mekarsari, Indramayu, Jabar, tanah adalah ibu, yang
melahirkan kehidupan sekaligus sumber pangan. Tidak hanya Mekarsari, lahan Desa
Patrol Lor dan Patrol Baru, Kecamatan Patrol, juga terdampak. Lokasinya berdampingan
dengan PLTU Indramayu 1 berkapasitas 3 x 330 MW. Dari sawah yang Surmi garap, tampak
jelas cerobong PLTU 1 dengan asap kelabunya. Berdasarkan data Komite Percepatan
Penyediaan Infrastruktur Prioritas, PLTU Indramayu 2 termasuk proyek strategis
nasional. Nilai investasinya Rp 29,5 triliun. Menurut rencana, pembangunan
konstruksinya mulai tahun 2022, tetapi sampai sekarang belum dimulai. Operasional
PLTU ditargetkan tahun 2026. ”Kalau sampai PLTU jadi, saya mau cari makan di
mana? Makanya, saya berjuang,” katanya. Sebagai perempuan tani, Surmi tidak
hanya memasak nasi, tetapi juga ikut menanam padi. Ekonomi keluarganya tidak
cukup hanya mengandalkan suaminya, Warsan, penggembala kambing. Apalagi, sejak
2015, lahan penggembalaan mulai dibebaskan untuk PLTU 2.
Surmi pun bergabung dalam Jaringan Tanpa Asap Batubara Indramayu
(Jatayu). Gerakan warga ini untuk menolak PLTU Indramayu 1 dan 2. Jatayu menilai,
PLTU berdampak pada kesehatan dan hasil panen petani. Surmi, misalnya, mengeluhkan
matanya yang sakit ketika bertani di area tidak jauh dari PLTU 1. ”Saya sudah
lima kali operasi mata tiga tahun ini,” katanya sambil menyeka matanya yang
berair. Lewat bantuan lembaga pemerhati lingkungan di Jepang, Friends of the
Earth (FoF), Surmi bahkan mewakili warga untuk menyampaikan aspirasinya ke
negara yang mendanai PLTU Indramayu 2 itu tahun 2016. ”Saya bilang, kami sudah
menjerit dan berteriak karena PLTU. Jangan sampai (pembangunan PLTU) didanai,”
katanya. Hasilnya manis. Pertengahan tahun lalu, dilansir dari laporan Reuters,
Jepang menarik diri dalam pendanaan proyek PLTU Indramayu 2. Selain mendapat kritik
dari pegiat lingkungan, keputusan menghentikan pendanaan itu juga sebagai komitmen
Jepang dalam merespons perubahan iklim. (Yoga)
Spirit Bandung Care Tumbuhan Empati Sosial
Merambati Kemewahan Bus Tidur
Operator bus tidur atau ”sleeper bus” kian gencar merambah
hingga daerah-daerah yang tadinya tak diperhitungkan. Mereka jeli membidik penumpang
yang tak terjamah pesawat dan kereta api. Sejumlah penumpang bergegas menuju
bus bertingkat di Lebak Bulus, Jaksel, Rabu (22/11). Memasuki kabinnya saja,
servis prima setara pesawat sudah merebak dengan pramugari yang menyambut
mereka. Kelas paling mentereng menempati bagian depan lantai dasar dengan enam
kamarnya, dilengkapi bantal dan selimut ditempat penumpang atau kamar, yang dilengkapi
televisi kecil dan lampu biru redup di langit-langitnya. Bus Kencana, demikian
jenamanya, bertolak pukul 16.00 WIB. Baterai
ponsel, kamera, dan laptop yang nyaris habis tak perlu pula dirisaukan karena
tersedia stop kontak. Tak perlu risau jika hendak buang air dengan mendatangi toilet.Tiket
seharga Rp 380.000 sudah termasuk penganan dan minuman diselingi singgah di
restoran untuk makan malam. Sekitar pukul 02.00 WIB, bus tiba ditujuan akhir,
Jepara, Jateng.
Nely Soraya (32) rutin menumpang Kencana dari Jepara menuju
Bogor, Jabar, mengunjungi mertuanya dua bulan sekali. Selain suami, ia mengajak
anak-anak agar bisa bersua dengan kakeknya. ”Lebih enak, sih. Enggak capek
karena praktis. Ditinggal tidur terus sampai,” ucapnya sambil tertawa. Tri
Atmajaningsih (56) juga memilih bus tidur agar lebih privasi dan nyaman. Ibu
rumah tangga itu berangkat dari Karanganyar, Jateng, ke Bekasi, Jabar. ”Sudah
lima tahun saya naik Rosalia Indah karena busnya double decker (bertingkat) yang
bagus,” ujarnya. Mofat (32), yang naik dari Jakarta menuju Blitar, menganggap
kepraktisan dan kenyamanan sebagai hal yang paling ia suka. ”Aku lagi tugas
keBlitar, tetapi pilih sleeper ke Tulungagung karena kru mengantar pakai mobil
sampai tujuan di Blitar. Harga tiket Rp 600.000 sepadan, ya,” tuturnya.
Kelahiran bus tidur yang termasuk awal di Indonesia diwujudkan
Perusahaan Otobus (PO) Sinar Jaya. Dirut PO Sinar Jaya Teddy Kurniawan Rusli
meluncurkan bus tidur pada 2019, terinspirasi bus di Vietnam, sekaligus mengakomodasi
kebutuhan warga menengah atas. Namun, ada pula bus tidur yang diluncurkan demi
membangkitkan rasa bangga terhadap daerahnya. Ini dilakukan oleh pengusaha
Wahyu Wardhani yang orangtuanya dari Ponorogo, Jatim. Tahun lalu, dia
meluncurkan bus premium sleeper dan emperior suite yang punya ruang keluarga di
dek bawah. Ia menggandeng dua karibnya, Rino Fauzan dan Zhakky Muttaqin yang menjadi
CEO PT Trans Tungga Jaya, induk PO Narendra, untuk menyediakan bus dengan
layanan premium guna menaikkan harkat warga Ponorogo. ”Di Ponorogo tak ada stasiun
dan bandara. Jika naik kereta harus ke Madiun. Naik pesawat ke Solo. Butuh
kendaraan lagi,” katanya. Antropolog Undip Budi Puspo, memaknai bus tidur bukan
lagi sekadar sarana transportasi, melainkan aktualisasi. ”Terutama, bagi
penggandrung medsos (media sosial). Bisa selfie (swafoto), fotonya dipasang di
grup,” ujarnya. (Yoga)









