;

Ikhtiar Besar NTB Menurunkan Angka Tengkes

Ikhtiar Besar NTB Menurunkan Angka Tengkes

Dua bulan terakhir, Misnah (27), warga Jeranjang, Desa Taman Ayu, Lombok Barat, NTB, lebih tenang. Sebelumnya, ia khawatir kondisi anak keduanya, Muhammad Saputra (3,5). Sejak Juni 2023, buah hatinya itu masuk sasaran tengkes. ”Pertumbuhan anak saya lambat. Saat masuk sasaran, tinggi Saputra 88,2 cm,” kata Misnah, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. ”Selama tiga bulan, dari posyandu saya dikasih (bantuan) telur, susu, dan bis- kuit. Itu saya berikan ke anak. Juga tetap kasih sayuran setiap hari dan buah juga setiap minggu. Dia suka sekali buah naga, tetapi kadang juga makan jeruk dan semangka,” tuturMisnah di Posyandu Keluarga Dusun Jeranjang, Kamis (14/12) pagi. Ia juga tidak mau absen ke posyandu, bahkan rela tidak ke sawah demi bisa ke posyandu. Upaya Misnah membuahkan hasil. Sejak Oktober lalu, Saputra lepas dari sasaran tengkes. Tinggi badan Saputra mencapai 90,5 cm dan bulan Desember tinggi badannya sudah 94,5 cm, kata Misnah yang sehari dapat upah Rp 35.000-Rp 70.000. Sementara suaminya bekerja lepas di PLTU Jeranjang.

Menurut petugas gizi desa Puskesmas Gerung, Diana, peran orangtua, khususnya terkait pola makan, sangat penting dalam penanganan tengkes. Di samping itu, kata Diana, penyuluhan dan konseling saat kunjungan ke rumah sasaran tengkes juga penting. Strategi itu efektif. Menurut Kepala Desa Taman Ayu Tajudin, jumlah sasaran tengkes di Taman Ayu menurun. Pada 2022 tercatat ada 104 sasaran yang kemudian turun menjadi 80 pada pertengahan 2022. ”Dua bulan lalu (Oktober) 42 orang. Turun cukup besar. Tentu ini karena kerja sama semua sektor. Tidak hanya puskesmas dan kader, juga orangtua. Termasuk swasta, seperti PLTU Jeranjang,” kata Tajudin. Keberhasilan Desa Taman Ayu karena kerja sama pemangku kepentingan adalah salah satu gambaran dari ikhtiar besar percepatan penurunan angka tengkes di NTB. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :