Petani Sawit Berharap Syarat PSR Ditempuh
Defisit Beras Semakin Panjang
Belum Efektif Atasi Masalah Beras
Disnakertrans Akui Lemah Awasi Smelter
Korban tewas akibat ledakan tungku peleburan nikel di
Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, bertambah lima orang. Total korban tewas
menjadi 18 orang dan puluhan lainnya dirawat secara intensif. Disnakertrans
Sulteng mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan keselamatan dan kesehatan
kerja. Ledakan tungku smelter itu terjadi di PT Indonesia Tsingshan Stainless
Steel (ITSS), Minggu (24/12), salah satu tenant atau penyewa yang beroperasi di
kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Kadisnakertrans
Sulteng Arnold Firdaus mengatakan, pihaknya cukup rutin mengawasi dan memantau
lokasi industri, termasuk di wilayah IMIP. Terbaru, tim telah ditugasi
melakukan pengecekan berkala pada awal Desember lalu. ”Berdasarkan pemantauan
dan pengawasan selama ini, sistem K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) di IMIP
lumayan bagus, tidak ada masalah dan berjalan sesuai aturan. Hanya saja, harus
diakui juga pengawasan kami belum sempurna,” kata Arnold, dihubungi Selasa
(26/12) petang dari Kendari, Sultra.
Menurut Arnold, pemantauan dan pengawasan di wilayah
Morowali dilakukan UPT Wilayah II. Unit kerja yang beranggotakan lima orang ini
mengawasi tujuh kabupaten. Di sisi lain, kawasan industri dan fasilitas
pemurnian nikel di beberapa kabupaten tersebut tidak hanya IMIP. ”Untuk IMIP saja
itu tidak cukup satu hari untuk pantau semua. Jadi, memang ada keterbatasan
dari kami juga, baik operasional maupun anggaran,” ucapnya. Saat ini Disnakertrans
Sulteng fokus pada pemantauan bersama tim Kemenaker yang telah tiba di lokasi
kejadian. Hal itu untuk mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan terjadinya
kecelakaan kerja yang merenggut banyak nyawa itu. ”Ke depan, agar kawasan industri
besar seperti IMIP diawasi secara terpadu bersama pemerintah pusat karena kami di
daerah memiliki banyak keterbatasan untuk memantau kawasan, apalagi yang masuk dalam
kategori Proyek Strategis Nasional,” ujarnya. (Yoga)
Penumpang KeluhkanHarga Tiket, Maskapai Terbebani Biaya Operasional
Polemik tarif batas atas pesawat kembali mengemuka pada
libur Natal dan Tahun Baru. Penumpang mengeluhkan tingginya harga tiket,
sedangkan maskapai terbebani biaya operasional. Solusi terpadu dibutuhkan untuk
mencegah persoalan berulang. Chris Tria Wati Girsang (28), karyawan swasta di
Jakarta, terpaksa tidak mudik untuk merayakan Natal dan libur Tahun Baru bersama
keluarganya di Simalungun, Sumut, karena tiket Jakarta-Medan yang terlalu
mahal. Harga tiket pesawat melalui aplikasi agen perjalanan daring (online
travel agent) untuk keberangkatan tanggal 22 Desember 2023, menyentuh Rp 2,1
juta. Padahal, pada hari biasa, harganya berkisar Rp 1,2 juta-Rp 1,5 juta. ”Kalau
pulang, kan, tidak bisa semata-mata pulang.Harus beli ini itu untuk oleh-oleh
dan kasih salam tempel. Kalau tiket mahal, uang justru habis hanya untuk
perjalanan,” ujar Tria, Selasa (26/12). Ia pun mengurungkan niatnya untuk
mudik.
Harga tiket Jakarta-Medan Rp 2 juta itu melebihi tarif batas
atas, Rp 1.799.000. Aturan itu tertuang dalam Kepmenhub No KM 106 Tahun 2019
tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga
Berjadwal Dalam Negeri. Sekjen Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional
Indonesia (INACA) Bayu Sutanto mengatakan, harga tiket saat ini tidak bisa
dilepaskan dari masalah finansial maskapai. Apalagi, industri penerbangan
sebelumnya terdampak pandemi. Jumlah penumpang, katanya, menyusut 60 % sehingga
pendapatan maskapai juga menurun saat pandemi. Di sisi lain, maskapai masih harus
mengeluarkan biaya operasional, seperti suku cadang. Tarif batas atas yang ditetapkan
pemerintah pada 2019, menurut dia, juga sudah tidak relevan. Sebab, aturan itu
memakai parameter harga avtur Rp 10.000 per liter dengan kurs Rp 14.100 per USD.
Padahal, harga avtur sudah berada jauh di atas itu, yaitu Rp 13.656 per liter
pada periode 15-31 Desember 2023. Posisi kurs terhadap dollar AS adalah Rp
15.503 pada 15 Desember. (Yoga)
Aksi untuk Transisi Energi
Transisi energi merupakan cara menjaga kelangsungan
bumi demi masa depan kehidupan yang lebih baik. Di sela-sela dialog bisnis
dalam pertemuan G20 pada 2022 di Bali, Kementerian ESDM memperkirakan,
percepatan transisi energi di Indonesia memerlukan investasi 1 triliun USD, setara
Rp 15.489 triliun, yang dialokasikan guna membangun pembangkit energi baru
terbarukan dan transmisinya hingga 2060. Kebutuhan dana ini masih bisa
bertambah karena ada rencana Indonesia mengakhiri operasi PLTU lebih dini. Transisi
energi, mengutip S&P, merujuk pada peralihan energy global, dari produksi
dan konsumsi berbasis energi fosil menjadi sumber energi terbarukan. Transisi
energi akan terus meningkat seiring prioritas investor terhadap faktor
lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and
governance/ESG). Hal ini didukung kesadaran yang mulai muncul di kalangan
pebisnis dan investor perihal ESG. Mulai banyak pebisnis dan investor yang mempertimbangkan
faktor ESG saat akan berekspansi bisnis atau menambah portofolio investasi.
Namun, kebutuhan dana yang cukup besar dalam transisi energi
tak serta-merta bisa dipenuhi. Perlu upaya guna menggerakkan berbagai pihak
untuk berkomitmen dan merealisasikan komitmen pendanaan itu. Aturan yang mendukung
pembiayaan bisa diterbitkan dan insentif bisa diberikan sebagai penarik, yang akan
memicu pemilik dana mengucurkan pinjaman atau dananya ke proyek transisi
energi. Salah satu insentif, misalnya, diberikan pemerintah melalui bank-bank
BUMN kepada pengusaha yang bergerak di bidang usaha pembangkit listrik.
Insentif berupa pinjaman bersuku bunga rendah akan diberikan kepada pengusaha
yang akan menurunkan emisi atau menerapkan transisi energi dalam kegiatan
bisnisnya. Untuk memperluas transisi energi ke berbagai jenjang, insentif bisa
diberikan kepada publik. Misalnya, memberi kemudahan bagi masyarakat yang ingin
memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di rumah mereka. (Yoga)
Fase Paceklik Beras dan Gula
Indonesia tengah memasuki fase paceklik produksi beras dan
gula. Fase itu dibayangi anomali beras dan gula dunia yang mencerminkan
produksi berlimpah, tetapi harga justru naik. Padahal, Pemerintah Indonesia
tengah membutuhkan kedua komoditas itu sebagai cadangan pangan di tengah
penurunan produksi pada tahun ini. Fase
paceklik produksi beras dan gula di Indonesia diperkirakan terjadi berbarengan,
pada November 2023-Mei 2024. Musim tanam (MT) I padi di sejumlah daerah
produsen beras nasional baru mulai pada November dan Desember 2023 akibat
dampak El Nino, yang menyebabkan panen raya hasil MT I mundur dari Maret-April
2024 menjadi April-Mei 2024. Meskipun tetap ada panen pada Januari-Maret 2024,
hasilnya masih belum berlimpah. Sementara musim giling tebu yang selesai pada November
2023 baru akan dimulai Mei 2024. Pada bulan tersebut, produksi gula belum
banyak sehingga masih mengandalkan sisa stok produksi gula 2023. Karena itu,
penambahan cadangan beras pemerintah (CBP) dan cadangan gula pemerintah (CGP)
sangat diperlukan tahun depan, mengingat produksi beras dan gula pada 2023
diperkirakan anjlok. Kementan memperkirakan produksi beras turun 650.000 ton
hingga 1,2 juta ton.
Asosiasi Gula Indonesia memproyeksikan produksi gula konsumsi turun 120.000 ton. Selain itu, harga beras dan gula masih cukup tinggi. Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas, per 22 Desember 2023, harga rata-rata nasional beras medium dan gula konsumsi masing-masing Rp 13.190 per kg dan Rp 17.260 per kg. Dalam setahun, harga beras naik 14,02 % dan gula 17,26 %. Khusus beras, pemerintah berencana memberikan bantuan beras 10 kg bagi setiap keluarga berpenghasilan rendah pada Januari-Juni 2024. Jumlah keluarga penerima manfaat bantuan beras itu bertambah dari 21,3 juta keluarga menjadi 22 juta keluarga. Untuk itu, pemerintah mengalokasikan kuota impor beras 3,5 juta ton pada 2023. Per pekan I Desember 2023, impor beras baru terealisasi 61,91 %. Belum semua kuota impor beras terealisasi, pemerintah telah menetapkan kuota impor beras 2024 sebanyak 2 juta ton guna menambah CBP yang awal tahun depan diperkirakan tinggal 1,2 juta ton. Selain itu, Presiden Jokowi meminta CBP pada tahun depan bisa mencapai 3 juta ton. Terkait CGP, pada tahun ini pemerintah telah meminta perusahaan swasta dan milik negara mengimpor 990.000 ton gula mentah dan 215.000 gula konsumsi. Per pekan I Desember 2023, impor gula mentah baru terealisasi 79,15 % dan gula konsumsi 57,82 %. (Yoga)
Aturan Baru Pembelian Elpiji ”Melon” Masih Butuh Sosialisasi
Kementerian ESDM memastikan mulai 1 Januari 2024 hanya pembeli
yang terdata atau menunjukkan KTP yang bisa membeli gas elpiji 3 kg. Di sisi
lain, sosialisasi masih perlu dilakukan agar program yang bertujuan supaya elpiji
bersubsidi tersalur secara tepat sasaran itu berjalan optimal. Pendataan
konsumen elpiji 3 kg telah dilakukan sejak 1 Maret 2023 dan akan berakhir 31 Desember
2023 sehingga nantinya hanya yang terdata atau menunjukkan KTP yang
dilayani. Menurut data Kementerian ESDM, per November 2023, sebanyak 27,8 juta
pengguna elpiji 3 kg telah bertransaksi melalui merchant app Pertamina di penyalur/pangkalan
resmi. Ketua Bidang Elpiji Dewan Pengurus Pusat (DPP) Himpunan Wiraswasta
Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Heddy Shedian, dihubungi di Jakarta,
Selasa (26/12) mengatakan, uji coba pembelian elpiji 3 kg dengan menunjukkan
KTP telah dilakukan sejak Oktober 2023. Diakuinya, masih ada sebagian kecil
masyarakat yang enggan melakukannya (membeli dengan menunjukkan KTP). Namun,
edukasi dan pemahaman akan terus diberikan.
”Ada sedikit keengganan masyarakat menunjukkan KTP karena
khawatir, mengingat KTP adalah identitas bersifat privasi, (dikaitkan) dengan
kondisi tahun politik saat ini. Namun, konsumen tetap diberikan edukasi dan
sosialisasi atas program ini agar memahami bahwa barang bersubsidi (harus)
tepat sasaran,” ujar Heddy. Sosialisasi
akan terus diberikan hingga sepenuhnya diterapkan mulai Januari 2024. Menurut
Heddy, sosialisasi tersebut akan dibantu berbagai pihak, termasuk pemerintah kabupaten/kota
agar pelaksanaannya optimal. Menteri ESDM Arifin Tasrif, Jumat (22/12),
menuturkan, penerapan kebijakan tersebut disertai dengan sistem pendataan
konsumen. Dengan demikian, diharapkan celah-celah yang membuat penyaluran
elpiji ”melon” dapat ditutup sehingga hanya warga yang berhak yang dapat
membeli elpiji bersubsidi itu. (Yoga)
Industri Asuransi Dukung Penerapan PSAK 74
Pedagang Pasar Mardika Telantar karena Permasalahan Sewa Kios
Rencana relokasi pedagang Pasar Mardika di Ambon, Maluku, ke
gedung baru masih menghadapi kendala karena persoalan data dan harga sewa kios
pasar yang dinilai terlalu mahal. Pedagang pun terpaksa berjualan di luar pasar.
DPRD Maluku membentuk panitia khusus guna mengungkap persoalan relokasi tersebut.
Pasar Mardika menurut rencana menjadi pasar modern pertama di Maluku. Revitalisasi
pasar ini jadi salah satu program modernisasi pasar yang dilakukan oleh
pemerintah pusat di provinsi tersebut. Dari pantauan di lapangan, Selasa (26/12)
pembatas berupa seng yang sebelumnya menutupi gedung baru Pasar Mardika sudah
dibongkar. Pedagang Pasar Mardika, Fatimah Maraban (40), menjelaskan, dirinya
menjadi salah satu pedagang yang akan pindah ke pasar baru ini. Fatimah yang masih
berdagang tepat di luar Pasar Mardika berharap dirinya dan puluhan pedagang
lain bisa segera menempati gedung baru tersebut.
Proses relokasi dari sisi jalan ke dalam gedung terhambat akibat
adanya permasalahan biaya sewa dan sengkarut pendaftaran kios. Adanya perbedaan
data penyewa membuat pemerintah melakukan pendataan uang. ”Belum ada jadwal pasti
mengenai penempatan pedagang karena sempat ada penundaan registrasi dan
verifikasi data ulang. Dalam waktu dekat akan pendataan ulang lagi. Harapannya,
bisa segera ditempati karena beberapa pedagang juga sudah membayar sewa untuk masuk
ke dalam,” tuturnya. Pengelola Pasar Mardika menetapkan biaya sewa sebesarRp 600.000
per bulan untuk sewa kios buah dan sayur serta Rp 1,2 juta per bulan untuk kios
bahan-bahan kebutuhan pokok. Menurut rencana, puluhan pedagang yang masih
berjualan di sisi jalan akan dipindahkan ke gedung baru ini. Halimah Kailulu
(42), pedagang buah, mengatakan, biaya sewa tersebut masih terlalu besar untuk
dirinya yang memiliki penghasilan tidak tetap. Ia berharap pemerintah dan
pengelola dapat memberikan harga yang sesuai nilai keekonomian pedagang. (Yoga)









