Sidang Tahunan Himpun Sambut Indonesia Emas 2045
IHSG Berpeluang Menguat Terbatas
Bantuan Pangan Ringankan Beban Masyarakat Miskin
Terimbas Anjloknya Harga Nikel
Pajak Karbon untuk Pertumbuhan Keuangan Hijau
Gerak Lambat Bawaslu Jadi Ancaman Pemilu
PILPRES 2024 Kandidat Konsolidasikan Kekuatan Sukarelawan
Satu bulan jelang pemungutan suara Pemilihan Umum 2024, tiga
pasangan calon presiden dan wakil presiden makin intens mengonsolidasikan
kekuatan kelompok sukarelawan pendukung mereka. Tak hanya memperluas basis
dukungan di luar partai-partai politik pengusung, kehadiran sukarelawan juga
dianggap penting untuk mengawasi proses pemilu, terutama untuk mengawal
perolehan suara kandidat. Menyapa dan menghadiri acara yang digelar kelompok sukarelawan
menjadi salah satu agenda yang tak dilewatkan capres-cawapres saat berkampanye
di daerah. Capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo, misalnya, menghadiri acara yang
digelar kader partai pendukung serta sukarelawan saat kampanye di Surabaya, Jatim,
Sabtu (13/1/2024). Pada hari yang sama, cawapres nomor urut 3, Mahfud MD, menyapa
para sukarelawan pendukungnya di sela-sela kunjungannya ke Makassar, Sulsel.
Menghadiri acara sukarelawan pendukung juga dijalankan capres
nomor urut 2, Prabowo Subianto. Dalam kunjungannya ke Medan, Sumut, Sabtu, Prabowo
menghadiri acara konsolidasi sukarelawan dan partai Koalisi Indonesia Maju
(KIM) di GOR Pancing, Medan. Kemudian, Prabowo menghadiri acara silaturahmi
sukarelawan pendukungnya di Stadion Tumenggung Abdul Jamal, Batam, Kepri. Acara
yang dihadiri ribuan pendukung pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka
menjadi penutup dari rangkaian safari politik Prbowo ke Sumatera, akhir pekan
ini. Pasangan capres dan cawapres nomor urut 1, Anies Baswedan-Muhaimin
Iskandar, terus menerima dukungan dari sejumlah kelompok sukarelawan. Sabtu kemarin,
alumni UGM yang tergabung dalam Relagama mendeklarasikan dukungan kepada
Anies-Muhaimin di Jakarta. Kapten Tim Nasional Pemenangan Anies Baswedan-Muhaimin
Iskandar (Timnas Amin) Muhammad Syaugi Alaydrus mengatakan, deklarasi Relagama
menambah panjang daftar simpul sukarelawan Anies-Muhaimin.
Meskipun diusung oleh partai politik maupun gabungan partai
politik, para capres-cawapres tetap menganggap penting kehadiran sukarelawan.
Mahfud, bahkan, menyebut sukarelawan punya pengaruh besar terhadap pemenangan
kandidat. ”Relawan itu bekerja di luar partai dan itu pengaruhnya besar karena
mereka lebih cair, tidak terlalu formal. Bersama partai politik, mereka menjadi
sayap dalam tim pemenangan,” ujarnya seusai acara makan siang Mahfud MD bersama
kelompok sukarelawan pendukung Ganjar-Mahfud di Makassar. Syaugi juga
menyampaikan, sukarelawan menjadi ujung tombak dalam perjuangan memenangkan
Anies-Muhaimin. Selain mengampanyekan program yang diusung, para sukarelawan
juga diminta mengawasi proses pemilu agar berjalan tanpa kecurangan.
Prabowo juga meminta para sukarelawan pendukungnya untuk
lebih intens berkampanye. ”Saya minta seluruh relawan, sesudah ini Saudara ke
rumah masing-masing gerakkan tetangga-tetanggamu, yakinkan saudara-saudaramu,
yakinkan bahwa Prabowo-Gibran sanggup dan bertekad membawa Indonesia ke negara
yang hebat, adil, makmur, negara yang tidak akan diinjak-injak oleh bangsa
lain,” ujarnya di Medan. Prabowo pun mengajak para sukarelawan agar
berani mengatakan bahwa pasangan Prabowo-Gibran adalah kelanjutan dari Presiden
Joko Widodo. Karena itu, para sukarelawan diminta untuk senantiasa menjaga
kerukunan dan tidak membalas kebaikan dengan pengkhianatan. (Yoga)
ANAK-ANAK DIJUAL MELALUI MEDIA SOSIAL
Tindak pidana perdagangan orang (TPPO) melalui media daring rentan
menjerat anak. Gencarnya media sosial dan sikap cuek dari keluarga serta
masyarakat sekitar membuat praktik ini tumbuh subur di sejumlah wilayah. Pjs
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Lia Latifah, Sabtu (13/1/2024)
menuturkan, dalam empat tahun terakhir setidaknya ada tiga kasus tindak TPPO
dengan korban anak di wilayah Jabodetabek. Kasus itu tersebar di Kalibata, Jaksel;
Kelapa Gading, Jakut; dan yang terbaru di Pondok Gede, Kota Bekasi. Kejadian di
Bekasi terkuak setelah orangtua korban melaporkan kehilangan anaknya berinisial
A yang sudah dua minggu tidak pulang pada Oktober 2023. Dua hari setelah
laporan dilontarkan, A akhirnya pulang ke rumah. A mengaku telah menjadi korban
rudapaksa di salah satu kontrakan yang terletak di kawasan Pondok Gede, Kota
Bekasi. Ia tidak sendiri, di kontrakan yang sama, ada lima anak yang bernasib
serupa. ”Bahkan, salah satu korbannya masih kelas VI sekolah dasar,” kata Lia.
Dari laporan tersebut, pihaknya segera berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengusut kasus ini. Hasilnya, pada Jumat (11/1) Polres
Metro Bekasi Kota menangkap D (17), satu dari tiga mucikari yang terlibat dalam
praktik TPPO itu. Lia menduga sindikat ini sangat terorganisasi karena proses
penjaringan korban tampak begitu sangat sistematis. Dimulai dari berkenalan
dengan korban melalui media sosial, lalu membawa mereka jalan-jalan, hingga
misi terakhir menawari korban pekerjaan dengan upah yang menggiurkan. Berdasarkan
pengakuan A, dirinya mulai terjerumus kala berkenalan dengan salah satu pria
yang ternyata adalah salah satu mucikari. Ia ditawari pekerjaan dengan gaji
yang cukup menggiurkan, yakni Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan. A pun menyetujuinya
tanpa tahu bahwa pekerjaan yang dimaksud adalah menjadi pekerja seks komersial
(PSK). Di awal pekerjaannya, A diminta berfoto dengan pakaian seksi di salah
satu kamar di kontrakan tersebut. Hasil fotonya kemudian disebar melalui
aplikasi MiChat.
Dua hari berselang, ada pelanggan yang datang untuk ”berkencan”
dengan A. ”Tarif yang ditetapkan Rp 150.000-Rp 300.000, tergantung lamanya
korban anak melayani para pelanggan,” ucap Lia. Untuk setiap pelanggan, korban
anak hanya diberi upah Rp 50.000 per pelanggan. Dalam dua minggu, A harus
melayani lima pria hidung belang. Merasa sudah dimanfaatkan, A pun melarikan
diri dengan alasan ingin mengambil baju di rumahnya. Dari hasil penelusuran di
telepon genggam milik A, diketahui setidaknya ada tiga mucikari dan satu bos
besar yang dipanggil Mami. Praktik ini tidak hanya terjadi di wilayah
Jabodetabek, di sejumlah daerah praktik serupa pernah terendus, seperti Medan dan
Belitung Timur. Melihat praktik ini, Lia menilai bahwa anak sangat rentan
menjadi korban TPPO. Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi baik kepada anak maupun
keluarga harus terus disuarakan agar mereka bisa membentengi diri dari risiko TPPO.
(Yoga)
Dampak Erupsi Meluas, Pengungsi Bertambah
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT,
memasuki hari ke-22 pada Sabtu (13/1/2024). Semburan material vulkanik semakin
masif dan wilayah terdampak meluas menjadi tujuh desa. Jumlah pengungsi menjadi
6.536 jiwa. Petugas Pos Pemantauan Gunung Lewotobi, Anselmus B Lamanepa, melaporkan,
pada Sabtu sekitar pukul 11.56 Wita,terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu 1.500
meter di atas puncak gunung. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu
dengan intensitas tebal condong ke arah utara dan timur laut. Erupsi ini
terekam dengan amplitudo maksimum 47,3 milimeter dan durasi 8 menit 20 detik.
Radius bahaya erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki diperluas menjadi 5 km dari puncak
sehingga permukiman yang berada dalam radius itu harus dikosongkan untuk sementara
waktu. Status gunung api itu berada pada level tertinggi, yakni Awas. Guguran
lava ke arah timur laut yang semula berjarak 2 km kini menjadi 3 km.
Di sisi timur laut Gunung Lewotobi Laki-laki terdapat banyak
permukiman sepanjang Desa Nobo sampai Desa Nurabelen.Pj Bupati Flores Timur
Doris Alexander Rihi telah mengganti status Siaga Darurat menjadi status
Tanggap Darurat yang berlaku selama 14 hari mulai 10 Januari 2024. ”Nanti akan
dievaluasi dengan memperhatikan kondisi aktivitas gunung,” katanya. Data BPBD
Kabupaten Flores Timur menyebutkan, wilayah yang terdampak erupsi Gunung
Lewotobi Laki-laki meluas, saat ini, ada tujuh desa yang terdampak. Para
pengungsi tersebar di sejumlah pos komando yang ditetapkan pemerintah, seperti
di Kantor Desa Konga dan Kantor Camat Wulanggitang. Selebihnya, banyak
pengungsi yang menginap di rumah warga, seperti di Desa Pululera, Boru Kedang,
dan Hewa. Lebih dari tiga minggu terdampak abu vulkanik dan tinggal di
pengungsian, banyak warga mulai terserang berbagai jenis penyakit. (Yoga)









