Efek Negatif Penghiliran Nikel
Perpres Iuran Batu Bara Belum Rampung
Lima Provinsi Mulai Panen Raya Padi
IIMS 2024 Bukukan Transaksi Rp 3,1 T
Kemenhub Pangkas Anggrana Subsidi BTS Teman Bus
Menimbang Masa Depan Antam Setelah Dihantam Penurunan Harga Nikel
2023, Perbankan Kantongi Laba Rp 243 Triliun
IHSG Cenderung Menguat, Pemodal Cermati Data Global
Muhammad Redho, Komitmen Perajin Sasirangan
Muhammad Redho (62) konsisten mengembangkan wastra sasirangan
dengan pewarna alami. Tumbuhan untuk bahan pewarna alami kain khas suku Banjar
itu juga ia budidayakan. Satu demi satu perajin sasirangan mengikuti jejaknya. Aneka
tanaman menghijaukan Kampung Biru di tepian Sungai Martapura, Kota Banjarmasin,
Kalsel, Kamis (22/2). Redho menghijaukan lingkungan sekitar Pojok Kreatif
Wisata Kampung Biru di Kelurahan Melayu, sejak dipercaya sebagai Sekretaris Kelompok
Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Biru pada 2018. Di Kampung Biru semua rumah
bercat biru. ”Semua tanaman yang ada di sini adalah bahan pewarna alami kain
sasirangan,” katanya. Sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti
’menjelujur’ atau menjahit jarang-jarang.
Prosesnya dimulai dari pembuatan motif pada kain, dijelujur,
diikat dengan tali, dan dicelupkan ke pewarna. Setelah itu, ikatan dan jahitan
dilepas, dicuci, lalu dikeringkan.”Di Kampung Biru, pengunjung bisa belajar
membuat kain sasirangan pewarna alami dan belajar berkebun tanaman yang menghasilkan
pewarna alami,” kata Redho. Sejak 2009, ia konsisten memproduksi dan menjual
kain sasirangan berpewarna alami dengan jenama Assalam Sasirangan. Berbekal
ilmu dari pelatihan batik di Pulau Jawa oleh mentor dari Yogyakarta, ia
berupaya mengembangkan sasirangan berpewarna alami yang saat itu pangsa
pasarnya kurang menjanjikan. Waktu itu harga kain sasirangan berpewarna alami
minimal Rp 150.000 per potong, sedangkan sasirangan berpewarna sintetis seharga
Rp 100.000 per potong.
Dengan harga lebih murah dan warna lebih cerah, permintaan
pasar lokal untuk kain sasirangan berpewarna sintetis lebih besar. Bekerja sama
dengan Museum Lambung Mangkurat, Redho mendapat kesempatan mengikuti pameran dan
peragaan busana sasirangan berpewarna alami di Museum Serawak, Kuching,
Sarawak, Malaysia, pada 2011. Setelah itu, ia langsung memproduksi sasirangan
berpewarna alami dalam jumlah banyak untuk seragam para guru SMA Negeri 2
Banjarmasin. Lambatlaun, pesanan hampir tak pernah putus. ”Saya pernah dapat order
300 lembar sasirangan warna alam dan mengerjakannya dalam waktu tiga bulan.” Redho
rutin menjadi narasumber pelatihan sasirangan berpewarna alami di lingkungan
Dinas P&K Kalsel dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Ia juga beberapa kali
diminta menjadi instruktur pelatihan sasirangan berpewarna alam di sejumlah
kabupaten atau kota. (Yoga)
Menjaga Jejak Kejayaan Pertanian dan Kelautan di Pulau Obi
Hilirisasi nikel mengubah lanskap kehidupan warga Pulau Obi,
Halmahera Selatan, Maluku Utara. Daerah yang semula bergantung pada perkebunan
kelapa, rempah-rempah, dan hasil laut kini berkembang menjadi sentra hilirisasi
nikel. Namun, pertanian dan kelautan tetaplah sektor menjanjikan bagi masa
depan warga Pulau Obi yang harus dipertahankan. Jejak-jejak kejayaan komoditas
kelapa di pulau itu nyata terlihat di Desa Buton, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera
Selatan, Maluku Utara. Di sepanjang jalan, barisan pohon kelapa mendominasi. Umumnya,
pohon-pohonnya sudah tua, tak terawat, daunnya banyak yang kering, dan buahnya
dibiarkan jatuh berserakan. Dulunya, kelapa menjadi tumpuan kehidupan warga
Desa Buton. Daging kelapa dikeringkan menjadi kopra dikirim ke Makassar, Sulsel,
sebelum diekspor ke berbagai negara tujuan.
Sayang, harga kopra jatuh dalam dua tahun terakhir dari Rp
7.000 per kg menjadi Rp 5.000-Rp 6.500 per kg. Situasi ini, menurut Ketua
BUMDes Batu Putih, Mahfud Lohor (42), membuat banyak warga tidak lagi
bergantung pada kopra. Anjloknya harga kopra dari Rp 7.000 per kilogram (kg) menjadi
Rp 5.000-Rp 6.500 per Pada 2022, keadaan mulai berubah saat ia dan beberapa petani
lain diajak Harita Nickel mengembangkan komoditas pertanian, seperti semangka dan
padi lewat program Sentra Ketahanan Pangan Obi (Sentani). Kelapa yang
berserakan di bawah pohon dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik,
khususnya untuk semangka. Mahfud tidak menyangka, air kelapa yang selama ini
untuk melepas dahaga bisa pula menyuburkan tanaman.
Mahfud dan petani lain membuka lahan semangka seluas 3
hektar. Dalam meracik pupuk organik, para petani menggunakan air kelapa sebagai
bahan dasar, dicampur krimer kental manis, air tempe, dan gula pasir. Hasilnya,
semangka terasa manis. Dari lahan 3 hektar, para petani di BUMDes Batu Putih
bisa menghasilkan satu ton semangka. Hasilnya dijual ke Harita Nickel untuk dikonsumsi
para karyawan. Selain semangka, Program Sentani Harita Nickel juga membina
warga menanam padi, yang menghasilkan gabah kering panen (KGP) hingga 4,5 ton
per hektar setiap musim panen dari 10 hektar sawah. Peningkatan produktivitas
ini juga membuat jumlah petani di BUMDes Batu Putih bertambah, dari 10 petani
menjadi 30 petani. Beras hasil panen nantinya juga dijual ke perusahaan sebagai
konsumsi karyawan.
Di Desa Kawasi, yang berbatasan dengan kawasan pertambangan
Harita Nickel, kelompok perempuan juga dibantu mengembangkan usaha keripik
pisang dan umbi-umbian. Mereka juga memproduksi abon ikan tuna, minyak kelapa,
dan sambal roa dalam kemasan. ”Produk yang paling dicari adalah keripik pisang.
Kami awalnya tidak mengira kalau keripik pisang dikemas dan dipasarkan seperti
ini,” ujar Suryani, yang akrab dipanggil Mama Cahya, penggerak kelompok perempuan
di Kawasi. Anggota kelompoknya pun berkembang dari Sembilan orangmenjadi 19
orang. Usaha kelompok keripik ini beromzet hingga Rp 24 juta per bulan sehingga
sangat membantu menambah penghasilan anggotanya, yang sebagian besar keluarga
nelayan. Selain nikel, sektor pertanian dan perikanan yang menghidupi warga
dapat kembali menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi Maluku Utara. (Yoga)









