Kenaikan Tarif Tol Japek Pertebal Kantong Jasa Marga
Peran Instrumen Fiskal Memberdayakan UMKM
Februari, Cadangan Devisa US$ 144 Miliar
Dividen Bank Pelat Merah Semakin Merekah
Ekspor Pendorong Kinerja Mayora
Kinerja Mayora Indah Tbk (MYOR) diproyeksi bakal bertumbuh di tahun ini. Momentum musiman yakni puasa dan Lebaran bakal menciptakan lonjakan konsumsi masyarakat sebesar 20%-30% dari bulan biasa. Sehingga hal ini berimbas terhadap kinerja MYOR. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Putu Chantika Putri mengatakan, sentimen lain yang bisa mendorong kinerja MYOR di tahun ini yaitu harga bahan baku yang mulai stabil di tengah daya beli yang masih terjaga. Sehingga manajemen MYOR menargetkan pertumbuhan pendapatan bisa mencapai 10% di tahun ini. MYOR mengakhiri tahun 2023 dengan kinerja yang kuat di kuartal IV 2023. Ini didorong oleh peningkatan marjin ditambah operating expenditure (opex) di kuartal IV yang lebih rendah terhadap penjualan sebesar 9,2%. Penjualan pada kuartal IV 2023 sebesar Rp 8,6 triliun atau naik 1,8% yoy. Utamanya didorong oleh penjualan ekspor yang tumbuh 7% year on year (yoy). "Sementara penjualan lokal turun 2% yoy yang disebabkan oleh lemahnya daya beli masyarakat. Namun penjualan pada Januari 2024 telah menunjukkan peningkatan, sejalan dengan tren industri," kata Putu, dalam riset Ciptadana Sekuritas Asia, 1 Maret 2024. Pertumbuhan kuat dalam penjualan ekspor didorong oleh peningkatan inventaris untuk Tahun Baru Imlek 2024. Kinerja kuat muncul dari negara-negara Asia Tenggara. Sehingga mengimbangi melemahnya penjualan di Tiongkok dan Vietnam. Berdasarkan segmen, penjualan pengolahan makanan kemasan (termasuk biskuit dan wafer) relatif datar. Sementara penjualan pengolahan minuman kemasan (kopi dan sereal sarapan) tumbuh 10% yoy.
Secara kumulatif, total penjualan di 2023 sesuai ekspektasi sebesar Rp 31,4 triliun atau naik 2,7% yoy. Realisasi tersebut masuk dalam batas bawah kisaran panduan penjualan perusahaan ini tahun 2023 sebesar 3%-5%. Sehingga laba bersih MYOR secara kumulatif di 2023 mencapai Rp 3,2 triliun, naik 64% yoy. Harga komoditas Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi memproyeksi, konsumsi masyarakat bahkan bisa tumbuh 40% dibandingkan pada bulan biasanya pada momen puasa. Tapi harga bahan baku utama MYOR seperti gandum dan gula yang mengalami penurunan karena oversupply, faktor geopolitik di Timur Tengah menjadi sentimen yang akan mempengaruhi kinerja MYOR ke depan. Kemudian, kenaikan harga kopi dan kakao karena kekhawatiran tentang cuaca El Nino juga akan jadi sentimen bagi MYOR. Menurut Reza, program bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah Indonesia dapat mendukung daya beli masyarakat dan berdampak positif pada kinerja MYOR. Reza menilai, target yang ditetapkan oleh manajemen MYOR dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 10% yoy bisa tercapai mengingat penjualan MYOR pada kuartal keempat 2023 cukup kuat. Selaras dengan hal ini, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan turunnya harga gandum juga diprediksi dapat menurunkan beban bisnis MYOR di tahun ini. Namun, Azis menyebutkan, saat ini saham MYOR sedang tertekan. MYOR turun sebesar 3,66% dalam sepekan, dan turun 0,84% dalam sebulan terakhir. Sehingga dia menyarnakan para investor untuk wait and see terlebih dulu dan bisa masuk jika ada teknikal rebound. Kami merekomendasikan trading buy untuk saham MYOR dengan target harga Rp 2.460 - Rp 2.480 per saham, dan dengan potensi upside 5%-7% jika ada rebound, ujar Azis, Kamis (7/3). Reza merekomendasikan buy MYOR dengan target harga Rp 3.000 per saham. Putu juga merekomendasikan buy MYOR, dengan target harga 3.300 per saham. nPenjualan MYOR di dalam negeri pada tahun 2023 masih relatif lemah.
Laba Mengembang, Bank Menengah Tebar Dividen
Babak Dua OJK Vs Kresna Life
MANDIRI INVESTMENT FORUM 2024 : Indonesia Mengejar Pertumbuhan Berkualitas
Ekonomi Indonesia diproyeksikan akan terus tumbuh ke depan ditunjang stabilitas ekonomi makro yang terjaga. Tahun 2024 memberikan kesempatan bagi ekonomi temasuk Indonesia untuk bisa tumbuh lebih tinggi lagi. Arah suku bunga global yang diproyeksikan mulai menurun pada Semester II 2024, diharapkan menjadi katalis positif yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Inlasi global yang telah menunjukan tren menurun, akan semakin memberikan ruang bagi bank sentral negara-negara di dunia untuk menurunkan suku bunga. Ke depan, Indonesia tidak hanya akan fokus pada upaya mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Tetapi, Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi. Investasi untuk meningkatkan kualitas modal manusia (human capital) melalui perbaikan kualitas pendidikan dan kesehatan menjadi agenda terpenting. Selain itu, Indonesia secara bersamaan terus mengurangi angka kemiskinan dan kesen jangan sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi.
Sektor yang memegang peranan penting dalam mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkualitas adalah sektor manufaktur dan pertanian. Kedua sektor ini adalah tulang punggung ekonomi nasional karena merupakan sektor terbesar dari dalam perekonomian dan menyerap tenaga kerja terbanyak. Kebijakan penting mendorong pertumbuhan di kedua sektor ini difokuskan untuk meningkatkan produktivitas melalui perbaikan kapabilitas teknologi dan kualitas tenaga kerja.
Mandiri Investment Forum 2024 dilakukan secara hybridpada 5 Maret 2024, dihadiri 689 peserta offline dan 27.017 peserta online. Sebagai keterangan, peserta offline terdiri atas 639 peserta nasional dan 50 peserta asing. Peserta asing ini terdiri atas investor, pejabat kedutaan negara sahabat di Indonesia, dan staf lembaga internasional seperti, Asian Developent Bank dan World Bank. Tiga duta besar negara sahabat yang hadir adalah Turki, Spanyol dan Uni Emirat Arab.
SIASAT TARIK DOLAR
Penyusutan cadangan devisa patut menjadi perhatian. Meski diklaim cukup solid dan mampu menopang ketahanan eksternal, sejumlah kalangan mewanti-wanti agar bank sentral mewaspadai aneka risiko yang bisa menekan cadangan devisa. Apalagi, ketebalan cadangan devisa perlu dijaga lantaran masih menjadi instrumen utama intervensi rupiah, tatkala terjadi capital outflow. Sayangnya, surplus neraca perdagangan yang berada dalam tren menyusut, hingga rendahnya kepatuhan eksportir dalam menempatkan devisa hasil ekspor (DHE) ke dalam negeri berisiko memengaruhi postur cadangan devisa. Kemarin, Kamis (7/3), Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa pada akhir bulan lalu senilai US$144 miliar, turun dibandingkan dengan Januari 2024 yang senilai US$145,1 miliar. Nilai tukar rupiah memang relatif minim tekanan, bahkan mengarah ke apresiasi tatkala Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) mengirim sinyal pelonggaran suku bunga.
Otoritas moneter pun menyadari betul adanya risiko tersebut. Sejalan dengan itu, BI berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi ke depan. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan langkah yang akan ditempuh adalah dengan mempererat sinergi respons bauran kebijakan dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Jika dicermati, rupiah sejatinya bukan menjadi faktor utama yang akan menguras cadangan devisa pada bulan-bulan mendatang. Sebaliknya, kinerja dagang, kebijakan DHE, serta pembayaran utang luar negeri pemerintah yang menjadi penekan. Sebab secara historis, siklus pembayaran utang luar negeri pemerintah dilakukan pada pertengahan tahun. Kemudian, lemahnya permintaan di pasar global juga memengaruhi ekspor sehingga sur plus neraca perdagangan rawan menyusut.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan aturan DHE memberikan pengaruh besar terhadap cash flow perusahaan sehingga jika dipaksakan dapat berdampak negatif terhadap produktivitas ekspor.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, menambahkan kebijakan ekspor perlu berpihak kepada dunia usaha agar memacu produktivitas ekspor serta mendukung cadangan devisa. Adapun, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang, mengatakan sepanjang ruang kebijakan akomodatif maka pelaku usaha akan patuh terhadap kebijakan pemerintah.
Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) Banjaran Surya Indrastomo, cadangan devisa akan menguat pada semester II/2024 yang dipicu pudarnya aksi wait and see investor, menguatnya ekspektasi penurunan suku bunga acuan acuan, dan normalisasi inflasi.
Pekerjaan Rumah Pengelolaan Karbon
Keberadaan beleid tentang penyelenggaraan kegiatan penangkapan dan penyimpanan karbon tidak serta-merta membuat pengembangan CCS atau carbon capture and storage nasional berjalan mulus. Beberapa pekerjaan rumah masih menunggu giliran untuk diselesaikan agar fasilitas itu tersebut dapat memberikan hasil sesuai harapan. Selama ini, CCS menjadi salah satu teknologi pilihan yang mampu memitigasi lepasnya emisi gas rumah kaca (GRK), dari aktivitas pemanfaatan bahan bahan fosil di sektor industri dan pembangkit listrik skala besar. Teknologi ini pada prinsipnya menangkap kembali karbon dioksida (CO2) dari berbagai aktivitas penggunaan bahan bakar fosil yang kemudian disimpan kembali ke perut bumi, khususnya sumur minyak dan gas yang kering. Begitu modern dan rumitnya implementasi teknologi ini pada akhirnya meningkatkan biaya yang diperlukan untuk pengembangan fasilitas CCS sangat tinggi. Alasannya, selama ini CCS hanya dimanfaatkan untuk memberikan nilai tambah terhadap produk, sekaligus mempermudah pendanaan dari lembaga pembiayaan internasional. Jepang dan negara konsumen gas tradisional lainnya, misalnya, rela membeli liquefied natural gas/LNG asal Indonesia yang berlabel ramah lingkungan. Kendati, pasokan LNG diekspor dengan harga yang lebih mahal. Di antara kelebihan dan kekurangannya, sosialisasi untuk meningkatkan pemanfaatan CCS di dalam negeri masih perlu didorong lebih kencang, mengingat sebagian besar CO2 yang dihasilkan industri hulu migas masih dilepas ke atmosfer. Selain itu, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas masih awam dengan persoalan tersebut. Dalam proses penghitungan CO2 dalam skema CCS, contohnya, masih perlu diatur dengan jelas dan tegas apakah dilakukan saat penangkapan atau penyimpanan. Masalah tersebut perlu mendapatkan perhatian karena nyaris sama dengan pengelolaan LNG di sisi hulu. Di mana dalam proses penangkapan dan penyimpanan berisiko muncul kebocoran yang berakibat pada perbedaan data. Sebelumnya pemerintah telah mengeluarkan Perpres No. 14/2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon. Di dalamnya, tercantum bahwa plan for development and operation zona target injeksi (ZTI) wajib menyertai sertifikasi kapasitas penyimpanan karbon. ZTI diartikan sebagai sistem batuan dalam formasi geologi mencakup lapisan zona penyimpanan, penyangga, kedap dan perangkap geologi yang mampu menampung karbon secara aman dan permanen, serta memenuhi standar keamanan lingkungan. Dengan demikian, potensi Indonesia dikenal sebagai negara yang berpotensi yang besar untuk mengembangkan fasilitas CCS bakal lebih optimal, seiring dengan data Boston Consulting Group yang menyebut potensi ruang penyimpanan karbon di Indonesia mencapai 400—600 gigaton.









