Harga dan Force Majeur Jadi Tekanan
Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2025 Mulai Disusun
Pemerintah Mulai Cegat Barang Bawaan dari Luar
KPK Telusuri Dugaan Investasi Fiktif Petinggi Taspen
Pukulan Ganda di Awal Bulan Puasa
Ujian dan pukulan ganda mengadang masyarakat di awal bulan puasa. Lonjakan harga pangan dan biaya transportasi bakal memukul daya beli masyarakat. Di saat bersamaan, pendapatan tidak tumbuh lebih tinggi daripada lonjakan harga. Selain kelompok menengah, daya beli masyarakat di level bawah yang selama ini menerima bantuan sosial (bansos) ikut tersedak. Salah satu indikasi melemahnya daya beli, tabungan kelompok masyarakat bawah cenderung tergerus. Berdasarkan data Mandiri Spending Index hingga 25 Februari 2023, indeks tabungan masyarakat kelas bawah turun 2,4 poin ke level 39,8 dibandingkan posisi akhir bulan sebelumnya. Penyusutan tabungan ini, terjadi di tengah kenaikan indeks belanja masyarakat kelas bawah yang sebesar 20 poin ke level 263,8. Tergerusnya tabungan masyarakat juga tampak pada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), DPK Januari 2024 tumbuh 5,8% year on year (yoy). Meski pertumbuhannya lebih tinggi dari posisi Desember yang hanya 3,8% yoy, namun angka itu jauh menyusut dibandingkan posisi Januari 2023 yang tumbuh mencapai 10,49% yoy. Di jangka pendek, masyarakat menghadapi sejumlah problem, utamanya harga pangan.
Eskalasi harga pangan terutama beras, telur dan daging ayam telah mengerek inflasi pangan alias volatile food pada Februari 2024 ke level 8,47% yoy, lebih tinggi dari Januari di level 7,22% yoy. Lonjakan harga pangan juga berpotensi berlanjut hingga memasuki Ramadan. Berdasarkan pantauan KONTAN di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, harga sejumlah bahan pangan memang masih tinggi. Kabar terbaru, pemerintah akan tetap menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% mulai 1 Januari 2025, lebih tinggi dibanding tarif yang berlaku sekarang, yaitu 11%. Kondisi itu akan semakin menambah beban masyarakat, meski pemerintah memberi fasilitas berupa tidak dipungut PPN untuk barang kebutuhan pokok. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai, kenaikan harga pangan tak sebanding dengan bansos yang diberikan pemerintah. Karena itu, masyarakat kelas bawah tak cukup bila hanya menerima bansos. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat, pemerintah bisa mempertimbangkan memperluas penyaluran bansos sementara waktu saat momen Ramadan, terutama jika kenaikan harga pangan berlanjut. Dia juga menyarankan agar perluasan penerima bansos diberikan juga kepada kelompok menengah.
Pedagang Sulit Jalankan HET Baru Beras Premium
Transisi Energi Membutuhkan Sumber Daya Manusia Berkualitas
Pemerintah Indonesia terus memenuhi komitmennya dalam mengimplementasikan upaya transisi energi dengan menetapkan Enchanced National Determined Contribution (NDC) yang bertujuan signifikan dalam menurunkan emisi Gas Rumah Kaca(GRK). Target penurunan emisi GRK tahun 2030 mencapai 32 % setara 358 juta ton CO2 dari tingkat Business as Usual (BAU) menjadi langkah strategis untuk menghadapi tantangan perubahan iklim global.vTransisi energi akan memicu peningkatan kebutuhan SDM berkualitas yang memegang peran krusial dalam kesuksesan program transisi energi di Indonesia.
Ini merupakan tantangan
baru yang harus dihadapi. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Kementerian ESDM
mengadakan kegiatan “EBTKE Goes to Campus” dengan meyelenggarakan kuliah umum
berjudul “Akselerasi Pemanfaatan eneri Surya Untuk Transisi Energi”. Kegiatan
ini diselenggarakan di Universitas Negeri Semarang (UNNES) Jateng, pada Kamis
(7/3) dengan tujuan memberikan pendidikan dan pemahaman mahasiswa terkait
transisi energi di masa depan, ucap Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan
Kementerian ESDM Andriah Febby Misna dalam keterangannya di Jakarta, Senin
(11/3). (Yetede)
Pengembang Properti Terus Ekspansi
Industri Perhiasan Kian Berkilau
TRADISI RAMADHAN, Untukmu Sembako, Daging, dan Apemku
Satu-dua hari lagi Ramadhan tiba. Orang-orang di sejumlah
daerah yang masih memegang teguh tradisi sudah bersiap menyambut bulan suci.
Mereka bersilaturahmi sambil membawa sembako, apem, atau daging sapi. Di negeri
ini, Ramadhan bukan sekadar momen spiritual, melainkan juga momen sosial dan
kultural. Jumat (8/3/2024) sore, Iis Silviana (42) baru pulang kerja, kemudian menyiapkan
daftar belanjaan yang mesti dibeli untuk keperluan nyorog. Nyorog adalah
tradisi mengantarkan sembako atau bahan kebutuhan sehari-hari kepada orangtua,
mertua, atau anggota keluarga lainnya. Tradisi orang Betawi ini dilakukan
terutama jelang Ramadhan dan jelang Lebaran. Istilah nyorog umum dipakai orang
Betawi di Cakung (Jaktim) dan Bekasi (Jabar). Di wilayah Betawi lainnya, ada
yang menyebutnya sebagai anteran atau munggahan. Tahun ini Iis nyorog kepada
orangtuanya, Supiati dan Firdaus, mertua, dan empat kakak ipar. Iis menyiapkan
enam paket sembako untuk keperluan nyorog. Isinya terdiri dari gula, susu,
tepung, minyak goreng, beras, dan lain-lain. Setiap paket senilai Rp 200.000-Rp
300.000.
Tradisi serupa nyorog atau antar-antar juga mengakar kuat di Aceh.
Bukan sembako, melainkan daging, terutama sapi. Tradisi ini disebut meugang,
yang dilakukan tiga kali dalam setahun, yakni jelang Ramadhan, Lebaran, dan
Idul Adha. Meugang paling ramai satu atau dua hari jelang Ramadhan. Tradisi ditandai
dengan menyantap masakan berbahan daging, seperti kari aceh, bersama keluarga
dan kerabat. Konon tradisi ini telah berlangsung sejak zaman Sultan Iskandar
Muda, masa Kerajaan Aceh Darussalam abad ke-16, dan terawatt hingga kini. Khalis
Surry (29) termasuk salah satu warga Aceh yang selalu merayakan meugang.
”Meugang pertama (setelah menikah itu) harus ke tempat istri,” kata Khalis yang
bekerja di sebuah kantor berita pemerintah di Aceh, Kamis (7/3). Khalis telah
menyiapkan sejumlah uang untuk membeli daging sapi yang akan diserahkan kepada
mertua. Dia bilang, ”Pengantin baru wajib beli daging untuk meugang di rumah
mertua.” Kalau ditotal, ia mengeluarkan uang Rp 1 juta untuk biaya meugang dua
keluarga itu.
Di Yogyakarta dan sekitarnya, momen jelang Ramadhan juga
dirayakan lewat tradisi apeman, yakni membuat apem untuk dibagikan kepada sanak
saudara dan tetangga. Tradisi ini masih terawat dengan baik, antara lain, di
Kelurahan Sosromenduran, Kota Yogyakarta. Sejak lima tahun terakhir, tradisi
itu bahkan menjadi atraksi utama dalam pembukaan Sarkemfest atau Festival
Sarkem yang tahun ini digelar di Jalan Sosrowijayan, Jumat (1/3). Malam-malam,
para ibu berkumpul di satu RT bersama-sama membuat adonan apem dan sejumlah
penganan lain. Esok harinya, adonan dimasak dan siap disajikan. Apem bersama
sejumlah penganan lain itu kemudian diarak oleh warga dalam kirab atau pawai
budaya keliling kampung. Sebagian apem diusung dalam tampah,tetapi ada pula
yang disusun menjadi gunungan besar. Sepanjang rute kirab sekitar 1 kilometer,
ribuan potong apem dibagikan kepada warga yang menonton. Wisatawan dan
tamu-tamu hotel di kawasan yang berimpitan dengan Jalan Malioboro itu pun kebagian.
Usai kirab, apem dan penganan lain didoakan bersama dalam kenduri oleh seluruh
warga. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan makan bersama. (Yoga)









