Menjinakkan Inflasi Pangan
Lonjakan harga pangan tak hanya membuat target inflasi 2024
sebesar 1,5-3,5 persen semakin berat, tetapi juga merampok daya beli kelompok
miskin dan menengah. Inflasi pangan yang bersumber dari komponen harga pangan bergejolak
(volatile food) menjadi penyumbang terbesar angka inflasi nasional beberapa
tahun terakhir. Kenaikan inflasi pangan 3-4 tahun terakhir bahkan melampaui
rata-rata kenaikan upah minimum regional (UMR) dan gaji ASN (Kompas, 4/3/2024).
Ini menggambarkan betapa kenaikan harga pangan menggerus kesejahteraan masyarakat
bawah dan menengah. Bahkan, kenaikan UMR dan gaji ASN tak mampu mengejar laju
kenaikan harga pangan. Beras, menurut BPS, adalah komoditas penyumbang terbesar
garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun perdesaan. Sekitar 60-75 %
pengeluaran penduduk miskin kita adalah untuk pangan.
Akibatnya, kenaikan harga beras yang diikuti pangan lain akan
langsung memukul daya beli mereka. Lonjakan harga beras dipastikan juga tak
dinikmati petani kita yang sebagian besar petani gurem dan konsumen neto beras.
Apalagi dengan kian dekatnya Ramadhan dan Lebaran, yang biasanya ditandai
dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Sejauh ini, operasi pasar, kucuran
bansos, dan berbagai kebijakan lain belum mampu menjinakkan harga beras yang
sudah naik di atas 20 % dari tahun lalu. Antrean warga yang memburu beras murah
masih terjadi di sejumlah daerah. Kemelut beras selama ini menunjukkan ada masalah
dalam tata kelola pangan kita. Produksi dan produktivitas terus menurun di
tengah meningkatnya konsumsi.
Kita juga masih terus berkutat dengan problem terkait pupuk, benih,
alih fungsi lahan, dan lain-lain, yang tak kunjung selesai. Perum Bulog sering
kedodoran dalam stabilisasi. Berbagai instrumen pengendalian harga juga tak
sepenuhnya efektif. Belum lagi dampak perubahan iklim dan geopolitik global.
Pemerintah gagap mengantisipasi semua itu. Dalam jangka pendek, operasi pasar
dan penyaluran bansos secara agresif, yang mau tak mau harus ditopang impor
karena Perum Bulog kedodoran dalam mengamankan stok cadangan beras pemerintah yang
bisa diharapkan meredam lonjakan harga. Namun, dalam jangka panjang, tak ada
pilihan lain kecuali membenahi tata kelola pangan dari hulu hingga hilir,
khususnya produksi, produktivitas, dan distribusi, selain juga intervensi di
konsumsi (termasuk melalui diversifikasi pangan). (Yoga)
Jangan Tersandung di Negeri Sendiri
Dalam laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 yang dirilis
Kemenparekraf disebutkan, sektor ekonomi kreatif (ekraf) mampu menyerap sekitar
19,2 juta tenaga kerja, setara 15,2 % tenaga kerja nasional. Perputaran ekonominya
terlihat dari kontribusi terhadap PDB yang mencapai Rp 1.153,4 triliun. Dalam
neraca ekspor nasional, kontribusi ekraf terhadap ekspor nasional sebesar 19,6
juta USD atau 11,9 % pada 2019. Sejak 2011, nilainya berfluktuasi pada kisaran
15,6 juta USD hingga 20,3 juta USD dengan besaran tertinggi pada 2018. Meski
berkontribusi besar, sektor ini dinilai belum cukup mendapat perhatian
pemerintah. Sebagai gambaran, anggaran definitif Kemenparekraf pada 2024 hanya
Rp 3,53 triliun, jauh lebih kecil dari sejumlah kementerian lainnya. Total alokasi
belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 1.090,8 triliun. Padahal, efek pengganda
pada sektor ekraf terhitung besar.
Pendiri sekaligus CEO Naruna Ceramic Roy Wibisono, saat
dihubungi dari Jakarta, Selasa (5/3) menilai, potensi ekraf dengan perputaran ekonominya
tergolong besar. Naruna merasakan permintaan keramik di pasar begitu tinggi.
Kala pandemi Covid-19, Naruna yang memasok alat-alat makan buatan tangan justru
tumbuh pesat. Harga per barang dijual mulai Rp 70.000 hingga Rp 500.000. Naruna
bahkan berhasil mengekspor barang-barang keramiknya ke 16 negara, mulai dari
Singapura hingga AS. Selain desain yang unik, metode pemasaran juga menjadi
perhatian. Roy menggunakan beragam jalur penjualan, secara perorangan, melalui
pengecer (reseller), dan penjualan barang dari penyuplai ke konsumen
(dropshipper). ”Naruna itu memang riil ekraf. Bagaimana membuat sesuatu yang
biasa dengan sentuhan kreativitas sehingga harganya bisa jauh lebih kuat,” kata
Roy.
Di balik beragam potensinya, para pelaku usaha ekraf masih
bergulat dengan sejumlah hambatan. Salah satunya birokrasi yang berbelit menyulitkan
proses ekspor, yang menunjukkan minimnya keberpihakan pemerintah terhadap para
pelaku ekraf. Roy mengatakan, sertifikasi di dalam negeri juga jadi ”bumerang”
bagi keberlangsungan usaha ekraf. Banyak auditor negara lain membuat penilaian
menyesuaikan standar Indonesia, yang menyebabkan barang ditolak karena tak memenuhi
detail persyaratan standar dalam negeri ketimbang ketentuan negara calon
importir. ”Banyak sekali perizinan itu yang membuat industri di Indonesia tak
bisa bergerak dengan bebas. Saya pernah melihat perizinan untuk suatu industri
hampir 50 (unsur), seperti limbah, kebisingan, dan lain-lain. Itu semua ada masanya,
ada perpanjangan yang butuh duit juga,” kata Roy. (Yoga)
Empat Operator Seluler Kompak Stop Perang Harga
Operator telekomunikasi seluler di Indonesia menyatakan sudah
tidak ada lagi perang harga murah untuk layanan seluler. Ini bertujuan untuk
membuat bisnis setiap operator dan industri telekomunikasi tumbuh berkelanjutan.
Pernyataan itu mengemuka dalam diskusi Tech and Telco Summit 2024, Selasa (5/4),
di Jakarta. Hadir sebagai narasumber dalam diskusi yang digelar CNBC itu, Presdir
dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha, Presiden Direktur XL Axiata
Dian Siswarini, Direktur Sales Telkomsel Adiwinahyu B Sigit, dan Presdir
Smartfren Merza Fachys.
”Beberapa tahun lalu, kami jorjoran (saling bersaing) menawarkan
harga layanan data internet yang murah. Ayolah dinetralkan. Kami berharap, hal ini
akan membuat bisnis kami para operator telekomunikasi seluler tumbuh lebih
sehat dan infrastruktur jaringan telekomunikasi lebih berkualitas,” ujar Merza
yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi
Seluruh Indonesia (ATSI). Dia menambahkan, jika bisnis operator telekomunikasi
seluler tumbuh lebih sehat dan infrastruktur jaringan lebih berkualitas,
seluruh bisnis ekonomi digital yang menggunakan jaringan telekomunikasi seluler
menjadi sehat. (Yoga)
Mendamba Sistem Lapor Pajak yang Lebih Mudah dan Transparan
Meski diharuskan, belum semua wajib pajak (WP) rutin
melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilannya. Masih banyak
yang merasa tidak perlu melapor karena gajinya setiap bulan sudah dipotong
pajak. Sistem lapor pajak juga dianggap rumit untuk orang awam. Kekecewaan
semakin menjadi ketika melihat kasus korupsi pejabat masih saja marak. Gabrella
(32) sudah bekerja 10 tahun, tapi ia masih belum paham betul cara melaporkan
SPT Pajak Penghasilan (PPh 21). Pekerja Ormas asal Tangsel itu telah berusaha
rutin melapor pajak setiap awal tahun. Namun, ia tidak bisa melakukannya tanpa
didampingi orang lain yang paham soal pajak.
”Sejujurnya setiap tahun pasti lupa caranya bagaimana, karena,
kan, munculnya Cuma sekali setahun. Cukup rumit pula. Jadi, selama ini setidaknya
harus ada satu teman atau orang keuangan kantor yang menemani supaya bisa ditanya-tanya,”
ujarnya, Selasa (5/3). Tahun lalu, Gabrella terpaksa ”bolong” melaporkan SPT Tahunan.
Ia sedang tugas dinas di luar kota dan lupa kalau ada tenggat pelaporan SPT yang
berakhir setiap 31 Maret. Apalagi, saat itu tidak ada orang yang bisa
mendampinginya mengisi formulir SPT. Ia terkejut karena dikenai denda Rp
100.000 akibat tidak menyampaikan SPT tepat waktu. ”Padahal, saya sudah bayar
pajak setiap bulan, pungutannya gede, selama ini juga rajin la por, hanya
karena telat sekali,saya kena denda,” tuturnya.
WP seperti Gabrella dan lainnya berharap ke depan sistem
pelaporan SPT bisa lebih mudah bagi orang awam dan lebih transparan. Setidaknya,
wajib pajak tidak perlu repot-repot mengisi satu per satu kolom data di
formulir SPT dengan istilah rumit yang tidak dipahami. Urusan penyampaian dan pemrosesan
laporan saat ini memang sudah lebih mudah. Namun, secara substansi, proses
pengisian formulir masih dinilai sulit. Sosialisasi dan tutorial digital oleh
kantor pajak juga diharapkan lebih gencar mendekati masa pelaporan SPT. Informasi
soal tutorial itu juga sebaiknya dicantumkan dalam pesan singkat atau surat
elektronik (e-mail) yang diterima WP untuk memudahkan aksesnya. (Yoga)
INOVASI PETANI, Bersiasat dengan Pupuk dan Pestisida Organik
Ketika alokasi pupuk bersubsidi berkurang, harga pestisida
kimia bikin pusing, dan hama menyerang, sejumlah petani di Cirebon, Jabar,
tetap tenang. Mereka bersiasat dengan pupuk dan pestisida organik. Namun,
perjuangan petani untuk mandiri masih panjang. Rojai (49) tersenyum menunjukkan
drum biru berisi urine sapi yang telah melalui fermentasi di kandang miliknya
di Desa Tegalkarang, Palimanan, Cirebon, Rabu (28/2). Bagi orang lain, urine
itu bau dan kotor. Tapi, bagi Rojai, kencing sapi itu menghasilkan cuan.
Bagaimana tidak, urine itu menjadi bahan utama pupuk organik cair (POC) untuk
membantu pertumbuhan tanaman. Ia menjual POC itu dengan harga Rp 20.000 per
liter. ”Ini kalau dijual, harganya Rp 2 juta,” kata Rojai tentang wadah berisi
100 liter urine itu. Kumpulan urine tersebut berasal dari 10 sapi yang buang
air tiga hari.
Artinya, selama itu, ia bisa meraup uang yang hampir
menyentuh upah minimum kabupaten, yakni Rp 2,4 juta per bulan. POC buatan Rojai
jauh lebih murah dibandingkan harga pupuk cair kimia yang berkisar Rp 60.000-Rp
90.000 per liter. Meski demikian, POC bukan berarti murahan. Sawah yang memakai
pupuk itu batang dan daun padinya tampak hijau. Tanahnya mudah ditanami, subur.
”Urine sapi itu mengandung pestisida. Jadi, enggak usah beli obat (pestisida
kimia) lagi, larang (mahal),” ucap Ketua Kelompok Ternak Jaya itu. POC biasanya
disemprotkan ke sawah saat tanam dengan interval 10 hari berikutnya. Dalam 1
hektar, kebutuhan POC minimal 5 liter. Tidak hanya urine ternak, Rojai juga mengolah
kotoran sapi menjadi pupuk kompos. Ia bahkan memiliki kemasan khusus pupuk
organik padat dengan merek Supersonik. Harganya hanya Rp 2.000 per kg, lebih
murah daripada pupuk kimia yang bisa belasan ribu rupiah. (Yoga)
Ironi Kekurangan Kapal di Negeri Kepulauan
Pelayaran laut merupakan salah satu sarana transportasi
penting di negeri kepulauan seperti Indonesia. Ironisnya, Indonesia masih kekurangan
kapal. Keberpihakan dan konsistensi kebijakan dibutuhkan untuk membuat pelayaran
menjadi jembatan kesejahteraan warga kepulauan. Gambaran pentingnya pelayaran terlihat
dari penumpang yang mengantre masuk ke KM Kelud, kapal yang dioperasikan PT
Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni, Selasa (23/2). Kapal itu
akan berlayar dari Medan, Sumut, menuju Batam, Kepri. Sedikitnya 2.200 penumpang
naik ke kapal itu, yang mendekati kapasitas maksimumnya, yakni 2.607 tempat
tidur. Padahal, waktu pelayaran ini masuk kategori low season.
”Saat peak season biasanya terjadi lonjakan penumpang sehingga
akan dibantu kapal Pelni dari rute lain yang dianggap tidak padat,” kata Biwa Abi
Laksana, Kepala Cabang Pelni di Medan. Kondisi serupa terjadi di banyak rute
pelayaran. Seperti pada peak season Natal 2023 dan Tahun Baru 2024, KM Lambelu
memperpanjang rute pelayaran. Kapal itu seharusnya mengakhiri pos terakhir di Larantuka,
Kabupaten Flores Timur, NTT, tetapi diminta melayani hingga Kota Kupang, 9 jam
pelayaran dari Larantuka. Beralihnya kapal ke jalur lain seperti ini otomatis
menyebabkan rute yang harus dilayani menjadi kosong. Tak terhitung berapa
banyak penumpang yang terpaksa menunda keberangkatan. Berton-ton logistik juga
tertahan di pelabuhan sehingga menimbulkan biaya tambahan. Mobilitas pun
terganggu.
Data Pelni menyebutkan, jumlah kapal yang dioperasikan saat
ini 26 unit yang melayani 26 trayek dengan titik persinggahan di 71 pelabuhan. Dalam
setahun, penumpang yang diangkut terus meningkat. Tahun 2023, jumlahnya 4 juta
orang. Jumlah kapal itu jauh dari kebutuhan yang diperkirakan, yakni 61 unit,
sebagaimana hasil analisis galangan kapal di Jerman. ”Sejauh ini kami berpedoman
pada data tersebut. Analisis itu pun sudah lama, yakni tahun 2015,” kata Kepala
Kesekretariatan Perusahaan PT Pelni Evan Eryanto. Keterbatasan kapal menyebabkan
tak semua wilayah terlayani. Padahal, Indonesia terdiri atas 17.000 pulau.
Kapal menjadi transportasi andalan. Dengan terbatasnya kapal, di wilayah NTT, kapal
akan kembali menyinggahi pelabuhan setelah 14 hari, di luar waktu docking kapal
sekali dalam setahun. (Yoga)
Warga Ingin Nyaman, Sopir Angkot Takut ”Boncos”
PT Transportasi Jakarta menunda pengoperasian Transjakarta
rute S41 atau Pondok Cabe-Lebak Bulus dari rencana semula Senin (4/3). Trayek
ini terhenti operasinya seiring protes dari sopir angkot 106 (Parung-Lebak
Bulus) tahun 2019. Selama ini warga di rute tersebut hanya punya dua pilihan
angkutan umum untuk menjangkau Lebak Bulus, yakni dengan angkot 106 dan D15 (Pamulang-Lebak
Bulus). Selebihnya, warga mesti menggunakan kendaraan pribadi atau ojek daring.
Setelah turun dari MRT Jakarta di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa
(5/3) siang, Kompas menjajal angkot 106. Angkot ini ngetem (menunggu penumpang)
bersama angkot D15 dan bus kota. Wawan (65), sang sopir angkot, sudah lebih
dari satu jam ngetem. Dia menyebut kata ”Parung” kepada setiap orang yang lewat
di dekat angkot tuanya yang telah berumur 20 tahun. Wawan terbiasa dengan
kemacetan dan panas karena delapan kali pergi pulang dengan penumpang setiap
hari.
Penumpang hanya diam saja setiap kali angkot menerobos lajur
kosong. Mereka juga tak mengeluhkan panasnya angkot, kursi yang keras seperti
kayu, dan lainnya. ”Sudah biasa begini. Yang penting sampai tujuan,” kata Yahya
(38), salah satu penumpang. Yahya hampir tiap hari naik angkot 106. Dia merogoh
Rp 16.000 untuk pergi pulang, lebih murah ketimbang naik ojek daring, Rp
50.000. Tarif angkot 106 bervariasi. Pelajar biasanya membayar Rp 2.000-Rp
5.000, sedangkan penumpang dewasa Rp 8.000-Rp 10.000 sekali jalan. Sejauh ini
angkutan umum yang nyaman masih sebatas angan bagi Yahya dan penumpang lain.
Mereka ingin, paling tidak, angkot di wilayah tetangga Jakarta bisa seperti Jaklingko
yang melayani beberapa rute dari Lebak Bulus.
Yahya mendambakan angkot yang bersih dan kursinya empuk. Dia
tak ingin muluk-muluk, seperti angkot tepat waktu dan pembayaran dengan uang
elektronik, sebab sulit mengurai kemacetan di trayek Parung ke Lebak Bulus.
Davina (28) juga mendam bakan angkutan umum yang nyaman. ”Mau mengomel, tapi
hanya ada ini (angkot). Mudah-mudahan angkot bisa terintegrasi dan jadi bagus
kayak Jakarta,” ucapnya. Namun sejumlah sopir khawatir pendapatannya berkurang
jika Transjakarta beroperasi di rute Pondok Cabe-Lebak Bulus. Agus (33), sopir angkot
di rute itu, misalnya, mengandalkan penumpang yang turun dari MRT Jakarta dan
Transjakarta. Dalam sehari, pendapatan kotornya Rp 300.000. Uang itu lantas
dikurangi Rp 100.000 untuk setoran, retribusi Rp 3.000, dan BBM Rp 100.000-Rp
150.000. Agus khawatir pendapatannya tergerus dan bisa boncos jika Transjakarta
beroperasi. (Yoga)
PEMBENAHAN ANGKUTAN MASSAL : Revitalisasi Transportasi Publik Jawa Barat
Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) telah menyiapkan sejumlah rencana guna membenahi transportasi publik di wilayah ini.Penjabat (Pj.) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengungkapkan bahwa hasil pertemuan dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono pekan lalu tidak hanya berupaya merampungkan wacana Bandung Intra Urban Tol Road (BIUTR) yang mangkrak 17 tahun, tetapi juga konsep besar lainnya.Dia mengungkapkan bahwa proyek moda raya terpadu (MRT) rute Jakarta—Cikarang yang tengah diupayakan difinalisasi agar segera beroperasi. Selain itu, ada juga Inpres Jalan Daerah (IJD), revitalisasi jembatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, serta revitalisasi Jalan Parungpanjang berikut jalan khusus tambang.
Upaya ini, imbuhnya, diharapkan mampu mengurai kemacetan, khususnya di Bandung Raya. Pasalnya, ia mengatakan bahwa saat ini volume jalan sudah tidak mampu lagi menampung jumlah kendaraan.
“Kita ingin masyarakat juga terbiasa menggunakan kendaraan publik yang aman, nyaman dan tepat waktu. Kendaraan publik, kalau macet masyarakat juga enggan, balik lagi ke kendaraan pribadi atau motor. Kami inginnya Jabar jadi contoh, masyarakat beralih ke transportasi publik,” jelasnya.
INDUSTRI PARIWISATA : Apindo Dukung BUMN Tak Ekspansi di Hotel
Asosiasi Pengusaha Indonesia mendukung komitmen pemerintah agar BUMN tidak berkompetisi dengan swasta di sektor perhotelan. Ketua Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Maulana Yusran mengatakan kompetisi antara BUMN dan swasta di sektor perhotelan bisa memicu sulitnya pengembangan investasi di sektor itu. Alih-alih berkompetisi dengan swasta, dia menilai BUMN dapat menjadi inisiator seperti yang dilakukan pemerintah dengan membangun tol di wilayah Sumatra, yang dipandang kurang menguntungkan bagi pihak swasta.
Tanggapan Kadin itu merespons pernyataan calon presiden Prabowo Subianto soal Indonesia tidak membutuhkan hotel milik negara. Prabowo yang juga Menteri Pertahanan meminta masukan kepada Menteri BUMN Erick Thohir terhadap pendapatnya itu.
Dia mengungkapkan pemerintah 1950-an harus berperan besar dalam mengembangkan pariwisata dalam negeri. Kendati begitu, sudah saatnya sektor swasta mendapat ruang yang lebih besar untuk mengembangkan pariwisata di Indonesia jika memungkinkan. Dia menilai negara dapat menyusun regulasi dan melakukan pengawasan. Negara juga harus mengambil keputusan yang strategis.
Mengantisipasi Tantangan yang Berulang
Ada sejumlah tantangan nasional yang sifatnya berulang dan membentuk siklus. Sebagian siklusnya bersifat tahunan, ada pula yang lima tahunan, maupun sepuluh tahunan. Karena bersifat rutin, selayaknya masyarakat mengharapkan penanganan yang terus membaik dari waktu ke waktu. Di antara tantangan tahunan adalah apa yang selalu terjadi menjelang Ramadan dan menjelang perayaan hari raya Idulfitri. Menjelang bulan puasa, selama puluhan tahun kita selalu dihadapkan pada masalah kenaikan harga pangan Sedangkan selama Idulfitri, kita selalu menghadapi persoalan terkait pergerakan jutaan orang untuk mudik. Keduanya membawa rantai persoalan dan turunan-turunannya yang tidak sedikit. Terkait dengan soal pangan, kita layak mencermati apa yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian awal pekan ini dalam Rapat Koordinasi Pengamanan Stok dan Harga Pangan menjelang Ramadan. Mendagri mengungkapkan bahwa sejumlah komoditas pangan berpeluang mengalami lonjakan permintaan saat Ramadan. Komoditas itu di antaranya beras, cabai, minyak goreng, telur, dan ayam ras. Menurut Mendagri, deretan komoditas pangan itu terpantau masih mengalami kenaikan harga di banyak daerah sampai dengan pekan terakhir Februari 2024. Mendagri kemudian meminta Pemda melakukan rapat teknis dengan tim pengendali inflasi daerah besarta Bulog, Badan Pusat Statistik (BPS) dan asosiasi pengusaha. Selain itu, pengamanan pasokan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, telur perlu dipastikan guna menghadapi permintaan yang naik saat Ramadan dan Idulfitri. Secara umum, faktor-faktor penyebabnya sudah diketahui, celahnya telah dikenali, urutan persoalannya sudah dipahami. Dengan demikian, solusi terbaik diharapkan dapat dirumuskan, kemudian dijalankan. Kalaupun ada anomali-anomali karena perbedaan situasi dari tahun ke tahun, tentu perbaikan dari masa-masa sebelumnya diharapkan dapat meredamnya. Kalau ditelisik lebih jauh, harus diakui ini bukan persoalan sederhana. Harga pangan, misalnya, apalagi kumpulan banyak komoditas pangan, adalah akumulasi dari masalah produksi, tata niaga, sebaran produsen dan sebaran konsumen, distribusi, pengendalian impor-ekspor, serta masalah lainnya. Sebuah rantai yang panjang dan cukup kompleks. Ada beberapa hal yang dapat kita amati dari penanganan atas persoalan yang berulang tersebut. Pertama, perhatian kepada detail. Kedua, jangan terlena dengan kesibukan politik. Ketiga, perlunya antisipasi jangka panjang.









