;

Kenaikan Tarif PPN Bisa Jadi Bumerang bagi Perekonomian

Yoga 13 Mar 2024 Kompas (H)

Rencana pemerintah menaikkan tarif PPN menjadi 12 % pada 2025 bisa dianggap sebagai ”jalan pintas” menaikkan penerimaan negara. Namun, langkah itu bisa menghambat pertumbuhan sejumlah indikator ekonomi nasional dan menekan kelompok masyarakat menengah-bawah. Pemerintahan ke depan memang mempunyai tanggungan janji-janji kebijakan baru yang ingin direalisasikan ketika menjabat. Namun, kondisi ekonomi masih serba tidak pasti. Daya beli masyarakat juga sedang lesu terimpit kenaikan biaya hidup.”Menaikkan PPN memang langkah paling mudah dan cepat untuk mengerek penerimaan, apalagi sumber pemasukan lain sekarang lagi turun. Namun, dampaknya bisa jadi buruk bagi pertumbuhan ekonomi, pendapatan masyarakat, dan konsumsi rumah tangga,” kata ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, Selasa (12/3).

PPN adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa. Karena itu, kenaikan tarif PPN dari 11 % menjadi 12 % akan berdampak terhadap kenaikan harga barang dan jasa tertentu di pasar. Ibaratnya, untuk barang seharga pokok Rp 10.000, dengan tarif 12 %, harga yang dibayar konsumen menjadi Rp 11.200. Ketika tarif PPN pertama kali dinaikkan dari 10 % menjadi 11 % pada 2022, Indef pernah membuat simulasi perkiraan dampak kebijakan itu terhadap sejumlah indikator perekonomian nasional. Saat itu, Indef mengandaikan tarif PPN pada 2025 akan naik dari 11 % menjadi 12,5 %, maka pertumbuhan ekonomi berpotensi tergerus 0,11 %, konsumsi masyarakat melambat 3,32 %, dan upah nominal pekerja turun 5,86 %.

Kenaikan tarif PPN juga bisa menaikkan harga produk akhir di pasar dan menghambat laju konsumsi rumah tangga yang selama ini jadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika harga barang dan jasa di pasar naik, ditambah stagnasi pendapatan dan kenaikan harga kebutuhan pokok lain, masyarakat akan mengurangi konsumsi sejumlah barang-jasa. ”Masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah, pasti akan menyesuaikan dengan harga  barang yang ada. Kecuali itu memang kebutuhan pokok sehari-hari, jika harganya naik, masyarakat pasti akan mengurangi konsumsi. Ujung-ujungnya, demand berkurang, konsumsi turun, ekonomi tidak bergerak maksimal, dan pertumbuhan bisa melambat,” tutur Tauhid. (Yoga)

Ekraf Jadi Sumber Pertumbuhan Baru

Yoga 13 Mar 2024 Kompas

Gegap gempita dan gemerlap konser Taylor Swift selama enam hari di Singapura, 2-9 Maret 2024, baru saja lewat. Sekarang, pemerintah, penyelenggara, semua pemangku kepentingan terkait, dan berbagai elemen yang kecipratan manfaat barangkali sedang menghitung jumlah cuan yang masuk. Dari perspektif ekonomi kreatif (ekraf), sukses kolaborasi berbagai pihak dan aspek dalam perhelatan itu menjadi bukti dahsyatnya kekuatan ekraf. Dalam penerimaan pariwisata saja, Singapura diperkirakan meraup 260 juta USD hingga 375 juta USD atau Rp 4 triliun hingga Rp 5,8 triliun. Event itu juga bisa menjadi benchmark bagaimana seharusnya menggarap ekonomi kreatif. Ini tidak sebatas pada konser musik, tetapi untuk semua cabang ekraf.

Untuk Indonesia, Titik tolak yang barangkali bisa menjadi konsensus bersama sekaligus klise adalah ekraf Indonesia punya potensi besar, tetapi perkembangannya belum optimal. Berbagai kajian menyimpulkan, peran ekraf vital sebagai sumber pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan efek pengganda luas dalam perekonomian suatu negara. Petikan wawancara Kompas dengan Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno, di Jakarta, Rabu (6/3) mengungkapkan, ”Swiftonomics” kini banyak dikaji akademisi dan analis. Salah satu ekonom menyampaikan, dari setiap konser (Taylor Swift) TS di Singapura, 70 % penonton berasal dari luar Singapura. Dana yang dihabiskan mulai dari 350 juta USD hingga 500 juta USD. Konon kabarnya, rahasia ”dapur” mereka, (pemerintah) mendukung 15 juta USD atau Rp 235,8 miliar (kurs Rp 15.723 per USD). Maka, nominal ini sudah kembali dengan cepat berkali-kali lipat.

Ini sebuah langkah kemampuan yang harus kita miliki, kombinasi kemampuan menghadirkan venue berskala internasional, menghadirkan kebijakan yang kondusif, dan dana pendamping yang tersedia. Maka, kita harus mengembangkan infrastruktur, mempermudah perizinan penyelenggaraan event. Kita harus kolaborasi dengan stakeholders. Pemerintah harus hadir, harus bisa mendampingi. Misalnya, nanti Indonesia mendapat kesempatan menghadirkan the next TS, kita harus mampu menyediakan bukan hanya konser, hotel, produk-produk kuliner, dan suvenir. Namun, kita juga harus cari produk-produk yang bisa dijual dan unggul dari Indonesia sebagai adidaya seni dan budaya, ekonomi hijau. Kita harus mengambil peran yang lebih kuat lagi ke depannya. (Yoga)

Investasi di Jateng Naik, Lapangan Kerja Baru Terus Meningkat

Yoga 13 Mar 2024 Kompas

Berbagai upaya Pemprov Jateng dalam menurunkan angka pengangguran layak diapresiasi. Berdasarkan catatan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, nilai investasi di provinsi itu melonjak, selama tahun 2023 mencapai Rp 77,02 triliun. Meningkat dibanding taun 2022 di rp 68,4 triliun. Sektor yang diminati investor diantaranya industri barang dari kulit dan alas kaki, mesin elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, makanan dan jasa. 

Pj Gubernur Jateng Nana Sujana mengatakan, sebagai penumpu industri nasional, arah kebijakannya adalah peningkatan produktivitas industri pengolahan, pengembangan industri bahan baku lokal,  penguatan rantai pasok antar industri didukung konektivitas dan logistik pendukung, serta penumbuhan Kawasan Peruntukan Industri (KPI ) baru. 

Menurut data DPMPTSP Jateng, investasi yang masuk di wilayahnya selama 2023 mampu menyerap 280.643 tenaga kerja, meningkat dibanding 2022 yang menyerap 215.775 tenaga kerja. Tingginya penyerapan tenaga kerja itu disebabkan sektor padat karya masih menjadi unggulan investasi di Jateng. Dampaknya, berdasar data BPS, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jateng tahun 2023 sebesar 5,13 %, lebih kecil dari TPT nasional di 5,32 %. (Yoga)

Bahaya, Salah Sebut Nama Orang di Dalam Perusahaan

Yoga 13 Mar 2024 Kompas

Beberapa orangtua belakangan makin rumit dan aneh memilih nama untuk anaknya. Akibatnya, saat anak itu kelak berada di dunia kerja, orang sering kali salah mengucapkan nama teman, karyawan, atau atasan di dalam perusahaan atau sebaliknya. Perusahaan internasional makin sering mengalami masalah seperti ini karena karyawan berasal dari berbagai bangsa. Salah ucap nama menjadi urusan panjang di dalam sebuah tim atau organisasi. Dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Namecoach, sebuah perusahaan yang memfasilitasi pengucapan nama dengan menggunakan audio secara daring, 38 % responden melaporkan bahwa nama mereka salah diucapkan di tempat kerja. Sebaliknya, 74 % karyawan mengatakan, mereka sulit mengucapkan nama orang di tempat kerja. Akibatnya, beberapa karyawan enggan memperkenalkan, berbicara, atau menelepon rekan kerja tersebut.

Laporan MIT Sloan Management Review terbaru menyebutkan, meski salah mengucapkan nama karyawan mungkin tampak tidak berbahaya, hal ini menimbulkan kerugian yang besar. Pengucapan nama yang benar adalah praktik yang sering diabaikan. Padahal, pengucapan nama yang benar akan mendorong inklusi dan rasa memiliki di tempat kerja, yang mungkin sangat relevan bagi karyawan internasional. Penelitian menunjukkan, pengucapan nama yang tepat meningkatkan rasa memiliki dan keamanan psikologis. Dalam konteks tim, pengucapan yang benar mendorong pembentukan, pengembangan, dan kohesi tim. Ketika perusahaan makin mengglobal. para pemimpin serta pemikir modern merencanakan cara-cara inovatif untuk menghilangkan masalah segregasi etnis dan olok-olok soal nama. Persoalan ini serius karena kesalahan nama mengurangi inklusivitas dan mengurangi rasa memiliki di dalam perusahaan. (Yoga)

Ramadhan dan Ekonomi Pisang

Yoga 13 Mar 2024 Kompas

Ramadhan tiba. Di Indonesia, pisang bakal menjadi salah satu teman sahur atau berbuka puasa. Di balik itu, pisang turut menjadi penggerak ekonomi dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bahkan menyebut pisang sebagai tanaman pangan terpenting keempat di dunia setelah gandum, padi, dan jagung. Kala Ramadhan, pisang beserta produk-produk olahannya semakin banyak diperjual belikan. Para pedagang musiman turut bersanding dengan para pedagang regular menjajakan aneka jajanan pisang, antara lain pisang goreng, kolak pisang, es pisang ijo, dan pisang molen. Ramadhan juga menjadi momentum untuk mengenal aneka sajian pisang dari banyak daerah di Indonesia. Sumbar dan Sumut mempunyai cekodok, sedangkan Makassar terkenal dengan es pallu butung, pisang epe, dan barongko.

Lampung dan Sulawesi masing-masing memiliki geguduh pisang dan sanggara talemme. Adapun Surakarta dan Gresik masing-masing mempunyai carang gesing dan bongko kopyor. Satu produk pisang goring bahkan memiliki berbagai sebutan atau nama khas di sejumlah daerah di Indonesia, yang muncul karena ada perbedaan bentuk, cara mengolah, dan makan, meskipun sama-sama digoreng. Pisang goreng di Pontianak dan Pekanbaru disebut sebagai pisang goreng kipas karena bentuknya seperti kipas. Di Banjar, Banten, dikenal pisang goreng telanjang karena digoreng tanpa tepung dan dicampur mentega. Sementara pisang goring khas masyarakat Bugis di Kalimantan dikenal sebagai sanggara pepe. Pisang yang ditumbuk pipih sebelum digoreng ini disantap menggunakan sambal.

Pisang goreng serupa juga ada di Manado. Pisang goreng ter- sebut disantap menggunakan sambal roa. Tidak heran jika Taste Atlas, laman panduan wisata dan kuliner dunia, menempatkan pisang goreng Indonesia sebagai camilan penutup makan terbaik dunia pada 2023, menempati peringkat pertama di antara 50 camilan dari 40 negara. BPS juga menyebutkan, pada 2022, nilai ekspor pisang di Indonesia mencapai 8,7 juta USD, meningkat 42,81 % dari tahun sebelumnya. Di tengah berbagai tantangan, Indonesia tidak hanya membidik pasar pisang dalam negeri, tetapi juga pasar luar negeri. Bahkan, salah satu provinsi di Indonesia, yakni Sulsel, menjadikan pisang sebagai salah satu solusi mengatasi kemiskinan dan pengangguran. (Yoga)

Momentum Lebaran Dongkrak Pembiayaan Kendaraan Bermotor

Yoga 13 Mar 2024 Kompas

Berdasarkan tren sebelumnya, peningkatan penyaluran pembiayaan kendaraan akan dimulai sebulan sebelum Idul Fitri atau pada bulan suci Ramadhan. Dirut PT BCA Finance Roni Haslim mengatakan, tren pembiayaan menjelang Lebaran atau saat bulan Ramadhan biasanya akan naik. Peningkatan pembiayaan tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang tahun. ”Setiap tahun memang momentum Lebaran akan mengangkat penjualan mobil, baik baru maupun bekas. Kita semua mengharapkan tahun ini juga akan demikian,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (12/3). Roni menyebut, pembiayaan baru (new booking) pada Maret 2024 ditargetkan mampu mencapai Rp 4 triliun atau cenderung sama dengan torehan pada Maret 2023. Strategi yang dilakukan agar target tersebut tercapai antara lain menurunkan bunga pinjaman pembiayaan mobil bekas serta menerapkan bunga 6 % secara tetap (flat) untuk mobil keluaran tahun baru bertipe fast moving.

Secara keseluruhan, BCA Finance pada 2023 telah membukukan pembiayaan baru sebesar Rp 40,6 triliun atau tumbuh 22,4 % dibanding tahun 2022. Pada 2024, BCA Finance memasang target penyaluran kredit kendaraan bermotor sebesar Rp 43 triliun atau tumbuh 7,5 % dibanding capaian 2023. Direktur Bisnis PT BFI Finance Indonesia Tbk Sutadi menyampaikan, pihaknya memiliki dua jenis pembiayaan, yakni pembiayaan beragun tidak langsung dengan manfaat berupa dana multiguna dan pembiayaan beragun langsung dengan manfaat berupa kendaraan yang diinginkan konsumen. Kedua jenis pembiayaan tersebut mensyaratkan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) sebagai jaminannya. ”Kedua produk kami diprediksi mengalami kenaikan karena adanya kebutuhan masyarakat. Dengan adanya kepastian investasi dan ekonomi pasca-pemilu, pergerakan ekonomi masyarakat akan kembali menggeliat, khususnya di sektor usaha. Sementara untuk produk kepemilikan kendaraan juga meningkat karena digunakan sebagai fasilitas untuk kebutuhan hari raya dan seterusnya,” ujarnya secara tertulis. (Yoga)

Belanja Busana pada Bulan Puasa

Yoga 13 Mar 2024 Kompas
Pengunjung memadati lapak pedagang untuk mencari pakaian muslim di Pasar Johar, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (11/3/2024). Mereka berbelanja beragam jenis pakaian muslim yang akan dikenakan pada kegiatan sosial keagamaan dari mengaji sampai acara buka bersama selama bulan Ramadhan, bahkan nantinya untuk acara lebaran bersama teman dan keluarga. Busana muslim model gamis saat ini banyak diminati karena mengikuti tren mode yang terus berkembang. (Yoga)

Relaksasi Harga Beras Bisa Kerek Pendapatan Petani

Yoga 13 Mar 2024 Kompas

Petani di Jatim menyambut positif kebijakan pemerintah merelaksasi harga eceran tertinggi (HET) beras premium dari Rp 13.900 per kg menjadi Rp 14.900 per kg. Beleid itu diharapkan mengerek harga gabah sehingga harganya tetap tinggi menjelang panen raya di awal tahun ini. Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Jatim Suharno mengatakan, rata-rata hasil panen petani padi tahun ini turun menjadi 4-5 ton per hektar. Hasil panen itu jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 6-7 ton per hektar. Pemicunya adalah mahalnya komponen biaya produksi, terutama pupuk yang harganya beberapa kali lipat lebih tinggi karena ketiadaan pupuk bersubsidi. Dampaknya, kebutuhan pupuk sesuai komposisi pemupukan berimbang tak terpenuhi.

”Karena kekurangan pupuk, tanaman tidak bisa tumbuh dan berkembang secara maksimal sehingga produksi padinya juga kurang bagus. Sekarang petani hanya dapat 4-5 ton gabah kering panen per hektar,” ujar Suharno, Selasa (12/3). Pemerintah merelaksasi harga eceran tertinggi (HET) beras premium yang menyasar delapan wilayah di Indonesia. HET disesuaikan dengan kenaikan Rp 1.000 per kg dari sebelumnya sehingga untuk Pulau Jawa, Lampung, dan Sumsel, HET harga beras premium menjadi Rp 14.900 per kg, naik dari sebelumnya Rp 13.900 per kg. Kebijakan berlaku pada 10-23 Maret 2024 atau selama dua pekan. Petani berharap kenaikan HET beras premium akan mengerek harga gabah. Setidaknya, penurunan harga gabah pada panen saat ini tidak terlalu tajam sehingga harga yang diterima petani tetap tinggi, yakni Rp 7.000 per kg kering panen. (Yoga)

Teknologi Efisienkan Budidaya Perikanan di Maluku

Yoga 13 Mar 2024 Kompas

Teknologi digital dinilai mampu mengefisienkan produksi sektor perikanan budidaya. Pemilihan lokasi dan pemberian pakan berlebih menjadi permasalahan utamanya. Namun, sektor ini berpotensi tumbuh dengan bantuan teknologi digital. Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon Sarwono menjelaskan, potensi perikanan budidaya di Maluku, khususnya Ambon, masih terbuka lebar. Minat masyarakat mulai meningkat. Namun, mayoritas masyarakat masih memilih bidang perikanan tangkap karena faktor kebiasaan dan teknik budidaya yang dinilai sulit. Budidaya ikan yang dilakukan di Maluku pun masih didominasi di air laut. Padahal, khusus di Ambon, potensi budidaya ikan air tawar relatif besar. Total potensi lahan budidaya air tawar mencapai 17 hektar. Namun, luas lahan yang dimanfaatkan kurang dari 10 %. Teknologi di sektor budidaya, sudah berkembang sehingga budidaya ikan seharusnya menjadi lebih mudah.

Teknologi membantu digitalisasi rantai produksi, mulai dari pemilihan lokasi budidaya menggunakan satelit, penghitungan benih yang ditebar, serta pemberian pakan otomatis. Optimalisasi produksi penting agar ukuran ikan seragam. Keseragaman hasil produksi membantu pembudidaya memasarkan produknya di pasar. ”Kerja sama dengan pihak swasta pengembang teknologi budidaya perlu ditingkatkan, sementara BPBL fokus mengembangkan benihnya. Rantai produksi yang efisien membuat harga ikan juga bisa lebih optimal sehingga menguntungkan konsumen dan produsen,” kata Sarwono di Ambon, Maluku, Selasa (12/3). Vice President Public Affairs eFishery Muhammad Chairil mengatakan, teknologi di bidang budidaya yang dimiliki perusahaannya mencoba menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. ”Pembudidaya di Ambon belum ada yang menggunakan teknologi ini. Kami berharap digitalisasi ini bisa masuk dan membantu,” ujarnya. (Yoga)

Fitofarmaka, Potensi Menuju Kemandirian Bidang Farmasi

Yoga 13 Mar 2024 Kompas

Potensi pengembangan obat fitofarmaka atau obat yang dikembangkan dari bahan alam yang sudah teruji khasiat dan keamanannya sangat besar di Indonesia. Namun, pemanfaatannya masih terbatas. Saat ini, baru ada 22 produk fitofarmaka yang sudah diproduksi di Indonesia. Sekitar 80 % tumbuhan obat di dunia diperkirakan ada di Indonesia, sebanyak 9.600 tumbuhan sudah teridentifikasi sebagai tanaman obat. Namun, baru 4.410 simplisia atau bahan alami yang digunakan untuk bahan baku obat yang terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (Kompas, 13/5/2017). Saat ini, 95 % bahan baku obat di Indonesia masih diimpor. Hal ini menjadi ironi jika melihat sumber daya alam Indonesia sebenarnya sangat berlimpah.

Ketua Departemen Ilmu Farmasi Kedokteran Fakultas Kedokteran UI (FKUI) Adisti Dwijayanti saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (9/3) mengatakan, obat fitofarmaka merupakan obat herbal atau obat yang dikembangkan dari bahan alam yang sudah teruji khasiat dan keamanannya. Berbeda dengan jamu dan obat herbal lainnya, obat fitofarmaka sudah teruji secara lengkap, baik uji praklinik maupun uji klinik atau pengujian pada hewan coba dan pada manusia. ”Obat fitofarmaka ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, sama seperti dengan penggunaan obat konvensional atau oleh awam sering disebut obat kimia. Obat fitofarmaka yang sudah beredar memiliki khasiat yang sudah teruji dan mampu bersaing dengan obat konvensional,” tuturnya.

Tapi, sekalipun potensi pengembangan sumber daya alam sangat besar serta aturan terkait sudah tersedia, pengembangan fitofarmaka di Indonesia masih terbatas. Saat ini, baru ada 22 produk fitofarmaka yang sudah diproduksi di Indonesia, terbagi dalam enam jenis obat, meliputi kombinasi ekstrak herbal seledri dan ekstrak daun kumis kucing untuk menurunkan tekanan darah; fraksi atau bagian dari ekstrak kulit kayu manis untuk meringankan gangguan lambung; fraksi dari ekstrak campuran daun bungur dan kulit kayu manis sebagai terapi kombinasi untuk pasien diabetes melitus tipe 2; ekstrak herba meniran untuk memperbaiki sistem imun; kombinasi ekstrak ikan gabus, buah jeruk, dan rimpang kunyit untuk meningkatkan kadar albumin; serta ekstrak cacing tanah untuk memperlancar sirkulasi darah.

Dalam penggunaan fitofarmaka, tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan dapat merujuk pada formularium fitofarmaka yang sudah diterbitkan Kemenkes tahun 2022. ”Fitofarmaka dibuat dari bahan alam Indonesia sehingga diharapkan dapat digunakan oleh masyarakat kita sendiri agar kita dapat mencapai kemandirian obat. Obat yang dikembangkan dari bahan alam juga ada di negara lain, tetapi dengan terminologi yang berbeda yang tidak selalu disebut fitofarmaka,” jelas Adisti. (Yoga)

Pilihan Editor