;
Kategori

Sosial, Budaya, dan Demografi

( 10118 )

JELAJAH SINYAL 2022 : Memantik Pembayaran Digital Lewat Pemerataan Jaringan

09 Nov 2022

Kehadiran akses internet ikut mendorong tumbuhnya pembayaran digital Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Flores. Kehadiran infrastruktur telekomunikasi membuat adopsi QRIS menjangkau hingga pasar tradisional. Fandi, seorang pedagang sayuran di Pasar Cancar, Kelurahan Waebelang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, misalnya. Dia mengatakan lapaknya sudah menerima pembayaran menggunakan QRIS. Berkat pembayaran digital itu, katanya, pembeli tidak perlu membawa uang tunai lagi. “Iya belum lama ini ada beberapa pedagang pasar tradisional sini yang ditawarkan memakai QRIS, ya saya mau. Jadinya pembeli bisa ba yar lewat QRIS, tetapi cash juga masih kami terima,” tutur Fandi kepada Tim Jelajah Sinyal 2022 Bisnis Indonesia, Sabtu (5/11). Selain menggunakan QRIS, sinyal internet yang baik juga membantu para pedagang pasar untuk memantau perkembangan harga di kelurahan lain. Pedagang lain di Pasar Cancar, Wati, mengungkapkan bahwa pihaknya dapat mengikuti perkembangan isu yang mempengaruhi harga bahan pokok di pasar.

Pentingnya Regulasi dan Pengawasan Berbasis Teknologi

08 Nov 2022

Pemerintah dan DPR sedang membahas RUU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau RUU P2SK. Regulasi berformat omnibus ini diharapkan bisa meredefinisikan kembali sektor keuangan agar lebih sesuai dengan kondisi saat ini. Sebagai fondasi penting untuk memperkuat sektor keuangan, UU ini akan diturunkan dalam peraturan di bawahnya agar dapat diimplementasikan dengan baik. Beberapa survei industri keuangan memperkirakan biaya pemenuhan kewajiban kepatuhan (compliance cost) mencapai 5 % total biaya. Adapun potensi biaya karena tidak memenuhi kepatuhan bisa dua hingga tiga kali lipat. Dalam hal ini, regulatory technology (RegTech) dan supervisory technology (SupTech) dapat membantu. RegTech adalah penerapan teknologi agar regulator dan pelaku industri bisa lebih efektif dan efisien. Misalnya, pada proses perizinan, pelaku industri yang mengajukan izin umumnya berurusan dengan birokrasi, sulit mengetahui sampai di mana proses perizinan berlangsung dan kapan akan keluar. Saat ini regulator, seperti OJK dan BI, mulai menyediakan mekanisme perizinan digital atau e-licensing yang diharapkan transparan, seperti halnya e-dagang memiliki mekanisme pemantauan pesanan. e-licensing akan banyak membantu pelaku industry keuangan.

Ke depannya, konsep machine-readable regulation tidak hanya dapat digunakan untuk pengaturan  bersifat kuantitatif, tetapi juga pengaturan konseptual dan kualitatif. Untuk itu, regulator perlu menerbitkan peraturan dalam format yang bisa dianalisis dan dipahami secara semantik dengan  kecerdasan artifisial dan machine learning di sisi pelaku industri. Selain RegTech, regulator juga perlu menerapkan SupTech atau pengawasan berbasis teknologi. SupTech bisa diterapkan untuk pelaporan yang kini masih relatif manual. Beberapa regulator memang mulai menerapkan pelaporan daring misalnya BI dengan BI Antasena dan OJK dengan OJK-BOX (OBOX). Namun, umumnya data yang disimpan oleh pelaku industri diolah dulu menjadi laporan dengan format tertentu, lalu diunggah ke sistem pelaporan daring. Pengolahan manual di sisi regulator pun tidak jarang masih harus dilakukan. Ini bisa dibuat lebih mulus dengan mewajibkan pelaku industri melaporkan dalam format digital standar, misalnya menggunakan extensible business reporting language (XBRL), di mana semua field pelaporan distandardisasi. Dengan standardisasi yang baik antar-regulator pelaku industri yang harus melapor kepada dua atau lebih regulator dapat membuat pelaporan lebih efisien karena tidak menggunakan format khusus dari regulator tertentu. (Yoga)


Dunia Kerja Membaik, tetapi Belum Pulih 100 Persen

08 Nov 2022

Kondisi ketenagakerjaan Indonesia semakin membaik, seperti kenaikan jumlah penduduk bekerja, penduduk bekerja penuh waktu, bekerja di sektor formal, dan penurunan tingkat pengangguran  terbuka. Hal ini diyakini berjalan seiring dengan menguatnya perekonomian. Meski demikian, kondisi tersebut belum 100 % menyamai masa sebelum pandemi Covid-19. Kepala BPS Margo Yuwono  mengatakan, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2022, jumlah angkatan kerja 143,72 juta orang atau naik 3,57 juta orang dibanding Agustus 2021. Adapun jumlah penduduk bekerja tercatat 135,3 juta orang atau meningkat 4,25 juta orang dibanding Agustus 2021.

”Perekonomian mulai pulih dan menguat. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 4,25 juta orang. Pada saat yang sama terjadi penambahan angkatan kerja 3,57 juta orang. Namun, karena tidak semua tambahan angkatan kerja bisa diserap pasar sehingga sebagian akan menjadi pengangguran,” ujar Margo dalam konferensi pers, Senin (7/11) di Jakarta. Margo menyampaikan, membaiknya kondisi ketenagakerjaan Indonesia juga tecermin pada peningkatan proporsi pekerja formal. Pada hasil Sakernas Agustus 2022, proporsi pekerja formal 40,69 %, naik tipis dibandingkan Agustus 2021 sebesar 40,55 % dan Agustus 2020 sebesar 39,53 %. Meski demikian, pencapaian Agustus 2022 masih lebih rendah dibandingkan Agustus 2019 sebesar 44,12 %. (Yoga)


Bank Muamalat Biayai RS NU di Jawa Barat

08 Nov 2022

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk memimpin sindikasi pembiayaan pembangunan rumah sakit milik Nahdlatul Ulama (NU) di Jabar. Total dana yang disalurkan Rp 240 miliar. Chief Wholasale Banking Officer Bank Muamalat Irvan Y Noor mengatakan, rumah sakit yang berlokasi di Cianjur tersebut menggandeng Edelweiss Healthcare Group dan merupakan RS pertama milik NU di Jabar. Rumah sakit ini diproyeksikan jadi rumah sakit modern. (Yoga)

Kelas Menengah Belanja, Ekonomi Tumbuh 5,72%

08 Nov 2022

Di luar perkiraan para pengamat, ekonomi Indonesia kuartal III-2022 tumbuh impresif 5,72% secara year on year (yoy), naik dari 5,45% pada kuartal II dan 5,02% pada kuartal I tahun ini. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 5,39% dan mengontribusi 50,38% terhadap produk domestik bruto (PDB). Selain dana perlindungan sosial yang diberikan pemerintah kepada kelompok menengah bawah, konsumsi rumah tangga terutama didorong oleh belanja kelas menengah-atas. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi bisa di atas 5,3%. “Ini capaian dan prestasi dari seluruh masyarakat Indonesia di tengah terpaan kondisi global yang semakin tidak menentu. Namun kita masih bisa menjaga pertumbuhan eko[1]nomi, bahkan trennya makin menguat,” ujar Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi secara online, Senin (7/11).

Namun, ke depan, laju inflasi perlu dikendalikan dengan lebih ketat. Karena inflasi tinggi terbukti menghambat per tumbuhan ekonomi. Data BPS menunjukkan, seiring dengan lonjakan inflasi bahan makanan dari 2,78% (yoy) pada Januari 2022 menjadi 8,69% (yoy) pada September 2022, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB berangsur-angsur turun. Pada kuartal I-2022, kontribusi komsumsi rumah tangga terhadap PDB masih sebesar 53,65%, namun susut menjadi 51,47% pada kuartal II-2022 dan 50,38% pada kuartal III-2022. Pengendalian inflasi, terutama inflasi komponen bergejolak (volatile food), dinilai menjadi kunci untuk menjaga agar kinerja komsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama PDB Indonesia. Karena itu, inflasi bahan makanan pada Oktober 2022 yang telah turun menjadi 7,04% (yoy) dan diharapkan terus melemah, bisa mendukung peningkatan konsumsi rumah tangga pada kuartal keempat 2022. Selain inflasi, penurunan kontribusi konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2022 juga disebabkan oleh mementum Puasa dan Lebaran pada kuartal II-202. (Yoga)


KILANG GAS ALAM CAIR : DILEMA PRODUKSI LNG BONTANG

08 Nov 2022

Cukup besarnya potensi sisa kargo atau uncommitted cargo gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Kilang Bontang, Kalimantan Timur menjadi dilematis di tengah masih tingginya permintaan dan harga jual komoditas tersebut. Di satu sisi, potensi sisa kargo LNG dari Kilang Bontang menjadi peluang bagi Indonesia untuk memasarkannya ke pasar spot, sejalan dengan harganya yang diproyeksikan tetap tinggi hingga 2 tahun mendatang. Di sisi lain, LNG Indonesia dinilai akan sulit bersaing karena harga jualnya yang tidak kompetitif dibandingkan dengan produk lain di pasar ekspor. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menyebutkan bahwa potensi kargo LNG di Kilang Bontang yang belum terkontrak masih cukup besar sehingga diharapkan bisa menaikkan keekonomian lapangan serta investasi di sekitar kawasan tersebut. Secara keseluruhan, Dwi menjelaskan bahwa total produksi siap jual atau lifting LNG pada 2023 ditargetkan mencapai 206 standar kargo, dengan perincian 126 kargo dari Kilang LNG Tangguh dan 80 kargo dari Kilang LNG Bontang. Kendati demikian, tidak ada sisa UC LNG dari Kilang Tangguh pada tahun depan lantaran volume Train 3 telah dipasarkan sejak beberapa tahun lalu. Terkait dengan potensi UC LNG dari Kilang Bontang, Direktur Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal menilai produk LNG itu bakal sulit mengambil momentum harga jika ditawarkan di pasar spot untuk kontrak jangka pendek pada tahun depan.

Sanur Jadi KEK Kesehatan Pertama di Indonesia

07 Nov 2022

Pemerintah resmi menetapkan Sanur yang berlokasi di Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Penetapan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2022 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Sanur yang diteken Presiden Joko Widodo pada 1 November 2022. Kawasan seluas 41,26 hektare (ha) itu ditetapkan sebagai KEK pertama yang berfokus pada industri kesehatan dan pariwisata di Indonesia. KEK yang berada di areal Hotel Grand Inna Bali Beach Sanur ini dikelola oleh BUMN PT Hotel Indonesia Natour. KEK anyar ini ditargetkan bisa menyerap investasi sebesar Rp 10,2 triliun. Dari jumlah investasi itu, sebanyak Rp 3,7 triliun sudah terealisasikan dalam bentuk aset Hotel Grand Inna Bali Beach.

Prospek Landai Emiten Rokok

07 Nov 2022

Keputusan pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau rata-rata 10% pada 2023 dan 2024 bakal kian menekan kinerja laba emiten rokok. Tahun ini saja, laba sejumlah produsen rokok yang melantai di Bursa Efek Indonesia sudah anjlok lebih dari 30% secara agregat. Seperti diketahui, usai rapat bersama Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pekan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan keputusan presiden untuk menaikkan tarif rata-rata tertimbang cukai hasil tembakau. Penaikan tarif cukai pun ditetapkan berbeda untuk setiap golongan rokok. Tarif cukai untuk sigaret kretek mesin I dan II naik rata-rata antara 11,5%—11,75%. Adapun, tarif cukai untuk sigaret putih mesin I dan II naik sekitar 11%, serta sigaret kretek tangan rata-rata naik hingga 5%. Terlebih, kinerja emiten rokok tahun ini pun tengah melesu. Hingga kuartal III/2022, dua raksasa emiten rokok yakni PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk. mencatatkan penurunan laba yang relatif tajam. Dalam laporan keuangan perusahaan, laba bersih HMSP tercatat senilai Rp4,9 triliun per 30 September 2022 atau anjlok 11,75% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp5,5 triliun. Sementara itu, nasib yang lebih buruk melanda GGRM. Produsen rokok yang berbasis di Kediri Jawa Timur itu membukukan penurunan laba bersih sampai dengan 63,77% hingga kuartal ketiga tahun ini. Laba bersih perusahaan hanya mencapai Rp1,49 triliun, padahal tahun lalu di periode yang sama mampu menghimpun Rp4,13 triliun.

ULASAN SEKTORAL : EMITEN KESEHATAN JAGA ‘KEBUGARAN’

07 Nov 2022

Sejumlah emiten sektor kesehatan mampu mengamankan laba bersih lebih tinggi pada 9 bulan 2022 dibandingkan dengan periode yang sama sebelum pandemi Covid-19. Inovasi produk, perluasan jaringan distribusi, pengendalian biaya, dan ruang penyesuaian harga menjadi siasat untuk menjaga tingkat margin keuntungan. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, delapan dari 12 emiten kesehatan yang telah menyampaikan laporan keuangan per September 2022 mengalami penurunan laba bersih dibandingkan dengan periode yang sama 2021. Bahkan, dua emiten tercatat berbalik rugi. Meski begitu, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) dan PT Phapros Tbk. (PEHA) menjadi dua perusahaan sektor kesehatan yang masih mampu mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba dalam 9 bulan 2022. Bahkan, laba bersih KLBF konsisten bertumbuh sejak periode yang sama 2019. Chief Financial Officer Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata memaparkan pertumbuhan pendapatan dan laba tak terlepas dari langkah perseroan terus memperhatikan pentingnya pengelolaan atas peningkatan biaya bahan baku melalui kebijakan kenaikan harga, pengelolaan portofolio, dan pengelolaan efisiensi biaya operasional. Pada 2022, KLBF mempertahankan target penjualan dan laba bersih tumbuh sekitar 11% hingga 15%.

Kendati mayoritas emiten mengalami koreksi secara tahunan, sebagian besar masih mampu mencetak keuntungan yang lebih tinggi dari 9 bulan 2019 atau prapandemi. Beberapa di antaranya, ialah PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) Rp245,52 miliar pada 9 bulan 2022 dari Rp210,05 miliar pada 9 bulan 2019. Selain HEAL, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) yang juga mengelola rumah sakit membukukan laba bersih Rp744,18 miliar pada 9 bulan 2022 atau lebih tinggi dari realisasi laba bersih Rp531,79 miliar pada 9 bulan 2019. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan saat ini pergerakan saham sektor rumah sakit memang terkoreksi. Hal ini berbanding terbalik dari tahun lalu saat lonjakan pandemi dengan kapasitas rumah sakit yang masih lebih terbatas dibanding sekarang.



Selamat Datang Generasi Alfa

07 Nov 2022

Belum selesai membahas generasi Y dan Z, kita sudah harus mengamati kehadiran generasi Alfa. Mereka tentu belum masuk ke dunia kerja karena lahir antara 2011 dan 2025. Namun, sudah mulai  masuk ke pasar sebagai konsumen. Mark McCrindle, pendiri perusahaan konsultasi tentang generasi di Australia bernama McCrindle, mendefinisikan generasi Alfa sebagai generasi yang paling berlimpah materi, paling paham teknologi yang pernah ada, dan menikmati usia hidup yang lebih lama daripada generasi sebelumnya. Tambahan lain, mereka akan mengenyam pendidikan lebih lama, mulai mendapatkan penghasilan bertahun-tahun kemudian, dan tinggal di rumah bersama orangtua lebih lama daripada generasi Y dan Z. Kemungkinan besar generasi ini akan tinggal di rumah hingga akhir usia 20-an.

Meski ada perdebatan soal kriteria itu, kita melihat kenyataan bahwa generasi ini sejak lahir sudah mengenal perangkat teknologi digital, terbiasa mengakses internet serta terpapar berbagai kultur, nilai, dan budaya. Mereka merupakan pasar masa depan dunia bisnis. Menurut Direktur Pemasaran MarketerHire Tracey Wallace dalam salah satu tulisannya, jutaan anggota generasi Alfa akan lahir, sementara generasi  mereka sudah berjumlah 2,2 miliar pada 2024. Saat ini mereka adalah kelompok di bawah usia 12 tahun yang pada 2030 akan menjadi 11 % angkatan kerja. Untuk itu, pemilik merek perlu paham siapa generasi Alfa. Semua ciri yang melekat jadi bahan prediksi tentang bagaimana kelompok ini akan berbelanja, bekerja, dan lain- lain. Pengeluaran orangtua tak sedikit didorong oleh keinginan anak. Dalam konteks ini, generasi Alfa akan menjadi salah satu faktor penentu pengeluaran rumah tangga. Merek perlu kreatif membuat dan memasarkan produk dengan mengingat karakter mereka. (Yoga)