Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Dampak Gejolak Geopolitik: G20 Jamin Arus Distribusi Barang
Para pemimpin G20 bersatu mengamankan arus lalu lintas perdagangan barang sebagai salah satu siasat untuk menangani inflasi pangan dan mencegah ekonomi terjebak ke jurang resesi pada tahun depan. Sejumlah kepala negara menegaskan komitmennya untuk memberangus hambatan dagang dan menjaga jalur distribusi seluruh barang untuk menopang perdagangan, terutama komoditas pangan. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa komitmen untuk menjalankan sistem perdagangan lebih terbuka menjadi salah satu solusi penawar inflasi yang terus melesat akibat dampak gejolak geopolitik beberapa bulan ini. Akibatnya, risiko resesi pun meningkat lantaran kenaikan indeks harga konsumen (IHK) direspons oleh bank sentral dengan menaikkan suku bunga acuan sehingga menghambat laju ekonomi. Sekadar informasi, Turki memainkan peran penting dalam lalu lintas barang, karena dilintasi oleh rute perdagangan baik dari Rusia maupun Ukraina. Negara tersebut juga telah membangun satu koridor untuk ekspor gandum di Laut Hitam untuk membantu menyelesaikan krisis pangan dunia. Senada, Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mengatakan bahwa negara-negara G20 memang terus merumuskan langkah bersama dalam memerangi inflasi. Menurutnya, seluruh negara harus bekerja sama di sektor perdagangan, terutama memastikan kelancaran pasokan makanan, serta pupuk yang menjadi kunci dari keamanan pangan.
Pekerja Terbebani Biaya Penempatan
Hingga kini pekerja migran Indonesia (PMI) masih menanggung biaya penempatan yang relatif tinggi kendati undang-undang mengamanatkan pembebasan biaya. Pemerintah mengupayakan solusi melalui kredit usaha khusus dengan bunga rendah, tetapi solusi ini dinilai belum optimal. Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani mengatakan, rata-rata biaya penempatan PMI mencapai Rp 30 juta per orang meski ada pula yang nilainya di bawah angka itu. UU No 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan PMI mengamanatkan agar PMI dibebaskan dari pengenaan biaya penempatan. Namun, dia mengakui, negara tak memiliki anggaran yang cukup untuk membayar seluruh biaya penempatan. Sebelum pandemi Covid-19, setiap tahun terdapat rata-rata 270.000 warga negara Indonesia menjadi PMI. Pada tahun 2021, jumlahnya turun menjadi 72.000 orang. Pada Januari-Oktober 2022, jumlahnya 170.000 orang.
”Katakanlah per tahun 270.000 orang PMI berangkat, total dana yang disiapkan negara 8,2 triliun. Dana sebesar itu belum cukup tersedia (meski devisa yang dihasilkan PMI per tahun mencapai Rp 159 triliun),” ujar Benny seusai penandatanganan nota kesepahaman kerja sama BP2MI dengan 12 pemerintah daerah, 5 lembaga pendidikan, dan 3 lembaga kesehatan di Jakarta, Selasa (15/11). Menurut Benny, biaya penempatan mencakup pendidikan dan pelatihan kerja; sertifikasi kompetensi; via kerja; dan tiket berangkat. Pihaknya masih menemukan keluhan PMI yang berutang ke rentenir untuk modal berangkat. Selain itu, ada banyak praktik pemberangkatan yang tidak transparan di daerah sehingga pengeluaran calon PMI justru membengkak. Dengan nota kesepahaman tersebut, pemda diharapkan memfasilitasi pelatihan kerja dan perlindungan sebelum sampai setelah penempatan. Menurut Benny, pemerintah juga menyediakan program kredit usaha rakyat (KUR) Penempatan PMI yang disalurkan oleh bank milik negara, bank syariah, dan bank pembangunan daerah. (Yoga)
Presiden: Negara Berkembang Jadi Bagian Rantai Pasok Kesehatan Global
Pandemi Covid-19 menjadi pembelajaran bagi dunia untuk memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi darurat kesehatan global. Negara berkembang harus diberdayakan untuk menjadi bagian solusi kesehatan global. Hal tersebut disampaikan Presiden Jokowi saat membuka sesi kedua terkait isu kesehatan dalam KTT G20 di Nusa Dua, Bali, Selasa (15/11). Pada sesi pertama, dibahas mengenai keamanan pangan dan energi. ”Negara berkembang harus diberdayakan sebagai bagian dari solusi. Kesenjangan kapasitas kesehatan tidak boleh dibiarkan. Negara berkembang perlu diberdayakan dan harus jadi bagian dari rantai pasok kesehatan global, termasuk pusat manufaktur dan riset,” tutur Presiden. Ia menyampaikan, hal tersebut dapat terwujud apabila investasi industri kesehatan di negara berkembang ditingkatkan.
Kerja sama riset dan transfer teknologi juga harus diperkuat serta akses bahan baku produksi untuk negara berkembang semakin diperluas. ”Dunia tidak boleh mengulang kesalahan yang sama saat pandemi Covid-19. Ini adalah pelajaran berharga untuk menyiapkan dunia dari daru rat kesehatan. Never again harus jadi mantra kita bersama,” ucap Jokowi. Dalam pidato pembukanya, ia juga mengajak para pemimpin G20 untuk turut berkontribusi dalam Dana Pandemi atau Pandemic Fund. Dana Pandemi diluncurkan oleh Presiden Jokowi, Minggu (13/11). Dana ini diharapkan dapat memperkuat dunia agar lebih baik dalam menghadapi pandemi di masa depan. Dana Pandemi saat ini, menurut Direktur Eksekutif Sekretariat Dana Pandemi Bank Dunia,telah terkumpul 1,4 miliar USD dari 24 kontributor. (Yoga)
Ada Titik Terang : G20 Hasilkan Komunike
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 berpeluang menghasilkan kesepakatan bersama alias komunike. Peluang ini muncul setelah dicapainya kesepakatan draf komunike di tingkat para diplomat negara anggota G20.
Selanjutnya, draf akan diajukan kepada para pemimpin negara anggota G20 dalam pertemuan terakhir tingkat kepala negara pada Selasa (16/11) di Nusa Dua, Bali.
Melansir
Bloomberg, seorang sumber mengungkapkan, persetujuan atas usulan draf awal komunike melewati jalan berliku. Mereka sulit mengatasi perbedaan pandangan atas sikap terhadap invasi Rusia ke Ukraina.
Bila para kepala negara kemudian menandatangani usulan awal ini, maka pertemuan puncak KTT G20 akan mencapai komunike. Ini bisa menghindari sejarah buruk: pertemuan G20 tanpa komunike.
Namun, untuk meyakinkan para pemimpin negara bersedia meneken usulan awal komunike, para negosiator harus berhati-hati dalam memilih redaksi penyusunan draf kesepakatan bersama tersebut.
B20 Summit : Panen Komitmen Operator Bandara
Tiga operator bandara Tanah Air yakni PT Whitesky Facility (Whitesky Group), PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II meraup komitmen investasi untuk pengembangan bandara di Indonesia. CEO Whitesky Group Denon Prawiraatmadja mengatakan bahwa Whitesky menggandeng Canadian Commercial Corporation (CCC) dan PT Angkasa Pura I guna mengembangkan bandara berkonsep hijau (green airport). “baru tahap feasibility study,” katanya kepada Bisnis, Selasa (15/11). Whitesky Facility mendatangkan investor dari Kanada dengan pola kerja sama closed loop yang akan melibatkan nelayan untuk bisa bekerja sama dalam membudidayakan produk kelautan. Denon yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perhubungan berharap studi dan profil investasi bandara berkonsep hijau itu sudah bisa diimplementasikan di Kalimantan Utara. Dalam nota kesepahaman Whitesky dan Canadian Commercial Corporation, perusahaan asal Kanada itu akan mendukung studi dan pengembangan bandara berkonsep hijau di Kaltara dengan rencana investasi sebesar US$200 juta atau setara dengan Rp3 triliun. Sementara itu, President Director PT Angkasa Pura (AP) II Muhammad Awaluddin mengatakan AP II bertemu dengan pimpinan puncak tiga perusahaan global di sela-sela forum bisnis B20 Summit Indonesia 2022 di Bali. Perusahaan global tersebut yakni Global Infrastructure Partners (GIP) asal Amerika Serikat, VINCI Airports asal Prancis yang diwakili Relecom & Partners, dan GMR Group asal India.
Produk Berharga Murah Jadi Pilihan
Survei McKinsey pada Oktober 2022 menyebutkan, 63 % responden konsumen mengalihkan belanjanya ke merek lain yang harganya lebih murah. Terkait survei itu, anggota Dewan Penasihat Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia, Tutum Rahanta, Senin (14/11) mengatakan, perubahan pola belanja terjadi pada kelompok masyarakat menengah-bawah. Mereka lebih berhati-hati mengelola pengeluaran di tengah meningkatnya inflasi. (Yoga)
Laba Setelah Tiga Tahun Rugi
PT Waskita Karya (Persero) Tbk optimistis menyambut tahun depan. Setelah tiga tahun terakhir merugi, Waskita Karya akhirnya mencatat laba bersih Rp 580 miliar pada kuartal III tahun ini. Capaian tersebut diperoleh berkat pendapatan usaha yang naik 44 % secara tahunan menjadi Rp 10,30 triliun dan penurunan beban keuangan 19 % secara tahnan menjadi Rp 3,03 triliun. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Waskita Karya, Wiwi Suprihatno, menuturkan kinerja positif ini masih berpeluang berlanjut pada kuartal terakhir 2022. "Tahun 2023 kami optimistis Waskita bisa mencetak laba bersih positif melalui perbaikan kinerja keuangan ataupun divestasi," ujarnya dalam paparan publik, kemarin, 14 November 2022.
Kinerja positif tahun ini, antara lain, terjadi karena perolehan kontrak-kontrak baru. Hingga September 2022, nilainya mencapai Rp 11,58 triliun. Mayoritas berasal dari proyek-proyek milik pemerintah. Sampai kemarin, perusahaan mencatat total kontrak baru sudah naik menjadi Rp 13,3 triliun. Proyek terbesar salah satunya datang dari ibu kota negara baru. Perseroan mengantongi proyek pembangunan gedung Sekretariat Negara senilai Rp 1,3 triliun dan pembangunan jalan tol segmen Simpang Tempadung-Jembatan Pulau Balang senilai Rp 2,2 triliun. Selain itu, ada proyek pembangunan jalan lingkar Sepaku dengan nilai Rp 181 miliar.
Perseroan menargetkan, hingga akhir tahun nanti, total kontrak baru tersebut berada di kisaran Rp 25 triliun. Sebab, saat ini terdapat kontrak yang sedang menunggu proses penunjukan senilai Rp 800 miliar. Selain itu, terdapat sejumlah proyek di luar negeri yang masih dalam proses. Waskita juga sedang mengikuti lelang sejumlah proyek senilai Rp 25 triliun. Dengan tingkat kemenangan lelang sebesar 25 persen, perseroan mengasumsikan akan ada tambahan kontrak baru senilai Rp 6 triliun. (Yoga)
Berkah Kompromi Biden-Jokowi
Indonesia bergerak cepat menggelar pertemuan strategis dengan sejumlah negara sebelum puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 dimulai. Salah satunya dilakukan dengan Amerika Serikat (AS). Pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden AS Joe Biden kemarin, Senin (14/11), pun menghasilkan beragam kesepakatan baru untuk pengembangan ekonomi kedua negara, serta menjadi katalis positif bagi sederet rencana kerja sama lainnya yang pembahasannya telah dirintis. Beberapa kesepakatan yang terjalin antara lain peningkatan investasi AS di Indonesia, pengembangan energi baru terbarukan (EBT), hingga dukungan pembangunan megaproyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Dalam pertemuan itu, Joe Biden mengatakan AS masih menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis yang mampu membantu komunitas global untuk mewujudkan ekonomi lebih baik di masa mendatang. Dia mengatakan, salah satu kesepakatan yang dijalin adalah tuntasnya negosiasi untuk meluncurkan Millennium Challenge Corporation (MCC) Compact senilai US$698 juta, yang bersumber dari AS senilai US$649 juta dan Indonesia US$49 juta. MCC Compact adalah instrumen untuk mendukung pengembangan ekonomi nasional. Di antaranya infrastruktur transportasi berkualitas, memobilisasi modal untuk mendukung pembangunan Indonesia, dan meningkatkan akses keuangan untuk dunia usaha.
Inflasi, Suku Bunga, & Indonesia
Sinyal yang ditunggu akhirnya datang juga. Amerika Serikat (AS) baru saja merilis data inflasi bulan Oktober. Dalam rilis tersebut, inflasi di AS tercatat sebesar 7,7% (year-on-year/YoY) atau lebih rendah dibandingkan dengan ekspektasi pasar. Di sisi lain, laju inflasi inti juga mulai melambat. Tingkat inflasi inti, atau inflasi di luar volatile foods dan energi, berada pada level 6,3%, turun dibanding bulan sebelumnya sebesar 6,6%. Ini menjadi sinyal positif bahwa inflasi di AS telah mulai meninggalkan puncaknya, dan perlahan melandai. Dalam beberapa waktu terakhir, AS sedang menghadapi situasi yang tak mudah. Laju inflasi berada pada level tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Harga-harga kebutuhan pokok, seperti bensin, listrik, dan bahan makanan melonjak tajam. Kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan suku bunga oleh the Fed.Laju inflasi yang terus menanjak tinggi harus direspons dengan kenaikan suku bunga yang agresif. Bahkan, kebijakan saat ini dianggap sebagai salah satu kebijakan paling agresif dalam sejarah The Fed. Tak heran apabila dianggap agresif, mengingat sepanjang 2022 The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 375 bps. Yang terbaru, pada pertemuan bulan November ini, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps ke level 3,75%—4,0%.
Sebagai negara dengan perekonomian paling berpengaruh di dunia, apa yang terjadi di AS tentu akan merambat ke negara lain, termasuk Indonesia. Sebagai contoh, ekspansi PMI manufaktur Indonesia mulai melambat seiring dengan melambatnya pesanan baru dari luar negeri dan menguatnya Dolar AS. Contoh lain juga terjadi di pasar keuangan. Sama dengan yang terjadi di banyak negara berkembang lainnya, telah terjadi aliran modal asing keluar di pasar Surat Berharga Negara (SBN) cukup deras, yaitu sebesar Rp176,29 triliun hingga pekan pertama bulan November. Derasnya aliran modal asing keluar tersebut berdampak pada pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyentuh level Rp14.600an per dolar AS, atau melemah di kisaran 9% (YtD). Pelemahan rupiah tergolong masih moderat dan terkendali bila dibandingkan dengan banyak negara berkembang lainnya. Tetap saja ini harus diwaspadai karena dikhawatirkan dapat mendorong kenaikan inflasi, terutama yang berasal dari imported inflation akibat pelemahan nilai tukar. Meskipun inflasi masih terkendali dan lebih rendah dari perkiraan awal, Indonesia akan terus mewaspadai risiko tersebut dengan terus melakukan upaya stabilisasi nilai tukar.Dampak dari agresivitas kebijakan moneter The Fed memang tak bisa dihindari oleh negara mana pun. Beruntungnya, dampak yang ditimbulkan oleh agresifnya kebijakan moneter The Fed masih sangat manageable di Indonesia. Tidak hanya bermodal keberuntungan, resiliensi perekonomian Indonesia utamanya juga didukung oleh kredibilitas kebijakan ekonomi dan sektor keuangan, sehingga gelombang risiko yang datang mampu dimitigasi dengan baik.
Momentum di Kancah Internasional
Dalam beberapa pekan terakhir, fokus pemerintah lebih tertuju pada upaya menjalankan perannya di kancah internasional. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri secara langsung konferensi tingkat tinggi (KTT) Asean + 3 di Kamboja. Selain itu, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah untuk perhelatan KTT G20 yang akan berlangsung di Bali pekan ini. Dua ajang pertemuan tinggi tersebut sangat penting dan strategis bagi Indonesia. Dari tataran hubungan internasional, peran aktif Presiden Jokowi telah meningkatkan posisi dan peran Indonesia sebagai aktor kunci hubungan antarnegara. Di kawasan Asia Tenggara, kita mendukung gagasan Presiden Jokowi agar tercipta penguatan fiskal demi stabilitas keuangan masing-masing negara anggota Asean. Di lain sisi, dukungan dan peran lembaga keuangan internasional dalam merespons dan meminimalkan dampak krisis itu sangat penting. Hal ini terutama harus dilakukan melalui berbagai instrumen keuangan yang fleksibel. Puncak KTT G20 yang akan berlangsung pada pertengahan pekan ini pun menjadi momentum Indonesia menunjukkan perannya di mata internasional. Arah politik luar negeri kita yang bebas aktif pun akan makin diakui dunia. Selain itu G20 turut mengerek konsumsi domestik hingga Rp1,7 triliun. Hal ini juga akan membangkitkan serapan tenaga kerja hingga lebih dari 33.000 orang di berbagai sektor usaha. Kita berharap momentum peran aktif Indonesia di kancah internasional ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh pemerintah dan pelaku bisnis untuk mendorong roda ekonomi nasional bergerak lebih kuat dan cepat.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









