Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10114 )DOSIS TINGGI INJEKSI BUMN
Injeksi modal dari kocek negara ke sejumlah korporasi pelat merah bakal mengalir deras di tengah periode transisi pemerintahan 2024—2025. Upaya penguatan modal dan penyehatan keuangan BUMN itu diharapkan memuluskan eksekusi proyek-proyek penugasan dan berkorelasi positif terhadap setoran dividen di masa mendatang. Indikasi derasnya suntikan modal pemerintah tecermin pada usulan Penyertaan Modal Negara (PMN) yang diajukan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Selasa (19/3), Erick mengusulkan tambahan PMN untuk tujuh BUMN senilai Rp13,6 triliun pada tahun ini. Selain itu, 16 perusahaan pelat merah juga diajukan untuk menerima PMN pada 2025. Dari jumlah tersebut, PT Hutama Karya (Persero) akan mendapatkan injeksi modal terbanyak. Kontraktor BUMN itu diusulkan mendapat tambahan PMN Rp1,6 triliun pada 2024 untuk penyelesaian ruas tol Palembang-Betung dan Rp13,86 triliun pada 2025 untuk melanjutkan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) fase 2 dan 3. BUMN karya lain yang diajukan untuk menerima PMN pada 2025 ialah PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) untuk pembangunan tol Jogja-Bawen & Solo-Jogja, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) untuk penyelesaian tol Jogja-Bawen dan KIT Subang, serta PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) untuk perbaikan struktur permodalan. Di antara daftar calon penerima PMN pada 2025, PT Asabri (Persero) muncul sebagai nama baru.
Kementerian BUMN mengusulkan perusahaan pengelola dana pensiun TNI dan Polri itu dapat meraih PMN senilai Rp3,61 triliun untuk memperbaiki struktur permodalan.
Manajemen BUMN ikut buka suara terkait usulan PMN 2024—2025. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo menyebut usulan PMN senilai total Rp3,8 triliun akan dialirkan ke entitas anak perseroan, yakni PT Kereta Commuter Indonesia atau KAI Commuter yang merupakan operator KRL Commuterline Jabodetabek.
Terpisah, Kepala Kesekretariatan Perusahaan Pelni Evan Eryanto memaparkan PMN merupakan usulan langsung dari perseroan lantaran usia kapal-kapal Pelni sebagian besar sudah di atas 20 tahun.
Sekretaris Perusahaan IFG Oktarina Dwidya Sistha menuturkan perseroan mengajukan PMN sebesar Rp3 triliun untuk penguatan program Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Sementara itu, Direktur Utama Wijaya Karya Agung Budi Waskito menuturkan PMN akan digunakan untuk menyelesaikan beberapa proyek strategis nasional (PSN), serta menuntaskan sejumlah proyek di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang diperkirakan rampung pada 2024—2025.
Associate Director BUMN Research Group Lembaga Management Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menilai PMN menjadi solusi untuk memperbaiki likuiditas BUMN di tengah derasnya proyek penugasan. Seringkali, lanjutnya, BUMN mengalami ketidaksesuaian pendanaan saat mengerjakan proyek penugasan yang berujung pada kesulitan likuiditas dan solvabilitas.
EKSPLOITASI PASIR LAUT : Permintaan Domestik Masih Tinggi
Pasir hasil sedimentasi laut baru bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, seiring dengan belum diizinkannya kegiatan ekspor untuk komoditas tersebut. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, pemanfaatan pasir laut selama ini banyak diminati untuk kegiatan reklamasi di wilayah Surabaya di Jawa Timur, Pantai Indah Kapuk (PIK), Kalimantan, dan Batam. Kendati Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengumumkan lokasi-lokasi yang akan dilakukan pembersihan hasil sedimentasi di laut, Trenggono menyampaikan bahwa tidak semua hasil sedimentasi bisa diambil. Jika hasil sedimentasi berupa lumpur, katanya, pihaknya akan mendesain lokasi tersebut untuk ditanami mangrove.
“Di mana ada sedimentasi, di situ tim kajian akan terus bekerja kemudian dia lihat, dia cek kandungannya dan sebagainya. Bahwa dia tidak ada mineral yang berharga maka itu bisa digunakan untuk reklamasi,” katanya, Selasa (19/3). Sebagai informasi, penetapan lokasi-lokasi pengelolaan sedimentasi laut merupakan amanat dari Peraturan Pemerintah No.26/2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut.
PENGUMUMAN HASIL PEMILU 2024 : Situasi Kondusif Diharapkan Terus Berlanjut
Penetapan hasil perolehan suara Pemilu 2024 rencananya digelar pada hari terakhir rekapitulasi perolehan suara nasional oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI hari ini, Rabu (20/3) setelah rekapitulasi 38 provinsi disahkan. Pelaku usaha mengharapkan situasi keamanan dan politik terus bisa dijaga hingga transisi pemimpin atau pemerintahan yang baru nantinya sehingga tidak mengganggu aktivitas ekonomi dan investasi. Awalnya KPU RI berharap rekapitulasi nasional tuntas sebelum 20 Maret 2024, tetapi belum terwujud karena masih ada dua Provinsi yang belum dilakukan rekapitulasi nasional yakni Provinsi Papua dan Papua Pegunungan. Dua provinsi itu sebelumnya diupayakan bisa menyelesaikan proses rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara Pemilu 2024 tingkat nasional kemarin, Selasa (19/3). Namun, KPU Provinsi Papua harus menyelesaikan rekapitulasi suara di KPU Kota Jayapura dan KPU Pegunungan sempat berpindah ke Kota Jayapura dalam menyelesaikan rekapiutlasi Kabuapten Tolikara. Anggota KPU Idham Holik mengatakan KPU Papua dan Papua Pegunungan baru berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat carter pada Selasa (19/3) malam. Berdasarkan rekapitulasi perolehan suara nasional yang telah disahkan KPU, capres-cawapres paslon 02 Prabowo-Gibran unggul di 34 provinsi dan paslon 01 Anies-Muhaimin unggul di 2 provinsi. Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Kadin Indonesia Sarman Simanjorang mengatakan kendati rekapitulasi per-olehan suara akan selesai dan hasilnya akan diumumkan secara resmi oleh KPU, kunci utama bagi dunia usaha adalah stabilitas politik sebagai basis bagi pertumbuhan ekonomi dan geliat dunia usaha. Dunia usaha, lanjut Sarman, tentu sangat berharap penuh harapan agar pascapengumunan dan penetapan hasil Pemilu 2024 bisa terwujud suasana aman, sejuk dan kondusif sehingga tidak mengganggu aktivitas perekonomian dan investasi. Menurut Sarman, Kadin Indonesia menggarisbawahi bahwa upaya pencapaian visi Indonesia Emas 2045 yakni menempatkan Indonesia sebagai negara maju pada 2045 dan keluar dari jebakan negara middle-income trap perlu menjadi perhatian.
Mengawal PMN BUMN dari Perilaku Koruptif
Pemerintahan Presiden Joko Widodo terus memacu penyertaan modal negara (PMN) kepada perusahaan pelat merah, meskipun tidak lama lagi bekas Gubernur DKI Jakarta itu hendak lengser. Menteri Negara BUMN Erick Thohir, kemarin, mengusulkan nilai PMN untuk 16 perusahaan pelat merah mencapai Rp44,24 triliun pada 2025. Angka tersebut naik bila dibandingkan dengan APBN-P 2024 sebesar Rp41,8 triliun. Kurva penyertaan modal kepada BUMN sejak Erick Thohir terus melaju. Pada 2019 PMN masih mencapai Rp17,8 triliun. Kemudian, naik menjadi Rp27 triliun pada 2020, Rp68,9 triliun pada 2021, Rp53,1 triliun pada 2022, dan Rp35,3 triliun pada 2023. Total PMN tunai yang dikucurkan pemerintah pada periode 2020—2024 mencapai Rp226,1 triliun. Namun, berdasarkan data yang diolah Bisnis, bila dihitung dengan penambahan penyertaan nontunai, total PMN kepada BUMN pada rentang itu mencapai Rp409,83 triliun.
Adapun perincian dividen pada 2020 sebesar Rp43,9 triliun, Rp29,5 triliun pada 2021, Rp39,7 triliun pada 2022, Rp81,2 triliun pada 2023, Rp85,5 triliun pada 2024. Bila dihitung berdasarkan penyertaan tunai, setoran dividen BUMN lebih besar dibandingkan dengan PMN. Akan tetapi, jika mengacu pada total penyertaan tunai dan nontunai angka setoran dividen terhadap PMN tentu minus.
Biar berimbang, dapat dibandingkan dengan kinerja BUMN era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 2004—2014 dengan Jokowi 2014—2024. Periode SBY, sangat irit dalam melakukan peyertaan kepada BUMN. Dalam rentang 10 tahun, hanya sekali PMN mencapai double digit, yakni pada 2009 yang mencapai Rp11,67 triliun. Pada tahun lainnya, rata-rata PMN hanya satu digit. Bahkan, terendah pada 2006 yang hanya Rp1,97 triliun.
Dengan asumsi total PMN pada periode itu mencapai Rp34,48 triliun, sedangkan setoran dividen ke pemerintah mencapai Rp143,21 triliun. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kemampuan BUMN menghasilkan imbal hasil pada rentang 2020—2024. Rasio dividen berbanding PMN pada perio de ini kurang dari satu kali, tepatnya 0,8 kali.
Pada era Jokowi, BUMN menjadi pengerak utama perekonomian. Rata-rata perusahaan pelat merah yang disuntik modal, mendapatkan penugasan mengawal proyek mercusuar, khususnya infrastruktur.
Saat ini banyak petinggi atau eksekutif BUMN yang masuk antrean KPK atau Jaksa Agung untuk diperiksa dan diadili. Bahkan, banyak yang sudah divonis bersalah karena ‘makan uang rakyat’ dari proyek negara.
Sangat disayangkan apabila duit negara yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan penerbitan surat utang itu hanya dimanfaatkan untuk perilaku koruptif pejabat di dalamnya. Saat ini beberapa BUMN karya pun sedang ‘dirundung sakit’ karena jor-joran membiayai proyek mercusuar.
BERBAGI KEBERKAHAN : Wapres Hadiri dan Berikan Santunan bagi 3.333 Anak Yatim
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) menggelar peringatan milad dengan memberikan santunan kepada 3.333 anak yatim yang dihadiri oleh Wakil Presiden K. H. Ma’ruf Amin. Jumlah penerima santunan ini selaras dengan milad ketiga BSI tahun ini, seperti perayaan milad sebelumnya yaitu menyantuni 1.111 anak yatim pada milad pertama dan 2.222 anak yatim di milad kedua. Acara yang diselenggarakan di Assembly Hall Jakarta Convention Center, Jakarta, pada Selasa (19/3), mengundang 1.500 anak yatim dari 30 yayasan panti asuhan di Jabodetabek dan Banten. Sementara, 1.833 anak yatim lainnya akan diundang oleh masing-masing Kantor Regional BSI di seluruh Indonesia. Pada kesempatan ini, Wapres K.H. Ma’ruf Amin secara simbolis ikut memberikan kado THR berupa uang tunai senilai Rp300.000,-/anak dan bingkisan. Dalam sambutannya, Wapres mengajak anak-anak untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum meningkatkan semangat belajar dan meneladani nilai-nilai yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi menambahkan bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan kepekaan sosial dan berbagi manfaat. Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi seluruh umat dan mendorong seluruh karyawan BSI untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.Saat ini, BSI tercatat sebagai perusahaan dengan zakat terbesar di Indonesia. Pada tahun ini, BSI menyerahkan Rp222,7 miliar zakat perusahaan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), angka ini melesat 29 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Dugaan Korupsi Jadi Awal Evaluasi LPEI
Temuan kasus penyaluran kredit bermasalah ke sejumlah perusahaan eksportir sebanyak Rp 2,5 triliun ibarat puncak gunung es yang menyimpan potensi masalah lebih besar. Dugaan kasus korupsi itu dinilai menjadi momentum untuk mengevaluasi kinerja dan keberadaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau LPEI. Kasus ini mencuat ke publik saat Menkeu Sri Mulyani menemui Jaksa Agung ST Burhanuddin di Kejagung, Jakarta, Senin (18/3) untuk melaporkan indikasi kecurangan (fraud) yang mengarah pada tindak pidana dalam penyaluran dana LPEI kepada empat eksportir. Perkara serupa sudah beberapa kali disampaikan BPK ke Kejagung.
Awal Februari 2024, misalnya, BPK menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif dalam rangka Penghitungan Kerugian Negara atas Dugaan Tindak Pidana Korupsi dalam Penyelenggaraan Pembiayaan Ekspor Nasional oleh LPEI pada tahun 2013-2019. Penyimpangan itu disebut menyebabkan total kerugian negara sebesar Rp 81,3 miliar. Peneliti dari UI, Fithra Faisal, Selasa (19/3) mengatakan, mencuatnya kasus dugaan korupsi di tubuh LPEI menjadi momentum bagi pemerintah mengevaluasi ulang kinerja dan keberadaan lembaga penyalur pembiayaan ekspor tersebut.
Bukan hanya temuan kredit bermasalah yang akhirnya mencuat, dalam penyaluran pembiayaan, LPEI juga dinilai tidak berorientasi membangun UKM atau eksportir kecil yang sedang merintis merambah ke pasar global. LPEI cenderung memberikan pembiayaan kepada ”klien- klien” besar di sektor ekstraktif. Fithra menduga temuan kasus kredit bermasalah yang beberapa tahun terakhir ini terungkap ke publik hanya ”puncak gunung es” atau top of the iceberg. ”Kemungkinan fraudnya banyak. Di sektor perdagangan dan ekspor-impor potensi fraud-nya itu besar,” ujarnya. (Yoga)
Demokrasi Memang Mahal
Di tengah pandangan terhadap demokrasi sebagai sistem yang
mahal dan bertele-tele, pertanyaannya ialah adakah sistem alternatif yang tidak
mahal, tidak bertele-tele, tetapi sekaligus transparan dan melibatkan publik
dalam menentukan pemimpin atau partai berkuasa? Pertanyaan ini muncul bukan
hanya karena ndonesia baru merampungkan pemungutan suara pada pertengahan
Februari lalu, juga karena India mengumumkan bakal menggelar pemilu berskala
sangat besar, untuk memilih 543 anggota majelis rendah atau parlemen (Lok
Sabha), pemilu berlangsung 1,5 bulan: pertengahan April hingga Juni 2024.
Tempat pengambilan suara berada paling jauh 2 km dari kediaman
warga, panitia harus naik ke dataran tinggi Himalaya dan menembus hutan
belantara nan sunyi. Ada 970 juta pemilih di India dalam pemilu yang diikuti
2.400 partai. Ada 15 juta pegawai pemerintah dikerahkan sebagai panitia
pemilihan. Meski pos pemungutan suara sudah menggunakan sistem elektronik dan
tak lagi sistem coblos seperti di Indonesia, pelaksanaannya tetap lama.
Pengambilan suara dijalankan bertahap dan tersebar di 28 negara bagian serta
delapan teritori federal.
Total ongkos yang dikeluarkan calon anggota legislative (caleg)
dan partai diperkirakan 1,2 triliun rupee (14,4 miliar USD atau Rp 226
triliun). Jumlah ini belum menghitung anggaran dari negara. .Apa yang akan
dikerjakan India mengingatkan bangsa Indonesia bahwa demokrasi memang mahal dan
tak ada jaminan akan memberi hasil memuaskan. Namun, sejauh ini, rasanya hanya
demokrasi yang mampu memastikan transparansi, kebebasan, dan memberikan
kesempatan bagi rakyat untuk menentukan pilihan. Apa pun hasilnya. (Yoga)
Dana Ekspor yang Macet
Kabar dugaan penipuan, penyimpangan, indikasi
tindak pidana korupsi, datang dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang
dibentuk berdasarkan UU No 2 Tahun 2009 tentang LPEI. Kabar buruk itu terkait dana
ekspor LPEI yang macet sebesar Rp 2,5 triliun . Diduga terjadi penipuan atau
penyimpangan (fraud) dalam penggunaan dana LPEI yang disalurkan kepada empat
perusahaan ekspor, yakni PT RII, PT SMS, PT SPV, dan PT PRS, yang bergerak di
bidang kelapa sawit, batubara, nikel, dan perkapalan (Kompas, 19/3/2024). Menkeu
Sri Mulyani melaporkan indikasi penyimpangan penggunaan dana, yang menjadi
kredit bermasalah, itu kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin, Senin (18/3).
Saat ini, jajaran direksi LPEI telah diminta melakukan pembersihan
secara internal. Perbuatan itu mengecewakan jika melihat rekam jejak sebelumnya.
Pada 2022, Kejagung menangani dugaan tindak pidana korupsi pembiayaan ekspor
nasional oleh LPEI. Persoalan kredit macet pada periode 2013-2019 tersebut
diduga merugikan negara Rp 2,6 triliun (Kompas.id, 19/3/2022). Dugaan
penyimpangan penggunaan dana LPEI ini terasa menyakitkan. Jelas-jelas
disebutkan dalam UU No 2/2009 perihal penyelenggaraan pembiayaan ekspor perihal
asas, antara lain kepentingan nasional, kepastian hukum, dan akuntabilitas yang
mesti dipatuhi.
Ada juga sejumlah prinsip yang mesti diterapkan LPEI dalam
menjalankan tugasnya, antara lain tata kelola dan manajemen risiko. Padahal,
kerap kali ada pengusaha yang mengaku kesulitan menembus pasar ekspor karena
keterbatasan biaya atau modal. Mereka layak dibantu dan didukung demi bisa mengembangkan
usaha, melebarkan sayap ke luar negeri, dan menjaga kelangsungan ekonomi
pekerjanya. Maka, dana ekspor mesti digunakan dengan tepat, bukan disalahgunakan.
(Yoga)
Makan Siang Gratis Vs Koreksi Tengkes dan Gizi Batita
Angka tengkes atau stunting di Indonesia di posisi ke-27 dari
154 negara dunia. Ditargetkan turun dari 21,6 % pada 2022 menjadi 14 % pada
2024. Secara ekonomi, kelompok tengkes membebani negara 2-3 % dari PDB. Lebih
dari itu, kondisi anak tengkes tidak terpulihkan (irreversible). Itu alasan medis
mengapa lebih penting melakukan upaya pencegahan agar itu tidak terjadi
mengingat koreksi gizi dengan cara apa pun tidak mengubah nasib anak tengkes
dan anak bawah tiga tahun atau batita kurang gizi.
Otak anak berkembang optimal sebelum tiga tahun (batita,
toddler). Tak ada kesempatan kedua untuk disusulkan kemudian apabila telanjur
kekurangan, khususnya asupan protein. Itu kenapa anak batita kurang gizi tergolong
senasib dengan anak tengkes, yakni kondisinya tidak terpulihkan. Kerugian demografis
negara dibebani oleh dua populasi kurang berkualitas. Kurang gizi setelah lewat
umur tiga tahun dampak medisnya tak seburuk anak telanjur tengkes. Status
kurang gizi setelah anak batita masih bisa dipulihkan (reversible) dan tak mengurangi
tingkat kecerdasan dan harus menerima gangguan fisik seperti dialami anak
tengkes, dengan pemberian suplemen vitamin-mineral.
Untuk mencegah tengkes, sudah harus dimulai sejak anak dalam
kandungan mula. Berarti perlu kehamilan yang sehat. Untuk itu perlu
revitalisasi layanan KIA (kesehatan ibu dan anak) puskesmas dan posyandu agar
ibu hamil cukup gizi. Peran posyandu menyuluh dan mengedukasi perbaikan gizi
keluarga, tujuan akhirnya mencegah kejadian kurang gizi anak balita. Tumbuh
kembang optimal secara mudah, murah, dan sederhana hanya dapat diperoleh dengan
ASI eksklusif sampai berumur enam bulan, yang menghemat biaya membesarkan bayi
sampai setahun sebesar 700 USD, juga biaya untuk membeli susu kaleng dan ongkos
berobat bayi.
Sebagaimana diungkap Ali Khomsan dalam surat pembaca (Kompas,
8/3/2024), perlu dipertimbangkan apakah program makan siang untuk semua
kelompok umur? Anggarannya tidak kecil. Di mata ilmu gizi, kecil
kemungkinan itu dapat memperbaiki status gizi anak, apalagi yang sudah kurang
gizi berat, jika hanya diberi satu kali dalam sehari berupa bubur kacang hijau
dan susu. Anggaran untuk mengatasi gizi buruk hanya untuk sekelompok kecil
anak-anak, tidak akan sebesar untuk seluruh anak sekolah. Anggaran untuk makan
siang lebih tepat dialokasikan untuk mendukung upaya pencegahan tengkes dan memperbaiki
tumbuh kembang anak batita yang kurang gizi. Pemberian makanan tambahan untuk
ibu hamil dan anak batita kurang gizi lebih tepat sasaran dalam menyelamatkan
nasib kesehatan generasi penerus bangsa. Mereka yang lebih berhak mendapat
prioritas. (Yoga)
Logam Mulia hingga Perhiasan Emas Tetap Diminati
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









