Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Pendapatan dan Laba Moratelindo Kompak Turun
Kredit Bermasalah LPEI Rp 2,5 Triliun Terindikasi Pidana
Menkeu Sri Mulyani, Senin (18/3) menemui Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk melaporkan indikasi penipuan atau penyimpangan (fraud) dalam penggunaan dana Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang disalurkan kepada empat perusahaan ekspor, yaitu PT RII sebesar Rp 1,8 triliun, PT SMS sebesar Rp 216 miliar, PT SPV sebesar Rp 144 miliar, dan PT PRS sebesar Rp 305 miliar. Kredit bermasalah sebesar Rp 2,5 triliun yang dialami empat perusahaan itu terindikasi memenuhi unsur tindak pidana korupsi. Perusahaan tersebut bergerak di bidang kelapa sawit, batubara, nikel, dan perkapalan.
”Jumlah keseluruhan (kredit bermasalah) sebesar Rp 2,5 triliun. Itu tahap pertama,” ujar Burhanuddin seusai pertemuan. Awalnya, kredit bermasalah yang terindikasi penipuan/penyimpangan tersebut ditemukan tim gabungan BPKP, Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Kejaksaan Agung, serta Inspektorat Jenderal Kemenkeu sejak 2019. Perkara tersebut kini diserahkan kepada Jaksa Agung Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung karena ditemukan indikasi penipuan atau penyimpangan. Jampidsus akan mendalami unsur tindak pidana korupsi dalam perkara tersebut. (Yoga)
Desa Memerangi Tengkes
Salah satu tantangan dalam menyiapkan SDM berkualitas adalah memerangi tengkes atau stunting. Data dari Kemenkes, prevalensi tengkes Indonesia pada 2023 adalah 21,6 %, di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang menetapkan angkanya di bawah 20 %. Pemerintah menargetkan angka prevalensi tengkes turun menjadi 14 % pada 2024 ini. Persoalan tengkes berawal dari tiga hal, yaitu tidak mampu, tidak tahu, dan/atau tidak mau. Untuk mengurai ketiganya, kata kuncinya adalah kolaborasi semua pihak yang berkepentingan. Liputan Kompas yang dipublikasikan 17 Desember 2023 tentang cerita sukses penanganan tengkes di Provinsi NTB memberikan bukti bahwa kerja sama semua pihak adalah kunci utama mengatasi tengkes. Melalui intervensi spesifik dan intervensi sensitif, berbagai pihak bahu-membahu mengurai masalah tengkes.
Cerita penanganan tengkes dengan semangat gotong royong juga ditemukan di Desa Sumberejo di Kabupaten Wonogiri, Jateng. Ibu-ibu PKK yang mengurus posyandu memang menjadi ujung tombak penanganan tengkes di desa tersebut. Namun, di balik itu ada peran banyak pihak. Dalam melakukan pendampingan pada keluarga anak balita yang menjadi sasaran penanganan tengkes, ibu-ibu PKK memastikan asupan makanan bergizi dan suplemen yang bahannya ada di desa mereka. Ibu-ibu tersebut tidak hanya menyediakan makanan bernutrisi, tetapi juga memproduksi makanan tersebut. Ibu-ibu anggota PKK Desa Sumberejo memiliki peternakan ayam yang dikelola secara bersama-sama, dimana ayam-ayam tersebut diberi pakan khusus sehingga menghasilkan telur organik yang kaya kandungan omega 3.
Kegiatan beternak ayam berawal dari hibah uang Kades kepada kelompok ibu-ibu PKK, yang dibelikan 60 ayam sebagai cikal bakal peternakan. Hasil telur peternakan bersama ini dibagikan kepada anak-anak balita dalam rangka program pemberian makanan tambahan (PMT) setiap kali ada kegiatan penimbangan di posyandu. Khusus untuk 16 anak balita yang menjadi sasaran penanganan tengkes, kepada mereka juga dibagikan satu botol kapsul suplemen yang berisi 40 kapsul Hi-Omega untuk dikonsumsi setiap hari selama 40 hari. Komposisi isi kapsulnya adalah ekstrak minyak kacang sacha inchi dan minyak ikan gabus. Sacha inchi adalah salah satu komoditas dari Desa Sumberejo. Hasilnya, delapan dari 16 anak balita yang menjadi sasaran penanganan tengkes sudah mentas dari status tengkes. Dari Desa kita mulai memerangi tengkes. (Yoga)
Skema Pinjaman Lunak Kuliah Disiapkan
Pinjaman pelajar atau student loan untuk mahasiswa
memungkinkan diterapkan di Indonesia. Skema pinjaman lunak pelajar direncanakan
dibayar setelah mahasiswa lulus kuliah dan ketika sudah mendapat pekerjaan. Adapun
besaran pinjamannya bergantung pengajuan mahasiswa peminjam. ”Pinjaman pelajar
lunak rencananya untuk mahasiswa dari keluarga menengah hingga hampir kurang
mampu. Mereka inilah yang banyak kesulitan keuangan dan menunggak uang kuliah
tunggal atau UKT, tetapi tidak memenuhi
syarat untuk mendapat beasiswa bagi mahasiswa miskin,” kata Warsito, Deputi
Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko
Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dalam webinar ”Biaya Kuliah Tinggi,
Pinjaman Pendidikan Jadi Solusi” di Jakarta, Senin (18/3). Diskusi ini digelar Forum
Merdeka Barat 9. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2023, hanya 10,5 % penduduk usia 17 tahun ke
atas yang bisa mengenyam pendidikan tinggi.
Angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi masih di bawah
40 %. Padahal, untuk menuju Indonesia Emas 2045, APK perguruan tinggi harus
mencapai minimal 60 %. Sumber daya manusia unggul lulusan perguruan tinggi dibutuhkan
bangsa ini. Namun, akses kuliah masih sulit dijangkau mahasiswa dari keluarga
tidak mampu hingga menengah. Akibatnya, ancaman putus kuliah membayangi mahasiswa
di perguruan tinggi karena mereka tidak mampu membayar, sementara beasiswa tidak
diberikan karena jumlahnya terbatas dan
secara ekonomi mereka tak memenuhi syarat. Menurut Warsito, koordinasi dengan
berbagai kementerian / lembaga sedang dibahas secara serius. Skenario pinjaman
pelajar akan disiapkan dengan bunga yang sangat lunak, seperti diterapkan pada
kredit mikro, sebesar 3 % per tahun atau tanpa bunga. Selain itu, bisa juga
menggunakan dana bergulir. Dukungan dari pihak nonpemerintah juga sedang
dikaji, misalnya dari filantropi dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR),
untuk mendukung skenario pinjaman lunak tanpa bunga. (Yoga)
Harga Beras Sulit Turun ke Posisi Tahun Lalu
Meningkatnya biaya produksi padi membuat harga beras akan
sulit turun ke level harga eceran tertinggi atau HET yang ditetapkan pemerintah
tahun lalu. Apa yang dapat dilakukan pemangku kebijakan saat ini adalah menjaga
stabilitas harga beras agar tidak merugikan petani maupun masyarakat. Dirut Perum
Bulog Bayu Krisnamurthi menuturkan, harga beras sulit turun ke level tahun lalu
mengingat sejumlah komponen pembentuk harga beras telah mengalami kenaikan, di
antaranya upah tenaga kerja, harga sewa lahan, hingga harga pupuk. ”Seiring
dengan kenaikan UMR (upah minimum regional) dan inflasi di kisaran 2-3 %, upah
buruh tani juga meningkat. Faktanya 50 % biaya produksi tanaman padi didominasi
upah tenaga kerja,” ujarnya di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (18/3).
Bayu juga menyoroti adanya kenaikan harga sewa lahan yang disinyalir
karena banyaknya konversi lahan yang terjadi. Petani merogoh kocek lebih banyak
untuk menyewa lahan lantaran lahan semakin sempit dan dibanderol lebih mahal. Faktor
lain yang membuat HET beras tidak bisa kembali ke posisi tahun lalu adalah kenaikan
harga pupuk baik di tingkat internasional maupun regional. Sebagai informasi,
pupuk subsidi hanya menyumbang 3,8 % dari total biaya produksi padi, sedangkan
pupuk nonsubsidi menyumbang 10 % dari total biaya produksi padi. ”Kondisi
demikian menjadi pertimbangan kenaikan harga beras ke depannya. Jadi menurut penghitungan
kami, harga akan sulit untuk kembali ke titik semula seperti setahun yang
lalu,” ujar Bayu. (Yoga)
Kaya Cita Rasa, tapi Miskin Dukungan
Kuliner Indonesia punya kekayaan cita rasa, berlimpah rempah. Meski penetrasinya ke pasar internasional belum sedalam dan seluas kuliner Vietnam atau Thailand, misalnya, kuliner Nusantara sudah hadir di sejumlah negara. Apresiasinya lumayan. Potensinya untuk berkembang besar. Ini menciptakan peluang pasar bagi para pelaku usaha katering, warung makan, dan restoran di negeri orang. Namun, sayang dukungan pemerintah minim sekali bahkan terkesan nihil, padahal jaringan kuliner suatu bangsa di pasar global adalah instrumen soft power diplomacy yang efektif. Bagi Indonesia, tantangannya adalah kemauan politik dan konsistensi kebijakan. Dampak dari kurangnya dua faktor ini sangat terasa dalam hal-hal teknis. Banyak pelaku usaha kuliner Indonesia, misalnya, yang mengeluhkan sulit dan mahalnya mendapatkan bahan baku dari Tanah Air. Toh, warga negara Indonesia diaspora pelaku bisnis kuliner Nusantara terus mengenalkan Indonesia di tengah berbagai tantangan itu. Bahkan tak sedikit yang mendapat apresiasi dari komunitas setempat.
Restoran Toba, misalnya, rumah makan khas Indonesia yang berhasil menarik perhatian di kawasan St James’s Market, London, Inggris. Sesuai namanya, restoran ini menawarkan beragam menu makanan Indonesia, mulai dari harga 8 euro hingga 20 euro. Menggunakan kurs Rp 17.009 per euro, harganya Rp 136.100 hingga Rp 340.200 per porsi. Ini belum termasuk minuman dan makanan pendamping, jajanan khas Nusantara. Menurut pendiri sekaligus Kepala Chef Toba Restoran dan Pino’s Warung, Pino Edward Sinaga, saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (14/3) Restoran Toba didirikan dengan kecintaan untuk menampilkan kekayaan dan keberagaman cita rasa masakan Nusantara. Warisan kebudayaan Indonesia menjadi inspirasinya. Restoran Toba bahkan diulas media kawakan Inggris, The Guardian. ”Awalnya, saya khawatir cita rasa makanan tidak menjadi prioritas, seperti tempat lain yang hanya mementingkan visual yang bagus untuk difoto sebelum pergi ke kelab malam Boujis. Namun, Toba sangat baik,” ulas GraceDent di The Guardian.
Menurut pakar gastronomi dari Universitas Pendidikan Indonesia, Dewi Turgarini, konsep gastrodiplomasi terdiri atas aktor pemerintah dan nonpemerintah. Dengan segala potensinya yang besar, kuliner Nusantara di luar negeri banyak terkendala pasokan bahan baku, termasuk, bumbu dapur. Para diaspora pengusaha kuliner mengaku masih kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku yang ajek karena minimnya dukungan sistem ekspor Indonesia. misalnya, bahan baku rempah dan bumbu dapur Indonesia harganya berlipat-lipat dari harga di Tanah Air. Keluhan para pelaku usaha kuliner ini terefleksi dalam survei oleh program pemerintah, yaitu Indonesia Spice Up The World (ISUTW). Program ini diharapkan mendongkrak pemasaran produk bumbu atau pangan olahan dan rempah Indonesia. Survei menunjukkan, banyak pelaku usaha menilai harga bumbu atau rempah dari Indonesia mahal. Akses memperoleh bahan-bahan itu pun sulit. Padahal, 32,4 % responden mengimpor langsung bahan baku dari Indonesia. (Yoga)
Bank OCBC Bukukan Laba Bersih Tahun 2023 Rp 4,09 Triliun
THR: Buat Belanja, Tabungan, atau Bayar Utang?
Tunjangan hari raya (THR) paling dinanti
menjelang Lebaran. Bagi warga yang penghasilannya ngepas dan hidup dari gaji ke
gaji, THR memberi ”sambungan napas” saat saldo menipis. Sementara bagi yang
aman secara finansial, THR memberi ruang lebih untuk membeli baju baru, memberikan
angpau Lebaran, atau mudik ke kampong halaman. Peredaran uang THR biasanya
diharapkan menggerakkan ekonomi. Sebab, masyarakat akan membelanjakan uang
lebih mereka untuk beragam kebutuhan di luar belanja rutin. Naiknya daya beli
dan konsumsi warga bisa mengungkit pertumbuhan ekonomi. Namun, dalam skala
personal, pertanyaan paling relevan adalah bagaimana kualitas pemanfaatan
setiap orang dan keluarga dalam memanfaatkan THR.
Sari (35) adalah contoh pekerja yang memilih
fleksibel dalam memanfaatkan uang THR-nya. ”Aku tidak pernah merencanakan, sih.
Jadi, ngikut saja sesuai kebutuhan. Yang pasti biasanya untuk kebutuhan
Lebaran, seperti beli tiket mudik atau kasih angpau buat keponakan,” ujar
karyawan swasta yang berdomisili di Jakarta itu, Senin (18/3). Biasanya, uang THR-nya
akan langsung habis tak bersisa karena kebutuhan Lebaran yang banyak. Aji (30),
pekerja swasta asal Jakarta, sedikit lebih beruntung. Selama lima tahun
bekerja, ia selalu bisa menabung dari uang THR. Ia tidak perlu menyisihkan uang
THR-nya untuk membeli tiket mudik.
Paling-paling, sebatas merogoh kantong untuk
memberi uang kecil kepada para keponakannya. Itu pun masih bisa ditutupi lewat
gaji bulanan. Sementara, Aridha Pratama (29), karyawan swasta di Jakarta, menyiapkan
rencana penggunaan THR. Berdiskusi dengan istrinya, ia mengalokasikan sebagian
besar THR untuk ditabung guna mengantisipasi kebutuhan di masa datang. Sisanya
digunakan untuk keperluan rumah tangga dan gaya hidup. Untuk sejumlah keperluan
Lebaran tahun ini, ia tidak menggunakan THR.
Menurut perencana keuangan dari OneShildt, Risza
Bambang, tetapkan skala prioritas untuk menentukan kebutuhan atau kewajiban yang
lebih utama dibandingkan lainnya. ”Jumlahkan nilai dari semua kebutuhan
tersebut, lalu bandingkan dengan nilai THR. Mudah-mudahan ada surplus. Kalau defisit,
kurangi nilai yang tidak wajib sampai bisa dicukupi oleh nilai THR,” kata
Risza. Nilai surplus yang didapat bisa dipakai untuk mengurangi atau melunasi utang.
Di samping itu, bisa dimanfaatkan untuk investasi agar tujuan keuangan masa depan
dapat lebih cepat terpenuhi. (Yoga)
1,8 Juta Anak Belum Diimunisasi
Lebih dari 1,8 juta anak di Indonesia belum mendapatkan satu dosis pun imunisasi.Hal ini patut diwaspadai karena anak yang belum diimunisasi berisiko tertular dan menularkan penyakit berbahaya yang seharusnya bisa dicegah. Berdasarkan data Kemenkes, jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali atau zero-dose immunization secara akumulatif pada 2018-2023 mencapai 1.879.820 anak. Pada 2023, jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi bertambah 432.615 anak. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes Prima Yosephine mengatakan, cakupan yang belum optimal dan belum merata menjadi persoalan yang dihadapi Indonesia terkait pelaksanaan imunisasi pada anak.
Hal itu menyebabkan kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi masih sering ditemui di masyarakat. ”Anak yang tidak diimunisasi akan berisiko tinggi tertular penyakit berbahaya yang berisiko pada kecacatan dan kematian. Selain itu, jika masih ada anak yang tidak diimunisasi, kekebalan komunitas (herd immunity) juga tidak tercapai sehingga muncul kejadian luar biasa (KLB) atau wabah,” tuturnya dalam pertemuan media terkait pelaksanaan Pekan Imunisasi Dunia 2024 di Jakarta, Senin (18/3). Pada 2023 dilaporkan ada 94 KLB campak di 66 kabupaten/kota, 4 KLB rubela di 4 kabupaten/kota, 103 KLB difteri di 68 kabupaten/kota, 7 kasus polio cV-DPV2 di 7 kabupaten/kota, 1 kasus polio VDPV1 di 1 kabupaten/kota, 14 kasus tetanus neonatorum di 12 kabupaten/kota, serta 13 kasus meninggal akibat tetanus neonatorum di 11 kabupaten/kota.
Selain itu, sebaran kasus pertusis juga dilaporkan di 149 kabupaten/kota di 29 provinsi pada 2023. Prima menuturkan, apabila cakupan imunisasi pada anak tidak segera dilengkapi, berbagai risiko bisa terjadi. Selain munculnya kasus baru KLB, Indonesia juga dapat gagal mencapai target eliminasi campak-rubela yang ditargetkan pada 2026. Indonesia juga berisiko gagal mempertahankan status bebas polio yang dicapai sejak 2014. Ia menuturkan, cakupan imunisasi yang belum optimal salah satunya disebabkan keengganan orangtua membawa anaknya diimunisasi. Dari survei Nielsen yang dilakukan bersama Kemenkes dan Unicef, 38 persenorangtua mengaku tidak mau mengimunisasi anaknya karena takut akan pemberian imunisasi ganda.
Sebanyak 12 % mengaku takut akan efek samping yang bisa ditimbulkan dari imunisasi. Ketua Komisi Nasional Pengurus Pusat Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (Komnas KIPI) Hindra Irawan Satari menuturkan, edukasi terkait pentingnya imunisasi harus terus disampaikan kepada masyarakat. KIPI merupakan kondisi yang bisa terjadi. KIPI tersebut umumnya ringan dan terjadi secara cepat. KIPI bisa disembuhkan, baik tanpa maupun dengan pengobatan. Dengan imunisasi, usia harapan hidup seseorang bisa bertambah. Itu sebabnya, perlu ditingkatkan kesadaran masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan akan pentingnya imunisasi. (Yoga)
Susu Gratis, dari Mana Susunya?
Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang hampir pasti memenangi Pilpres 2024 menjanjikan program susu gratis dalam upaya mewujudkan SDM unggul untuk Indonesia Emas 2045. Di tengah kondisi persusuan nasional yang sedang tidak baik-baik saja, dari mana sumber susu diperoleh? Prabowo pernah menyebutkan bahwa susu berasal dari sapi langsung karena mutunya lebih baik dibanding susu kemasan pabrik. Namun, berdasarkan data BPS (2022), produksi susu segar dalam negeri hanya 968.980 ton atau 20 % dari kebutuhan nasional yang mencapai 4,4 juta ton. Meski mengalami kenaikan produksi setiap tahun, belum bisa mengejar angka kebutuhan dalam negeri. Sisanya masih dipenuhi dari impor. Tingkat konsumsi susu penduduk Indonesia masih rendah, yaitu 16 kg per tahun.
Sejatinya, kebutuhan susu terus meningkat, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk yang saat ini sudah mendekati 280 juta jiwa. Ini artinya pengembangan peternakan sapi perah lokal secara lebih professional menjadi kata kunci, mengingat peluang pasar susu nasionalterbuka lebar seiring tumbuhnya kebutuhan masyarakat. Minimnya produksi susu nasional dipicu dua hal: jumlah populasi sapi perah yang tak mencukupi dan rendahnya produktivitas sapi perah itu sendiri. Dari sisi produktivitas, sapi perah di Indonesia rata-rata hanya memproduksi 10 liter/ekor/hari. Jauh dari produksi susu sapi negara maju yang bisa mencapai 30 liter, bahkan 50 liter/ekor/hari. Sapi-sapi yang produktivitasnya rendah mayoritas dikelola peternak kecil dengan pengelolaan sapi yang masih tradisional. Pada poin inilah pilar swasembada susu nasional harus diberi penguatan.
Sejumlah perusahaan susu nasional yang menerapkan manajemen ternak dan teknologi yang baik bisa memiliki produktivitas susu 24 liter, bahkan 34 liter/ hari. Laju konsumsi susu di Indonesia yang tergolong rendah berdasarkan standar FAO, harus ditingkatkan. Program kerja capres-cawapres yang menjanjikan pemberian susu gratis patut diberi apresiasi. Namun, konsekuensi logisnya keran impor bakal dibuka. Tentu saja para importir susu dan sapi perah yang diuntungkan, Rencana impor 1,5 juta sapi perah untuk menyukseskan program susu gratis layak dikritisi. Bahkan, dalam dua tahun, akan ada 3 juta sapi perah untuk memproduksi susu untuk kebutuhan susu gratis bagi 82 juta anak. Mendorong penguatan swasembada susu guna meningkatkan konsumsi susu menjadi catatan penting bagi pemerintahan hasil Pemilu 2024. Siapa pun pemenangnya patut melakukan percepatan swasembada susu sapi 2030. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









