THR: Buat Belanja, Tabungan, atau Bayar Utang?
Tunjangan hari raya (THR) paling dinanti
menjelang Lebaran. Bagi warga yang penghasilannya ngepas dan hidup dari gaji ke
gaji, THR memberi ”sambungan napas” saat saldo menipis. Sementara bagi yang
aman secara finansial, THR memberi ruang lebih untuk membeli baju baru, memberikan
angpau Lebaran, atau mudik ke kampong halaman. Peredaran uang THR biasanya
diharapkan menggerakkan ekonomi. Sebab, masyarakat akan membelanjakan uang
lebih mereka untuk beragam kebutuhan di luar belanja rutin. Naiknya daya beli
dan konsumsi warga bisa mengungkit pertumbuhan ekonomi. Namun, dalam skala
personal, pertanyaan paling relevan adalah bagaimana kualitas pemanfaatan
setiap orang dan keluarga dalam memanfaatkan THR.
Sari (35) adalah contoh pekerja yang memilih
fleksibel dalam memanfaatkan uang THR-nya. ”Aku tidak pernah merencanakan, sih.
Jadi, ngikut saja sesuai kebutuhan. Yang pasti biasanya untuk kebutuhan
Lebaran, seperti beli tiket mudik atau kasih angpau buat keponakan,” ujar
karyawan swasta yang berdomisili di Jakarta itu, Senin (18/3). Biasanya, uang THR-nya
akan langsung habis tak bersisa karena kebutuhan Lebaran yang banyak. Aji (30),
pekerja swasta asal Jakarta, sedikit lebih beruntung. Selama lima tahun
bekerja, ia selalu bisa menabung dari uang THR. Ia tidak perlu menyisihkan uang
THR-nya untuk membeli tiket mudik.
Paling-paling, sebatas merogoh kantong untuk
memberi uang kecil kepada para keponakannya. Itu pun masih bisa ditutupi lewat
gaji bulanan. Sementara, Aridha Pratama (29), karyawan swasta di Jakarta, menyiapkan
rencana penggunaan THR. Berdiskusi dengan istrinya, ia mengalokasikan sebagian
besar THR untuk ditabung guna mengantisipasi kebutuhan di masa datang. Sisanya
digunakan untuk keperluan rumah tangga dan gaya hidup. Untuk sejumlah keperluan
Lebaran tahun ini, ia tidak menggunakan THR.
Menurut perencana keuangan dari OneShildt, Risza
Bambang, tetapkan skala prioritas untuk menentukan kebutuhan atau kewajiban yang
lebih utama dibandingkan lainnya. ”Jumlahkan nilai dari semua kebutuhan
tersebut, lalu bandingkan dengan nilai THR. Mudah-mudahan ada surplus. Kalau defisit,
kurangi nilai yang tidak wajib sampai bisa dicukupi oleh nilai THR,” kata
Risza. Nilai surplus yang didapat bisa dipakai untuk mengurangi atau melunasi utang.
Di samping itu, bisa dimanfaatkan untuk investasi agar tujuan keuangan masa depan
dapat lebih cepat terpenuhi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023