Harga Beras Sulit Turun ke Posisi Tahun Lalu
Meningkatnya biaya produksi padi membuat harga beras akan
sulit turun ke level harga eceran tertinggi atau HET yang ditetapkan pemerintah
tahun lalu. Apa yang dapat dilakukan pemangku kebijakan saat ini adalah menjaga
stabilitas harga beras agar tidak merugikan petani maupun masyarakat. Dirut Perum
Bulog Bayu Krisnamurthi menuturkan, harga beras sulit turun ke level tahun lalu
mengingat sejumlah komponen pembentuk harga beras telah mengalami kenaikan, di
antaranya upah tenaga kerja, harga sewa lahan, hingga harga pupuk. ”Seiring
dengan kenaikan UMR (upah minimum regional) dan inflasi di kisaran 2-3 %, upah
buruh tani juga meningkat. Faktanya 50 % biaya produksi tanaman padi didominasi
upah tenaga kerja,” ujarnya di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (18/3).
Bayu juga menyoroti adanya kenaikan harga sewa lahan yang disinyalir
karena banyaknya konversi lahan yang terjadi. Petani merogoh kocek lebih banyak
untuk menyewa lahan lantaran lahan semakin sempit dan dibanderol lebih mahal. Faktor
lain yang membuat HET beras tidak bisa kembali ke posisi tahun lalu adalah kenaikan
harga pupuk baik di tingkat internasional maupun regional. Sebagai informasi,
pupuk subsidi hanya menyumbang 3,8 % dari total biaya produksi padi, sedangkan
pupuk nonsubsidi menyumbang 10 % dari total biaya produksi padi. ”Kondisi
demikian menjadi pertimbangan kenaikan harga beras ke depannya. Jadi menurut penghitungan
kami, harga akan sulit untuk kembali ke titik semula seperti setahun yang
lalu,” ujar Bayu. (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023