Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Tiga Tahap Perencanaan Keuangan
Perencanaan keuangan adalah kegiatan yang mendasari aktivitas
keseharian keuangan pribadi. Sayangnya, prioritas perencanaan terkadang
menjaditerbalik. Kegiatan investasi didahulukan sebelum memastikan keuangan aman
akan membuat potensi malapetaka keuangan di kemudian hari. Untuk memulai
tahapan perencanaan keuangan, Langkah pertama adalah membuat situasi keuangan menjadi
aman atau financially secure, yaitu kondisi saat penghasilan aktif sebuah rumah
tangga dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar setiap bulannya. Contoh, rumah
tangga memiliki pengeluaran untuk hidup rutin Rp 7 juta per bulan, cicilan
rumah Rp 3 juta per bulan, dan pengeluaran untuk hiburan Rp 2 juta per bulan.
Maka kebutuhan hidup dasar rumah tangga adalah Rp 10 juta per bulan. Untuk memperoleh
keamanan finansial, diharapkan rumah tangga memiliki penghasilan aktif minimal Rp
10 juta per bulan.
Langkah kedua adalah menjadikan situasi keuangan lebih nyaman
atau financially comfortable. Di tahap ini, fokus pengelolaan adalah membangun
tabungan dan investasi untuk berbagai tujuan keuangan utama seperti pembelian
rumah tinggal, dana membesarkan anak, dan lainnya. Contohnya, menabung untuk
ibadah haji. Maka, menabung akan dilakukan terus hingga saldo tabungan haji
dapat digunakan untuk memberangkatkannya. Langkah ketiga adalah menjaga nilai
kekayaan untuk diteruskan kepada generasi selanjutnya. Ciri khas rumah tangga
yang tidak melahirkan sandwich generation adalah keuangan yang telah berhasil
mencapai tahap ketiga. Pada tahapan ini, rumah tangga berhasil memiliki
aset-aset yang juga dapat dilanggengkan sebagai aset hibah, waris, dan lainnya.
Salah satu modal dasar merencanakan keuangan adalah memiliki niat untuk mewujudkan
keuangan yang lebih sehat, dimulai dari membuat keuangan rumah tangga aman. (Yoga)
Program ”Ferienjob” ke Jerman Telah Dihentikan
Perguruan tinggi diminta untuk lebih cermat dalam mengkaji
tawaran-tawaran program magang untuk mahasiswa yang dikaitkan dengan Merdeka
Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Program magang mahasiswa baik di dalam maupun
luar negeri yang tidak sesuai ketentuan itu harus dihentikan, termasuk
ferienjob ke Jerman yang mengemuka terakhir ini. Penyalahgunaan program magang
mahasiswa menimpa sejumlah mahasiswa Indonesia di Jerman. Mereka diduga menjadi
korban perdagangan orang di Jerman. Awalnya, mereka dijanjikan bekerja dengan
sistem magang. Akan tetapi, akhirnya justru dijerat utang dan dieksploitasi.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Dirjen Diktiristek
Kemendikbudristek Sri Suning Kusuma Wardani, Jumat (22/3) di Jakarta, mengatakan,
pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran kepada unsur pimpinan perguruan tinggi
dan kepala lembaga layanan pendidikan tinggi wilayah I–XVI terkait program magang
mahasiswa ferienjob di Jerman pada 27 Oktober 2023. Surat yang ditandatangani Plt
Dirjen Dikti ristek Nizam itu meminta
seluruh program ferienjob dihentikan, baik yang sudah maupun yang akan berlangsung.
Program itu dianggap tak memenuhi kriteria yang diatur dalam MBKM. ”Karena
oknum memanfaatkan euforia MBKM, mungkin dari perguruan tinggi jadi tertarik.
Program ferienjob atau program kerja paruh waktu saat musim
libur tersebut legal diJerman, tetapi untuk mahasiswa yang mau bekerja saat
libur. Sebaliknya, MBKM itu bagian dari proses pembelajaran saat mahasiswa
aktif,” kata Suning. Pihaknya mengetahui dari KBRI di Jerman bahwa ada masalah
dalam pengiriman mahasiswa Indonesia untuk program ferienjob, Kemendikbudristek
segera meminta perguruan tinggi untuk menghentikan program tersebut. ”Dalam
pelaksanaannya, tidak terjadi aktivitas yang mendukung proses pembelajaran bagi
mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Namun, justru banyak ditemukan
pelanggaran-pelanggaran terhadap hak mahasiswa. Program ferienjob juga tidak
memenuhi kriteria untuk dapat dikategorikan dalam aktivitas MBKM,” kata Suning.
(Yoga)
Menandingi Singapura?
Berita tentang konser eksklusif Taylor Swift di Singapura
pada awal bulan ini didominasi pernyataan kontroversial pejabat tinggi dari
negara tetangganya. Aspek finansial dari konser dinilai lebih penting ketimbang
yang lain-lain. Sementara, beda politikus dan pengusaha semakin kabur. Seorang
menteri kabinet RI berambisi bikin konser tandingan. Menteri yang lain mencari
peluang menumpang keunggulan Singapura dalam bentuk kerja sama. Sebagian pihak
meragukan kemampuan Jakarta menjadi tuan rumah untuk konser sekelas Taylor
Swift. Kalaupun Jakarta mampu, apakah perlu? Sudah berpuluh tahun dan dalam
berbagai bidang Singapura supergesit dalam kompetisi transaksi global.
Walau unggul dalam sejumlah bidang, Singapura ditakdirkan
hidup dalam keterbatasan. Sumber daya alam dan sumber daya manusia di sana
sangat terbatas. Uniknya, Singapura berhasil membalik keterbatasan itu menjadi pemicu
kerja secara cerdas. Demi bertahan hidup, Singapura sangat bergantung pada tambahan
berbagai sumber daya dari luar. Untuk mendapat tambahan sumber daya unggul,
sejumlah persyaratan harus dipenuhi. Pertama, dibutuhkan jaringan
transportasi-komunikasi-finansial canggih dan andal agar sumber daya dari luar negeri
bisa masuk dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Kedua, Singapura harus memikat
calon mitra kerja dari luar dengan imbalan besar bagi mitra asingnya.
Tak perlu kaget atau kecewa jika pentas Taylor Swift untuk
Asia Tenggara berhari-hari hanya di Singapura. Daripada bikin konser tandingan,
mengapa tidak bersemangat membina universitas dengan kualitas tandingan? Siapa
tahu Indonesia berhasil naik ke urutan setara atau mendekati Singapura dalam
peringkat global universitas dan anak presiden tak perlu jauh-jauh berkuliah di
sana? Mengapa Pemerintah RI tidak terpacu membenahi layanan kesehatan di negeri
sendiri sehingga para menteri yang sakit bisa merasa nyaman dirawat di dalam
negeri? Tenaga kerja Indonesia berbondong-bondong sebagai PRT di Singapura.
Mengapa pejabat tinggi negara tidak bertekad memperbaiki kondisi kerja di Tanah
Air sendiri? Apakah konser tandingan dinilai lebih penting daripada semua hal
itu. (Yoga)
Bahaya Koalisi Sonder Oposisi
MOMEN RAMADAN : JALUR LABA DI LOKAPASAR
Jenama lokal bersiap mereguk untung pada momentum Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri, terutama dengan memanfaatkan saluran lokapasar. Strategi yang tepat diperlukan agar tidak tenggelam dalam algoritma marketplace. Sebagai negara dengan populasi Muslim nasional terbesar di dunia, Indonesia selalu jadi ceruk pasar menggiurkan pada momen puasa dan Lebaran. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang melesat, brand dan penjual lokal harus gesit menyusun berbagai strategi pemasaran untuk menjawab kebutuhan konsumen. Berdasarkan laporan dari Google bertajuk Recharge, Reconnect, Celebrate: Consumer Insights for Successful Ramadan 2024 Campaigns menunjukkan jumlah masyarakat yang berbelanja pada momen Ramadan meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan saat tanggal kembar seperti 12.12. Secara khusus, berdasarkan data dari YouGov pada 2024 beberapa kategori diperkirakan meningkat secara signifikan yaitu kategori food & beverages (43%), fashion & accessories (27%), dan beauty & personal Care (20%) pada Ramadan tahun ini. Rika Yeo, City Leader Lazada Club mengatakan pemilik usaha tidak hanya perlu memerhatikan tren produk, brand dan penjual lokal dapat menawarkan layanan terbaik dengan mengenal dan memahami penggunaan fitur dan layanan platform belanja online. Rika membagi beberapa jurus agar pelaku usaha bisa memaksimalkan penjualan di platform e-commerce seperti Lazada pada Ramadan. Pertama, pelajari performa omzet dan produk toko online.
Caranya adalah dengan menentukan target dengan tingkat omzet saat ini. Kedua, gunakan promo dan diskon khusus Ramadan sebagai daya tarik yang kuat untuk mendorong pembeli check out produk. Ketiga, perhatikan kebutuhan pembeli dan tren produk selama Ramadan. Keempat, sesuaikan strategi penjualan dengan perilaku belanja konsumen. Kelima, fokus pada penjualan produk populer dan produk yang tren pada Ramadan. Sementara itu, Head of Communications Tokopedia, Aditia Grasio Nelwan menyarankan penjual, khususnya UMKM, untuk menerapkan strategi bundling produk guna meningkatkan penjualan pada bulan puasa. Cara tersebut dinilai efektif meningkatkan penjualan, khususnya yang berjualan produk kebutuhan sehari-hari atau fast moving consumer good (FMCG). Agar makin dilirik calon pembeli, maka produk tersebut dapat menggunakan nama unik yang identik dengan Ramadan. Misalnya, ‘Paket Bedug’ yang berisi produk yang berkaitan dengan buka puasa, seperti teh celup, gula pasir dan kurma. Penjual juga bisa membuat hampers edisi spesial Ramadan untuk menangkap tingginya animo masyarakat berbagi dengan kerabat atau kenalan.Di sisi lain, pelaku usaha juga bisa memberikan kesempatan bagi pembeli untuk meng-custom hampers sesuai preferensi. Jika penjual punya anggaran besar dan ingin meningkatkan brand awareness di tengah masyarakat luas, maka mereka bisa berkolaborasi bersama KOL dengan ratusan ribu hingga jutaan pengikut (macro/mega KOL) yang relevan dengan produknya. Namun jika penjual ingin menyasar calon pembeli yang lebih niche, nano KOL dengan pengikut 1.000-10.000 bisa menjadi pilihan yang lebih terjangkau.
Aksi Korporasi Bakal Meningkat
Penetapan pemenang pemilihan umum menebalkan kepercayaan pelaku pasar modal untuk melanjutkan aksi korporasi baik berupa penerbitan surat utang, reksa dana, hingga rencana mencatatkan saham di lantai bursa. Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Rabu (20/3) yang menetapkan pasangan Prabowo-Gibran sebagai pemenang Pemilihan Presiden 2024, dan kondisi politik yang relatif stabil menjadi penguat bagi para pelaku dalam menjalankan roda bisnis. Bila mengikuti target yang ditetapkan oleh otoritas bursa, pada tahun ini ditargetkan 62 perusahaan baru akan meramaikan papan transaksi di bursa saham. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pencapaian emiten IPO pada 2023. BEI mencatat sepanjang 2023 ada 79 emiten IPO dengan nilai penggalangan dana sebesar Rp54,14 triliun. Jumlah itu melesat dibandingkan dengan 2022 yang sebanyak 59 emiten dengan penghimpunan dana Rp33,06 triliun. Jumlah pencatatan emiten baru pada 2023 pun mencatatkan rekor tertinggi sejak 1990 silam sebanyak 66 emiten.
Optimisme pelaku pasar tergambar dari mulai bertambahnya transaksi. Pada bulan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat menyentuh level tertinggi, ditopang oleh rencana bagi dividen dan membaiknya kinerja emiten. Nilai transaksi pun diyakini akan terus membaik seiring dengan mulai masuknya aliran dana asing ke pasar saham. Otoritas Bursa Efek Indonesia memperkirakan nilai transaksi rata-rata akan mencapai di angka Rp12,25 triliun.Berdasarkan data BEI, IHSG kemarin ditutup di level 7.350,152 naik tipis 0,16% dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Nilai transaksi sepanjang Jumat (22/3) mencapai Rp10,10 triliun dengan volume 14,611 miliar saham.
Kualitas calon emiten menjadi isu yang cukup disoal oleh investor mengingat banyaknya emiten yang baru mencatatkan saham tetapi sudah tertimpa masalah. Beberapa di antaranya bahkan diberikan notasi khusus dengan sanksi beragam. Tak hanya itu, nilai saham yang diperdagangkan pun, banyak yang anjlok di bawah harga penawaran. Kami tentunya mengharapkan otoritas bursa lebih selektif memberikan lampu hijau bagi calon emiten yang akan mencatatkan sahamnya di bursa. Perlindungan kepada investor harus diutamakan. Apalagi saat ini jumlah investor ritel terus bertambah.
Ketahanan Pangan di Balik Makan Siang Gratis
Program makan siang gratis pasangan calon presiden Prabowo-Gibran bisa berkontribusi bagi peningkatan ketahanan pangan nasional dan pemerataan ekonomi. Salah satu syarat mendasarnya adalah mengutamakan lokalitas. Lokalitaas disini artinya kebijakan yang ada harus bersifat bottom up, melibatkan masyarakat sekitar dan tidak tersentralisasi di pusat. Ujungnya, pengetahuan akan keragaman pangan lokal akan terjaga serta efek pengganda ekonomi setempat, terutama petani dan pelaku UMKM akan bergeliat. Program makan siang gratis bisa memenuhi empat pilar ketahanan pangan, setidaknya bagi siswa. Sebagaimana diketahui, ketahanan pangan memiliki empat pilar yakni ketersediaan pangan, akses pangan, pemanfaatan pangan dan pemenuhan terhadap tiga pilar di awal (World Food Summit, 1996). Makan siang gratis dipastikan akan menjadikan ketersediaan pangan terpenuhi dengan sendirinya. Hal ini akan menjadi sesuatu yang given bagi siswa karena disediakan oleh pemerintah. Pilar kedua akses pangan. Program makan siang gratis memberikan kemutlakan bagi siswa penerima manfaat akan akses pangan. Bagaimanapun kondisi ekonominya, apabila bersekolah di sekolah yang menjadi sasaran penerima program makan siang gratis, siswa akan mendapatkan akses pangan di sekolahnya, setidaknya satu kali makan pada hari sekolah. Ketersediaan dan akses pangan tidak lengkap tanpa pilar ketiga, pemanfaatan pangan. Pilar ketiga ini belum tentu terwujud dalam program makan siang gratis. Kondisi ini bisa terjadi apabila makanan yang disajikan untuk penerima program tidak bernutrisi. Setidaknya diperlukan pengawasan ketat akan sajian makanan yang akan dihidangkan kepada para siswa. Pelibatan ahli gizi mutlak dilaksanakan agar ketercukupan standar gizi bisa dipenuhi. Merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) No. 28/2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia, kebutuhan makanan bagi usia sekolah SD (7—12 tahun) berada pada rentang 1.650 kalori per hari sampai 2.000 kalori per hari.
Sedangkan asupan protein berada pada rentang 40 gram sampai 55 gram per hari. Kebijakan makan gratis akan menjadi alat pemerataan ekonomi apabila memenuhi unsur lokalitas. Hal ini sangat bisa diimplementasikan di era otonomi daerah yang berlaku di Indonesia saat ini. Pemerintah pusat sebagai pengarah sedangkan pemerintah daerah dan bahkan sekolah sebagai eksekutor. Bisa dibayangkan apabila penyuplai bahan baku program makan siang gratis adalah petani ataupun kelompok tani setempat. Sebagai contoh, di desa tempat saya lahir terdapat empat SD negeri. Masing-masing SD ada sekitar 100 siswa (kelas 1 sampai 6). Berdasarkan jumlah siswa tersebut, ada perputaran uang 6 juta per hari untuk total empat SD negeri. Setali tiga uang dengan kebijakan lokalitas tersebut di atas, keragaman pangan lokal bisa dirawat. Ujungnya, keragaman pangan lokal bisa mengurangi resiko pasokan pangan akibat guncangan global dan atau masalah iklim. Salah satu contohnya adalah asupan karbohidrat dalam menu uji coba makan siang gratis di Tangerang. Dari empat menu yang ada, tiga menu asupan karbohidrat berasal dari beras (dua nasi dan satu lontong). Sedangkan satu lainnya berbasis kentang. Aplikasi di daerah lain harus disesuaikan dengan dengan keragaman pangan lokal. Apabila sebuah daerah menjadi penghasil singkong, asupan karbo bisa bersumber dari bahan dasar singkong semisal oyek atau tiwul. Keragaman ini bisa mengurangi gejolak harga beras, terutama pada masa-masa tidak ada panen raya bagi daerah non penghasil beras. Aplikasi keragaman pangan pada menu makan siang gratis sekolah akan merawat keragaman pangan baik di level off farm (produsen) dan juga on farm (konsumen). Dampak positifnya, pengetahuan akan keragaman pangan lokal akan terjaga.
Deindustrialisasi Dini
Ekonomi Indonesia pernah mengalami industrialisasi pada masa
Orde Baru yang diawali dengan pembangunan berencana 1970-an. Sejak 1996, Indonesia
sudah tergolong negara berkembang yang berhasil menjalankan industrialisasi
meski masih tahap awal. Peranan sektor industri yang tinggi itu bahkan masih bertahan
setelah Indonesia mengalami krisis moneter 1997/1998. Peranan sektor industri
meningkat sampai 29,6 % PDB pada 2001 karena sektor tersier dan primer melambat
lebih besar. Pasca-2001, peranan sektor industri terus menurun. Deindustrialisasi dini yang terjadi di Indonesia
mirip beberapa negara Amerika Latin. Di Brasil, peranan sektor industri
terhadap PDB mencapai puncaknya sebesar 34 % tahun 1984, kemudian menurun tajam
hanya 11 % pada 2022.
Deindustrialisasi dini, termasuk yang terjadi di Indonesia,
disebabkan beberapa faktor pokok, antara lain, pertama, fenomena Dutch disease,
dimana industrialisasi negara yang kaya SDA terhambat karena naiknya harga
komoditas di pasar global, mengakibatkan perdagangan komoditas primer jauh
lebih menguntungkan daripada membangun industri. Pembangunan ekonomi yang
sebelumnya mulai bertumpu pada industri beralih kembali ke sektor primer. Kedua,
meningkatnya persaingan global di bidang manufaktur. Sejak awal dekade 1990-an,
persaingan produk manufaktur dunia meningkat dengan pesatnya pembangunan
industri di China. Industri manufaktur China yang awalnya mengandalkan biaya
murah jadi pesaing berat produk manufaktur global. Ketiga, tidak adanya
strategi pengembangan industri yang terarah.
Dari perkembangan manufaktur global dan Indonesia, pemerintah
mendatang perlu mengembalikan sektor industri sebagai penggerak utama ekonomi. Tak
ada jalan lebih cepat dari industrialisasi untuk jadi negara pendapatan tinggi
dan maju. Dua langkah pokok perlu diambil. Pertama, revitalisasi industri secara
konkret dan berspektrum luas (broad based). Kedua, pengembangan industri berbasis
SDA. Hilirisasi yang dijalankan perlu dikembangkan lebih lanjut. Tidak hanya
berhenti pada barang antara, tetapi juga pada barang akhir yang bernilai tinggi
agar nilai tambah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh nasional. Di sini
penguasaan teknologi menjadi tantangan besar. Dengan posisi tawar berupa
penguasaan SDA yang kuat, transfer teknologi bisa diwujudkan dengan baik. (Yoga)
Pemilu dan Bansos Kerek Belanja Pemerintah Pusat
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan,
realisasi ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2023
yang mencapai Rp 83,2 triliun, atau bahkan setara dengan kondisi 2021 saat
pandemic Covid-19 yang juga mencapai Rp 94,6 triliun. “Belanja ini
relatif sama dengan situasi 2021. Karena ini tahun pemilu memang dipengaruhi
oleh akselerasi belanja yang berhubungan dengan pemilu,” tutur Sri Mulyani
dalam konferensi pers APBN KITA, Kamis (22/2). Adapun realisasi belanja
pemerintah pusat ini terdiri dari belanja kementerian/Lembaga (K/L) yang
mencapai Rp 44,8 triliun atau 4,1% dari pagu. Belanja K/L ini juga lebih besar
jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 28,7 triliun. Lebih
tingginya belanja K/L ini dipengaruhi oleh dukungan persiapan pelaksanaan
pemilihan umum (pemilu). Kemudian untuk belanja non K/L realisasinya mencapai
Rp 51,6 triliun atau mencapai 3,8% dari pagu. Namun realisasi ini lebih rendah
jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 54,5 triliun.
Usaha Rumahan Pembuatan Kue Kering
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









