Ekonomi
( 40498 )Depresiasi Rupiah Senggol Manufaktur
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD mengakibatkan
sejumlah sektor industri manufaktur, seperti industri makanan-minuman serta
industri tekstil dan produksi tekstil dalam negeri, terdampak. Pelemahan kurs juga
berpotensi memangkas daya beli dan permintaan masyarakat. Nilai tukar rupiah
saat ini tengah melemah atau terdepresiasi akibat ketidakpastian pasar keuangan
global. Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Selasa (17/10)
malam, kurs rupiah berada di level Rp 15.718 atau melemah 1,49 % dibandingkan akhir
September 2023. Secara kalender berjalan, nilai tukar rupiah juga tercatat
melemah 0,80 % dibandingkan akhir Desember 2022.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh
Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman di Jakarta, Selasa (17/10) mengatakan, dampak
depresiasi rupiah dirasakan oleh para pelaku industri makanan-minuman di Tanah
Air. Sebab, sebagian besar kebutuhan produksi industri makanan-minuman, seperti
bahan baku dan barang modal, masih impor. ”Di samping bahan baku dan barang
modal, ada juga biaya lain, seperti logistik dan kapal. Semua itu, kan, dalam
bentuk USD sehingga menyebabkan terjadinya kenaikan, baik di sisi produksi, harga
pokok produksi, maupun dalam biaya logistik dan distribusinya,” kata Adhi. (Yoga)
Adhi Karya Bangun Pabrik Pupuk
Obligasi Sosial Pertama Segera Terbit
Perbankan Optimistis Kredit Terus Tumbuh
Industri perbankan optimistis dapat membukukan pertumbuhan penyaluran
kredit yang positif sampai akhir 2023. Penyaluran kredit selama dua bulan terakhir
diharapkan menjadi tren positif bagi industri perbankan sehingga target
pertumbuhan kredit hingga dua digit pada tahun ini akan tercapai. Menjawab
pertanyaan harian Kompas, Sekretaris Perusahaan PT BNI (Persero) Tbk, Okki
Rushartomo, secara tertulis, Selasa (17/10) mengatakan,BNI optimistis penyaluran
kredit pada 2023 tumbuh. Strategi untuk mengoptimalkannya dengan menyasar korporasi
yang memiliki kapitalisasi pasar besar (blue chip) dan unggulan domestik (regional
champion). Strategi lainnya adalah mengoptimalkan produk melalui rantai pasok
dan rantai nilai serta mengekspansi sektor yang prospektif.
Hal ini mengingat adanya tren positif pada semester II-2023,
seperti peningkatan belanja masyarakat dan pemerintah. Kedua tren positif tersebut
akan memberi efek berganda positif bagi perekonomian nasional, termasuk segmen
korporasi dan komersial. ”Per Agustus 2023, kami mencatatkan pertumbuhan kredit
8,8 % secara tahunan. Kami juga optimistis kredit dapat bertumbuh sesuai dengan
target pertumbuhan kredit perseroan sebesar 7 % hingga 9 % pada akhir 2023,”
katanya. Okki menambahkan, pihaknya tetap disiplin menumbuhkan current account
saving account (CASA) sebagai basis likuiditas utama sehingga total biaya bunga
yang dikeluarkan oleh bank dapat terjaga efisien. (Yoga)
OJK Adakan Bulan Inklusi Keuangan
Pemilu Dongkrak Ekonomi
Presiden Jokowi Bertemu Presiden Putin di China
Mitigasi Dampak Global dengan Hilirisasi dan Diversifikasi Mitra Dagang
Rupiah Melemah, Harga Mobil Berpotensi Naik
September, Penyaluran Kredit Baru Diprediksi Meningkat
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









