Kategori
Ekonomi
( 40498 )Instrumen Baru Memperdalam 'Danau' Pasar Keuangan Domestik
20 Oct 2023
JAKARTA,ID-Bank Indonesia (BI) segera mengeluarkan instrumen baru untuk meningkatkan aliran modal asing dan memperdalam pasar keuangan domestik. Instrumen tersebut adalah Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Bunga Bank Indonesia (SUVBI). Hal ini menarik minat investor dalam memperdalam pasar keuangan domestik. Intrusmen SVBI dan SUVBI bisa diperdagangkan di pasar sekunder dan diperdagangkan terhadap investor asing. Dengan demikian, ini akan menarik bagi pasar dan mendorong aliran modal asing masuk portfolio. SVBI merupakan surat berharga dalam valuta asing yang diterbitkan oleh BI sebagai penguatan utang berjangka waktu pendek, yaitu kurang satu tahun dengan menggunakan underlying aset berupa surat berharga dalam valuta asing milik BI. SUVBI merupakan sukuk dalam valuta asing yang diterbitkan oleh BI dengan menggunakan underlying aset berupa surat berharga dalam valuta asing berdasarkan prinsip syariah milik BI. (Yetede)
Kuartal III, BCA Kantongi Laba Bersih Rp 36,44 Triliun
20 Oct 2023
JAKARTA,ID-PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan entitas anak mencetak laba bersih sebesar Rp36,44 trliun pada sembilan bulan pertama tahun ini, tumbuh 25,78% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan laba yang tinggi utamanya didukung dari volume kredit yang meningkat pada kuartal III-2023. Dari sisi profitabilitas, selama sembilan bulan pertama 2023, BCA membukukan kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 21,3% (yoy) menjadi Rp18,3 triliun, ditopang kenaikan pendapatan fee dan komisi sebesar 7,7% (yoy). Secara total, pendapatan operasional tercatat sebesar Rp74,2 triliun atau naik 18,2% (yoy). "Seiring dengan peningkatan kualitas aset, biaya provisi tercatat turun Rp1,6 triliun dibandingkan taun sebelumnya. Secara keseluruhan, laba bersih tumbuh 25,8% (yoy) menjadi Rp36,4 triliun," ujar Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja. (Yetede)
Sembilan Bulan Menahan Bunga Acuan
20 Oct 2023
JAKARTA – Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate di level 5,75 persen selama sembilan bulan sebelum akhirnya mengereknya ke level 6 persen, kemarin. Bank sentral selama ini dianggap bekerja keras menampik kenaikan suku bunga demi menjaga momentum pemulihan perekonomian pasca-pandemi Covid-19. “Harapannya suku bunga dijaga tidak naik agar masyarakat dan dunia usaha mengambil kredit untuk konsumsi dan berekspansi,” ujar Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira Adhinegara kepada Tempo, kemarin.
Mulanya kebijakan itu cukup efektif mengembalikan kepercayaan diri masyarakat untuk kembali melakukan konsumsi dan mendorong geliat dunia usaha. Terbukti, pada kuartal pertama 2023, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,03 persen, kemudian meningkat pada kuartal kedua menjadi 5,17 persen. Namun, seiring dengan dinamika perekonomian global, khususnya tren inflasi di berbagai negara di dunia yang melemahkan permintaan dan mendorong kenaikan harga-harga, pemulihan ekonomi melambat. Bhima berujar, indikator utamanya tampak dari kinerja neraca perdagangan yang surplus, tapi bukan surplus yang sehat. “Impor bahan baku dan barang modal turun. Ekspor, khususnya komoditas unggulan, juga turun,” ucapnya. (Yetede)
Upaya Ekstra untuk Menahan Rupiah
20 Oct 2023
Bank Indonesia (BI) kewalahan meredam penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Secara mengejutkan, bank sentral mengerek suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur Oktober 2023. Suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) naik 25 basis poin (bps) ke level 6% pada Kamis (19/10). BI juga bersiap merilis instrumen Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) pada November mendatang. Mengutip Bloomberg, kemarin, kurs rupiah di pasar spot secara harian melemah 0,54% ke level Rp 15.815 per dollar AS. Sementara rupiah Jisdor BI melemah 0,68% ke level Rp 15.838 per dollar AS. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana melihat, pelemahan rupiah disebabkan sentimen risk off di pasar global yang telah membuat Indeks Dollar AS lebih perkasa. Permintaan dollar terus meningkat akhir-akhir ini akibat perang Israel-Palestina mengalami eskalasi yang menyebabkan banyak investor masuk ke instrumen dollar AS untuk mencari perlindungan, termasuk perpindahan dari US Treasury. Fikri berujar, langkah BI dilatarbelakangi pula oleh belum efektifnya instrumen maupun kebijakan yang telah diterbitkan BI sebelumnya seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan peraturan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Alhasil, menaikkan suku bunga menjadi pilihan terakhir BI. Pengamat Mata Uang, Lukman Leong mencermati, pelemahan kurs rupiah terjadi karena sentimen eksternal yang dipicu kekhawatiran pasar akan prospek kenaikan suku bunga Bank Sentral AS alias Federal Reserve The Fed. Ketakutan itu telah membawa imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mendekati level 5%, tertinggi sejak 2007. Sedangkan Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, hingga akhir Oktober 2023, kurs rupiah masih akan berada dalam tekanan terutama karena banyaknya tekanan global. Joshua memperkirakan nilai tukar rupiah sampai akhir Oktober 2023 dapat berada di rentang 15.700 hingga 15.900 per dollar AS. Sedang menurut Lukman, rupiah hampir pasti menyentuh Rp 16.000 per dollar AS.
Kebijakan DHE Gagal Membentengi Rupiah
20 Oct 2023
Devisa hasil ekspor (DHE) yang masuk ke dalam negeri nyatanya belum mampu memperkuat otot rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melanjutkan tren pelemahan. Bank Indonesia (BI) mencatat, transaksi term deposit valuta asing (TD Valas) devisa hasil ekspor (DHE) telah mencapai US$ 1,85 miliar per akhir September 2023. Jumlah itu naik tipis bila dibanding posisi per akhir Agustus yang sebesar US$ 1,3 miliar. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyiratkan, penyerapan DHE pada instrumen tersebut belum maksimal. Mengingat kenaikan yang masih tipis. Namun, "slowly but sure (perlahan tapi pasti), akan meningkat. Jadi kami akan mengoptimalkan," tegas Destry dalam konferensi pers, Kamis (19/10). Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan, angka yang disebutkan Destry merupakan DHE SDA yang diteruskan oleh perbankan ke BI. Dengan demikian, angka itu belum mencakup DHE SDA yang ditempatkan oleh para eksportir ke rekening khusus maupun rekening lain. Pada Kamis (19/10), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 15.815 per dolar Amerika Serikat (AS). Level itu melemah 85 poin atau 0,54% dari penutupan sebelumnya. Sementara cadangan devisa per akhir September 2023, di level US$ 134,9 miliar. Dibanding posisi tertinggi tahun ini yang sebesar US$ 145,2 miliar pada akhir Maret, berarti cadangan devisa akhir telah tergerus US$ 10,3 miliar. Kepala Ekonom BCA David Sumual melihat, tekanan nilai tukar rupiah lantaran DHE yang masuk masih di bawah ekspektasi sejak kebijakan baru DHE diluncurkan 1 Agustus 2023. Sementara, arus modal asing telah keluar sejak Agustus 2023. Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan, evaluasi atas aturan DHE SDA tersebut akan dilakukan dalam waktu tiga bulan setelah berlaku.
Emiten Menyerbu Bisnis Nikel
20 Oct 2023
Komoditas nikel masih menarik perhatian sejumlah emiten. Ini terlihat dari aksi sejumlah emiten merambah bisnis komoditas tersebut, termasuk emiten tambang batubara. Sebut saja, PT United Tractors Tbk (UNTR) yang kembali mengakuisisi perusahaan nikel, yakni PT Anugerah Surya Pacific Resources.Sebelumnya, UNTR mengambilalih 857 juta saham biasa baru Nickel Industries Limited baru pada 21 September 2023 lalu. Total nilai transaksi tersebut mencapai US$ 942,7 juta. Selain UNTR, ada PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang sudah lebih dulu masuk ke bisnis tambang. Bahkan, kini HRUM menjadi pengendali penuh atas PT Infei Metal Industry. Ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang pemurnian dan pengolahan nikel. PT Infei Metal Industry memiliki dan mengoperasikan pabrik pengolahan alias smelter nikel di Indonesia Weda Bay Industrial, Maluku Utara. Di sektor tambang logam, ada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang merambah bisnis nikel melalui anak usahanya, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan menilai, tambang nikel menjadi salah satu lini bisnis yang memiliki prospek cerah. Pesona nikel ditopang khususnya dari sisi industrialisasi baterai kendaraan listrik di Indonesia. Hal inilah yang menarik sejumlah emiten merangsek masuk ke bisnis nikel. Selain itu, faktor diversifikasi bisnis juga menjadi pendorong emiten mengakuisisi aset nikel. Mengingat sektor batubara relatif cukup fluktuatif dan harga saat ini sudah mengalami normalisasi. Hasan Barakwan, Analis BRI Danareksa Sekuritas mengestimasikan, harga nikel kelas 1 seperti (MHP) dan nikel matte serta nikel kelas 2 akan stabil pada sisa tahun ini, di tengah ekspektasi peningkatan permintaan baja anti karat dan prekursor baterai listrik. Maka Hasan menjagokan emiten yang punya prospek peningkatan pertumbuhan volume produksi, yakni MBMA dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Ia rekomendasi beli saham MBMA dengan target harga Rp 1.000.
Bunga Naik, Properti Makin Babak Belur
20 Oct 2023
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 6% bakal kembali membebani kinerja emiten properti. Terutama yang banyak bergerak di bisnis rumah tapak atau apartemen. Nasib sial menimpa emiten properti yang tidak memiliki pendapatan berulang. Kemungkinan kinerja mereka. tidak terlalu baik di kuartal IV 2023 ini. Analis Henan Putihrai, Jono Syafei mengatakan, kenaikan suku bunga BI berpotensi melemahkan daya beli masyarakat. Maka, banyak emiten yang mulai mengandalkan segmen pendapatan berulang atau recurring income. Hal tersebut juga sudah terlihat dari kinerja laporan keuangan semester I-2023, yang menunjukkan kalau emiten properti masih bergantung dari pendapatan berulang atau recurring income. Misalnya, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan sektor mall dan ritei dari pihak ketiga mencapai Rp 743 miliar di semester I 2023. Naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 619,29 miliar. Kontribusi sektor mall dan ritel SMRA dari pihak-pihak berelasi tercatat Rp 23,5 miliar di semester I 2023, meningkat dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 15,55 miliar. Sedangkan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) pada semester I 2023 mencatatkan pendapatan usaha Rp 966,03 miliar. Terdiri dari pusat niaga dan kawasan komersial, pelayanan kesehatan, hotel, sewa kantor, lapangan golf, dan lain-lain. Angka itu naik 9,6% dari raihan pendapatan usaha di semester I 2022. Technical Analyst Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora mengatakan, emiten yang memiliki pendapatan berulang memiliki potensi yang lebih baik pada kuartal IV 2023. Sebab, kunjungan mall akan meningkat di akhir tahun, mengingat banyak tenant yang akan memberikan diskon.
Raja Semen Andalkan Proyek IKN
20 Oct 2023
Emiten saham semen pelat merah, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), bakal mendapat berkah dari proyek-proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Proyek IKN yang dikebut untuk tahun 2024 bakal mendorong kinerja SMGR di sisa tahun 2023. Secara historis, penjualan semen juga lebih besar di akhir tahun. Analis UOB Kayhian Sekuritas Limartha Adiputra menilai, SMGR mampu mencatatkan kinerja yang positif di tahun ini bahkan hingga tahun depan. Hal itu didukung oleh pulihnya permintaan semen. Pasokan batubara domestic market obligasition (DMO) juga telah diamankan sepenuhnya oleh SMGR. Secara nasional, Limartha melihat pandangan yang tetap positif dengan perkiraan pertumbuhan volume penjualan sebesar 2% year on year (yoy) pada tahun 2023. Prospek pasar semen di sisa tahun ini juga tetap positif, dengan Kalimantan sebagai pasar utama, khususnya untuk penjualan semen curah. Analis Samuel Sekuritas, Daniel Widjaja melihat potensi penjualan semen secara nasional akan lebih besar pada semester kedua 2023 karena faktor musiman. Terutama pada kuartal terakhir yang hampir selalu mencatatkan volume lebih tinggi dari periode lainnnya sejak tahun 2018 hingga 2022. Daniel mengungkapkan, penjualan semen domestik tumbuh sekitar 35% secara kuartalan dan 15% secara tahunan pada kuartal III-2023. Pertumbuhan volume juga disebabkan faktor low base pada kuartal kedua lalu. Ini karena adanya momentum Ramadan dan musim panas berkepanjangan yang membantu kelancaran distribusi. Sementara biaya bahan baku dianggap tidak berpengaruh signifikan karena SMGR sudah mengamankan 100% batubara dengan harga DMO. Namun, kenaikan harga minyak dunia kemungkinan bakal menambah beban ongkos distribusi. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Muhammad Gibran mengerek target pendapatan SMGR di tahun 2023-2024 menjadi Rp 39 triliun dan Rp 40 triliun. Perkiraan laba kotor juga direvisi naik menjadi Rp 12,1 triliun untuk tahun 2023 dan Rp 12,4 triliun di tahun 2024.
IKAI Memperluas Pasar ke Outlet Ritel Bangunan Modern
20 Oct 2023
Pasar properti yang mulai menggeliat membuat PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) memasang kuda-kuda. Lewat anak usahanya, IKAI bakal menggenjot penjualan keramik di ritel modern. Untuk itu, produsen keramik merek Essenza ini bakal menambah jaringan di outlet ritel modern untuk mendongkrak penjualan. Direktur Utama Internusa Keramik Alamasri, Angelica Lie menjelaskan, saat ini penjualan keramik Essenza melalui distributor sebesar 70% dan sekitar 30% lewat outlet ritel modern. Saat ini distribusi penjualan Essenza telah masuk di sejumlah outlet ritel modern, khususnya ritel bahan bangunan yang tersebar di seluruh Indonesia. Perinciannya adalah produk Essenza ada di 10 outlet milik Mitra 10, dua outlet di Depo Bangunan, sembilan outlet di Mitra Bangunan dan 15 outlet di RKM Supermarket Bangunan. Angelica menjelaskan, para peritel bahan bangunan beberapa outlet di Jambi, Palembang, Pekanbaru, Lubuklinggau dan Lampung. Teranyar, Mitra Bangunan telah membuka cabang di selatan kota Jambi. Tak hanya itu, entitas usaha IKAI ini juga telah menambah modern outlet baru, yakni Belanja Keramik yang merupakan anak perusahaan Siam Cement Group (SCG). Ritel ini sudah punya jaringan distribusi di Jabodetabek dan Jawa Timur. Setelah memperluas jaringan pemasaran, IKAI juga berencana meningkatkan kapasitas produksi keramik di tahun 2024 nanti. Maka emiten ini berencana menghidupkan line 3 yang sudah ada mesin kiln (pembakaran) di Tangerang, Banten.
Ekspansi Kredit Menyasar Perusahaan Negara Asal
20 Oct 2023
Bank-bank yang dikendalikan investor asing di Indonesia mengandalkan perusahaan-perusahaan asal negara investor tersebut untuk menggenjot kinerja keuangan. Salah satunya dalam hal penyaluran kredit. Bank-bank di Indonesia yang dimiliki investor asing cukup banyak menyalurkan kredit ke perusahaan-perusahaan dari negara asal investor asing. Salah satu alasannya, bank-bank tersebut dianggap memahami kebutuhan pendanaan perusahaan tersebut. Kondisi ini berdampak positif dalam meningkatkan pertumbuhan kinerja bank-bank milik asing tersebut, seperti dialami Bank KB Bukopin Tbk dan Bank JTrust Tbk. Dua bank ini gencar membidik perusahaan asal negaranya. Bank KB Bukopin masih merugi saat ini. Tetapi kerugiannya sudah mulai berkurang. Bank ini memang sedang fokus melakukan bersih-bersih aset bermasalah dan mendorong penyaluran kredit baru ke perusahaan-perusahaan Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia, khususnya mereka yang memiliki hubungan bisnis dengan KB Kookmin Bank di Korea Selatan. Strategi tersebut dijalankan lewat program Korean Link. Bukopin tak hanya menyalurkan kredit secara langsung ke perusahaan-perusahaan tersebut, tetapi juga menyasar rantai pasoknya. Misalnya, setahun ini Bukopin banyak melayani kredit ke diler Hyundai. Sementara itu, Direktur Bisnis Bank Jtrust Widjaja Hendra mengatakan, penyaluran kredit ke perusahaan Jepang masih cukup kecil, baru sekitar 400 miliar hingga Rp 500 miliar. Sedangkan total kreditnya Rp 22,99 triliun per Agustus. "Pinjaman kami lebih banyak dalam rupiah, ke lapis kedua dari perusahaan Jepang," ujarnya. Namun, ia yakin potensi masih besar. Berbeda, Direktur Danamon Dadi Budiana bilang, kredit ke perusahaan Jepang yang merupakan negara asal pemegang sahamnya bukan prioritas, sehingga nilai portofolionya kecil."Kredit langsung ke perusahaan Jepang tak sampai 5%," papar dia.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









