Ekonomi
( 40478 )Pupuk Bersubsidi 2024 di Bawah Kebutuhan
Sektor Perikanan Aceh Menanti Investasi
Sektor perikanan Aceh berkontribusi positif pada
perekonomian daerah. Namun, pengembangan sektor ini masih minim karena seretnya
investasi. Keseriusan daerah menggaet investor diperlukan untuk mengatasi
persoalan ini. Pada 7 Desember 2023, Provinsi Aceh genap berusia 67 tahun.
Dengan ditopang dana otonomi khusus sejak 2006 hingga 2027, pembangunan Aceh
terus bergulir. Namun, pada kenyataannya angka kemiskinan Aceh masih lebih
tinggi daripada rata-rata kemiskinan nasional. Indikator Kesejahteraan Rakyat
Provinsi Aceh yang dirilis BPS Aceh 30 November 2023 menyebutkan, angka
kemiskinan Aceh pada Maret 2023 sebesar 14,45 % atau 806.750 orang dari 5,482
juta jiwa, lebih tinggi daripada rata-rata kemiskinan nasional sebesar 9,36 %. Situasi
ini ironi di tengah potensi sumber daya alam di Aceh yang belum banyak
disentuh.
Sebelum dana otonomi khusus berakhir, Aceh mesti mempersiapkan
sumber-sumber lain untuk menopang fiskal daerah. Salah satu sektor yang memiliki
peluang besar di Aceh ialah perikanan. Dalam buku laporan kinerja Dinas
Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh disebutkan, produksi perikanan tangkap setiap
tahun sejak 2018 hingga 2022 terus meningkat. Pada 2018, produksi perikanan Aceh
288.034 ton dan menjadi 309.073 ton pada 2022. Produktivitas itu tercatat lebih
tinggi dalam data statistik KKP yang menyebutkan, pada 2022, produksi perikanan
tangkap Aceh 324.618 ton. Aceh pun menjadi provinsi dengan tangkapan kedua
terbanyak di Sumatera dan nomor delapan di Indonesia. Sebagian ikan dari Aceh
diekspor ke luar negeri, yakni Jepang, AS, China, Eropa, dan Arab
Saudi. Catatan dari DKP Aceh tahun 2022 menyebutkan, nilai ekspor ikan mencapai
15,92 juta USD dengan total ekspor 3.417 ton. Perairan Aceh menyimpan potensi
perikanan tangkap 272.000 ton per tahun yang seharusnya dapat diolah lebih baik
dan ditingkatkan untuk mendongkrak kesejahteraan warga.
Warga yang berjibaku di sektor perikanan pun masih merasakan
sejumlah kendala. Heri Fahmi (45), pengusaha kapal perikanan di dermaga
Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo, Kota Banda Aceh, Minggu (3/12),
mencatat timbangan keranjang ikan yang diturunkan dari kapal. Sekali bongkar
kapal ukuran 60 gross tonnage (GT), ia mendapatkan 20 ton ikan campuran.
Sebagian ikan dijual di pasar Banda Aceh, sisanya dikirim ke Sumut. ”Perikanan
Aceh sangat menjanjikan. Jenis ikannya beragam dan tangkapan melimpah,” kata
Heri yang memiliki empat unit kapal. Ia kerap terkendala kelangkaan solar, es yang
tak mencukupi, ataupun dermaga yang dangkal. ”Sarana masih terbatas. Kita
sangat butuh investasi agar sektor perikanan cepat berkembang,” katanya. (Yoga)
Warga Tergencet Biaya Sewa
Sejumlah warga penghuni rumah susun sederhana sewa mengeluhkan kembali normalnya pembayaran biaya sewa. Mereka kelimpungan karena belum pulih dari dampak pandemi Covid-19. DPRD DKI Jakarta meminta Pemprov DKI Jakarta mempertimbangkan kembali hal tersebut agar warga tidak kesulitan. Kebijakan itu berlaku setelah Pemprov DKI Jakarta mencabut Pergub No 87 Tahun 2021 tentang Pemberian Keringanan Retribusi Daerah dan/atau Penghapusan Sanksi Administratif Berupa Bunga Terlambat Bayar kepada Wajib Retribusi yang Terdampak Bencana Wabah Covid-19. Beleid itu digantikan Pergub Nomor 36 Tahun 2023 tentang Pemberian Penghapusan Sanksi Administratif Berupa Bunga Terlambat Bayar kepada Wajib Retribusi dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Pascapandemi Covid-19.
Para penghuni rusun yang mengeluhkan hal itu ialah warga relokasi dari Rusunawa Marunda ke Rusun Nagrak di Jaku. Mereka terdiri dari 451 keluarga yang kebanyakan bergantung dari pendapatan harian, seperti berjualan. Warga direlokasi lantaran kondisi blok rusun yang mereka tempati sebelumnya tidak layak huni. Namun, lapak dagangan mereka di Rusun Nagrak belum selesai dibangun. Tak pelak, warga bingung cara membayar sewa per unit Rp 505.000-Rp 765.000. Biaya ini lebih tinggi dari sewa Rusunawa Marunda Rp 144.000 per unit. Saharudin, Ketua RT 005 RW 012 Kelurahan Marunda, Cilincing, Jakut, menyampaikan keluhan warga tersebut pada Rabu (6/12). Mereka kaget ketika dipanggil pengelola rusun yang memberitahukan ada perubahan kebijakan. Bahkan, sebanyak 451 keluarga tengah mempertimbangkan untuk kembali ke Blok C5 Rusunawa Marunda. Konsekuensinya, mereka tinggal di tenda karena blok itu dalam proses revitalisasi. Saharudin berharap ada keringanan bagi mereka sampai ekonomi mulai pulih. (Yoga)
Saatnya Melirik Saham Lapis Dua dan Tiga
Menjelang penghujung tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai tancap gas. Saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar memang masih menjadi pendorong utama pergerakan indeks. Tapi, saham lapis dua dan tiga juga terlihat mulai unjuk gigi.
Kemarin (6/12), IHSG berhasil menembus level 7.140, kendati di akhir perdagangan terpeleset 0,19% ke posisi 7.087,39. Dengan posisi itu, IHSG sudah mencetak penguatan 3,46%
year to date
(ytd).
Pengamat Pasar Modal &
Founder
WH-Project William Hartanto menyoroti, pendorong IHSG dominan berasal dari saham baru yang harganya langsung melejit. Seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
BREN dan AMMN bahkan memimpin di posisi teratas. Sebaliknya, William memandang kontribusi saham-saham lapis kedua dan lapis ketiga terbilang mini. Equity Sales
Jasa Utama Capital Sekuritas Alfredo Gusvirli mengamini hal itu. Menurut dia, kondisi ini juga menunjukkan saham lapis kedua dan ketiga cenderung
sideways
dalam memberikan kontribusi terhadap IHSG.
William sepakat, saham-saham lapis kedua dan lapis ketiga yang pergerakannya masih tertinggal, justru berpeluang melaju. Apalagi, pelaku pasar mulai cenderung menghindari risiko mengejar saham-saham yang penguatannya sudah signifikan.
Toh, cukup banyak saham
blue chips
anggota indeks LQ45 yang juga menjadi konstituen dari IDX SMC Liquid. Meski demikian, William menyarankan agar lebih cermat mengkombinasikan analisa teknikal dan menelaah kinerja keuangan terbaru.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengamati secara teknikal sejumlah saham di IDX SMC berpotensi menguat. Saham pilihannya adalah ANTM, ERAA, dan ADMR.
Jumlah Petani Menyusut, Hati-Hati Inflasi Menanjak
Penurunan jumlah pelaku usaha pertanian di Indonesia membawa kecemasan baru. Pasokan pangan bisa menyusut, hingga ujung-ujungnya berdampak terhadap laju inflasi. Mengacu Sensus Pertanian 2023 Tahap I Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah usaha pertanian tercatat 29,36 juta unit usaha. Angka ini turun 7,42% dibandingkan Sensus Pertanian 2013.
Pelaku usaha pertanian Indonesia dalam 10 tahun terakhir masih didominasi usaha pertanian perorangan (UTP). Pada 2023, UTP mencapai 29,34 juta unit, turun dibandingkan 2013 yang mencapai 31,71 juta unit. Sedangkan sisanya adalah usaha pertanian berbadan hukum (UPB) sebesar 5.705 unit. Angka ini naik 35,54% dibandingkan 2013. Demikian pula usaha pertanian lainnya (UTL) sebesar 12.926 unit atau menanjak 116,08% dari tahun 2013.
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan bilang, meskipun usaha pertanian menurun, hal itu tak membuat produktivitas pertanian menurun.
Pemerintah terus berupaya mengerek produksi pertanian, baik melalui ekstensifikasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, inovasi budidaya maupun mendorong tingkat produktivitas. "Kenaikan tingkat produktivitas salah satunya dilakukan melalui penggunaan teknologi budidaya pertanian. Saat ini, 46,84% petani telah menggunakan teknologi modern untuk budidaya pertanian," tutur Ferry kepada KONTAN, Rabu (6/12).
Selain itu, pemerintah terus mendorong penguatan kelembagaan petani melalui beberapa program kerja yang tercantum dalam Peta Jalan Pengendalian Inflasi 2022-2024, di antaranya melalui korporatisasi petani dan peningkatan akses pembiayaan.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga bilang, meskipun usaha pertanian menurun, produktivitasnya meningkat dan tidak berdampak pada inflasi. Artinya, kata dia, meski jumlah usaha pertanian menurun, penerapan teknologinya meningkat atau semakin maju sehingga mampu menjaga jumlah produksi tani. "Jadi sebenarnya dampak ke inflasi dari sisi ini cenderung netral," ungkap dia.
Emiten Rumah Sakit Dapat Sentimen Positif di Akhir Tahun
Belum lama ini terjadi kembali lonjakan kasus Covid-19 di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Vietnam. Selain itu, telah ditemukan penyakit pneumonia atau infeksi pada kantung udara yang terdapat di paru-paru yang menjangkit anak-anak di negara China..
"Peningkatan kasus terkait Covid-19 membawa sentimen baik dalam industri. Masyarakat akan mengonsumsi lebih banyak layanan dan produk terkait kesehatan secara keseluruhan," kata Bryan Soetopo, Analis Henan Putihrai Sekuritas, Rabu (6/12).
PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) membukukan laba neto periode berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar Rp 348,84 miliar per September 2023. Laba bersih HEAL melesat 42,07% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan laba bersih per September 2022 yang tercatat sebesar Rp 245,52 miliar.
Lalu, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) juga mencatatkan laba bersih sebesar Rp 858,90 miliar pada kuartal III 2023.
Bryan merekomendasikan
buy
pada saham HEAL dengan target harga Rp 1.950 per saham dan SILO dengan target harga Rp 2.900 per saham.
Tahun Pemilu, Tahun Indomie
Laju saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) berpeluang lebih moncer pada tahun depan. Ada sejumlah katalis positif yang bakal menopang kinerja produsen mi instan semiliar umat, Indomie, ini.
Salah satu daya dorong saham ICBP ke depan adalah tingkat konsumsi domestik yang meningkat di tengah sentimen pemilihan umum (pemilu). Harga komoditas yang menjadi bahan baku utama produk-produk ICBP juga tak setinggi tahun lalu. Alhasil, emiten Grup Salim ini diramal bisa menuai margin laba yang lebih baik tahun depan.
Analis NH Korindo Sekuritas, Cindy Alicia mengatakan, secara historis, konsumsi masyarakat saat pemilu lebih tinggi dari biasanya. "Potensi kenaikan konsumsi tersebut juga ditopang oleh inflasi domestik yang masih terjaga," ujar Cindy kepada KONTAN, Rabu (6/12).
Penjualan mi instan tercatat melaju 6,6% yoy menjadi Rp 38,1 triliun. EBIT margin segmen mi instan pada periode tersebut juga lebih tinggi, yakni sebesar 25,7% dibandingkan periode sama tahun 2022 yang sebesar 21,9%.
Sedangkan untuk tahun 2024 mendatang, analis BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto memperkirakan, pendapatan ICBP akan tumbuh 7,9% yoy menjadi Rp 73,25 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh kontribusi berimbang dari kenaikan volume penjualan sebesar 3,8% yoy dan penyesuaian
average selling price
(ASP) 4% yoy.
"Tumbuhnya volume penjualan juga didukung momentum pemilu, khususnya pada semester I-2024 dan perkembangan pasar ekspor pada semester II-2024," tutur Natalia dalam riset 9 November 2023.
Analis Sinarmas Sekuritas, Vita Lestari dalam riset 8 November 2023 mengatakan, kinerja ICBP pada sembilan bulan pertama 2023 sejalan dengan ekspektasi. Pertumbuhan volume penjualan khususnya segmen makanan ringan dan mi instan dapat menjadi tanda dimulainya aliran masuk dana dari kampanye pemilu. Sinarmas Sekuritas menaikkan proyeksi pendapatan ICBP tahun 2023 dan 2024. Target pendapatan ICBP dinaikkan 2,3% menjadi Rp 71,78 triliun dari Rp 70,16 triliun.
Aliran Kredit ke Batubara Masih Tetap Membara
Perbankan di Tanah Air tampaknya masih sulit mengurangi porsi pembiayaan batubara. Maklum, kebutuhan batubara sebagai sumber energi masih tinggi. Proses peralihan dari energi fosil yang mengandung banyak polutan ke sumber energi bersih yang kini digalakkan pemerintah masih butuh waktu panjang.
Bank-bank asing saat ini memang sudah menutup diri terhadap pembiayaan baru di sektor batubara. Kondisi ini membuat pemenuhan pendanaan sektor batubara di Indonesia hanya mengandalkan bank-bank lokal.
Tak heran, porsi kredit ke sektor batubara oleh bank lokal masih meningkat. Kenaikan portofolio kredit batubara di antaranya ditorehkan bank pelat merah, seperti Bank Mandiri dan BNI.
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar mengatakan, pembiayaan ke sektor barubara memang akan dikurangi. Namun, sebagai bank BUMN, Bank Mandiri saat ini harus tetap mendukung program pemerintah dalam mendukung ketersedian energi nasional.
Jadi, Bank Mandiri masih harus mengalirkan kredit ke proyek-proyek energi dan rantai pasoknya, termasuk batubara. "Di dalam praktiknya, kami memastikan proyek yang dibiayai sesuai dengan timeline dan roadmap transisi energi menuju net zero emission," kata Sandra, sapaan akrab Alexandra.
Sementara itu, Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, mengatakan, pihaknya tetap berkomitmen melakukan fungsi intermediasi untuk mendukung kedaulatan ekonomi nasional. Namun, mitigasi risiko untuk penyaluran kredit ke industri berisiko tinggi seperti batubara diperketat. Per September, porsi pembiayaan batubara BCA di bawah 1% dari total kreditnya. Hera bilang, porsinya tak naik signifikan.
"KEUMAMAH” ACEH, MENGOLAH IKAN BUANGAN JADI BERKELAS
Pengolahan ikan menjadi keumamah atau disebut ikan kayu di
Provinsi Aceh diwariskan secara turun-temurun. Memanfaatkan ikan ”buangan” dari
pasar ekspor dan domestik, keumamah tetap tidak kalah pamor. Usaha ikan olahan
yang diberi nama Puteh Meulu di Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh,
ini telah berusia 45 tahun. Meski dianggap kuliner tradisional, keumamah Puteh
Meulu laku keras di pasaran. Bahkan, pada momen tertentu tidak mampu memenuhi
permintaan. ”Ikan-ikan yang tidak lewat ke pabrik karena kepalanya putus atau
koyak kami beli untuk diolah menjadi keumamah,” ujar Mukhtar (42), pengelola usaha
Puteh Meulu, Selasa (5/12). Pagi itu, Mukhtar menjemur ikan tongkol di atas jaring
kawat, untuk bahan baku keumamah.
Keumamah mampu bertahan hingga setahun. Ikan-ikan tersebut
dibeli dari Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo yang berjarak 1 km dari
lokasi usaha Puteh Meulu. Setiap pagi, Mukhtar memburu ikan segar ke pelabuhan.
Meski dianggap ikan buangan, ikan tersebut masih segar karena baru dibongkar
dari kapal. Untuk menghilangkan bau amis, ikan itu dilumuri garam dan jeruk
nipis, lalu direbus 30 menit menggunakan kayu bakar. Saat perebusan, Mukhtar
menambahkan rempah, seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang putih. Ada
satu rempah khusus dalam keumamah Aceh, yakni asam sunti alias belimbing wuluh
kering. Ikan yang sudah direbus lalu dibelah dan tulangnya dipisahkan. Kemudian
ikan-ikan itu dijemur di bawah terik matahari langsung selama tiga hari.
Setelahnya, ikan tersebut mengeras dan siap dipasarkan. Satu kg keumamah Puteh
Meulu dijual Rp 35.000. Sekali produksi mencapai 35 kg. Namun, produksi
tergantung ketersediaan ikan segar di pelabuhan. (Yoga)
BTN Fund Bakal Suntik Rp 400 M ke Startup Properti
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









