Ekonomi
( 40478 )Pemerintah Kaji Dampak Penyaluran KUR
Kementerian Koperasi dan UKM akan mengkaji dampak penyaluran
kredit usaha rakyat atau KUR terhadap perekonomian nasional. Hal ini menjadi
tindak lanjut dari hasil evaluasi terhadap penyaluran KUR yang belum sepenuhnya
terealisasi sesuai dengan ketentuan dan mencapai target. Sebagaimana diketahui,
pemerintah menargetkan penyaluran KUR Rp 297 triliun. Hingga 6 Desember 2023,
KUR yang telah tersalur mencapai 78,17 % dari target yang ditetapkan kepada
4,15 juta debitor. Pada 2024, Kemenkop dan UKM memperkirakan target penyaluran
KUR mencapai Rp 300 triliun. Deputi Bidang Usaha Mikro Kemenkop dan UKM Yulius menjelaskan,
berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi, penyaluran KUR pada 2023 terindikasi
belum sesuai aturan dan ketentuan pedoman penyaluran. Salah satunya ditemukan adanya
agunan tambahan yang seharusnya tidak dikenai kepada debitor dengan plafon di bawah
Rp 100 juta.
”Sebagai tindak lanjut, kami akan melakukan kajian terhadap
dampak penyaluran KUR pada tahun depan. Evaluasi ini terutama untuk mengukur
dampak terhadap pembangunan ekonomi nasional dan terhadap UMKM. Salah satunya dapat
diukur melalui kontribusi terhadap PDB, tingkat kemiskinan, dan kesejahteraan,”
ujarnya di Jakarta, Kamis (7/12). Evaluasi dan pemantauan dilakukan dengan
mengambil sampel 1.047 debitor KUR yang tersebar di 23 provinsi di Indonesia.
Dari hasil survei ditemukan 16,1 % debitor KUR dengan skema mikro dan
supermikro dimintai agunan tambahan untuk pinjaman di bawah Rp 100 juta. Beberapa
pelanggaran lain yang ditemukan, antara lain, penyalahgunaan KUR oleh debitor,
penerima KUR adalah guru dan ASN, pinjaman KUR melebihi jangka waktu, serta
debitor KUR tidak memiliki NPWP. (Yoga)
RANTAI PASOK GLOBAL, Tren Proteksionisme Bakal Kian Intens
Mantan Mendag Mari Elka Pangestu dalam Annual International
Forum of Economic Development and Public Policy atau AIFED ke-12 mengatakan,
tren proteksionisme hijau oleh negara maju akan semakin intens. Tidak hanya
dilakukan oleh Uni Eropa dan AS, tetapi juga negara maju lainnya. ”Jangan harap
tensi perdagangan global akan mereda dalam waktu dekat. Selain fragmentasi
geoekonomi, kita juga menghadapi
restriksi karena komoditas kita dianggap menghasilkan karbon tinggi. Ke depan
akan lebih kompleks. Kita harus belajar hidup dengan situasi ini dan mencari
strategi baru untuk bertahan di rantai pasok,” katanya, Kamis (7/12), di Nusa
Dua, Bali.
Menurut dia, tren tersebut tidak bisa dihindari. Agar bisa kompetitif,
suatu negara harus jadi bagian dari rantai pasok yang berkelanjutan. Untuk itu,
Indonesia mesti konsisten dengan komitmennya melakukan dekarbonisasi. Saat ini
25 % ekonomi Indonesia masih menghasilkan karbon yang cukup tinggi, seperti
pertambangan (14,07 %), agrikultur (9,22 %), perikanan (2,58 %), dan kehutanan
(0,6 %). Namun, bukan berarti Indonesia hanya diam. Menurut Mari, lobi-lobi
perlu lebih digencarkan agar standar ”kehijauan” yang diterapkan negara maju
itu bisa diturunkan sesuai kapasitas negara berkembang. (Yoga)
Tren Anak Muda Mencari Rumah Mewah
Tren anak muda sukses dan kaya membeli rumah mewah sebagai
hunian keluarga yang nyaman bertumbuh sejalan peningkatan pendapatan. Pangsa pasar
baru ini begitu gurih sehingga menjadi incaran pengembang papan atas dengan
menyediakan rumah mewah berharga di atas Rp 10 miliar. Seiring perkembangan
ekonomi yang positif setelah wabah Covid-19, para pengembang juga menangkap
peluang ini dengan membangun rumah berukuran besar dan mewah yang menyasar
segmen menengah atas. Platform Rumah123 & 99.co mencatat pencarian rumah di
kanal properti itu didominasi kalangan generasi milenial (48,02 %), diikuti
kalangan generasi Z (23,52 persen). Generasi Z memiliki rentang tahun kelahiran
1996-2010 atau saat ini berusia 13-27 tahun, sedangkan generasi milenial
memiliki rentang kelahiran tahun 1981-1995 atau berusia 28-42 tahun.
Berdasarkan jumlah pencarian, 9-11 % pencari hunian dari kalangan generasi
milenial dan generasi Z meminati rumah seluas lebih dari 300 meter persegi. Berdasarkan
preferensi harga, minat generasi Z terhadap rumah dengan harga di atas Rp 5
miliar memiliki proporsi yang terbatas, yakni 1,9 % dan generasi milenial 2,2 %.
Direktur Strategic Consulting Cushman and Wakefield
Indonesia Arief Rahardjo memproyeksikan, pertumbuhan rumah menengah dan menengah
atas masih sangat tinggi.”Dengan kondisi ekonomi yang sudah membaik dan ekonomi
semakin positif buat Indonesia serta suku bunga yang masih kompetitif,
diharapkan pasar menengah atas masih berlanjut dengan baik,” katanya dalam
paparan ”Analisa Pasar Properti: Refleksi 2023 dan Proyeksi 2024”, Kamis (7/12).
Salah satu pengembang yang menyasar kelompok anak muda sukses dan kaya tersebut
adalah PT Alam Sutera Realty Tbk (Alam Sutera) dengan meluncurkan kluster hunian
rumah tapak mewah di Alam Sutera, Kota Tangerang Selatan, yaitu The Gramercy,
dengan tiga tipe rumah dengan unit terkecil seluas 312 meter persegi seharga Rp
16,6 miliar. Dari 109 rumah yang ditawarkan Alam Sutera, saat ini 22 unit sudah
masuk pembayaran dan dipastikan terus bertambah sampai akhir tahun 2023. Para
pembelinya, menurut Sales and Marketing Division Head The Gramercy Alam Sutera
Michael Lim, berusia antara 30 tahun dan 40 tahun yang memiliki bisnis sendiri.
”Secara mengejutkan, mereka merupakan pebisnis muda yang, di antaranya, bergerak
di bidang komputer, gim, art work, pertanian untuk obat herbal, dan suku cadang
teknologi informasi yang khusus. Ada juga yang berbisnis daur ulang plastik,”
ujarnya di Tangerang, Senin (4/12). (Yoga)
Demi Diversifikasi, Semakin Rajin Akuisisi
Sejumlah emiten konglomerasi lumayan sibuk melakukan akuisisi bisnis pada tahun ini. Para emiten ini merogoh kocek cukup dalam demi melakukan diversifikasi bisnis ataupun memperluas pangsa pasar.
Tahun ini, konglomerasi yang paling gencar melakukan ekspansi bisnis adalah Grup Astra. Setidaknya, ada 10 target akuisisi yang dituntaskan oleh Grup Astra. Akuisisi dengan nilai paling besar dilakukan oleh PT United Tractors Tbk (UNTR). Sepanjang tahun 2023 ini saja, UNTR sudah mencaplok lima perusahaan, dengan nilai lebih dari Rp 14 triliun. UNTR masuk ke bisnis pertambangan dan pengolahan nikel, hingga bisnis pembangkit listrik panas bumi.
Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara K. Loebis mengatakan, UNTR masih membuka peluang untuk mencaplok tambang mineral lain, mengingat posisi kas UNTR yang melimpah. Kami masih terbuka untuk potensi akuisisi mineral lain, terang Sara kepada KONTAN, Kamis (7/11).
Tak cuma Grup Astra, kong-lomerasi yang dikomandani taipan Prajogo Pangestu juga lincah melakukan akuisisi. Misalkan, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang mencaplok dua entitas usaha Krakatau Steel.
Emiten batubara yang dikendalikan Prajogo, yakni PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga rajin belanja. CUAN mengumumkan niat masuk ke bisnis emas, pasir silika, hingga batubara kokas di tahun ini. Terkini, CUAN masuk ke bisnis kontraktor tambang dengan mengakuisisi sebagian saham PT Petrosea Tbk (PTRO).
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, Grup Barito dan Grup Indika menjadi dua teratas emiten konglomerasi yang banyak menyasar bisnis EBT. Dalam jangka pendek, bisnis EBT itu bagus dan menguntungkan, ujarnya kepada KONTAN, Kamis (7/12).
Analis CGS-CIMB Sekuritas Handy Noverdanius menilai, Grup Astra nampak semakin fokus diversifikasi. Tapi dia punya catatan, berbagai akuisisi ini bisa menguras posisi kas UNTR ke level terendah dalam 10 tahun terakhir.
Trio The Barito's Menggocek Bursa
Saham tiga emiten Grup Barito alias The Barito's, terus menggoyang Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Kamis (7/12), saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi
top gainers, sementara kapitalisasi pasar (market cap) PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mampu menembus Rp 1.000 triliun.
Lonjakan harga saham-saham milik taipan Prajogo Pangestu itu turut mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menutup perdagangan Kamis (7/12), IHSG melompat 47,22 poin atau 0,67% ke level 7.134,62.
Yang menyedot perhatian, dengan lonjakan harga saham kemarin,
market cap
BREN pun menembus Rp 1.036,84 triliun. Kini, trio The Barito's memiliki
market cap
Rp 1.563,78 triliun atau setara 13,7%
market cap
BEI. Porsi itu makin besar jika ditambah dengan
market cap
CUAN, afiliasi Grup Barito.
Pengamat Pasar Modal &
Founder
WH-Project William Hartanto menilai, lonjakan harga saham Grup Barito mirip ketika terjadi
booming
sektor teknologi dan bank digital tahun 2020. Kala itu, saham teknologi dan bank digital menjadi penggerak utama IHSG.
William mengingatkan, perlu dicermati lagi sentimen pendorong harga Grup Barito pada masing-masing sahamnya. Memang, prospek bisnis sektor energi terbarukan menjadi katalis positif. Namun, William melihat lonjakan saham Grup Barito lebih disebabkan efek euforia pasar terhadap Prajogo Pangestu yang menjadi daya tarik.
William melihat, emiten The Barito's masih berpotensi menguat lagi. "Indikator MA5 dan MA20, selama kondisi ini masih terpenuhi,
trend following
bisa terus dilakukan. Semua tren pasti ada akhirnya. Jadi perlu selalu waspada dengan kemungkinan
profit taking
dan berakhirnya tren," terang William. Guna meminimalkan risiko, bisa dipertimbangkan
hold
atau
sell on strength
untuk merealisasikan cuan..
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai saham Grup Barito masih layak untuk
speculative buy
atau
trading buy.
WHO Dorong Cukai Minuman Tidak Sehat Naik
Membalikkan Prospek Pertanian
Kompas mengangkat hasil Sensus Pertanian 2023 yang memberi gambaran
suram sektor pertanian, khususnya pangan. Dalam beberapa sensus pertanian
terakhir, terlihat, kita belum bisa membalikkan tren kemunduran sektor
pertanian yang terjadi beberapa dekade terakhir, yang bukan hanya tecermin dari
rata-rata pertumbuhan sektor pertanian yang di bawah pertumbuhan ekonomi
nasional, sektor pertanian yang terus menjadi kantong konsentrasi penduduk
miskin, stagnannya produksi, atau meningkatnya ketergantungan pada impor. Kemunduran
pertanian juga tergambar dari menyempitnya luas lahan pertanian akibat
konversi, jumlah unit usaha tani yang terus mengecil, dan terus menciutnya
penguasaan lahan oleh petani, dengan jumlah petani gurem juga terus meningkat.
Selain itu, tak adanya regenerasi petani, dengan 70 % petani berusia 50 tahun
ke atas. Generasi muda tak tertarik terjun ke pertanian karena tidak
menjanjikan kesejahteraan. Terpuruknya pertanian, dan terus terperangkapnya
petani dalam kemiskinan ekonomi subsisten selama beberapa dekade ini, menjadi
gambaran terus dianaktirikannya sektor yang jadi tumpuan 40 % angkatan kerja nasional.
Jika dibiarkan, hal ini akan menjadi ancaman besar bagi masa
depan ketahanan pangan dan sektor pertanian. Kekhawatiran akan ketidakmampuan
sektor pertanian menyediakan kebutuhan pangan bagi 274 juta penduduk yang terus
bertambah ke depan membuat isu kemandirian, ketahanan, atau swasembada pangan
terus menjadi isu panas setiap tahun, terutama karena kurangnya perhatian atau
banyaknya kebijakan yang tak berpihak kepada petani sebagai ujung tombak sektor
pertanian. Ketergantungan pada impor pangan yang terus meningkat membuat posisi
kita rentan terhadap gejolak sosial ekonomi, terutama dalam situasi krisis pangan
global. Enam dari Sembilan barang kebutuhan pokok masih harus diimpor. Sebagai
negara agraris dengan lahan subur melimpah, ketahanan pangan kita masih rentan.
Di posisi ke-10 di Asia-Pasifik, dan ke-60 di dunia, menurut The Global Food
Security Index 2022. Pembenahan sektor pertanian dikatakan berhasil jika tidak hanya
mampu menopang ketahanan pangan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan
petani dan menciptakan landasan yang kokoh bagi pembangunan ekonomi ke depan. (Yoga)
Bawa Manfaat, Keberlanjutan Jadi Strategi Bisnis
Penerapan prinsip keberlanjutan berpeluang membawa manfaat
ekonomi bagi para pelaku usaha dan masyarakat. Oleh sebab itu, berbagai
perusahaan mulai mengadopsi di dalam strategi bisnisnya. Hal ini mengemuka
dalam forum diskusi CEO Goes to Campus UI bertajuk Powering the Future:
Innovations for a Sustainable Mission di Fakultas Teknik UI, Depok, Jabar, Kamis
(6/12). Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Kompas100 CEO Forum Powered
by PLN. Hadir sebagai pembicara, antara lain, Executive VP Aneka Energi Baru
Terbarukan PLN (Persero) Zainal Arifin, Segment Digital Transformation
Department Head SKF Indonesia Anis Lutfi, Ketua Program Studi Teknik Lingkungan
UI Cindy Rianti Priadi, serta dosen dan peneliti tetap Departemen Manajemen
& Research Associate Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Anna
Amalyah Agus.
”Keberlanjutan kini bukan lagi hanya sebagai suatu keinginan,
melainkan sebuah kebutuhan. Jangan dilihat ini (keberlanjutan) sebagai ancaman,
tetapi peluang baru,” kata Zainal. Upaya PLN mencapai pembangunan berkelanjutan
ini salah satunya dalam hal transisi energi atau peralihan dari energi fosil ke
energi baru terbarukan (EBT). Di antaranya adalah pembangunan pembangkit
listrik tenaga surya (PLTS) terapung di Cirata, co-firing biomasa untuk
pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), dan pembangkit listrik dari sampah. Anis
menambahkan, keberlanjutan telah mengubah strategi bisnis berbagai perusahaan
besar, tak terkecuali SKF. Pada 2030, SKF menargetkan mampu mencapai nol emisi
karbon (net zero emission) pada lini rantai pasok, mulai dari material bahan
baku, hingga produk bearing atau laher yang dihasilkan ke pelanggan. ”Keberlanjutan
sudah menjadi strategi bisnis. Oleh sebab itu, kami memiliki dua strategi, yakni
dengan memanfaatkan digitalisasi dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya. (Yoga)
Ekonomi Dunia Terbelah
Ekonomi dunia semakin terfragmentasi dan terbelah ke
berbagai blok kawan atau lawan. Indonesia mesti bersiap menghadapi kemungkinan
pergeseran kekuatan global di masa depan dan hati-hati menyusun strategi
aliansi ekonomi agar tidak tertinggal dalam rantai pasok global. Pemilu 2024
pun jadi pertaruhan agar reputasi Indonesia di panggung global tetap terjaga
setelah rezim berganti. Diskursus mengenai masa depan tatanan ekonomi dunia akhir-akhir
ini semakin sering mencuat dalam berbagai forum internasional di tengah kondisi
geopolitik yang semakin terfragmentasi. Ajang Annual International Forum of Economic
Development and Public Policy (AIFED) ke-12 pada 6-7 Desember 2023 pun ikut
mengangkatnya dengan tema ”The Fragmented World: Recalibrating Development
Strategies”. Saat membuka forum AIFED, Rabu (6/12/2023), di Nusa Dua, Badung,
Bali, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, dunia yang dulunya saling terkoneksi dalam
panggung globalisasi kini semakin terbelah ke dalam kubu-kubu geopolitik dan
geoekonomi, khususnya di lingkup perdagangan, investasi, dan keuangan.
Kerja sama ekonomi antarnegara tidak lagi dibangun berdasarkan
efisiensi atau hitung-hitungan paling menguntungkan, tetapi kawan atau lawan.
Negara-negara menjadi lebih inward looking atau mengutamakan kepentingan domestiknya.
Kebijakan bernuansa proteksionisme dan populisme pun semakin menguat di sejumlah
negara. Gelagat dunia yang semakin mengarah ke deglobalisasi itu sebenarnya
mulai tampak sejak krisis keuangan global pada tahun 2008, tetapi semakin
menjadi-jadi pascapandemi Covid-19, terutama setelah perang Rusia-Ukraina dan
Hamas-Israel. Ke depan, ketegangan politik global itu diperkirakan akan terus
berlanjut dan berpotensi menggeser poros kekuatan ekonomi global. ”Perdagangan bebas
yang semestinya seimbang dan saling menguntungkan, kini menjadi urusan menang
atau kalah, kawan atau lawan. Ini menciptakan dinamika ekonomi yang benar-benar
baru. Entah teori yang dulu kita pelajari sudah usang dan perlu diubah, atau
cara kita memandang dunia yang memang sudah berubah,” kata Sri Mulyani. (Yoga)
Pembenahan Angkutan Umum Harus Jadi Prioritas
Pembenahan angkutan umum harus menjadi agenda prioritas dalam
pembangunan kota-kota di Indonesia pada tahun depan. Keberpihakan pemerintah
pusat dan kolaborasi dengan pemda penting dalam pembenahan tersebut. Strategi
yang bisa ditempuh adalah pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi. Menurut
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Tory Damantoro, pembatasan kendaraan
pribadi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah tak terhindarkan.
Kemacetan yang menimbulkan kerugian ekonomi menunjukkan sudah saatnya kendaraan
pribadi dibatasi.
”Saya rasa pembatasan kendaraan pribadi di Jakarta dan kota
besar sudah tidak bisa dihindari lagi, kalau kita ingin punya sistem
transportasi efisien yang bisa memfasilitasi kita mencapai tujuan dan menghubungkan
akses pada kesempatan berusaha dan kegiatan ekonomi,” tutur Tory dalam Rakernas
MTI 2023 di Jakarta, Rabu (6/12). Sekjen MTI Haris Muhammadun menambahkan, isu
keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan angkutan umum perlu jadi perhatian.
Angkutan umum belum menjadi prioritas pembangunan kota-kota di Indonesia. ”Jumlah
lajur jalan untuk kendaraan pribadi lebih banyak dibandingkan untuk angkutan umum,”
katanya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









