Ekonomi
( 40478 )Ancaman Perdagangan Global
Dalam satu tahun terakhir, WTO mencatat lonjakan angka restriksi perdagangan yang
dinilai bisa menghambat perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global (Kompas, 9/12).
Proyeksi pertumbuhan perdagangan dunia 0,8 % pada 2023 lebih rendah daripada
prediksi sebelumnya, 1,7 %. WTO bahkan mengingatkan, perlambatan pertumbuhan
perdagangan dunia tahun ini dan tahun depan bisa lebih tajam jika restriksi
perdagangan dan proteksionisme berlanjut. Tren peningkatan proteksionisme sebenarnya
bukan baru terjadi sekarang. Kebijakan restriksi perdagangan dan investasi
lintas batas negara yang sifatnya unilateral, dalam catatan Dana Moneter
Internasional (IMF), melonjak tajam satu dekade terakhir. Lonjakan restriksi
perdagangan ini membalikkan tren liberalisasi yang terjadi selama abad ke-20. Tahun
lalu, jumlah restriksi baru dalam perdagangan barang, jasa, dan investasi
melonjak 14 % dibandingkan dengan 2021, mencapai 2.600 kasus atau enam kali
lipat tahun 2013. Lonjakan tajam terutama terjadi selama pandemi Covid-19 dalam
bentuk restriksi ekspor barang medis, seperti vaksin.
Peningkatan tajam restriksi ekspor/impor juga terjadi selama
perang Rusia-Ukraina dan perang dagang AS-China. Ada kekhawatiran, fragmentasi
geoekonomi yang terjadi sekarang akan menuntun pada terbelahnya dunia menjadi
dua blok perdagangan yang eksklusif. Kubu pertama merupakan kelompok negara
yang beraliansi dengan AS dan Uni Eropa. Kubu kedua terdiri atas negara-negara
yang beraliansi dengan China dan Rusia. Ketegangan geopolitik, terutama sebagai
efek perang dagang AS-China dan perang Rusia-Ukraina, juga memunculkan fenomena
friendshoring, near-shoring, reshoring, yakni banyak negara cenderung hanya mau
berdagang dengan negara yang dekat, dianggap sebagai teman, atau memiliki kesamaan
aliansi politik. Fragmentasi global ini, dalam perhitungan IMF, berpotensi mengakibatkan
hilangnya secara permanen 2,3 % PDB global. Indonesia dan negara berkembang
lain dirugikan akibat hilangnya akses ke pasar penting, baik ekspor maupun
impor. (Yoga)
KKP Akan Bangun 12 Proyek Tambak Udang
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan menambah
pembangunan tambak udang modern berbasis kawasan di sejumlah wilayah Indonesia.
Pada 2024, sejumlah 12 kawasan tambak udang modern akan dibangun dengan tujuan
meningkatkan produksi udang nasional. Jubir Menteri KP, Wahyu Muryadi, saat
dihubungi, Minggu (10/12) mengatakan, anggaran proyek pembangunan tambak
budidaya udang modern terpadu di Waingapu, Sumba Timur, NTT, mencapai 500 juta USD
atau Rp 7,8 triliun. Adapun proyek pembangunan tambak udang modern di 11 lokasi
lain merupakan bagian dari lima komponen program Bank PembangunanAsia (ADB)
untuk meningkatkan produktivitas udang nasional melalui proyek pengembangan
infrastruktur budidaya udang (IISAP). Anggarannya mencapai Rp 1,3 triliun. Menteri
KP Sakti Wahyu Trenggono dalam Rakornas Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi
di Labuan Bajo, NTT, Kamis (7/12), mengatakan, pihaknya menggencarkan pembangunan
tambak-tambak udang modern dan ramah lingkungan guna meningkatkan produksi
nasional.
Pada 2024, KKP menargetkan produksi udang nasional sebanyak
2 juta ton. Sejalan dengan itu, tambak udang modern terbesar menurut rencana
dibangun di Waingapu di lahan seluas 1.800 hektar. Proyek yang katanya akan terintegrasi
mulai dari hulu hingga hilir ini akan ditopang pembangunan faktor pendukung.
Misalnya, infrastruktur pelabuhan, perumahan, air bersih, dan sistem
penerangan. Selain di Waingapu, pembangunan tambak udang modern juga akan
dilakukan di 11 lokasi lain, yakni Aceh, Lampung, Jembrana, dan Sulsel. Proses
konstruksi direncanakan berjalan mulai triwulan I-2024. Dari data KKP, total pagu
alokasi anggaran Ditjen Perikanan Budidaya KKP pada 2024 untuk seluruh program pengelolaan
kelautan dan perikanan tercatat Rp 826,6 miliar. ”Untuk itu, saya minta
dukungan dari kementerian/lembaga lainnya karena akan ada pertumbuhan ekonomi
baru di situ. Ribuan tenaga kerja akan hadir di situ, tentu juga akan butuh
perumahan, pelabuhan, air bersih, listrik, dan sebagainya,” ujar Trenggono
dalam keterangan pers. (Yoga)
HARBOLNAS, Produk Dalam Negeri Diharapkan Dominan
Hari Belanja Online Nasional atau Harbolnas 12.12 ditargetkan meraup Rp 25 triliun selama tiga hari penyelenggaraan, 10-12 Desember 2023. Sebanyak 70 % dari nilai transaksi tersebut ditargetkan merupakan produk lokal. ”Kami targetkan 70 % dari transaksi Harbolnas itu produk lokal,” ujar Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga pada konferensi pers di Summarecon Mall Serpong, Tangerang, Banten, Sabtu (9/12). Pada dua hari pertama, menurut Bima, sejumlah bentuk promosi ditawarkan, di antaranya potongan harga untuk produk-produk UMKM. Metode pembayaran yang paling banyak digunakan berupa dompet elektronik. Cara pembayaran lain adalah melalui akun virtual dan transfer bank serta transaksi dengan pembayaran tunai langsung di tempat.
Produk yang banyak digandrungi konsumen masih berkisar fashion dan perawatan diri, hanya saja alas kaki kini turut menyumbang proporsi besar dalam produk-produk yang terjual di lokapasar. Chief Marketing Officer Lazada Indonesia Intan Ayu Kartika mengatakan, produk-produk impor masih lebih diminati konsumen, terbukti dari persentase nilai penjualan produk lokal dibandingkan dengan total penjualan. Data yang diolah tim Litbang Kompas menunjukkan, proporsi nilai produk dalam negeri berkisar 45,1 % hingga 48,3 % pada 2018-2021. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Isy Karim mengatakan, ”Diprioritaskan (pengawasan) produk-produk (impor) komestik, fashion, tekstil dan produk tekstil, serta aksesori yang membanjiri Indonesia. Utamanya barang-barang yang sifatnya konsumtif sedang dialihkan dari post border menjadi border,” tutur Isy. (Yoga)
Perusahaan Asuransi Evaluasi Produk ”Unitlink”
Kenaikan Harga Cabai Mendominasi Kenaikan Harga Pangan di Jakarta
MINGGU PAGI DI KAMPUNG JAJANAN OSING KEMIREN
Di sepanjang Gang Lurung Cilik, Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi,
Jatim, tak jauh dari balai desa, ibu-ibu penjaja makanan dan pengunjung
sama-sama menebar bahagia. Saling sapa dan tersenyum ramah, berbalut canda. Di kanan-kiri
gang, deretan lapak kuliner berjajar rapi di sepanjang gang yang memiliki lebar
2 meter. Dagangan dipajang di atas meja lapak dengan sederhana. Ada yang
menuliskan nama jualannya di atas kertas, dan ada yang lebih memilih menjelaskan
langsung saat ada pembeli mendekat. Ibu-ibu penjual di pasar jajanan Kampung
Osing Kemiren pun melayani pembeli dengan berdandan rapi, mengenakan kebaya
warna hitam, dan kain batik sebagai bawahan. Sangat memikat hati. Desa Kemiren adalah
salah satu desa wisata adat di Indonesia.
”Silakan, ada pecel pithik (pecel ayam), ada semanggi, ada kue
apem gula aren juga,” sambut Raja Onah alias Mak Onah (53), warga Desa Kemiren,
yang menjadi salah satu penjual di pasar jajanan Osing, Minggu (19/11). Mak
Onah memiliki banyak pelanggan, hampir tiap hari Minggu, pelanggannya menyempatkan
datang dari pelosok Banyuwangi atau bahkan dari luar kota. Salah satu
pengunjung, Didik Enggot (60), warga yang rumahnya di selatan Banyuwangi,
daerah Bangorejo, berboncengan motor dengan istrinya sejauh 50 km, untuk menikmati
kuliner Osing di Desa Kemiren. Didik bercerita bahwa dia sudah sering memesan pecel
pithik pada Mak Onah. Selain harga terjangkau, masakan Mak Onah dinilainya
cocok di lidah. Sebelum pulang, Didik meminta jajanan tradisional seperti apem
gula aren, cucur, dan serabi untuk dibungkus sebagai buah tangan untuk
keluarganya di rumah. Setidaknya Didik menghabiskan uang sekitar Rp 100.000.
Belum dia membeli es dan camilan di lapak lain.
Dedi Wahyu Hernanda (30), pengarah pasar Kampung Osing,
bercerita bahwa pasar tersebut mulai muncul tahun 2018, diinisiasi Kementerian
Pariwisata. ”Awalnya hanya berjualan makanan, kemudian tahun 2019 kami tambah
dengan spot hiburan atau budaya seperti angklung paglak dan lesung, serta yang instagramable
sehingga pengunjung lebih bersemangat datang,” kata Dedi. Selain orang
berjualan, memang ada sekelompok pemusik memainkan alat musik lesung untuk
menghibur para pengunjung di pasar jajanan tersebut. Di pasar jajanan kampong Osing,
setidaknya ada 20 penjual jajanan dan 23 penjual nasi. Pendapatan total dalam
sehari (selama lebih kurang 4 jam) bisa mencapai sekitar Rp 70 juta. Dedi
mengatakan, pasar tersebut sebenarnya dibuat untuk memberikan pemasukan tambahan
bagi warga Kemiren yang sehari hari bertani. Namun, lama-lama pasar itu justru menjadi
pasar wisata. Pedagang jajanan dibebani pajak Rp 5.000 dan pedagang nasi
terkena pajak Rp 10.000 per jualan. Dari uang pajak itu, dalam setahun, kami
akan sumbangkan 50 % untuk Bumdes (badan usaha milik desa),” kata Dedi. Sisanya,
dana kas akan digunakan untuk operasional pasar tersebut. (Yoga)
Modernisasi Alutsista Secara Mandiri Telah Dimulai
JAKARTA,ID-Indonesia berpotensi untuk melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) secara mandiri melalui kesepakatan alih teknologi dengan negara asal impor alutsista. Apalagi, Indonesia juga memiliki sejumlah BUMN industri pertahanan yang dinilai mempunyai kemampuan untuk melakukan proses alih teknologi dan untuk tahap berikutnya bisa memproduksi sendiri. Nahlan, ditengah kondisi anggaran yang masih jauh dari ideal karena kemampuan APBN yang terbatas, modernisasi alutsista secara mandiri melalui proses alih teknologi sudah dilakukan pada era Kementerian Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto. Sebagai contoh, Kemenhan telah membeli 44 pesawat tempur Dassault Rafale dari Prancis yang disertai dengan kesepakatan alih tekhnologi. (Yetede)
Tantangan Globalisasi di Tahun 2024
IHSG Akan Menguji Level Tertinggi Baru Pekan Ini
Inflow Rp 4 Triliun, Asing Masih Minati Instrusmen Keuangan RI
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









