Ekonomi
( 40733 )Demi PLTB, Barito Renewables Akuisisi Lima Perusahaan
Energi Mega Persada Siapkan Capex Rp 2,32 T Tahun Depan
Penggalangan Dana Dalam Negeri Dukung Pertumbuhan EKonomi
Oktober, Utang Luar Negeri RI US$ 392,2 Miliar
Waspadai Pergerakan Transportasi Jelang Akhir Tahun
OJK Akan Benahi Tarif Premi Asuransi
Belum Pantas TikTok Shop Kembali
Dominasi Investor Cina di Lokapasar Dalam Negeri
MENGIMBANGI LENGGANG THE FED
Kabar gembira datang dari Amerika Serikat (AS) setelah Federal Reserve (The Fed) menyuarakan komitmen yang kuat untuk memangkas acuan suku bunga hingga 75 basis poin (bps) pada tahun depan. Apalagi pada pertemuan kemarin, Kamis (14/12), The Fed sesuai ekspektasi kembali menahan suku bunga acuan di level 5,25%—5,5%. Artinya, sepanjang paruh kedua tahun ini tak ada perubahan di bank sentral yang paling berpengaruh sedunia itu. Kabar ini tentu memberikan energi baru bagi perekonomian negara berkembang termasuk Indonesia, yang sejak tahun lalu kelabakan menangkal efek dari pengetatan moneter AS. Sinyal bersahabat tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan serupa dari Bank Indonesia (BI) sehingga manuver moneter memiliki daya dorong yang kuat untuk mendorong perekonomian dan menciptakan stabilitas pasar keuangan. Arah kebijakan BI selama ini yang bersifat preemptive dan forwardlooking, melahirkan ekspektasi bahwa bank sentral akan menurunkan acuan suku bunga lebih awal dibandingkan The Fed. Kalangan pebisnis dan pelaku pasar pun berharap BI menyiapkan respon ramah. Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, sinyal perlindungan agresivitas The Fed menggambarkan bahwa pemanasan global mereda. Oleh karena itu, kalangan pengusaha berharap BI juga memangkas suku bunga acuan. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, memandang meski memberikan angin segar realisasi komitmen The Fed itu bergantung pada dinamika global 3—6 bulan mendatang. Sembari menunggu kepastian The Fed, Shinta mengusulkan pemerintah agar fokus menjaga stabilitas ekonomi makro terutama terkait dengan kecukupan devisa, stabilitas rupiah, dan pengendalian inflasi. Oleh karena itu, kalangan analis dan ekonom menyarankan BI untuk mulai memasang kuda-kuda pelonggaran kebijakan suku bunga acuan yang saat ini di level 6%. Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual, melihat kabar dari AS memberikan sinyal kepada BI untuk ikut memperlonggar suku bunga acuan. Ahli Strategi Makro Samuel Sekuritas Lionel Priyadi, mengatakan harapan pasar soal pelonggaran moneter di AS dan dalam negeri terlalu spekulatif. Menurutnya, penurunan suku bunga AS mengakibatkan indeks obligasi emerging market naik 0,7% dan imbal hasil 10Y UST dan Bund masing-masing turun 18 bps dan 5 bps menjadi 4,02% dan 2,17%.
Pelopor Keuangan Syariah, BSI Sabet Dua Penghargaan Bergengsi
Melalui PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI), terobosan di bidang perbankan syariah terakselerasi. Rapor hijau itu pun berasal dari kepiawaian Direktur Utama Hery Gunardi memimpin bank syariah teratas di Tanah Air hingga mendapatkan prestasi gemilang dari CNBC Indonesia. Strategi konsolidasi yang ditempuh pemegang saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah memberikan hasil yakni menaikkan kelas bank syariah di industri perbankan. Sebagai bank umum syariah terbesar di industri, BSI menempati posisi kelima, naik dari posisi ketujuh di Tanah Air. Rapor hijau itu tecermin pada kinerja perusahaan hingga September 2023 dengan mengantongi laba bersih Rp4,2 triliun atau tumbuh 31,04% secara tahunan (year-on-year/YoY). Laba tebal perusahaan berasal dari beberapa hal realisasi pembiayaan sebesar Rp232 triliun, terkerek 15,94% YoY. Kemudian, penggalangan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp262 triliun atau naik 6,91% YoY yang ditopang oleh kenaikan signifikan, 43,89% YoY dari pos tabungan sebesar Rp115 triliun.
Tak terbatas pada keunggulan di layanan keuangan domestik, perusahaan mengincar ambisi ke level 10 teratas bank syariah global. Direktur Utama Hery Gunardi percaya melalui inovasi dan transformasi digital, BSI akan mengubah wajah bank syariah melalui solusi inansial menyeluruh.“Ini sejalan dengan komitmen kami untuk mendukung seluruh ekosistem ekonomi Islam, menjadikan keuangan Islam lebih relevan untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Hery.
Catatan positif tahun ini pun mendapatkan apresiasi yakni dua penghargaan bergengsi dari CNBC Indonesia. Pertama, Hery Gunardi mendapatkan penghargaan untuk kategori CEO paling mengesankan berkat kemampuan perusahaan berinovasi dan berkontribusi di bidang keuangan syariah. Kedua, kategori The Extraordinary Sharia Banking Company on GCG karena perusahaan memiliki bisnis menaikkan skala bisnis ke tingkat global sekaligus pionir penerapan prinsip unggul tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









