Ekonomi
( 40866 )Batubara dan Sawit ”Gendong” Ekspor 2024
Batubara dan minyak sawit diperkirakan menopang ekspor
Indonesia pada 2024. Meski demikian, total ekspor pada tahun depan diproyeksikan
melambat sebagai dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama
Indonesia. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede di Jakarta, Minggu (17/12)
menyatakan, perlambatan pertumbuhan ekonomi global akan memengaruhi ekspor
Indonesia. Perlambatan di China dan AS sebagai mitra dagang utama Indonesia
merupakan variabel utamanya. Mengutip data BPS, China menjadi tujuan 25,49 %
dari total ekspor Indonesia pada Januari-November 2023.
Adapun ekspor ke AS, Jepang, dan Uni Eropa sebesar 9,54 %,
7,79 %, dan 6,84 %. Dengan demikian, melemahnya perekonomian negara-negara itu
akan menurunkan permintaan mereka terhadap barang-barang dari Indonesia. Artinya,
ekspor akan tertekan. Dalam situasi itu, Josua melanjutkan, ekspor Indonesia akan
tertopang oleh komoditas batubara dan minyak sawit. Alasannya, harga kedua komoditas
ini diperkirakan masih akan terjaga pada 2024. Adapun kinerja ekspor produk
manufaktur akan melambat lantaran barang ini sifatnya bukan kebutuhan primer.
”Ini pentingnya juga mendorong investasi ke sektor manufaktur agar tercipta
peningkatan kualitas dan daya saing sehingga ekspor sektor ini tetap
bertumbuh,” ujar Josua. (Yoga)
OJK Perintahkan Blokir Rekening Judi Daring
Dampak Biaya Hidup Naik
Berbagai proyeksi menyebutkan bahwa perekonomian global
belum akan pulih sepenuhnya pada 2024, termasuk di Indonesia. Berdasarkan survei
BPS, biaya hidup di kota-kota di Indonesia naik dalam empat tahun terakhir,
termasuk di 10 kota yang kenaikannya berkisar Rp 1 juta-Rp 1,5 juta per bulan.
Lantas, bagaimana warga menyikapi biaya hidup tinggi dan Strategi apa yang dilakukan
demi mengencangkan ikat pinggang. Fita Pertiwi (36), ibu rumah tangga di
Cilegon, Jabar menuturkan, tidak ada pos belanja yang dihilangkan karena hampir
semua kebutuhan diperlukan. Harus lebih selektif dengan mencatat dan
memprioritaskan kebutuhan yang diperlukan dan seberapa banyak yang harus
disesuaikan. Tabungan berkurang, karena yang semula dialokasikan untuk tabungan,
sekarang digunakan untuk menambah biaya sehari-hari. Untuk menambah
penghasilan, saya jadikan hobi saya (menjahit) untuk mendapat penghasilan
tambahan
Mitha Abdillah (32), karyawati di Sidoarjo, Jatim, mulai membatasi
hal-hal yang tidak mendesak dan di luar kebutuhan pokok. Naiknya biaya hidup
jelas membuatnya harus mengurangi pos belanja untuk kebutuhan sandang, seperti
pakaian, tas, atau sepatu. Barang-barang itu akan dibeli jika memang dalam keadaan
mendesak. Beruntung hobinya membuat kue kering yang bisa dijual dapat menghasilkan
uang, selain mengandalkan penghasilan dari kantor. Marpendinata (35), karyawan
di Tarakan, Kaltara mengatakan, belanja kebutuhan pokok tidak dikurangi, tetapi
terdapat penyesuaian pada belanja kebutuhan sekunder dan tersier, sesuai dengan
skala prioritas. Rencana untuk mencari penghasilan tambahan belum ada karena
selain penghasilan bulanan masih mencukupi, waktu luang yang dimiliki juga
terkuras habis pada pekerjaan utama. Namun, jangka panjang, keinginan mencari
penghasilan tambahan memang ada, tetapi memiliki tujuan yang berbeda, yaitu
untuk mencapai target kemandirian finansial. (Yoga)
Tahun Kejayaan Pasar Modal
BI: Capital Inflow Capai Rp 6,82 Triliun
Indonesia Perluas Akses Perdagangan ke Jepang
Ribuan Rekening Penampung Dana Gelap Kampanye
Bom Waktu Bernama TikTok Shop
Mengejar Peluang Cuan Sebelum Tutup Tahun
Masih ada dua pekan lagi sebelum tahun berganti. Investor masih berkesempatan menjaring cuan dan menunggangi potensi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sisa tahun.
Akhir pekan lalu, IHSG bertengger di level 7.190,98 atau posisi tertinggi sepanjang tahun ini. Jika dihitung sejak awal 2023, IHSG menguat sebesar 4,97%, level penguatan tertinggi nomor dua kawasan ASEAN. Nikkei menjadi jawara di Asia.
Serbuan investasi Berkshire Hathaway, kendaraan investasi Warren Buffett, ke Jepang, menambah daya tarik bursa saham Jepang di mata investor global.
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, penguatan IHSG didorong katalis global yang relatif kondusif. Ratih menyoroti bank sentral negara maju mulai menahan suku bunga, bahkan berpotensi memangkas suku bunga tahun depan.
Investor asing kembali ke pasar ekuitas domestik, menyusul sinyal
dovish
bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang berpotensi memangkas suku bunga 75 basis poin (bps) pada tahun depan.
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Martha Christina sepakat, IHSG berpeluang menguat. Tapi, Martha memperkirakan penguatan IHSG sudah terbatas. Dua pekan terakhir ini sudah minim sentimen yang bisa mendongkrak pasar.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana turut memperhitungkan, IHSG menuju 7.200-7.250 di akhir tahun. Sentimen pengiringnya adalah rilis data ekonomi di AS dan China, serta arah suku bunga acuan dalam RDG BI.
Senior Equity Analyst
Phillip Sekuritas Indonesia, Helen Vincentia menambahkan, pergerakan harga komoditas dunia di akhir tahun turut menjadi katalis penting bagi IHSG. Selain itu, investor memperhatikan perkembangan politik dalam negeri pada masa kampanye pemilu.
Helen melihat, saham di sektor infrastruktur, properti dan bank masih punya prospek apik. Pilihan Helen adalah PGEO, CTRA, SMRA, serta empat bank
big caps
BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI. Helen juga melirik saham ASII.
Martha turut melirik saham bank dan sektor infrastruktur. Ia menyematkan strategi
buy
atau
hold
saham BBCA, BMRI, TLKM dan JSMR.
Secara teknikal, Herditya menyodorkan tiga saham. Meliputi ANTM, ERAA, dan ITMG. Sedangkan Ratih menyoroti
capital inflow
mengalir, sehingga berpotensi
window dressing
pada
big caps
akan terakselerasi.
Bansos Makin Besar Tanda Populasi Miskin Masih Ada
Program perlindungan sosial (perlinsos) menjadi salah satu andalan pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam menjaga daya beli masyarakat. Tak heran, setiap tahun, anggaran perlinsos hampir selalu naik.
Pada era Jokowi, total anggaran perlinsos yang dikucurkan mencapai Rp 3.669,43 triliun sejak tahun 2015 hingga 2024 mendatang. Anggaran perlinsos era Jokowi adalah anggaran perlinsos yang melalui belanja pemerintah pusat juga transfer ke daerah.
Dari anggaran itu, Jokowi menurunkan angka kemiskinan dari 2015 sebesar 11,13% menjadi 9,36% di 2023. Tahun depan, pemerintah optimistis kemiskinan kembali turun ke angka 6%-7%.
Sebagai perbandingan, di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), duit bantuan sosial (bansos) sejak 2004 hingga 2014 mencapai Rp 606 triliun yang berasal dari belanja pemerintah pusat.
Dari anggaran itu, era SBY menurunkan kemiskinan dari 16,66% pada 2004 menjadi 10,96% di 2014. Sementara rerata inflasi pada periode itu 7,48% dengan rerata pertumbuhan ekonomi 5,7%.
Sedangkan perlinsos era Jokowi dinilai efektif menekan inflasi. Rerata inflasi selama Jokowi menjabat sebagai Presiden mencapai 3,08%.
Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, program perlinsos era Jokowi lebih efektif lantaran program yang disalurkan lebih banyak. Hal ini sejalan pendapatan negara yang lebih besar saat era Jokowi dibanding SBY.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









