Ekonomi
( 40733 )Tech Winter Terus Memakan Korban
China dan Amerika Lesu, Ekspor RI Terganggu
Jelang Akhir Tahun, Asing Mencari Peluang
Peluang dari Ekspor Sarung Tangan
Menjaring Potensi Lewat Ekosistem
Pembiayaan Emas Tetap Berkilau
Pasar IPO Asia-Pasifik 2024 Bakal Bergairah
Optimisme BSDE Tersundut Insentif
MENGGEDOR LAJU EKSPOR
Performa kinerja dagang mengalami surplus meskipun melambat terdampak gejolak harga komoditas internasional dan bayang-bayang peningkatan laju pertumbuhan impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren surplus neraca perdagangan pada November 2023 mencapai US$2,41 miliar. Capaian itu lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya, mengingat kinerja ekspor yang terkoreksi, sementara impor mengalami kenaikan.Ekspor sepanjang November 2023 mencapai US$22 miliar, turun 8,56% dibandingkan dengan November 2022. Jika dilihat secara bulanan nilai ekspor turun tipis sebesar 0,67%. Angka impor mencapai US$19,59 miliar, tumbuh 3,29% secara Year-on-Year (YoY).Impor yang tumbuh ini sejalan dengan meningkatnya angka Purchasing Manager’s Index(PMI) manufaktur dan strategi ketahanan ekonomi dalam menghadapi perlambatan ekonomi global. Angka PMI Manufaktur Indonesia naik dari 51,5 menjadi 51,7 pada November 2023, menandai peningkatan aktivitas pabrik selama 27 bulan berturut-turut, dengan produksi mengalami kenaikan paling signifi kan sejak Agustus 2023.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan nilai surplus neraca dagang Indonesia November 2023 turun US$1,07 miliar dibandingkan capaian bulan sebelumnya, yaitu sebesar US$3,48 miliar. Surplus neraca dagang ditopang oleh surplus komoditas non-migas sebesar US$4,62 miliar. Komoditas penyumbang surplus di antaranya bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, hingga besi dan baja.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta W Kamdani menilai kinerja ekspor nasional saat masih terhitung relatif stabil dan berpotensi menciptakan surplus. Meski begitu masih diperlukan peningkatan kinerja ekspor produk bernilai tambah.
Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Indonesia Chandra Wahjudi menilai, aturan dan perizinan yang sederhana menjadi sangat penting selain insentif. “Pemerintah juga dapat membantu membuka akses pasar di beberapa negara lain untuk produk unggulan,” katanya kepada Bisnis, Jumat (15/12).Dia juga berharap pemangkasan suku bunga the Fed dapat menjadi momentum untuk pertumbuhan perekonomian global, termasuk Indonesia.
“Ini lebih rendah dibandingkan 2023 atau 2022 karena pelemahan ekonomi dunia di tahun depan. Ekonomi kan relatif stagnan, otomatis growth ekspor impor kita melemah,” kata Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad.
Mengungkit Surplus Neraca Dagang
Tingginya tekanan geopolitik yang disebabkan sejumlah perang seperti Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, membuat dinamika perekonomian global masih berada pada fase yang kurang menguntungkan seiring dengan turunnya permintaan agregrat.Akan tetapi, harapan percepatan pemulihan ekonomi dunia kembali muncul setelah produk domestik bruto global meningkat dengan laju tahunan sebesar 3,2% dalam 6 bulan pertama 2023 dibandingkan dengan paruh kedua tahun lalu. Kenaikan ini membawa perkiraan lembaga internasional seperti Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) atas pertumbuhan PDB global pada 2023 menjadi 3%, naik dari estimasi 2,7% pada Juni lalu. Dalam laporan OECD, pertumbuhan ekonomi dunia hingga paruh pertama tahun ini bergerak cukup mengesankan dari perkiraan sebelumnya. Demikian halnya dengan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang merevisi naik pertumbuhan PDB global 2023 menjadi 3% pada September dari perkiraan sebelumnya di Juli sebesar 2,8%.
Beberapa lembaga lain juga melakukan perbaikan proyeksi didasari ketahanan ekonomi yang relatif baik di Amerika Serikat, Jepang, dan pasar emerging market.
Banyak indikator yang memperlihatkan kuatnya daya tahan perekonomian a.l. tecermin dari tingkat inflasi rendah, suku bunga yang stabil, Purchasing Managers’ Index manufaktur yang berada dalam level ekspansif, belanja masyarakat yang meningkat serta indeks penjualan riil yang tumbuh. Selain itu, dari sisi neraca perdagangan, Indonesia ternyata masih mampu mencatat surplus selama 43 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.Berdasarkan data terkini Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan pada November 2023 tercatat surplus US$2,41 miliar. Surplus neraca perdagangan barang November ini lebih ditopang oleh surplus pada komoditas non-migas sebesar US$4,62 miliar dengan komoditas penyumbang surplus adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, kemudian besi dan baja.
Secara kumulatif, hingga November 2023, total surplus neraca perdagangan barang Indonesia mencapai US$33,63 miliar atau lebih rendah US$16,91 miliar atau setara 33,46% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk menjaga prospek ekspor dan memitigasi seluruh tantangan ke depan, pemerintah perlu menyiapkan serangkaian strategi agar dapat memastikan ekspor terus tumbuh, seperti melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor dan mendorong kemudahan berbisnis yang bila perlu dibarengi serangkaian insentif tambahan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









