Mengungkit Surplus Neraca Dagang
Tingginya tekanan geopolitik yang disebabkan sejumlah perang seperti Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, membuat dinamika perekonomian global masih berada pada fase yang kurang menguntungkan seiring dengan turunnya permintaan agregrat.Akan tetapi, harapan percepatan pemulihan ekonomi dunia kembali muncul setelah produk domestik bruto global meningkat dengan laju tahunan sebesar 3,2% dalam 6 bulan pertama 2023 dibandingkan dengan paruh kedua tahun lalu. Kenaikan ini membawa perkiraan lembaga internasional seperti Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) atas pertumbuhan PDB global pada 2023 menjadi 3%, naik dari estimasi 2,7% pada Juni lalu. Dalam laporan OECD, pertumbuhan ekonomi dunia hingga paruh pertama tahun ini bergerak cukup mengesankan dari perkiraan sebelumnya. Demikian halnya dengan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang merevisi naik pertumbuhan PDB global 2023 menjadi 3% pada September dari perkiraan sebelumnya di Juli sebesar 2,8%.
Beberapa lembaga lain juga melakukan perbaikan proyeksi didasari ketahanan ekonomi yang relatif baik di Amerika Serikat, Jepang, dan pasar emerging market.
Banyak indikator yang memperlihatkan kuatnya daya tahan perekonomian a.l. tecermin dari tingkat inflasi rendah, suku bunga yang stabil, Purchasing Managers’ Index manufaktur yang berada dalam level ekspansif, belanja masyarakat yang meningkat serta indeks penjualan riil yang tumbuh. Selain itu, dari sisi neraca perdagangan, Indonesia ternyata masih mampu mencatat surplus selama 43 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.Berdasarkan data terkini Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan pada November 2023 tercatat surplus US$2,41 miliar. Surplus neraca perdagangan barang November ini lebih ditopang oleh surplus pada komoditas non-migas sebesar US$4,62 miliar dengan komoditas penyumbang surplus adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, kemudian besi dan baja.
Secara kumulatif, hingga November 2023, total surplus neraca perdagangan barang Indonesia mencapai US$33,63 miliar atau lebih rendah US$16,91 miliar atau setara 33,46% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk menjaga prospek ekspor dan memitigasi seluruh tantangan ke depan, pemerintah perlu menyiapkan serangkaian strategi agar dapat memastikan ekspor terus tumbuh, seperti melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor dan mendorong kemudahan berbisnis yang bila perlu dibarengi serangkaian insentif tambahan.
Tags :
#Neraca PerdaganganPostingan Terkait
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023