Ekonomi
( 40733 )Tahun Kejayaan Pasar Modal
BI: Capital Inflow Capai Rp 6,82 Triliun
Indonesia Perluas Akses Perdagangan ke Jepang
Ribuan Rekening Penampung Dana Gelap Kampanye
Bom Waktu Bernama TikTok Shop
Mengejar Peluang Cuan Sebelum Tutup Tahun
Masih ada dua pekan lagi sebelum tahun berganti. Investor masih berkesempatan menjaring cuan dan menunggangi potensi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sisa tahun.
Akhir pekan lalu, IHSG bertengger di level 7.190,98 atau posisi tertinggi sepanjang tahun ini. Jika dihitung sejak awal 2023, IHSG menguat sebesar 4,97%, level penguatan tertinggi nomor dua kawasan ASEAN. Nikkei menjadi jawara di Asia.
Serbuan investasi Berkshire Hathaway, kendaraan investasi Warren Buffett, ke Jepang, menambah daya tarik bursa saham Jepang di mata investor global.
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, penguatan IHSG didorong katalis global yang relatif kondusif. Ratih menyoroti bank sentral negara maju mulai menahan suku bunga, bahkan berpotensi memangkas suku bunga tahun depan.
Investor asing kembali ke pasar ekuitas domestik, menyusul sinyal
dovish
bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang berpotensi memangkas suku bunga 75 basis poin (bps) pada tahun depan.
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Martha Christina sepakat, IHSG berpeluang menguat. Tapi, Martha memperkirakan penguatan IHSG sudah terbatas. Dua pekan terakhir ini sudah minim sentimen yang bisa mendongkrak pasar.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana turut memperhitungkan, IHSG menuju 7.200-7.250 di akhir tahun. Sentimen pengiringnya adalah rilis data ekonomi di AS dan China, serta arah suku bunga acuan dalam RDG BI.
Senior Equity Analyst
Phillip Sekuritas Indonesia, Helen Vincentia menambahkan, pergerakan harga komoditas dunia di akhir tahun turut menjadi katalis penting bagi IHSG. Selain itu, investor memperhatikan perkembangan politik dalam negeri pada masa kampanye pemilu.
Helen melihat, saham di sektor infrastruktur, properti dan bank masih punya prospek apik. Pilihan Helen adalah PGEO, CTRA, SMRA, serta empat bank
big caps
BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI. Helen juga melirik saham ASII.
Martha turut melirik saham bank dan sektor infrastruktur. Ia menyematkan strategi
buy
atau
hold
saham BBCA, BMRI, TLKM dan JSMR.
Secara teknikal, Herditya menyodorkan tiga saham. Meliputi ANTM, ERAA, dan ITMG. Sedangkan Ratih menyoroti
capital inflow
mengalir, sehingga berpotensi
window dressing
pada
big caps
akan terakselerasi.
Bansos Makin Besar Tanda Populasi Miskin Masih Ada
Program perlindungan sosial (perlinsos) menjadi salah satu andalan pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam menjaga daya beli masyarakat. Tak heran, setiap tahun, anggaran perlinsos hampir selalu naik.
Pada era Jokowi, total anggaran perlinsos yang dikucurkan mencapai Rp 3.669,43 triliun sejak tahun 2015 hingga 2024 mendatang. Anggaran perlinsos era Jokowi adalah anggaran perlinsos yang melalui belanja pemerintah pusat juga transfer ke daerah.
Dari anggaran itu, Jokowi menurunkan angka kemiskinan dari 2015 sebesar 11,13% menjadi 9,36% di 2023. Tahun depan, pemerintah optimistis kemiskinan kembali turun ke angka 6%-7%.
Sebagai perbandingan, di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), duit bantuan sosial (bansos) sejak 2004 hingga 2014 mencapai Rp 606 triliun yang berasal dari belanja pemerintah pusat.
Dari anggaran itu, era SBY menurunkan kemiskinan dari 16,66% pada 2004 menjadi 10,96% di 2014. Sementara rerata inflasi pada periode itu 7,48% dengan rerata pertumbuhan ekonomi 5,7%.
Sedangkan perlinsos era Jokowi dinilai efektif menekan inflasi. Rerata inflasi selama Jokowi menjabat sebagai Presiden mencapai 3,08%.
Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, program perlinsos era Jokowi lebih efektif lantaran program yang disalurkan lebih banyak. Hal ini sejalan pendapatan negara yang lebih besar saat era Jokowi dibanding SBY.
Saham-Saham Blue Chip Yang Sip
Saham-saham emiten papan atas alias
blue chip
mulai kembali bangkit. Hal itu tercermin dari pergerakan indeks paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakn indeks LQ45.
Sepanjang tahun ini, indeks LQ45 menguat 2,22% ke level 957,97 per Jumat (15/12). Namun laju indeks LQ45 masih di bawah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sepanjang tahun ini menguat 4,97%.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan laju IHSG lebih tinggi ketimbang LQ45.
Terlihat dari pergerakan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melesat hingga puluhan persen sejak listing di bursa. Apalagi BREN sudah melesat 848,72% ke level Rp 7.400. Walhasil, kapitalisasi pasar BREN sempat nyaris menyalip BBCA. Nico mengatakan, dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di BEI, BREN mampu menyetir pergerakan IHSG dan saham-saham penggerak itu yang tidak ada di LQ45.
"Saat ini pasar lebih sehat karena memegang
blue chip
," kata Adi Wicaksono, Retail Analyst Maybank Sekuritas.
Robertus Hardy,
Head of Research
Mirae Asset Sekuritas melihat, IHSG berpeluang mengalami
window dressing
atau
Santa Claus Rally
terutama pada beberapa saham blue chip. Dan saat ini masih ada sejumlah saham unggulan yang masih memiliki valuasi cukup menarik untuk dilirik.
Saham pilihan Nico yakni BBCA, target Rp 10.327, BBRI di Rp 6.350 dam BBNI di Rp 5.751. Sementara target BMRI di Rp 6.802, AMRT di Rp 3.389, INDF di Rp 8.178 dan ICBP Rp 13.620.
Ekonomi Jadi Kunci Emiten Multisektor
Ekonomi yang tumbuh menjadi barometer emiten multisektor bisa melaju. Ekonomi 2024 yang bisa tumbuh menjadi katalis penting bagi emiten multisektor.
Tira Ardianti, Kepala Hubungan Investor PT Astra International Tbk (ASII) menyatakan, Grup Astra memiliki berbagai bisnis yang kinerja dan prospeknya dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya pertumbuhan ekonomi.
"Kami berharap, ekonomi Indonesia bertumbuh dengan baik pada 2024 yang bisa mendukung kinerja bisnis Astra," katanya kepada KONTAN, Minggu (17/12).
Tira menyebutkan, selama ini ASII sudah melakukan beberapa aksi korporasi. Seperti melakukan akuisisi Bank Jasa Jakarta untuk mendukung ekosistem jasa keuangan dengan layanan digital yang disebut Bank Saqu.
"Kami senantiasa menjajaki peluag-peluang bisnis untuk memperkuat dan keberlanjutan bisnis Astra," tambahnya.
Tak mau ketinggalan, PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) bersiap mengembangkan unit-unit usahanya di tahun 2024. Seperti di industri komponen otomotif, industri baju, konstruksi bangunan ramah lingkungan.
"Hingga pengembangan sektor energi baru terbarukan termasuk elektrifikasi transportasi," kata Direktur BNBR, Roy Hendrajanto M. Sakti ke KONTAN (15/12).
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi melihat, kinerja emiten holding pada tahun 2024 justru tumbuh melambat. Penyebabnya harga komoditas energi moderat. Kondisi ini mempengaruhi lini sektor pertambangan.
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division
, Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan sependapat sentimen domestik dan global bisa mempengaruhi kinerja emiten multisektor.
Ia merekomendasikan
buy
ASII di Rp 8.000, ABMM di harga Rp 2.500-Rp 3.000 dan BMTR di harga Rp 1.000-Rp 1.200.Oktavianus hanya merekomendasikan
buy
ASII di harga Rp 6.350.
Window Dressing & Isu Merger Menyetir Saham BUMN Karya
Saham sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya masih fluktuatif. Menurut data RTI, saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) naik 4,85% pada hari Kamis lalu dibandingkan sehari sebelumnya. Meski pada Jumat (15/12) turun lagi 1,73% ke Rp 340 per saham.
Saham PT PP Tbk (PTPP) juga naik 4,85% pada hari Kamis lalu. Lalu melorot 1,85% pada Jumat (15/12) ke Rp 530 per saham. Saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga tercatat naik 24,10% pada perdagangan Kamis (14/12), sebelum turun 0,83% ke posisi Rp 240 pada Jumat lalu. Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, kinerja saham BUMN karya pada akhir tahun kemungkinan disebabkan
window dressing.
Kinerja BUMN Karya dalam waktu dekat juga berpeluang positif lantaran ada Penyertaan Modal Negara (PMN). Berkat injeksi negara, arus kas mereka sedikit membaik.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan, kenaikan harga saham emiten BUMN karya juga didorong oleh spekulasi merger antar BUMN karya.
Meski begitu, Azis menilai kinerja emiten BUMN Karya pada tahun depan masih tertekan. Apalagi liabilitas emiten pelat merah itu masih tinggi. Alhasil, Azis dan Budi belum memberikan rekomendasi ataupun proyeksi terhadap saham BUMN karya.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









